Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Mirip



Keluarga Alfa akhirnya berangkat ke pantai, tempat tinggal Maggie waktu kecil bersama mommynya saat pergi dari rumah.


Opa Alberth dan Oma Ratna menggunakan mobil lain yang dikemudikan oleh salah seorang dari anak buahnya.


Alfa dan isteri serta anak-anaknya menggunakan satu mobil yang dikemudikan oleh Alfa sendiri. Di kembar sama sekali tidak mau dipisahkan dari sang kakak ya baru bertemu setelah tujuh tahun berpisah.


"Kaka, enak ya tinggal sama opa Gaston?" tanya Daffa.


"Enaklah" jawab Maggie santai sambil ngemil camilan buatan sang mommy.


"Tapi kata Oma, opa Gaston itu galak" ucap Daffa.


"Tergantung kamu buat kesalahan apa nggak" jelas Maggie.


"Jadi Kaka pernah buat kesalahan?" tanya Daffa lagi.


"Mana ada Kaka disiksa, orang dia itu anak emasnya Oma Ratna, bisa perang dua pemimpin gang mafia" ucap Daffi membuat semua menatap ke arahnya. Termasuk Alfa dan Mey menatapnya melalui spion karena mereka duduk di depan.


"Ya disiksalah, kamu pikir mau jadi orang kuat hanya dengan cara gampang?" ucap Maggie membuat mereka semua terdiam.


Mey sedih ternyata anaknya harus menjalani hidup yang tidak normal karena dia Puteri tunggal dari dua penguasa bisnis raksasa dari dua negara yang berbeda.


"Apa latihannya keras Kaka?" tanya Mey kepada sang Puteri.


"Awalnya sih keras mom, tapi kan Kaka latihan dari usia anak-anak jadi tingkat kekerasannya berbeda dengan orang dewasa. Saat remaja, maka sudah menguasai ilmu orang dewasa jadi tidak disiksa lagi dan tidak merasa berat lagi" jelas Maggie santai.


"Kalau seusia kami sudah terlambat nggak?" tanya Daffa.


"Tergantung sih kalau kamu cepat menguasainya maka siksaan tidak terlalu lama" ucap Maggie kepada sang adik.


"Kan aku sudah ikut latihan selama ini ka, berarti aku bisa cepat menguasainya kan" sambung Daffi bangga karena selama ini dia sudah bergabung di perguruan terbuka pada umumnya.


"Kamu pikir perguruan opa Gaston seperti perguruan abal-abal yang kamu tekuni selama ini?" jawab Maggie membantah adiknya yang sok hebat itu.


Perjalanan mereka cukup berwarna karena perdebatan Daffi dan Maggie dan juga cerita-cerita Maggie selama di Kalifornia hingga Indonesia.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama akhirnya mereka tiba di daerah itu saat sudah tengah hari.


Mereka langsung masuk ke dalam vila opa Devid yang ada di sekitar daerah itu dan akan tinggal beberapa hari di sana hingga pulang nanti.


Mengapa mereka memilih datang ke sana? jawabannya karena jika di kota maka Maggie akan kesusahan bergerak karena selalu di pantau oleh orang-orang yang mencurigakan.


.


.


.


Setelah beristirahat siang itu, Maggie memilih untuk berjalan-jalan menikmati senja dan tentunya ia tidak sendiri karena si kembar ngotot pengen tahu lokasi sekolah masa kecil laka sulung mereka dan tempat-tempat bermainnya waktu tinggal di daerah itu.


Perjalanan yang memakan waktu sekitar 15 menit jika berjan kaki itu membuat Maggie memutuskan meminjam mobil daddy-nya.


"Dad, pinjam mobilnya" seru gadis itu saat mendapati para orang tua lagi bersantai di belakang villa.


"Jalan-jalan di sekitar pantai Oma" ucap Maggie.


"Kan nanti malam kita ke sana" ucap Mey.


"Kaka mau menikmati sunset. Sudah lama bangat nggak pernah lihat sunset lagi" ucap Maggie.


Para orang tua yang mengerti akan kehidupan gadis itu yang tidak pernah bebas dan menikmati alam sekitar akhirnya mengijinkan apalagi ia pergi tidak sendiri.


