Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Pertama kali



Hi semuanya, maaf baru up lagi karena ada urusan untuk saudara menikah.


Happy Reading ❤️


"Biarkan dia masuk" perintah suara itu. Siapa lagi kalau bukan Oma yang memberi perintah.


Baru beberapa detik, pria itu kembali memintanya untuk masuk.


"Silahkan masuk anak muda" ucap pria berseragam putih hitam itu.


Loh bukannya baru beberapa detik lalu dia bersih keras tidak mengijinkan aku masuk? lalu kenapa tiba-tiba dia berubah ya? Batin Roberth


Roberth akhirnya diberi kesempatan untuk masuk ke dalam mansion keluarga Adipaty dan ini adalah kali pertama ia menginjak kakinya di sana.


Roberth melangkah memasuki area mansion yang terbentang luas dan asri walaupun siang bolong. Dengan langkah yang pasti sambil menatap sekelilingnya hingga ia mencapai gedung besar yang berdiri di tengah-tengah taman itu.


Roberth yang baru menaiki tangga pertama mansion itu kembali terkejut karena pintu sudah terbuka dari arah dalamnya dan berdirilah seorang ART yang sudah menunggunya.


Apakah mereka memantauku? kenapa mereka seolah tau semua pergerakanku padahal aku kan belum mengetuk pintunya? Batinnya lagi.


"Silahkan masuk tuan muda, tuan dan nyonya besar sudah menunggu di dalam" ucap sang ART yang sedang menunggunya itu.


"Hah?" ucap Roberth terkejut karena ucapan yang mengatakan jika keluarga itu sudah menunggunya.


Roberth melangkah mengikuti ART tersebut hingga ruang keluarga, ternyata semuanya lagi bersantai di sana kecuali Maggie yang tidak ada.


"Selamat siang semua" ucap Roberth memberi salam kepada keluarga gadis yang ia buntuti sejak tadi.


"Selamat siang nak, mari" ucap Mey yang sedang duduk di samping suaminya dan juga opa Alberth dan isterinya, dan si kembar.


Dengan ragu Roberth duduk di sofa single yang kosong dan menatap sekelilingnya. Ia tahu mansion ini milik keluarga Adipaty dan baru kali ini ia masuk ke dalam rumah raja bisnis itu.


"Ade, panggil Kaka supaya kita makan siang" perintah Mey kepada putera bungsunya.


"Iihh Kaka lama bangat sih, nggak tahu apa semua sudah pada lapar" gerutu Daffi sambil bangun dan membuang ponsel yang ia mainkan tadi ke atas tempat duduknya tadi.


Saat akan pergi, tiba-tiba muncullah Maggie yang sudah berganti pakaian.


"Yuk makan, udah lapar nih" ucap Maggie mengajak keluarganya. Ia belum sadar dengan kehadiran sesorang di sana karena Roberth yang duduk membelakanginya.


"Ayo nak Roberth, kita makan dulu, kamu pasti belum makan kan?" ucap Mey sambil mengajak anak muda itu.


Deg


Roberth? sejak kapan dia ada di sini dan untuk apa dia kemari? Batin Maggie sambil menatap pria itu dari belakangnya.


Roberth berdiri mengekori para orang tua dengan sopan sedangkan Maggie malah berdiri menatap kepergian mereka dengan bingung.


"Udalah ka, jangan buat mommy panggil lagi deh" ucap Daffi sambil menyusul orang tuanya dan disusul oleh Daffa juga.


Mereka berkumpul di meja makan dan menikmati hidangan yang ada. Roberth dan Maggie saling mencuri pandang hingga tiba-tiba bunyi ponsel berdering dari arah Maggie.


"Halo nona manis, apakah kau masih mau bersembunyi?" ucap suara dari seberang telepon.


Wajah gadis itu mendadak berubah seram saat mendengar ada suara bibi yang berada di apartemennya berteriak memintanya agar jangan ke sana untuk menemui orang-orang jahat itu.


"Lepaskan dia atau kau akan bangun di neraka esok pagi" ucap Maggie penuh penekanan membuat Roberth terkejut sedangkan yang lain santai saja.


