
Setelah marah-marah di subuh tadi, Maggie kembali pulas sambil memeluk daddynya. Bukan hanya tangan tapi kakinya juga ikut menindih perut daddynya. Reno iseng mengambil poselnya dan mengarahkan kamera untuk mengabadikan momen langkah tersebut.
Pagi kembali menyapa dunia. Matahari mulai memancarkan cahayanya dan menembus jendela kamar Rumah Sakit untuk membangunkan tiga penghuni di dalam sana.
"Akhhh bangun woi, sudah pagi nanti rezekinya dipatok ayam. Mau?" ucap Alfa meniru kebiasaan puterinya ketika membangunkan orang di pagi hari, sambil memindahkan tangan dan kaki puterinya. Ya pagi tadi gadis kecil itu sudah bangun tapi mungkin baru kali ini ia tidur di sofa jadi tubuhnya terasa lelah.
"Bial bagi-bagi lezeki sama ayamnya, kasihan kalau dia kelapalan" jawab Maggie dengan mata masih tertutup.
"Kalau ayamnya habisin gimana?" umpan Alfa.
Sudah tahu mulut puterinya beracun masih mau ganggu, nanti jadi perdebatan baru tahu rasa. Batin Reno.
"Kan habisin punya daddy bukan punya kaka" jawabnya dengan belum mau bangun.
"Eh daddy sudah bangun jadi yang dihabisin punya kaka" jawab Alfa tidak mau kalah dengan puterinya.
"Ambil lagi punya daddy apa susahnya" jawabnya sambil duduk mengumpulkan nyawanya yang semalam berkelana sambil mengucek matanya.
Alfa melongo karena tidak ada bahasa untuk menangkis setiap ucapan gadis kecil itu.
Tring tring tring
"Dad, itu ponsel punya kaka jadi jangan disentuh" ucap Maggie sewot saat bunyi telepon masuk ke ponselnya namun daddynya yang mengangkat.
"Apa salahnya daddy yang angkat?" jawab Alfa
"Plivasi olang ngelti nggak sih" ucapnya.
📱Halo ma
📱Mana kaka
📱Masih tidur
📱Bo'ong oma.
📱Al, orang tua Reno disekap di gedung tua tempat dulu mereka menculik kaka. Kamu masih ingatkan?
📱Iya ma.
📱Segera bergerak.
Sambungan telepon lanhsung terputus.
"Dad, apa kata oma?" tanya Maggie penasaran.
"Di tempat dulu kamu di culik" jawab Alfa sambil menatap puterinya dalam. Tempat itu menjadi sebuah kenangan pengorbanannya mendapatkan kambali isteri dan anaknya.
Dan tempat itulah sejarah seorang gadis kecil pertama kali menjadi seorang pembunuh. Maggie dialah orangnya.
"Cih jadi penjahat ko nggak belmodal bangat sih? pakai tempat olang lagi" gerutu Maggie.
"Itu memang markas mereka kaka" jelas Alfa yang entar benar atau salah.
"Oh jadi meleka komplotan yang dulu hampir bunuh daddy ya?" ucap Maggie.
"Kamu masih ingat?" tanya Alfa penuh selidik.
"Ialah, kan kaka hampil ga punya daddy" ucapnya dengan mat berkaca-kaca.
"Uhhh terima kasih anak daddy, sudah mengkhawatirkan daddy" ucap Alfa sambil berjongkok memeluk anaknya haru.
"Ihhh daddy bau belum mandi" ucapnya ngeles.
"Kamu juga belum mandi jadi sama-sama bau" balas Alfa.
"Ihh olang cantik selalu halum" ucap Maggie sambil turun dari sofa, tempat tidurnya semalam.
"Kata siapa?" tanya Alfa.
"Ka Novi" jawabnya sambil berjalan ke kamar mandi.
"Hah? kenapa isteriku di bawa-bawa?" gumam Reno membuat Alfa tertawa terbahak-bahak.
"Sudah. Sekarang kita siap untuk bergerak menolong om Sandro. Aku akan mengantar kaka pulang dan kamu, beritahu sama isterimu." Jelas Alfa setelah gadis kecil itu melakukan ritualnya di kamar mandi.
"Apa kamu tidak sedang mencari masalah?" tanya Alfa membuat Reno bingung.
"Maksudnya?" tanya Reno.
