Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Tiga Pribadi



"Awas!!!" teriak Roberth yang langsung menarik Maggie menghindari benda tajam yang tengah diarahkan kepadanya.


Gadis asing itu langsung masuk ke dalam pelukan Roberth.


Deg


keduanya sama-sama merasa aneh dengan jantung mereka yang serasa berhenti saat kedua tubuh itu saling bersentuhan.


Siapa kamu? Batin Roberth bertanya.


Aku kenapa? Batin gadis itu.


"Akhhh" terdengar suara jeritan dari belakang mereka.


Seorang pria yang tadi menjadi lawan gadis itu sudah rebah ke lantai dengan darah segar yang keluar dari pinggangnya.


Maggie terkejut dan cepat-cepat melepaskan diri dari dekapan Roberth, tapi sayangnya masker yang melekat di mulut gadis itu terlepas dan beruntung lampu ruang itu tidak begitu terang sehingga Roberth tidak bisa mengenali wajah gadis yang ada di depannya itu


Saat semua orang tengah fokus pada salah seorang sahabat Robin yang terkena belati tajam yang tadi diarahkan pada Maggie, gadis itu mengambil kesempatan untuk menghilang dari sana saat Roberth juga lengah.


Yang lain menolong sahabat Robin untuk membawanya ke rumah sakit, yang lainnya mencari keberadaan gadis tersebut.


"Cepat cari gadis itu sampai dapat" perintah Robin dengan suara nyaring.


"Sial, siapa gadis itu? apa tujuannya dia menyerang kita tanpa alasan. Aku rasa dia bukan gadis sembarangan" ucap Asaf menimpali Robin sambil meninju meja yang ada di depannya.


Sedangkan di sisi lain ruangan itu, Roberth kewalahan saat gadis itu menghilang secara tiba-tiba dari hadapannya. Ia sampai memegang kepalanya saking banyak pikiran membayangkan wajah gadis yang tidak asing baginya itu.


Siapa kamu? apa kita pernah bertemu sebelumnya? Aku seperti merasakan kalau kita sudah lama saling mengenal. Batin Roberth yang frustrasi dan akhirnya mendudukan bokongnya di salah satu kursi di sana.


Acara ulang tahun akhirnya dibubarkan lebih awal karena tragedi singkat yang menegangkan itu. Malam itu semua bahkan tidak mengenali sosok gadis yang telah membuat kekacauan itu, mereka tidak ada yang mengenal kalau gadis itu adalah orang yang selama ini dekat dengan mereka dan lebih tepatnya teman sekelas mereka.


****


Di tempat lain,


Maggie baru tiba di apartemennya dan tengah berbaring di kasur king zisenya.


"Hufff belum puas aku menghajar merek, lalu kenapa harus ada kejadian seperti itu? kalau saja aku lebih serius ari awal, pasti sudah aku buat mereka babak belur." gerutu Maggie karena belum berhasil membuat manusia-manusia bajingan tadi berakhir di rumah sakit.


"Tapi siapa orang yang melempar belati itu?" gumam Maggie kembali mengingat saat salah satu sahabat musuhnya terluka dan juga menghubungkan dengan pria yang menolongnya. Ia dapat memikirkan kalau tujuan belati tajam itu bisa saja bertujuan untuk melukainya.


"Apakah ada musuh lain yang membenciku tanpa aku sadari? jika iya maka aku akan harus lebih berhati-hati" gumamnya lagi.


Maggie terus memutar otaknya sampai matanya menyerah dan tertidur dengan sendirinya di apartemennya.


Malam ini gadis itu tidak kembali ke kontrakannya karena merasa belum berhasil menuntaskan misinya.


****


"Lobelt, kamu sudah datang ya?" tanya seorang gadis kecil pada sahabatnya yang bernama Roberth, saat mereka berada di sekolah yang sama.


"Namaku Roberth bukan Lobelt" protes pria kecil itu karena tidak terima namanya disebut dengan tidak benar.


"Cih, kamu mah gak pengeltian sama aku" gerutu gadis kecil itu sambil pergi meninggalkan pria kecil tersebut yang masih berdiri di sana.


