
Sepasang oma dan cucu itu akhirnya turut masuk ke dalam mansion keluarga Smith.
Alfa dan Mey menurunkan si kembar di karpet bulu yang ada di ruang keluarga sehingga keduanya kembali bermain di sana.
"LOh ko pulangnya cepat sekali sih?" tanya opa yang baru bergabung sedangkan oma Ani sudah ke dapur menyiapkan minum.
"Mood belanjanya ilang opa" seru Maggie yang ikut duduk dengan adik-adiknya.
"Cih hilang apaan, begasi mobil oma sudah penuh dengan belanjaan kamu," gerutu oma.
"Yeee siapa suluh tadi kaka masih tidul oma ngajak belanja?" ucap Maggie tanpa beban.
"Hah? apa kamu bilang? katanya mengantuk, giliran oma bilang ke Mall matanya langsung melek. Pandai sekali kamu memutar balikkan fakta" ucap oma mambantah.
"Kata daddy belkat jangan ditolak" ucapnya melempar kesalahan kepada sang daddy.
"Hah? kenapa jadi daddy yang dibawa-bawa?" ucap Alfa terkejut. Opa menahan tawanya karena jika sudah menyangkut bela diri, maka cucunya akan menjatuhkan semua orang tanpa terkecuali.
"Ya iyalah, kata olang anak cewek itu nulun dali daddynya" ucapnya tanpa bersalah.
"Ngaur, kenapa orang juga di bawa-bawa?" gumam Alfa yang sudah tidak mampu untuk berdebat dengan anaknya sendiri.
"Oke, sekarang jelaskan sama daddy kemana mama sama kaka beberapa hari ini" tanya Alfa dalam mode serius membuat semua menatap kepadanya kecuali Maggie yang malas tahu sambil terus bermain dengan kedua adiknya.
"Tanya sama puterimu" ucap oma melempar beban kepada cucunya.
"Kaka, ke mana selama ini" tanya Alfa dengan tegas.
"Indonesia" jawabnya santai tanpa mengalihkan matanya dari mainan di tangannya.
"Hah? katanya London dan kenapa berakhir di Indo?" ucap Alfa kaget.
"Tanya aja sama pesawatnya kenapa mendalatnya di Indo?" ucapnya membuat sang daddy naik darah.
"Kaka daddy lagi serius jadi jangan dibuat lelucon" ucap Alfa dengan nada sedikit tinggi seperti bentakan. Semua yang ada dalam ruangan itu terkejut dengan aksi Alfa.
Maggie yang sejak tadi santai, mendadak mengangkat wajahnya dengan serius dan menatap daddynya dengan tatapan horor.
"Jadi daddy tidak telima kalo kaka membantu daddy lepas dali lubah licik itu?" ucapnya dengan urat leher yang menegang membuat Alfa menciut.
"Daddy tidak pelnah tegas makanya daddy gampang jatuh. Mungkin kalena daddy tidak sayang sama twins makanya daddy mau buat meleka tellantal sepelti kaka dulu." ucap gadis kecil itu dan langsung pergi begitu saja dari hadapan mereka semua.
Tanpa sadar Alfa meneteskan air mata. Ia menyesal sudah membentak puterinya dan itu untuk pertama kali setelah mereka kembali bersama. Selama ini ia selalu bertengkar dengan puterinya tapi tidak seserius saat ini.
"Kamu tidak sabaran, dia masih sangat kecil dan tidak pantas kamu bertanya hal yang dewasa seperti itu, rasa trauma masa kecilnya bahkan belum hilang. Dia lebih waspada dari mommynya jika menyangkut perempuan penggoda, apa kamu mengerti?" jelas mama Ratna yang sangat marah dengan tindakan puteranya sampai menyakiti cucu kesayangannya.