"Aku ingin kau yang datang untuk melepaskannya" tantang pria dalam telepon itu.


"Oke baiklah, aku terima tawaranmu" ucap Maggie langsung bangun saat makanannya belum sebagian juga.


"Aku ikut" ucap Roberth yang turut berdiri.


"Aku tidak mau melibatkanmu dalam urusan pribadiku" ucap Maggie tegas namun tidak digubris oleh Roberth.


"Kaka, tukar dulu pakaiannya" perintah Oma Ratna yang sejak tadi berdiam diri.


"Iya Oma" jawab Maggie sambil melangkah pergi ke kamarnya. Roberth spontan mengekori gadis itu tapi langsung dicegat oleh Alfa.


"Mau ke mana? belum dibayar maharnya jangan main ikut-ikut saja ke kemar puteriku" ucap Alfa membuat Mey menatapnya tajam.


Roberth akhirnya berhenti melangkah dan berbalik kembali ke arah dimana para orang tua itu berada.


"Itulah pekerjaan Maggie selama ini" ucap Oma Ratna.


"Maksud Oma?" tanya Roberth.


"Maggie memilih untuk menutup perasaan terhadap pria karena pekerjaannya yang cukup ekstrim. Ia seorang monster yang sudah menghabiskan banyak nyawa karena itu dia takut tidak bisa diterima dari segi apapun" jelas Oma membuat Roberth terkejut.


"Ja ja di karena itu Maggie tidak mau menerimaku?" ucap Roberth yang baru tahu soal sisi gelapnya.


Tanpa mereka sadari gadis itu sudah keluar dan pergi dari sana.


"Iya itulah sisi gelapnya dan itu yang membuatnya menutup diri dari semua yang ada di luar sana" jelas Oma.


Mereka terus berbicara tentang keadaan Maggie sementara gadis itu entah sudah sampai di mana.


"Loh mana Kaka? ko belum turun- turun?" tanya Oma yang sejak tadi serius dengan Roberth.


"Sudahlah Oma,, ka Maggie udah pergi" jawab Daffa.


"Hah?" Roberth terkejut karena gadis itu pergi saat ia sendiri tidak sadar.


"Kemana dia pergi?" tanya Roberth memastikan.


"Ke apartemen yang ada di pusat kota lantai 12" ucap Oma memberi keterangan lengkap.


Semua menatap Oma dengan bermacam-macam pikiran. Melalui tatapan opa Alberth seolah ia bertanya, kenapa harus memberitahukan Roberth? bagaimana dia mengikuti Maggie dan melihat sisi gelapnya lalu menjauhi cucu mereka, karena opa tahu bahwa Maggie sangat mencintai pria itu sejak dulu.


Roberth yang begitu mendengar penjelasan Oma langsung berlari keluar tanpa pamit dan menancapkan gas mobilnya menuju lokasi yang sudah diberitahukan.


"Ma, kenapa memberitahukan posisi Kaka untuk dia? bagaimana kalau dia menjauhi Kaka, pasti cucu kita akan sangat sedih" ucap opa tidak habis pikir dengan jalan pikir isterinya.


"Biar semuanya jelas dari sekarang agar cucuku tidak menghabiskan bamyak waktu untuk pria yang tidak menerima dia apa adanya" jelas Oma.


"Maksud mama?" kini giliran Alfa yang bertanya.


"Iya? tinggal kita dengar informasi dari para anak buah kita, apa yang dilakukan oleh anak muda itu saat melihat sisi gelap Kaka. Apakah dia mau bertahan ataukah menyerah." ucap Oma sekali lagi.


"Benar juga ma, itu ide yang bagus dan brilian" ucap Alfa memuji.


"Ya iyalah siapa dulu, bukan kaya kamu maunya lengket aja terus sama isteri." cibir Oma.


"Biarin, kan sama isteri sendiri, iya kan pah?" ucap Alfa tidak mau kalah.


"Oke cukup. Jadi bagaimana, kita jadi berangkat esok atau gimana?" tanya opa mengakhiri perdebatan sang isteri dan anak nya yang tidak mau saling mengalah.


BERSAMBUNG


"