
Alfa memegang kepalanya merasa pusing sendiri, acara masak-masak yang mereka pikir akan seru karena kerja sama akhirnya berantakan karena perdebatan anak dan daddy itu. Opa Devid yang sehak tadi berdiri di depan pintu masuk ke dapur terkekeh geli dengan tingkah cucunya yang mampu menklukkan sang daddy yang paling disegani di dunia bisnis itu.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Mey yang melihat suaminya yang diam sambil memegang kepalanya.
"Daddy pula-pula sakit mom, bial tidak kelja. Dasal pemalas" gerutu Maggie yang tidak suka daddynya yang suka manja sama mommynya.
"Ini gara-gara kamu kaka" geram Alfa karena anaknya ini terus menyududkannya.
"Yee emang kaka apain daddy?" ucapnya cuek.
"Kaka buat daddy pusing" ucap Alfa.
"Cih pusing pusing. Kulang dalah kali" cibirnya.
"Akhirnya selesai juga masakannya" seru Mey yang sejak tadi fokus dengan masakannya.
"Holeee saatnya makan" seru Maggie bahagia sambil lebih dahulu ke meja makan.
"Ayah yuk makan" panggil Mey pada sang Ayah yang masih berdiri di pintu sejak tadi.
"Iya nak." ucap ayah Devid sambil melangkah ke arah meja makan.
"Mom, biasa ya?" ucap Maggie yang sudah duduk manis menunggu dilayani sang mommy.
Mey yang sudah tahu jika anaknya itu makan dengan lauk utama harus ayam goreng dan bagian pahanya.
"Supnya kaka?" tanya Mey
"Boleh tapi sedikit ya" ucap gadis kecil itu dengan menunjukkan ujung jarinya sebagai simbol sedikit.
"Sayang. Seharusnya yang kamu layani dahulu itu suami bukan anak" ucap Alfa membangkitkan singa kecil yang lagi anteng.
"Sehalusnya daddy sendili ambil makannya, ta liat mommy kecapean masak tadi?" ucapnya tanpa beban membuat opanya tersenyum geli.
"Kan tadi sudah daddy bantu. Kamu saja yang tidak kerja tapi makannya dahulu dan diambil mommy lagi." jawab Alfa tidak mau kalah.
"Yeee kaka tu masih kecil, wajal kalo mommy ambilin. Sehalusnya daddy malu sama umul, malu sama dede bayinya" ucapnya menerawang.
Alfa dibuat hilang nafsu makannya gara-gara diejek sama puterinya sendiri. Mey akhirnya selesai juga melayani tiga orang kesayangannya itu.
Alfa yang baru akan menyuapkan makan ke dalam mulut, tiba-tiba perutnya bergejolak tak karuan, akhirnya ia berlari ke arah kamar mandi yang ada di dekat ruang makan tersebut.
Semua yang ada di meja makan heran dengan Alfa yang berlari ke dalam kamar mandi.
"Mom, daddy kenapa sih?" tanya Maggie heran.
" Mommy juga tidak tahu sayang" ucap Mey sambil mengangkat kedua pundaknya tanda bahwa ia juga tidak mengetahuinya.
"Mungkin masuk angin, sejak masalah terus datang menimpa kita, dia bahkan kurang makan dan istirahat" ucap aya Devid yang juga merasa kasihan dengan menantunya.
"Mom, panggil doktelnya" ucap Maggie yang juga takut daddynya kenapa-kenapa.
Alfa melangkah keluar dengan wajahnya yang pucat. Ia duduk kembali di tempatnya, namun saat aroma makanan itu kembali masuk ke dalam penciumannya, ia kembali ingin mengeluarkan isi perutnya sehingga dengan terpaksa ia berlari lagi ke dalam kamar mandi. Hal itu membuat semua orang panik.
Maggie yang sejak tadi belum sempat makan akhirnya melangkah menyusul sang daddy. Ia dapat melihat dengan jelas ketika daddynya berjongkok di depan klosed sambil mengeluarkan isi perutnya. Gadis kecil itu mendekati daddynya dan memijat tengkuk pria itu.
Beberapa saat kemudian hilang semua rasa mualnya. Alfa yang merasa tangan kecil yang masih setia memijit tengkuknya itu akhirnya berbalik dan melihat sang puteri dengan mata berkaca-kaca.