"Serius kamu marah sama aku? tidak mau berteman lagi sama aku?" ucap pria kecil itu saat akan ditinggalkan oleh sahabat kecilnya.


"Gak, Kaka ngambek tapi kalo dibeliin hadiah, Kaka mau belteman lagi sama kamu" ucapnya manja membuat pria kecil itu tersenyum sambil mengusap pucuk kepalanya.


"Iya, tidak akan. Kita akan tumbuh bersama-sama hingga dewasa nanti" ucap pria kecil itu meyakinkan.


"Telima tacih Lobelth, kaka cayang tamu" ucap gadis kecil itu dengan menampilkan wajah imutnya.


Tiba-tiba muncul seorang gadis remaja yang cantik dengan penampilan yang luar biasa seperti seorang model yang tubuhnya melekat semua barang-barang branded.


"Bukannya kamu teman kelasku yang baru di kampus?" tanya seorang pria dengan penuh kebingungan karena penampilannya sangat bedah jauh dengan penampilan ketika di kampus yang terbilang sangat sederhana


"Iyalah" ucap gadis itu culas.


"Tapi kenapa penampilan kamu beda sama yang di kampus?" tanya pria itu.


"Suka-suka akulah, mau penampilan seperti apa saja kan bukan haknya kamu kan?" jawabnya dengan nada juteknya.


"Bukannya kamu orang miskin yang tidak bisa membeli baju sebagus ini? atau apa kamu mencuri pakaian milik orang?" cibir pria itu.


"Yeee nggak tahu aja lo kalau aku anak sultan. Enak aja dibilang aku pencuri, masa secantinlk ini pencuri sih? yang benar aja kalau ngomong" gerutu gadis itu tidak terima baik.


"Kalau mimpi jangan ketinggian non, mana ada anak sultan ke sekolah kaya pemulung masuk kampus" cibir pria itu sekali lagi.


"Cih, Untung ganteng kalau nggak udah aku bawa kabur biar tahu rasa Lo, belum tahu kalau aku bisa menculikmu sekarang" ucap gadis itu langsung pergi meninggalkan pria itu.


Baru hendak melangkah pergi, pria itu kembali bertemu dengan seorang gadis yang berpakaian serba hitam seperti yang dia tolong di club malam itu.


"Hei, mau apa lagi kamu? dikejar lagi ya? makanya hidup itu jangan punya banyak musuh" ucap pria itu yang sudah malas berkomunikasi dengan orang apalagi orang asing seperti sekarang.


"Jangan katakan kepada siapapun tentang siapa aku. Aku percaya kamu orang baik yang bisa menutup mulut tentang aku" ucap gadis itu tegas dan pergi lagi dari sana.


"Siapa kamu?" tanya pria itu. Tiba-tiba ada cahaya yang menampilkan ketiga orang gadis yang dia ketemu itu secara bergantian. Semakin lama semakin cepat pergatian wajah-wajah itu.


"Maggie!!!" teriak Roberth saat kembali ke alam sadarnya.


"Ternyata cuma mimpi" gumam Roberth.


"Apa artinya mimpi tadi dan apa hubungan antara sahabat kecilku dengan gadis-gadis remaja tadi?" gumam Roberth sambil mengusap keringat yang ada di dahinya.


Roberth bangun dan melihat jam di atas nakas ternyata hampir jam enam pagi.


Roberth bangun dan menuju kamar mandi karena haru ini ada kelas pagi.


Pria itu akhirnya menyelesaikan ritualnya di kamar mandi dan beralih ke ruang ganti.


.


.


.


"Ma, pa aku berangkat ya?" ujar Roberth melewati kedua orang tuanya yang juga baru turun dan hendak menuju ke ruang makan.


"Tidak sarapan dulu sayang?" tanya sang mama.


"Tidak, nanti di kampus" jawab Roberth dan langsung pergi meninggalkan kedua orang tuanya.


Roberth melangkah pergi menuju kampus namun pikirannya tetap fokus pada mimpinya semalam.


BERSAMBUNG