
keesokan paginya, opa dan oma bersiap untuk pergi ke rumah puteranya.
"Ma, kita ke Mall dulu ya?" ajak opa.
"Mau ngapain?" tanya oma.
"Ya, beli buah tangan buat cucu sama menantu" ucap opa.
"Tak perlu, lagian cucuku tidak ada di rumah" jawab oma santai membuat opa menganga.
"Emang mama punya berapa cucu?" tanya opa memastikan.
"Tiga" jawabnya masih santai.
"Lalu kenapa mama pilih kasih?" tanya opa memanas.
"Mau tahu kamu pa? yang ada nanti mereka dewasa kaya daddynya suka buat orang tua pusing, stres karena mengecewakan anak gadis orang," ucap oma mulai ikut memanas.
"Pasti mereka akan seperti opa mereka jadi tidak akan mengecewakan anak orang seperti daddy mereka" jelas opa bangga dengan diri sendiri.
"Bilang saja papa takut sama abang Gaston makanya papa tidak macam-macam" gerutu oma pada sang suami yang suka narsis walaupun usianya sudah tua.
"Loh kalau Alfa tidak kaya kamu lalu dia anak siapa?" ucap oma yang baru sadar dengan kata-kata sang suami.
"Ketukar kali waktu di Rumah sakit" ucap opa membuat oma tidak terima baik.
"Enak saja, lihat cucu perempuanku saja duplikat aku" protes oma yang pergi meninggalkan opa di kamar, membuat sang suami terkekeh.
"Kenapa isteriku pintarnya kalau bertarung tapi otanknya mendadak blank kalau diputar IQnya" gumam opa merasa lucu sambil melihat pintu yang sudah ditutup kembali oleh sang isteri.
Setelah bersiap, keduanya akhirnya pergi meninggalkan hotel tempat mereka menginap.
.
.
Karena hari ini weekend jadi keluarga Alfa semuanya di rumah. Dan karena masih pagi jadi mereka baru mulai berunding untuk aktivitas mereka hari ini akan dilakukan di luar rumah atau di rumah saja.
"Mom, bagaimana kalau kita kasih kejutan ke kaka di Indonesia?" usul Daffi yang memang sudah tidak bisa membendung rasa rindu kepada kaka perempuannya lagi. Saat ini ereka tengah duduk menunggu sang mommy menghidangkan sarapan pagi mereka.
"Kamu itu masih sekolah de, jadi tunggu liburnya baru kita ke sana oke?" jawab Mey dengan baik kepada putera bungsunya.
"Kelamaan mom, kan daddy bisa minta ijin sama guru-gurunya beberapa hari doang" bujuk Daffi lagi pada kedua orang tuanya.
"Oke akan daddy pikirkan tapi sekarang kita harus hubungi kaka dulu, apakah dia ada waktu buat kita tidak?" jelas Alfa.
"Ihhh daddy, itu namanya bukan kejutan. Mana ada kejutan dikasih tahu sebelumnya." protes Daffi sedangkan kembarannya asyik sendiri dengan Ipednya.
"Loh, lebih baik dikasih tahu kan? dari pada sudah capek-capek ke sana lalu kakanya tidak punya waktu buat ketemu kita." ucap Alfa.
"Cih sok sibuk" gerutu Daffi.
"Bukan sok tapi kaka memang super sibuk" tambah Daffa membuat kedua orang tuanya tersenyum geli.
Ting tong ting tong
Suara bel rumah berbunyi membuat Daffi berlari cepat-cepat mendahului sang asisten rumah tangga untuk membuka pintu. Pikirannya hanya satu, semoga kakanya yang datang.
"Oma, opa" ucap Daffi heran.
"Hai boy, mana yang lain?" tanya opa.
Daffi akhirnya sadar dari keterkejutannya dan mencium kedua opa dan omanya itu.
"Di belakang opa. Ayo masuk" ajak Daffi yang menampilkan senyumnya. Setidaknya ada opa sama omanya walaupun bukan kakanya. Daffi bisa memanfaatkan sang oma agar mereka bisa pergi ke Indonesia.
