
Pagi ini, sesuai perintah opa Gaston, Roberth terpaksa harus pulang walaupun ia sendiri belum tahu apa yang harus dia lakukan untuk bisa bertemu dengan sang kekasih. Selama sehari semalam, Roberth bahkan tidak melihat batang hidungnya Maggie namun ia tetap positif thinking.
"Opa, aku pamit" ucap Roberth sambil mencium punggung tangan opa Gaston.
"Iya, Hati-hati di jalan" jawab opa singkat.
Anak muda itupun melangkah pergi dari mansion raksasa itu. Opa Gaston bahkan sudah memberi perintah kepada anak buahnya untuk mengantar Roberth ke Bandara. Dengan berat hati ia melangkah pergi karena perjuangannya bisa dibilang sia-sia.
"Opa yakin kamu pasti paham apa yang harus kamu buat" gumam opa sambil menatap punggung anak muda itu yang sudah hilang dibalik mobil yang baru saja dimasuki.
Sebenarnya opa Gaston merasa kasihan dengan Roberth namun ia tahu betul watak cucunya yang punya pendirian kokoh. Jika ia sudah berkomitmen untuk tidak keluar dari ruangan itu sebelum satu bulan maka apapun terjadi ia akan tetap memegang komitmennya itu.
.
.
Roberth sudah tiba di bandara.
"Terima kasih pak, sudah mengantarku sampai di sini" ucap Roberth sopan.
"Sama-sama tuan muda" jawab kedua pria bertubuh tegap itu bersamaan.
"Kembalilah dan sampaikan salamku kepada opa. Aku akan segera masuk ke ruang tunggu" ucap Roberth lagi. Kedua pria itu mengangguk patuh dan pergi dari sana.
Roberth berpikir sejenak, apa yang harus dia lakukan. Beberapa saat kemudian, ia mendapat sebuah jalan keluar sehingga ia kembali melangkah membawa kopernya masuk ke sana.
Penerbangan pun kembali terjadi. Dalam waktu yang cukup singkat ia dapat menjelajahi beberapa negara yang terbilang cukup memakan waktu, namun bagi Roberth itu tidak masalah.
.
.
"Akhh aku kan sudah sehat, kenapa aku masih dipaksa tinggal di rumah sakit ini?" gerutu Asry.
"Sepertinya aku harus memaksa si dokter ganteng itu biar melepaskan aku pergi dari sini." gumamnya lagi.
Beberapa saat kemudian, dokternya masuk untuk mengganti perban di kepalanya.
"Halo nona, bagaimana rasanya? apakah sudah lebih baik?" tanya Sang dokter yang seperti biasa selalu datang dengan kedua dayang-dayangnya yakni dia orang perawat cantik.
"Dari kemarin-kemarin juga sudah rasa baikan, cuma dokternya aja yang nggak mau melepaskan aku keluar dari sini" ucapnya tanpa titik koma membuat sang dokter tersenyum manis karena gadis ini cukup unik.
Ya Tuhan, kenapa dokter pake acara senyum sih? mana senyumnya manis banget lagi. Nggak tahu kalau aku lebih lama di sini, gula daraku bisa naik drastis saking manis senyumnya itu. Batin Asry sambil terbengong.
"Kenapa bengong? kemarin anjing kesayanganku mati karena suka bengong" goda sang dokter.
"Ayam kali dok? kalau anjing sih baru aku dengar hari ini" ucap Asry yang tersadar karena dikatai sang dokter.
"Oh iya maksudnya ayam" ucap dokter salah tingkah.
Proses ganti perban berjalan dengan baik.
"Dok, apakah aku sudah boleh pulang?" tanya Asry lagi.
"Belum boleh" ucap dokter singkat.
"Ya udah deh, aku mau tidur lagi. Tapi kalau nenek mencariku, dokter yang tanggung jawab" gerutunya sambil kembali berbaring.
Sang dokter hanya bisa tersenyum dan pamit keluar.
"Kalau begitu kamu istirahatlah" ucap dokter tersebut.
.
.
****
Roberth tiba di depan sebuah mansion yang baru saja ia tinggalkan kemarin lalu.
"Eh tuan muda, kembali lagi?" sapa seorang penjaga yang baru saja membuka gerbang.
"Apakah semuanya berada di dalam?" tanya Roberth
"Iya, semuanya sudah kembali dari kantor. Termasuk si kembar juga ada di rumah" jawab pria itu.
"Baiklah, aku masuk" ucap Roberth sambil kembali menyeret kopernya menuju pintu utama.
"Ka Roberth?" ucap Daffi heran.