Mereka berdua seperti kucing dan tikus yang tidak pernah akur namun disaat salah satunya sakit atau saat dipisahkan, mereka sangat kesepian dan sedih.
Mey juga terharu melihat suasana dalam kamar mandi, dua musuh buyutan yang bisa akur dan saling menolong.
"Daddy masih sakit?" tanya Maggie sambil menempelkan punggung tangannya di kening sang daddy.
"Itu nama sakit daddy" ucapnya sambil melototi sang daddy.
Baru juga aku sanjung kebaikannya. Sekarang kumat lagi erornya. Batin Alfa melihat sikap puterinya yang cepat sekali berubah-ubah.
"Iya sayang" ucap Alfa mengalah. Maggie membimbing sang daddy kembali ke ruang keluarga.
"Opa, telepon doktelnya" ucap Maggie.
"Iya sayang. Sudah daddy suruh ke sini." jawab Maggie.
Setelah itu Alfa akhirnya kembali ke kamar bersama sang isteri.
"Kaka makan dulu ya" ucap Alfa mengingatkan sang anak.
"Iya daddy" jawab Maggie dan kembali ke ruang makan bersama opanya untuk melanjutkan makan.
"Bi, bawa makannya mommy ke kamal ya" ucap Maggie pada sang ART untuk membawa makanan Mey ke kamar.
Sepasang opa dan cucu itu akhirnya menimati makan mereka.
Dokter baru saja tiba dan lagsung diarahkan oleh sang ART ke kamar Alfa dan isterinya.
Tok tok tok
"Silahkan masuk dok." ucap Mey saat membuka pintu kamar.
"Halo tuan muda," sapa dokter kepada Alfa.
"Apa yang anda keluhkan?" tanya dokter untuk memulai pemeriksaan.
"Aku juga tidak tahu dok, aku hanya merasa mual saat mencium aroma makanan" jawabnya dengan suara lemah sambil berbaring.
"Baiklah, kita periksa dulu" ucap sang dokter yang yang mulai menempelkan Stetoskop ke tubuh Alfa bagian dada dan sekitarnya.
"Tidak ada yang berbahaya, ini hanya Sindrom Couvade" jelas dokter.
"Penyakit apa itu dok?" ucap Alfa panik.
"Itu jenis kehamilan simpatik, dimana isteri yang mengandung namun suami juga ikut merasakan ngidam atau morning sickness" jelas sang dokter lagi sehingga Alfa bernapas lega.
"Ini aku kasih vitamin sama obat perada mualnya" ucap dokter.
"Terima kasih dok" ucap Mey sedikit membungkuk.
"Kalau begitu aku permisi" pamit sang dokter dan keluar dari kamar Alfa dan Mey dan diantar oleh ayah Devid.
"Maaf mas, kamu jadi ikut menderita" ucap Mey sedih melihat kondisi sang suami.
"Heii sayang, aku malah bersyukur bisa mengurangi beban kamu sayang. Itu artinya anak-anak menghargai kehadiranku" ucap Alfa.
"Waktu kamu hamil kaka, apa yang kamu rasakan?" tanya Alfa.
Mey terdiam, wanita hamil itu tidak ingin mengenang kembali penderitaannya saat hamil puterinya. Melihat sang isteri yang sepertinya enggan untuk berbicara, Alfa akhirnya sadar jika mungkin isterinya itu sedih.
"Banyak yang aku rasakan. Bahkan diam-diam aku mencuri parfum kesukaan kamu untuk aku menciumnya. Aku juga menginginkan makan masakan kamu sampai perutku tidak menerima semua makanan yang akhirnya aku berakhir di rumah sakit." ucap Mey sambil tertawa getir membayangkan keadaan itu.
Alfa baru sadar jika dulu parfumnya sering hilang, ia mengira bahwa salah menyimpannya karena ia sering berpindah-pindah tempat, kadang di apartemen dan kadang di mansion.
Pria itu juga sedih saat mengingat kembali jika dulu Mey sering keluar masuk Rumah Sakit, ternyata karena tidak bisa makan makanan selain masakan suaminya tapi hal itu tidak tercapai.
BERSAMBUNG