"Oke, kalau begitu kalian dahulu nanti jam 6-an kami nyusul sekalian kita makan malam di sana." jelas Alfa kepada ketiga anaknya yang sudah stay dengan gaya masing-masing.


"Ka, ganti celananya" protes Daffa yang melihat celana yang dipakai sang Kaka kurang pas di hatinya.


"Loh, kenapa? kan Kaka nyaman pakai begini" bantah Maggie tidak mau menuruti sang adik.


"Kelihatan nggak bagus ka, ayo cepat ganti, udara malam nanti tidak bagus untuk kaka" ucap Daffa dingin akhirnya sang Kaka mengalah dan menukar kembali celananya yang tidak terlalu pendek tapi berada di atas lutut.


"Iya deh, posesif amat sih" gerutu Maggie sambil melangkah masuk ke dalam villa dan bertukar celana dengan celana jeans panjang.


Mereka akhirnya pergi meninggalkan keempat orang tua itu menuju ke pantai tempat Kaka kecil dulu. Maggie tidak lagi mengingat jalur ke sana tapi di jelaskan oleh sang Daddy, ia bahkan sempat bingung karena perubahan daerah tersebut yang cukup maju dari saat ia masih kecil waktu itu.


Dengan berdirinya satu hotel yang bersampingan dengan restoran yang ada di pantai itu membuat perubahan besar untuk daerah tersebut.


Sepanjang perjalanan Daffi terus mengoceh soal aktifitas setiap harinya baik di sekolah maupun di tempat-tempat yang ia kunjungi bersama teman-temannya dan tentu bersama Daffa.


Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, akhirnya sampailah mereka di pantai di mana Maggie kecil dulu sering menghabiskan waktu bersama teman-temannya di sana.


Puing-puing kebersamaan saat bermain bersama teman-temannya mulai tersambung kembali seperti puzzle yang terpisahkan membuatnya kembali mengenang masa-masa polosnya saat ia hidup tanpa beban dan tanggung jawab seperti sekarang yang diberikan oleh sang opa di Kalifornia dan sang Oma Ratna saat ini.


(Di manakah kalian semua? aku rindu kebersamaan kita dulu, maaf pergi tanpa pamit sama kalian semua. Jika boleh aku ingin bertemu kalian semua di masa sekarang) batin Maggie berharap akan bertemu dengan teman-teman masa kecilnya, yang mau menerima dirinya apa adanya walaupun mereka tahu Maggie hidup tanpa seorang ayah waktu itu, tapi mereka sama sekali tidak membulinya apalagi mengucilkannya.


"Hei ka, kenapa ngelamun, lihat tuh lagit sudah berubah warna karena sunset" teriak Daffi sambil melambaikan tangan kepada sang Kaka.


Maggie tersadar dari lamunannya dan kembali menatap ke arah matahari terbenam, hatinya semakin bergejolak mengingat kehidupannya dimasa sekarang.


Bukan hanya itu, ia bahkan memikirkan jika ia diberi kesempatan untuk bertemu dengan teman masa kecilnya di Australia, Apkah temannya itu akan menerima dirinya yang sekarang ataukah tidak.


"Huh kenapa hidupku berat sekali ya?" gumam Maggie sambil melangkah menyusuri pantai dengan kaki telanjang.


Lagit berubah warna menjadi merah karena matahari sudah menghilang dari bumi, suasana mulai magrib, gadis kecil itu terus melangkah dengan pikirannya yang berbeda-beda.


Maggie yang keasyikan bermain air dengan kaki putihnya yang menendang-nendang air itu membuat cipratan tak sengaja mengenai seseorang yang juga sedang menyusuri pantai untuk pulang ke perkampungan itu.


"Hei, kalau mau main air jangan seperti anak kecil" bentak pria itu dengan suara meninggi.


"Yeee siapa suruh jalannya dekat-dekat sini?" cibir Maggie tanpa menatap pria itu. Kalaupun menatap, ia pasti tidak mengenalnya karena sudah mulai gelap.


Deg


(Kenapa dimana-mana aku selalu berjumpa dengan gadis yang tingkahnya mirip dengan dia?) batin pria itu sambil menghentikan langkahnya.


BERSAMBUNG