Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Kelebihan Daffi



Maggie kembali mengutak atik laptopnya setelah kepergian sang suami ke kantor. Ia tidak puas sebelum memastikan orang yang dia curigai itu benar atau salah.


Setelah beberapa saat bertempur dengan benda tersebut akhirnya ia mendapatkan jawabannya. Awalnya ia sempat terkejut dan ingin marah namun pada akhirnya ia tersenyum bangga dengan cara kerja orang tersebut.


"Ternyata benar ini adalah kamu de, selama ini kaka menganggapmu nggak bisa apa-apa ternyata kamu punya kemampuan yang sangat luar biasa. Cara kerjamu sangat rapi dan kamu pakai perusahaan daddy sebagai bahan percobaan padahal kamu tahu di dalamnya ada banyak orang yang hebat IT namun kamu berani menerobos data perusahaan. Baiklah kaka akan ikutin permainan kamu tanpa membocorkan nya kepada abang, dan yang lainnya biar mereka kalang kabut dikerjain sama kamu" gumam Maggie begitu berhasil meretas balik data heaters yang meretas data perusahaan tersebut. Jalan Satu-satunya Maggie pakai caranya sendiri untuk menangkap orang itu.


Dia Adalah Daffindra Barack Adipaty, anak yang tidak biasa diandalkan ternyata menyimpan kemampuan yang sangat luar biasa. Dia menggunakan identitas palsu namun kejeniusan sang kaka tidak bisa diragukan lagi. Dari kecil Maggie sudah bisa merancang virus sendiri apalagi hanya melacak para hacker.


Maggie membiarkan sang adik untuk mengasah kemampuannya menggunakan perusahaan daddynya yang ada di indonesia sebagai bahan uji coba. Maggie tahu bahwa sekalipun ia menggoncangkan perusahaan tapi pasti dia punya satu lembaga khusus secara online untuk menyimpan semua rampasan yang ia ambil dari perusahaan daddynya.


Setelah berhasil, Maggie kembali menutup laptopnya dan bersantai ria di dalam kamar. ia bahkan menonaktifkan ponselnya agar tidak seorang pun meneleponnya karena ia tahu bahwa daddynya dan orang-orangnya tengah kalang kabut dengan masalah perusahaan tersebut. apalagi dalam hari ke tiga ini, heaters itu semakin ganas bermain api dengan perusahaan tersebut.


Baik Daffa, om Riko maupun daddynya tidak mampu mengusiknya.


Maggie lebih banyak mengabiskan waktu mengobrol dengan sang buah hati jika lagi sendirian di dalam kamar.


Beberapa saat kemudian si bumil mulai mengantuk dan tertidur hingga sore menjelang.


"Aduhhh aku ketiduran, untung belum malam" gumamnya saat bangun dan menatap keluar jendela ternyata masih terang. Ia bahkan lupa mengaktifkan kembali ponselnya.


"Ka Roberth pasti belum pulang" gumamnya lagi dan memilih bangun untuk mandi karena Roberth tidak mengijinkannya mandi malam-malam.


Setelah beberapa saat bersih-bersih di dalam kamar mandi ia pun mengakhiri mandinya dan berganti pakaian lalu turun mencari yang lain di lantai dasar.


"Eh anak mama sudah segar, mau apa sayang? apa kamu menginginkan sesuatu untuk dimakan?" tanya mama yang sedang ikut memasak di dapur.


"Nggak ada ma. Maggie hanya mau minum susunya saja" ucapnya dan sang mertua dengan cekatan langsung membuat susu hamil untuk menantunya.


"Ka Maggie, apa abang menghubungi kaka?" tanya Ike yang baru datang dengan wajah cemberut karena sudah tiga hari kekasihnya itu tidak menghubunginya bahkan tidak ada pesan sekalipun.


"Nggak, memangnya kenapa? apa kamu berantam?" tanya Maggie dengan sabar walaupun Ike sedikit lebay tapi ia maklumi karena gadis kecil itu lagi kasmaran.


"Abang ilang kabar sudah tiga hari nggak telepon ngak ngechat, SMS pokoknya semua" ucapnya ngambek.


Ternyata masalah perusahaan berdampak sampai hubungannya abang sama Ike. Pasti abang lagi membantu daddy sama om Riko sehingga melupakan Ike. Daffi,,, jika abang tahu pelakunya kamu maka siap-siap kena amukan si macan tutul itu. Batin Maggie terkekeh karena Daffi berhasil membuat para master itu kewalahan.


