
“Ade, daddy datang sayang” ucap Alfa yang tidak melihat puterinya ada tanda-tanda menyambutnya.
Ayah Devid yang tahu cucunya lagi ngambek hanya tersenyum tanpa mengeluarkan suaranya.
Alfa mulai frustrasi dengan tingkah puterinya kali ini. Ia berjalan mendekati gadis kecil itu dan berjongkok tepat di depannya dan mengusap kepalanya namun dengan cepat ia menolak tangan daddynya dari atas kepalanya.
“Ade malah sama daddy, sama mommy juga” ucapnya tanpa melihat wajah daddynya yang ada di depannya.
Mey yang baru sampai mendengar ucapan anaknya menjadi bingung sendiri.
“Kanapa ade marah sama mommy?” tanya Mey memastikan.
“Pokoknya ade malah” ucapnya tegas, membuat Alfa menatap ke arah Mey dan keduanya sama-sama bingung. Mereka sama-sama beralih menatap opa yang duduk santai di atas sofa, ayah yang ditatap bersamaan oleh kedua orang tua cucunya hanya tersenyum sambil mengangkat kedua bahunya seolah berkata aku juga tidak tahu.
Mey tanpa mengganti pakaiannya, hanya menimpan tasnya di sofa dan turut berjongkok di depan puterinya.
“Oke ade boleh marah tapi kasih tahu mommy, ade marahnya karena apa biar mommy tahu dan mommy perbaiki jika salah sama ade” ucap Mey dengan sangat lembut.
“Ade malah sama mommy kalna mommy tida peduli ade lagi, mommy kelja sampe malam tida temani ade belajal” ucap Maggie meluapkan isi hatinya dengan berkaca-kaca membuat Mey tersentuh dan membawa puterinya ke dalam dekapannya, di sana Mey juga merasa bersalah sampai meneteskan air matanya.
Sampai di Sini Alfa paham kalau selama ini Mey cukup menderita, harus pandai membagi waktu untuk anaknya dan pasti itu sangat berat.
“Ade juga malah sama daddy kalna opa bilang daddy hanya
pelgi tiga hali tapi sudah satu minggu balu kambali.” Ucapnya sambil mengangkat tiga jarinya sebagai jumlah hari yang dijanjikan daddynya.
“Ade malah juga kalna daddy tida bawa ade lihat olang jahat” protes Maggie yang tahu dari opanya jika daddynya pergi sebentar untuk menangkap orang jahat.
Mey yang tadinya sedih mendadak pusing dengan tingkah anaknya yang ada-ada saja setiap hari. Hanya gara-gara mau lihat orang jahat ia sampai marah besar dan membuat orang serumah ikut panik.
“Terus daddynya dimaafin tidak?” tanya Alfa.
“Dimaafin tapi ada syalatnya” ucapnya santai
“Syarat apa de,” tanya Alfa lagi
“Daddy halus bawa ade lihat olang jahat” ucapnya tegas membuat Alfa mati kutu.
Alfa yang punya banyak ide, memilih membisikan sesuatu pada puterinya sehingga secepat kilat anak kecil itu berubah haluan.
“Oke deh, ade tida mau lihat olang jahat lagi.” Ucapnya membuat yang lain bingung, apa yang dibisikan oleh Alfa sehingga anak keras kepala itu menurut dalam waktu singkat.
Keluarga itu akhirnya bekerja bakti dengan malam-malam membereskan semua mainan anak kecil itu dan menaruhnya kembali ke tempatnya.
*****
“Ayah, aku ingin membicarakan sesuatu” ucap Alfa meminta ijin pada opa dari cucunya saat mereka selesai makan malam.
“Bagaimana, apa yang mau kamu bicarakan. Apa kamu ingin pergi ke Swis?” tanya ayah sambil terkekeh.
“Apa kamu yakin tidak akan membuat mereka kecewa?” ucap ayah tegas.
“Yakin ayah. Sangat yakin” jawab Alfa yang tak kalah tegas.
