
Setelah banyak berpikir, Daffa akhirnya tertidur dengan posisi masih tetap duduk.
Sedangkan di kamar tamu, Roberth benar-benar lega setelah menyampaikan isi hatinya kepada kedua orang tua bahkan opa dan oma dari sang kekasih tentang keinginannya.
"Semoga kita bisa bertemu secepatnya. Aku sudah tidak bisa membiarkanmu terlalu lama untuk pergi tanpa kabar dan melakukan semua tanpa pengawasanku" gumam Alfa.
Ting
Tuan muda, gadis ini sudah siuman dan sudah kembali semangat namun ia terus memaksa untuk pulang.
Satu pesan masuk di ponsel Roberth.
"Baiklah akhirnya dia pulih dan rasa bersalah dan para bawahanku tidak semakin besar" gumam Roberth tanpa mau membalas pesan tersebut.
Roberth pun tertidur, mungkin karena efek lelah juga sehingga ia tertidur dengan posisi yang sangat memprihatinkan.
*****
Reno dan puterinya sudah tiba di salah satu bandara yang ada di Indonesia. Walaupun sudah tengah malam namun Arjo dan Isterinya tetap menjemput. Setahun Reno, yang menjemput mereka adalah sopir Arjo, namun begitu sampai, ternyata pria itulah yang datang bersama sang isteri.
"Loh ko kalian yang jemput sih?" tanya Reno heran karena saudara tiri isterinya sendiri yang datang.
"Ya, aku sangat merindukan Puteri cantik ini sampai tidak bisa tidur" ucap Isteri Arjo yang sangat menginginkan seorang Puteri namun tidak diberi kepercayaan lagi sehingga mendengar suaminya mengatakan bahwa Ike akan pindah ke sini, ia sangat bersemangat.
Kedua wanita bedabusia itu sling berpelukan dengan sayang.
"Tante, lepasin dulu, ade mau salaman sama om" ucap Ike dengan gaya imutnya.
"Saking bahagian tantemu sampai memonopoli kamu" ucap Arjo kelakar.
Ike pun mencium punggung tangan pria paru baya tersebut.
"Ayo kita pulang, sudah semakin larut" ajak Arjo kepada yang lain. Mereka beriringan menuju mobil yang akan membawa mereka pulang.
"Ike sama tante di belakang ya? biar papa sama om Arjo di depan" jelas Mamanya Roberth.
"Baiklah tante." Mereka pun masuk ke dalam mobil sesuai dengan yang sudah di atur sebelumnya.
Setibabya di mansion yang ditempati oleh Keluarga Arjo, mereka masuk dan Ike ijin untuk langsung beristirahat sehingga mamanya Roberth langsung mengantarkannya ke kamar yang sudah mereka renovasi untuk di tempati oleh gadis itu.
"Kamar siapa tante?" tanya Ike begitu sang tante membuka pintu kamar yang berada di lantai dua tepat di samping kmar Roberth.
"Ya kamar ade lah, tante sama om sengaja menyiapkan yang spesial buat ade" jelas tante dengan senyum ceriahnya.
"Wah, Terima kasih tante. Makin sayang deh" ucap Ike sambil memeluk sang tante.
"Oke, istirahat ya? pasti sangat cape setelah menempuh perjalanan yang cukup lama" saran Tante.
"Baiklah, esok aja lanjut ceritanya" ucap Ike yang langsung merangkak naik ke atas tempat tidur tanpa membersihkan tubuhnya karena hari sudah semakin larut.
"Selamat tidur sayang" ucap tante sambil membenarkn selimut yang menutupi tubuh gadis itu. Setelah itu ia pun keluar dan menutupi pintu kamar itu.
Wanita itu turun dari lantai atas dan langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan sedikit minuman kepada dua pria itu.
.
.
"Ren, Aku tahu, kamu pasti punya alasan yang membuatmu memindahkan puterimu ke sini" tanya Arjo serius.
"Itulah tindakan yang harus aku buat secepatnya" ucap Reno ambigu.
"Apa maksudmu?" tanya Arjobtidak mengerti.