"Mama, papa?" ucap Mey heran karena kedua mertuanya sudah ada di depan mata.
"Kemarin sayang" jawab mama Ratna.
Daffa bangun dari duduknya mencium tangan kedua opa dan omanya. Diikuti dengan Mey yang baru selesai meletakan hidangan di meja makan.
"Kenapa tidak bilang biar kita jemput di bandara sekalian" ucap May.
"Mau ganggu saja sayang, orang lagi pacaran." jawab Alfa membuat sang mama melototkan matanya kepada sang putera.
"Kamu paling mengerti boy" ucap papa Albarth bangga dengan jawaban sang putera.
"Ayo duduk pa, ma" ucap Mey mempersilahkan kedua orang tua itu mengambil bagian di meja makan.
Keluarga itu akhirnya menikmati sarapan bersama pagi ini, tanpa tuan Devid dan isterinya yang sudah seminggu berada di luar negeri.
*****
"Apa yang harus aku lakukan?" gumam Roberth yang masih betah di dalam kamarnya. Pria itu bahkan malas untuk turun dari ranjangnya, sejak tadi ia hanya mencari cara untuk bisa menjapatkan jati diri gadis yang membuatnya penasaran beberapa hari belakangan ini.
"Halo tante, apa kabar?" tanya Roberth basa-basi setelah sambungan telepon tersambung.
"Baik, kamu sama mama papa apa kabar juga?" tanya Novi kembali kepada Roberth.
"Baik tante, ade Ike gimana sekolahnya?" tanya Roberth lagi.
"Sekolahnya baik, cuma kebanyakan pacaran" ucap Novi terkekeh.
"Hah maksudnya?" tanya Roberth heran.
"Yah, adik kamu itu benar-benar gila sama Daffa anak om Alfa sama tante Mey" jelas Novi membuat Roberth punya kesempatan bertanya.
"Tante, puteri om Alfa masih di Australia ya?" tanya Roberth.
"Sejak usia sebelas tahun, kaka sudah dipindahkan ke Kalifornia dan sampai sekarang kaka belum kembali" jelas Novi pada keponakannya.
Deg
Jantung Roberth seolah berhenti mendengar teman kecilnya yang sudah lama pergi meninggalkan negara tersebut.
"Apakah dia punya keluarga di sana?" tanya Roberth lagi.
"Iya, saudara omanya di sana jadi dia dipindahkan ke sana. Kamu mengenal Maggie?" tanya Novi yang memang tidak pernah bertemu dengan Roberth waktu masih di Australia.
"Iya tante, waktu kecil aku sama papa mama di Australia jadi aku sekelas sama Maggie waktu itu" jelas Roberth.
"Oh ya? ko tante tidak pernah tahu ya? padahal setiap hari tante yang mengantarnya sekalian menunggunya pulang" ucap Novi heran.
"Aku juga tidak pernah melihat tante waktu sebelumnya" jawab Roberth.
Keduanya masih terus melanjutkan cerita mereka tentang gadis kecil itu, siapa lagi kalau bukan Maggie.
Setelah memutuskan sambungan telepon, Roberth merasa frustrasi sendiri karena sahabat masa kecilnya menghilang bagai di telan bumi. Ia berharap jika suatu saat mereka bisa bertemu lagi dengan status yang masih sendiri.
(Kenapa kamu terasa semakin jauh. semoga Tuhan dan alam berkenan mempertemukan kembali kita. Aku akan tetap menunggumu sampai nanti.) batin Roberth.
******
Di tempat lain, seorang gadis tengah bermalas-malasan di atas ranjangnya karena tidak punya planing untuk keluar hari ini.
Pikirannya kembali berputar pada kejadian malam itu, saat Roberth menyelamatkannya. Ia juga kembali membayangkan kata-kata Roberth yang seolah melindunginya saat berdebat dengan Robin di kelas kemarin.
(Kamu sangat mirip dengannya yang selalu membelaku jika aku dalam masalah. aku harap bisa bertemu denganmu secepatnya, aku menunggumu. aku juga berharap kamu tidak melupakanku) batin Maggie
BERSAMBUNG