
Opa Gaston berencana akan segera kembali ke Mexico namun saat mendapat telepon jika Maggie tengah hamil dan saat ini berada di Australia langsung menunda keberangkatannya.
"Kapan papa akan pulang?" tanya Rockzy
"Papa masih menunggu kaka hingga pulang dari berbulan madu" jelas opa.
"Baiklah. Pa, aku akan mengajak gadis yang aku ceritakan tempo hari untuk bertemu sama papa, apakah boleh?" tanya Rockzy penuh hati-hati.
"Papa lebih senang jika kamu mengajaknya sekarang" ucap opa Gaston yang semakin senang.
"Aku akan mengajaknya weekend nanti pa" putus Rockzy.
"Oke papa Tunggu" jawab opa Gaston.
Opa Gaston sudah mulai melepas kursi roda dan menggunakan sebuah tongkat tongkat kecil berukuran 60cm.
Rockzy terus memantau perusahaan sang pap dari jarak jauh karena sejak mengungkapkan perasaannya kepada gadisnya itu, ia menjadi malas pergi pulang dia negara itu.
"Apakah semuanya aman?" tanya opa Gaston.
"Aman pa" jawab Rockzy.
"Pa, apa yang akan papa lakukan untuk El Chapo?" tanya Rockzy.
"Memangnya kenapa?" tanya balik opa Gaston.
"Saat ini ia disekap di London" ucap Rockzy memberitahukan kepada papanya. Opa Gaston sama sekali tidak tahu kalau pria itu sudah diamankan karena setelah dia sadar, mereka langsung sibuk dengn rencana surprise pernikahan cucunya sehingga tidak sempat mereka memberitahukan hal n tersebut kepadanya.
"Jadi malam itu kalian berhasil menngkapanya?" tanya Opa Gaston.
"Iya, lebih tepatnya Maggie yang menangkapnya. Bahkan puteranya juga sudah berada di tangan polisi." jelas Rockzy.
"Bagus, papa jadi tenang kalau kamu sudah bisa mandiri menangani masalah." ucap opa Gaston bangga dengan anak-anak didiknya.
.
.
.
"Ka, kapan kita akan pulang ke Indonesia?" tanya Maggie kepada suaminya.
"Sampai kamu sudah merasa lebih baik" jawab Roberth.
"Tapi nanti gimana kerja kamu ka" tanya Maggie
"Kan ada papa" ucap Roberth. Maggie merasa kawatir karena waktu yang ditentukan untuk berbulan madu sudah selesai namun mereka harus berlama-lama lagi di Australia karena keadaannya yang masih sangat lemah.
"Yang sekarang kamu pikirkan adalah dede bayinya sayang. Papa sama mama akan sangat mengerti, tidak mungkin aku akan membiarkan kamu dalam keadaan masih seperti ini. Kalaupun kita pulang, mungkin aku belum diinginkan masuk kantor karena keadaan kamu sangat lemah. Kamu sama dede bayinya lebih penting dari segalanya sayang" ucap Roberth. Kini mereka tengah bersantai di atas ranjang.
Walaupun Maggie tidak muntah namun kondisinya cukup lemah karena kebanyakan tidur sehingga ia lebih seperti orang yang mabuk anggur.
"Aku mau keluar ke taman belakang" ucap Maggie dan langsung disanggupi oleh sang suami, jika Maggie sudah bisa bersahabat dengan lingkungan sekitar maka itu sudah mengalami perubahan. Selama satu minggu ia uring-uringan di dalam kamar dan terus rebahan di ranjang, bukan cuma rebahan tapi tidur.
Roberth mengambil jaketnya dan menutup tubuhnya lalu mereka keluar untuk menikmati senja di belakang mansion yang ada taman serta kolam di sana.
"Eh anak mommy, sudah nggak ngantuk lagi?" tanya Mey yang kebetulan tengah bersantai di sana bersama sang ibu karena opa Devid sedang ada janji sama teman lamanya.