"Malam itu dia mendengar ada orang yang menelepon Mey kalau ada sekretarismu yang merencanakan sesuatu untuk menunda kepulanganmu ke sini sehingga perusahaan yang sudah stabil kembali goyah. Kaka menelopon mama untuk membantunya membasmi bibit pelakor itu tanpa Mey tahu karena ia tidak mau luka masa lalu isterimu kembali terbuka. Karena itu dia minta mama untuk bertindak, bahkan semua yang dilakukan sampai menjebak sekretarismu adalah idenya semua, mama bahkan terkejut saat melihat dia dengan gampangnya bisa mengoperasi komputer" jelas Mama.
Tubuh Mey bergetar hebat mendengar penjelasan ayah dan mama Ratna mengenai perjuangan puterinya yang mau melindungi keluarganya. Mey bahkan kecewa dengan suaminya yang langsung membentak puterinya begitu saja. Pasti saat ini dia sedang menangis karena orang yang selama ini sangat menyayanginya membentaknya.
Mey pergi begitu saja tanpa kata, ia pergi menyusul puteri sulungnya sampai tidak peduli dengan twins yang menangis kepadanya. Oma Ani akhirnya membujuk kedua cucu kembarnya itu.
"Maafkan Alfa" ucap Alfa lirih dan meneteskan air mata penyesalan.
"Untuk kesekian kalinya kamu mengecewakan dia" ucap Oma membuat Alfa tercekat. Baru pagi ini ia mengajarkan kedua puteranya untuk menyeyangi kaka mereka tapi akhirnya dia yang mengecewakan puterinya.
Di kamar Maggie
Gadis kecil itu kecewa dengan daddynya tapi ia tidak mau menangis untuk kali ini.
Maggie mengambil laptop pemberian opa yang selama ini dia sembunyikan dari kedua orang tuanya, lalu mengotak-atiknya. Beberapa saat kemudian satu pesan masuk melalui E-Mailnya.
Gadis kecil itu membaca dengan teliti lalu memasukan orang-orang yang ada dalam daftar yang diterimanya melalui E-Mail tadi dalam Blacklist. Setelah melakukan hal itu, ia memilih tidur karena memang pekerjaannya beberapa hari ini menguras tenaga dan emosinya.
"Kaka, buka pintunya sayang, ini mommy nak" ujar Mry dari balik pintu kamar puterinya.
"Nak, buka pintunya sayang." panggil Mey lagi karena gadis kecil itu tidak mau membuka pintunya.
"Biarkan dia menenangkan diri, esok kita akan bicara dengannya baik-baik." ucap Mama Ratna yang baru datang menyusul menantunya.
"Maggie ma, Mey tidak pernah membentaknya, pasti dia sangat sedih." ucap Mey yang sudah menangis sesugukan.
Mengerti akan perasaan sang menantu, mama Ratna membawanya kedalam pelukannya.
"Sudalah, pasti dia juga cape karena tidurnya selama ini tidak teratur." ucap mama yang mengajak Mey kembali turun.
Mey yang kecewa dengan suaminya, sama sekali tidak menatapnya.
"Jika kamu nyaman diluar sana, jangan pernah membentak anak-anakku. Jangan pernah mengecewakan mereka karena aku masih bisa membahagiakan mereka dengan caraku sendiri" ucap Mey yang sejak tadi tidak sepatah katapun.
Degg
Alfa tercekat. Kelancangannya barusan ternyata dampaknya sangat besar, ia kembali melukai hati kedua wanita yang pernah dia kecewakan.
"Maaf" Lirih Alfa dengan tubuhnya yang sudah merosot kebawah dan berlutut tepat di bawa kaki isterinya.
"Maafkan aku," ucap Alfa sambil meneteskan air matanya menahan sesak di hatinya.
Satu yang Alfa takutkan saat ini, membuat hati isterinya kembali membeku.
"Istirahatlah dulu, akan kita bicarakan esok jika kaka sudah tenang." putus opa Devid. Alfa akhirnya berdiri ketika mertuanya memegang punggungnya. Dengan lemah ia menggendong salah satu puteranya dan membawa ke dalam kamar mereka diikuti oleh Mey. walaupun keduanya lagi tidak baik-baik saja tapi tetap anak-anak perioritas utama.
BERSAMBUNG