“Sebenarnya aku berat untuk kembali memberi kamu kesempatan, tapi berhubung dengan aku yang semakin menua dan tidak ada orang yang nantinya menjaga mereka maka aku kasih kesempatan tapi itu tergantung pada Mey dan juga Maggie, karena kalian yang nanti menjalaninya” ucap ayah menuangkan isi hatinya.
Alfa terdiam, ia pasrah jika memang Mey mengatakan tidak.
“Bagaimana nak?” tanya ayah.
“Aku sudah pernah gagal membangun rumah tangga, mungkin aku yang kurang sempurnah di mata mas Alfa atau bagaimana,…” ucap Mey menjeda ucapannya
Deg
Alfa merasa teriris dengan kata-kata Mey yang seolah menyindirnya.
“Jika mas Alfa serius maka aku akan menerima demi puteriku. Aku juga pernah merasakan bagaimana rasanya hidup tanpa orang tua jadi aku tidak ingin anakku juga merasakannya. Jadi aku iya saja jika mas serius kembali memperbaiki rumah tangga kita” ucap Mey yang mengandung banyak makna.
“Terima kasih, aku janji tidak akan mengecewakan kalian lagi. Terima kasih ayah sudah mau menerimaku kembali untuk mendampingi Mey membesarkan anak kami walaupun sebenarnya sudah terlambat.” Ucap Alfa merasa senang, setidaknya masih ada kesempatan kedua untuknya.
Berita tentang lamaran Alfa diterimma oleh keluarga Mey akhirnya sampai ke telinga papa Alberth dan mama Ratna. Kedua orang tua pria itu sangat bersyukur akhirnya putera mereka kembali menata hidupnya dengan wanita yang tepat baginya.
Mama Ratna yang tidak mau berlama-lama segera menelepon tuan Devid agar pernikahan kedua anak mereka kembali dilangsungkan dalam waktu beberapa minggu ke depan nanti.
Mey tidak ingin pernikahan mereka yang kedua ini dirayakan meriah, karena ia hanya ingin yang sederhana asalkan keluarga mereka bahagia nantinya. Alfa hanya mengikuti apa yang Mey inginkan asalkan wanitanya itu bahagia bersamanya hingga akhirat.
Persiapan pernikahan Alfa dan Mey sudah muali dipersiapkan, walaupun acaranya sederhana tapi mama Ratna ingin yang terbaik karena mengingat pernikahan pertama mereka sama sekali tidak ada resepsinya. Pernikahan telah ditentukan sebulan lagi dan itu benar-benar persiapan yang maraton bagi dua keluarga tersebut.
*****
“Al, kamu sudah beli cincinnya?” tanya mama Ratna ketika mereka makan siang bareng di sebuah restoran bersama Mey dan Maggie siang ini.
“Belum ma, rencananya setelah ini mau ke sana soalnya selama ini Mey benar-benar padat kerjanya.” Ucap Alfa pada kedua orang tuanya.
“Menurut aku sih lebih bagus pakai cincin nikah yang dulu saja ma, tidak baik cincinnya dua” ucap Mey memberi pendapat. Walaupun sekarang dia seorang pemimpin perusahaan ternama di negara ini, tapi jiwa sederhananya tetap melekat dalam dirinya.
“Ya aku masih simpan cincinku waktu itu, kamu?” tanya Alfa pada calon isterinya
“Aku menyimpan semuanya di kotak perhiasan yang ada di lemari pakaian kami waktu itu” jelas Mey.
“Oke kalau begitu kita kembali ke Indonesia dalam waktu dekat untuk mengambilnya karena minggu depan adalah hari pernikahan kita.” Ucap Alfa.
“Iya sekalian ke makam ibu soalnya ayah juga ingin ke sana dan Maggie juga belum pernah ke sana, aku juga sudah lama sekali belum pernah ke sana sejak nenek aku meninggal” ucap Mey. Alfa merasa bersalah untuk kesekian kalinya yang tidak pernah memberi kebahagiaan kepada wanitanya walau hanya dengan hal kecil seperti berkunjung ke makan sang ibu mertuanya itu.
-BERSAMBUNG-