"Kamu pikir dia akan tinggal diam setelah semalam menjagamu di sini dan kamu malah pergi tanpa pamit kepadanya?" ucap Alfa membuat Reno sadar.
Beberapa saat kemudian, gadis kecil itu keluar dengan sudah terlihat segar karena membasuh mukanya tadi.
"Kaka, om pamit pulang ya? ka Novi pasti sedih karena om Reno belum kabarin" ucap Reno to the poin.
"Ya dikabarin ajalah?" jawabnya santai.
"Ya kan om Reno sudah sehat jadi langsung pulang saja" lanjut Reno.
"Loh, ga jadi tlaktil ni?" tanyanya memastikan.
"Nanti kaka beli saja apa yang kaka suka. Oke? lain kali om Reno traktir" ucap Reno sambil mengeluarkan dompetnya ternyata masih ada uang tunai tujuh lembar berwarna merah.
"Janji ya lain kali? kalena ini belum sebelapa" ucapnya sambil menerima uang tersebut dari tangan Reno dan mengibaskan ke wajahnya.
"Iya om Reno janji. Om pulang ya?" ucap Reno sambil melangkah keluar.
"Dad, kita gimana? jangan bilang daddy mau minta tlaktil kalena uang yang dikasih om Leno?" ucapnya langsung melipat uang tadi dan memasukkan ke dalam saku celananya.
Cih ternyata puteriku sangat pelit. Pasti nurun dari mommynya. Eh isteriku tidak seperti itu, ini sifatnya singa London. Buktinya warisan belum ke anaknya langsung ke cucunya. Cih dasar pelit. Batin Alfa mencibir puterinya.
"Kita juga pulang ke rumah" ucap Alfa sambil melangkah keluar diikuti sang anak dari belakangnya.
*****
"Sayang, aku pulang!!" seru Reno dari pintu masuk.
"Mana baksonya!" seru Novi membalas suaminya.
Duh, mati aku. Kenapa bisa lupa hal sepenting itu sih?
Reno baru sadar setelah isterinya kembali meminta bakso pesanannya semalam.
"Lupa sayang, nanti aku minta anak buahku untuk membelikan" bujuk Reno.
"Semalam kamu pergi tidak pulang dan sekarang kamu lupa pesananku. Semalam kamu kemana dan sama siapa hah?" bentak Novi yang mudah sensitif akhir-akhir ini.
"Maaf sayang..."
"Cukup, aku tidak butuh alasanmu" ucapnya dengan suara yang masih tetap meninggi.
"Kamu boleh marah atau pukul aku bila perlu, tapi aku minta maaf. Dan sepertinya aku harus pergi lagi, kamu hati-hati disini ya? jangan keluar sendiri karena di luar sana sangat berbahaya" jelas Reno.
"Silahkan pergi dan jangan pulang lagi" ucap Novi dengan suara bergetar.
"Sayang, aku harus menyelamatkan papa, mama sama ade" ucap Reno yang juga dengan suara bergetar. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, ia tidak mau kehilangan lagi keluarga angkatnya.
"Maksudnya?" tanya Novi yang baru menyadari akan sesuatu. Ia balik dan menatap kearah suaminya ternyata ada bekas lembam di wajahnya.
"Papa, mama sama ade diculik sebelum aku tiba. Aku juga dihajar, beruntung Alfa dan anak buahnya serta kaka tiba tepat waktu, kalau tidak aku juga sudah dibawa pergi.
"Ja ja di, ..?" ucap Novi gemetar saking takutnya dengan kondisi orang tua angkat suaminya.
"Jangan sedih. Mama Ratna sudah tahu keberadaan mereka jadi tinggal menjalankan misi penyelamatan. Atau kamu mau aku antarkan ke rumah ayah." Bujuk Reno.
"Iya, aku takut" ucap Novi yang sudah mulai menangis. Bayangan penculikan yerhadap dirinya beberapa tahun lalu kembali menari-nari di otaknya.
"Jangan ingat apa yang sudah lalu. Ayo kita jalan" ajak Reno
"Kamu tidak ingin membawa beberapa pakaian begitu?" tanya Reno lagi.
"Tidak usah, pakaianku masih banyak di sana" ucap Novi mengingat pakaian yang masih ada di sana waktu ia masih tinggal bersama ayah Devid.
Keduanya pun pergi meninggalkan apartemen mereka pagi itu menuju ke mansion ayah Devid.
****
BERSAMBUNG.