"Pasti sibuk, perusahaan daddy bermasalah jadi pasti dia tengah membantu menyelesaikan" jelas Maggie.


"Oh gitu ya?" tanya Ike.


"Iya jangan cemberut nanti cantiknya ilang" ucap Maggie membuat adik iparnya itu langsung tersenyum kembali.


.


.


.


Rockzy sudah sebulan ada di Mexico bersama sang papa dan hari ini mereka akan kembali ke Indonesia karena tuntutan pria tua itu untuk bertemu dengan calon menantunya. Mau tidak Mau Rockzy harus membawanya kembali untuk bertemu dengan Ria, kekasihnya itu.


Opa Gaston sudah pulih seperti semula, dan sebagai orang yang dulunya pekerja lalu sekarang harus berdiam diri tentu membuatnya bosan sehingga ia selalu mencari cara agar bisa Jalan-jalan kemana saja. Setelah dipikir-pikir akhirnya ia menemukan alasan agar bisa Jalan-jalan lagi yaitu datang ke indonesia.


"Nak, papa sudah semakin tua dan satu yang papa minta dari kamu" ucap opa Gaston.


"Apa itu pa?" tanya Rockzy


"Papa ingin melihatmu menikah" jawab Opa Gaston.


"Tapi pa.. " ucap Rockzy terpotong.


"Kamu sudah pernah janji untuk pertemukan papa sama pacar kamu di Indonesia itu kan? tapi sampai sekarang papa belum bertemu dengannya" gerutu orang tua itu.


"Iya pa, akan aku pertemukan secepatnya." jawab Rockzy mengalah.


"Papa mau esok kita kembali ke Indonesia karena papa mau sekalian menjenguk kaka" ucap opa Gaston.


"Iya pa" jawab Rockzy. ia juga sudah merindukan sang kekasih yang sudah tidak bertemu satu bulan ini.


"Nak, apakah kamu mau bertemu ibumu?" tanya opa Gaston. Rockzy terlihat berpikir sejenak dan menggelengkan kepalanya.


"Kenapa nak? mungkin saja dia sudah berubah setelah mendapatkan beberapa pelajaran" jelas opa Gaston.


"Sebaiknya tidak pa, aku sudah bahagia dengan hidupku yang sekarang. Aku sudah punya papa dan keluarga Maggie" ucap Rockzy dengan wajahnya yang sendu.


Walaupun bibirmu bilang tidak, tapi hati kecilmu ingin tahu apakah dia baik-baik saja atau tidak. Mungkin tidak sekarang kamu bertemu dengannya tapi nanti saat kamu sudah bisa berdiri di atas kakimu sendiri, papa akan membawanya untuk melihat keberhasilanmu dimasa mendatang. batin pria tua itu.


Sebelum ia mempertemukan Rockzy dan sang ibu, ia akan menikahkan anaknya itu terlebih dahulu agar semua harta yang jatuh ke Rockzy dikendalikan oleh isterinya karena ia yakin jika ibunya itu belum berubah maka semuanya akan kembali berantakan.


"Baiklah jika itu keinginanmu. Papa sangat senang mendengarnya karena dalam hal apapun kamu tidak pernah meninggalkan papa. Apa kamu juga tidak ingin tahu kabarnya?" tanya opa Gaston lagi. Rockzy lagi-lagi diam sejenak dan kembali menggeleng kepala sebagai tanda tak mau berurusan lagi dengan ibunya.


"Ya sudah. Bagaiamana pekerjaan dikantor? apakah aman?" tanya papa mengalihkan perhatian puteranya dari pembicaraan mereka sebelumnya.


"Semuanya aman pa, terimakasih sudah mengijinkan vicky membantuku" ucap Rockzy.


"Papa tahu kalau kamu butuh teman untuk menangani pekerjaan itu" jawab papa.


Sepasang papa dan anak itu terus bercerita seputar pekerjaan dan orang-orang yang mencurigakan dalam pekerjaan tersebut.


.


.


.


"Boleh" jawab yang lain kecuali Daffa.


"Maaf ya, aku ada urusan" ucapnya tenang.


"Sesekali lah bang" bujuk sang adik.


"Kamu aja sama mereka" ucap Daffa kepada adiknya


"Tidak seru kalau cuma berempat" ucap Daffi.


"Kamu tahukan apa yang sekarang daddy alami, kalau kamu tidak mau bantu ya jangan halangi aku" ucap Daffa kepada adiknya yang terlalu santai menganggap masalah serius ini sebagai sesuatu yang biasa saja.