"Sejak kecil, puterimu sabgat tergila-gila pada putera sulung Alfa dan Mey. Ya adiknya Maggie" ucap Reno menjelaskan.
"Lala?" tanya Arjo penasaran.
"Bertahun-tahun, bahkan sampai dengan hari ini. Puteriku tidak mendapatkan kepastian. Aku tidak mau puteriku harus menghabiskan masa Anak-anak hingga masa remaja sampai masa mudanya untuk berjuang meraih sesuatu yang tidak pasti" ucap Reno membuat Arjo turut sedih.
"Kita tidak bisa menyalahkan Daffa, Ren? karena bagaimanapun jika ia tidak punya perasaan kepada Ike, maka tidak bisa kita paksakan" jelas Roberth.
"Aku mengerti karena itu aku membawanya ke sini untuk segera melupakan cintanya yang bertepuk sebelah tangan." ucap Reno.
Isteri Arjo kembali dari dapur dengan membawa minuman dan beberapa camilan.
"Ade sudah tidur sayang?" tanya Arjo kepada sang isteri.
"Sudah mas" jawab wanita tersebut sambil menata minuman dan camilan di atas meja.
*****
Pagi ini Roberth kembali pamit kepada keluarga Alfa untuk pulang b ke Indonesia.
"Om, tante, semuanya, aku sekalian pamit pulang ke Indonesia. Aku akan mencari waktu untuk kembali bersama orang tuaku" uca Roberth setelah makanan di piringnya habis.
"Baik, sampaikan salam kepada kedua orang tuamu" jawab Alfa.
"Iya om"
Setelah kepergian Roberth, Alfa dan kedua puteranya serta mertuanya menuju ke halaman belakang mansion. Keempat orang itu sibuk dengan kegiatan mereka sendiri di akhir pekan. Sedangkan Mey bersama sang ibu mulai menyiapkan bahan untuk membuat camilan.
"Aku telepon Novi sebentar" ucap Mey sambil mengeluarkan ponsel dari kantong celananya.
📞Halo Nov, hari ini kamu ngapain?
📞Di rumah aja ka'
📞Gabung yuk sama aku dan ibu, kita lagi mau buat camilan kesukaan Anak-anak.
(Novi terdiam saat menyebutkan kata Anak-anak)
📞Nov, kamu masih di sana kan?
📞Ah iya ka, nanti aku kabarin ya kalau vn jadi ke situ.
📞oke.
Sambungan telepon berakhir. Mey merasa ada yang disembunyikan oleh wanita yang sudah dia anggap seperti adik sendiri itu.
"Bagaimana sayang?" tanya bu Ani.
"Nanti dikabarin lagi kalau mau datang bu" jelas Mey. Keduanya kembali melanjutkan Hungaria mereka sementara para art juga melakukan tugas menyiapkan makan SF uang nanti.
Tidak lupa juga Mey membawa minuman dan camilan untuk para pria di belakang sana.
"Silahkan dinikmati mas, ayah" ucap Mey sambil menghidangkan.
"Terima kasih sayang" jawab kedua pria beda usia itu bersamaan.
Sedangkan di belakang, Alfa dan mertuanya duduk di gazebo sambil bertukar pikiran soal pekerjaan sedangkan si kembar sedikit jauh dari mereka, kedua anak muda itu memilih duduk di bawa pohon yang rindang.
"Bang" panggil Daffi.
"Hmmm" jawab sang abang hanya dengan berdaheman.
"Sedang apa ya Ike di sana?" tanya Daffi membuat sang abang menatapnya dengan tajam.
"Aku takut jika dia mulai bersekolah dan menemukan pria lain di sana" lanjut Daffi
Deg
"Apa maksudmu?" tanya Daffa.
"Kamu dengarkan? kata daddy, jika Ike sudah menyelesaikan sekolahnya, daddy akan melamarnya untukku. Tapi bagaimana jika di sana dia malah bertemu dengan pria lain dan tidak menerima lamaranku" jelas Daffi mengutarakan isi hatinya.
Daffa hanya diam tanpa mengeluarkan suara. Banyak yang membebani pikirannya sehingga sudah beberapa hari ini dia lebih banyak diam dan menyendiri.