"Siapa yang datang de?" seru Mey dari ruang keluarga. Rupanya keluarga itu sedang bersantai di sana sehingga begitu bel rumah berbunyi, Daffi langsung bergegas membukanya.
"Ka Roberth, mom" ucap Daffi sedikit berteriak karena memang mansion itu cukup besar sehingga jarak antara pintu utama dan ruang keluarga lumayan jauh.
Keduanya melangkah menuju ke ruang keluarga. Alfa dapat melihat wajah Roberth yang kusut, sepertinya dia sangat kecapaian.
"Halo semuanya" ucap Roberth saat sudah tiba di sana.
"Mari sayang, duduklah dulu" ucap Mey yang sudah berdiri dan menuntun Roberth untuk duduk di sofa.
Tanpa mereka sadari, ada seseorang yang sudah terbakar saat mendengar sang isteri mengucapkan kata sayang kepada pria lain walaupun itu kekasih puterinya sendiri.
"Mom, sini!" ucap Alfa membuat ayah Devid dan bu Ani tersenyum geli.
"Ada apa mas?" tanya Mey.
Cih giliran aku bilangnya mas, tadi sama Roberth disayang-sayang. Tunggu hukumanmu nanti malam. Batin Alfa karena merasa isterinya itu tidak adil.
"Nurut aja sayang" ucapnya lagi. Meyengalah dan mendekat ke arah suaminya.
"Duduk, Roberth itu lagi kecapaian" ucap Alfa.
"Oh nak Roberth kecapaian ya? sudah biar mommy antar ke kamar tamu untuk beristirahat sebentar ya?" ucap Mey lagi sambil kembali berdiri.
Ya Tuhan, kenapa isteriku begitu bangat sih? batin Alfa pasrah karena tidak mungkin ia harus menunjukkan taringnya di depan Roberth.
"Ya elah mom, kenapa jadi nggak peka gini sih? Daddy itu lagi cemburu, kenapa mommy malah nambah masalah? emang mommy itu sama ya bang kaya kaka" ucap Daffi dengan suara pelan namun masih bisa di dengar oleh kembarannya karena keduanya duduk berdekatan.
"Eh sama kaya abang juga yang ngak peka sama perasaannya Ike" ucap Daffi lagi dengan santai.
Deg
Daffa sedikit terpukul, bukan karena ucapan kembarannya tapi ia kembali tersadar dengan ucapan Roberth kemarin sebelum berangkat.
"Ka Roberth mau jemput Ike ya?" akhirnya pertanyaan itu yang lolos dari mulut Daffa membuat semua orang menatapnya termasuk Roberth dan Mey yang baru mau melangkah pergi kembali terhenti.
"Nggak, aku punya tujuan tersendiri kembali ke sini. Ike sudah berangkat pagi tadi" ucap Roberth.
Deg
Seisi rumah itu tersentak, rupanya gadis kecil yang selalu buat ulah jika datang ke rumah ini sudah pergi meniggalkan negara ini sejak pagi tadi.
Kenapa hati ini sakit sekali mendengarnya sudah pergi? Banting Daffa dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Benaran ka?" tanya Daffi memastikan.
"Iya, tadi sebelum berangkat om Reno meneleponku untuk menjemput karena mereka akan tiba malam ini tapi aku tidak di sana jadi aku meminta sopir papa untuk menjemput" jelas Roberth
"Mom, kenapa tante Novi nggak kasih tahu kita sih?" tanya Daffi.
"Emang kamu siapa sehingga harus pake ijin ke kamu segala" ucap Alfa kepada putera bungsunya.
"Ya, tante Novi kan adiknya mommy jadi setidaknya kirim pesanlah minimal" gerutu Daffi.
"Loh kenapa anak mommy ngambek? emang ade nggak rela Ike pergi?" tanya Mey yang mencoba untuk meledek putera bungsunya.
"Iya karena Daffi sayang sama Ike dan Daffi nggak mau jauh darinya." ucapnya tegas.
"Biarkan dia menyelesaikan sekolahnya di sana dan setelah itu daddy akan melamarnya untukmu" ucap Alfa serius.
Deg
Untuk kesekian kalinya Daffa merasa ada keanehan dalam dirinya setiap kali menyebut tentang Ike.
Dalam hati Roberth terkekeh dengan adik dari kekasihnya yang sangat kekanak-kanakan namun sudah punya niat untuk melamar gadis.
"Benar dad?" tanya Daffi memastikan.
"Ya benarlah" jawab Alfa.
"Daffi pegang janji daddy" ucap Daffi penuh penekanan.
Bersambung