"Ya sudah, aku sama mereka saja" ucap Daffi.


Kelas berakhir, Daffa langsung keluar meninggalkan sahabat-sahabatnya termasuk sang adik. tujuannya sekarang adalah kantor papanya karena ia sudah menghubungi Om Riko untuk datang ke sana.


Setelah kepergian sang abang.


"Daffi, memangnya daddymu ada masalah apa?" tanya Harry


"Iya Daffi, sepertinya masalahnya cukup serius" sambung Dave.


"Ya mana aku tahu. Kalau soal perusahaan ya aku malas lah ikut campur" jawab Daffi santai.


"Memangnya Cita-citamu mau jadi apa sih?" tanya Gabriel.


"Aku sama sekali belum kepikiran mau jadi apa tapi aku akan melakukan apapun yang aku mau setelah aku lulus kuliah" jawab Daffi yang tidak mau ambil pusing.


"Parah kamu Daffi, disaat keluargamu sedang pusing ngurus perusahaan kamu malah bersantai" ucap Harry.


"Biarin, lagian mommy ku tidak pernah memaksaku untuk berkerja dari sekarang. Jadi sebaiknya aku pakai masa mudaku untuk bersenang-senang." Jawabnya sambil tersenyum.


Daffi, Harry, Gabriel dan Dave pergi meninggalkan kampus untuk menuju ke tempat tujuan mereka jika lagi bete.


Sisi lain.


Daffa sudah tiba di kantor daddynya dan ternyata sudah ada Riko di sana.


"Sudah datang bang? mana ade" tanya Alfa karena tidak melihat anak bontot nya.


"Pergi main sama Harry, Dave dan Gabriel" jelas Daffa sambil beristirahat sejenak di sofa yang ada di ruangan daddynya.


"Anak itu sangat santai hidupnya" ucap Alfa yang melihat putera bungsunya belum mau terikat dengan pekerjaan.


"Bagaimana bang, apakah sudah ada kemajuan?" tanya Alfa mulai serius membahas soal pekerjaan dan lebih tepatnya soal masalah yang kini tengah dihadapi.


"Masih seperti kemarin dad, dia bermain cukup cantik. Setiap kali kita mengikuti jejaknya akan langsung terhapus secara permanen. Apakah kaka sudah menemukannya?" jelas Daffa sekaligus bertanya tentang sang kaka.


"Ponsel kaka bahkan tidak bisa dihubungi" ucap Alfa.


"Mungkin si bumil lagi kecapaian dan tidak ingin diganggu dad, makanya ponselnya dinonaktifkan" ucap Daffa memaklumi sang kaka yang lagi berbadan dua itu.


"Iya kita coba lagi dulu siapa tahu berhasil" ucap Alfa.


Ketiganya mulai menghidupkan laptop mereka masing-masing untuk kembali melacak pelaku tersebut.


Di sisi lain


"Ade, mana abang? ko kamu ke sini sendiri sih?" tanya Mey karena putera bungsunya datang ke kantornya sendiri.


"Bukannya abang sudah ke sini lebih dahulu?" tanya Daffi pura-pura tidak tahu.


"Apa dia lagi membantu daddy menyelesaikan masalah daddy?" tanya Mey.


"Mungkin juga mom" jawab Daffi.


"Iya benar soalnya om Riko juga sedang ada di kantor daddy. Lalu kamu ke sini ngapain?" tanya Mey.


"Mau minjam ranjang mommy buat tidurlah" ucapnya santai dan masuk ke ruang istirahat yang tersambung langsung dengan ruang kerja itu.


"Cih begitu aja terus, kapan berubahnya?" gerutu Mey tapi sang Putera tidak ambil pusing.


Mey membiarkan puteranya untuk beristirahat karena mungkin ia kecapean.


"Mom" panggil Daffi yang hanya mengeluarkan kepalanya saja dari balik pintu kamar itu.


"Yes" jawab Mey.


"Kalau sudah jam pulang jangan lupa bangunkan ade ya?" seru Daffi dan kembali masuk untuk tidur. Mey hanya menggeleng kepala melihat tingkah anak bungsunya itu karena dari ketiga anaknya hanya Daffi yang berbeda. Tidak pernah serius dengn pekerjaan. Mey sempat gelisah, mau jadi apa anaknya itu. Jika dia dikasih perusahaan untuk mengelolahnya apakah dia mampu atau tidak, itulah yang menjadi beban pikiran Mey. Tapi hati kecilnya yakin jika anaknya itu mampu hanya belum saatnya saja.


Bersambung