Mereka bergabung di sana dan bercerita sambil menikmati keindahan alam sekitar mansion.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Mey kepada sang Puteri.
"Kaka sudah lebih baik mom, apakah sudah boleh untuk pulang Indonesia mom? kasihan kerjaannya ka Roberth" ucap Maggie membuat Mey tersenyum. Puterinya sudah dewasa, sudah merasa kawatir dengan perkerjaan sang suami.
"Iya, jika malam ini kaka merasa sudah lebih baik maka esok mimmy ijinkan pulang." ucap Mey dan Roberth serta bu Ani hanya menjadi pendengar setia.
Beberapa saat kemudian, si kembar pun bergabung. Rupanya kedua anak muda itu baru pulang dan selesai bergantinpakian.
"Sudah pulang sayang" tanya Mey kepada kedua puteranya.
"Iya mom, tadi kita singgah di kantor mommy tapi kata om Riko, mommy sudah pulang sejak makan siang tadi" jelas Raffi mewakili sang kembarannya.
"Iya mommy sudah mulai malas-malasan karena melihat anak-anak mommy sudah mulai bisa menangani perusahaan jadi mommy mau bersantai aja dulu" ucap Mey menggoda kedua puteranya.
"Iya mom tidak apa-apa, mommy harus lebih banyak beristirahat." jawab Raffi lagi.
"Nanti sesekali bantulah juga daddymu, kan kasihan kalau daddy harus terus bekerja" ucap Mey yang sebenarnya merasa kasihan juga dengan sang suami.
"Iya mom" mereka terus berbincang di taman belakang.
"Abang, bagaimana kamu sama Ike" tanya Maggie yang akhirnya bersuara.
"Baik ka" jawabnya tenang.
"Iya ka, aku selalu menghubunginya" jawab Daffa
"Bagus" ucap Maggie.
"Abang punya banyak fans di sekolah, cewek-cewek lagi" adu Raffi membuat kembarannya langsung menataonya tajam.
"Biarin aja, itukan kelebihan abang. Daya tariknya nggak bisa di ragukan lagi. Tapi itu juga salah satu ujian buat dia untuk setia sama pasangannya, jika Abang nggak mampu bertahan maka kaka yang akan memisahkan dia sama Ike" ucap Maggie tegas dan tidak main-main.
Deg
Semua orang langsung menatap ke arah bunil yang tengah berkomentar memberi wejangan kepada sang adik. Roberth jadi takut jika ia melakukan kesalahan, pasti tidak akan ada ampun baginya oleh si bumil ini.
"Aku tidak bisa melarang mereka untuk mengagumiku, tapi percayalah aku pasti bisa membentengi diriku" jelas abang yang sebenarnya takut dengan ancaman sang kaka.
"Iya, kaka pegang kata-kata kamu. Dulu, kamu sudah pernah mengecewakan ade sampai membuat dia terdampar di luar negeri dan terpisah dari kedua orang tuanya. Dan abang datang dengan gampangnya mendapatkannya, itu adalah suatu keberuntungan. Tapi jika abang mengecrwakannua sekali lagi maka kaka yang akan turun tangan" ucap Maggie. Sepertinya mood ibu hamil lagi on untuk menasihati orang.
Mey membiarkan sang Puteri untuk menangani adik-adiknya agar tidak seperti daddy mereka.
Mereka terus berbincang hingga semakin sore dan Mey serta sang ibu mulai masuk ke dapur untuk bertempur dengan alat-alat yang ada di sana. Roberth pun menuntun sang isteri untuk kembali masuk ke kamar karena harus mandi. Sejak hamil, waktu mandi adalah pekerjaan terberat bagi sepasang suami isteri itu karena yang satu menjadi pemaksa dan yang satunya lagi menjadi pemalas. Namun Roberth tidak akan membiarkan isterinya tidur malam tanpa mandi. Walaupun harus melewati drama yang membuat pusing tapi waktu mandi tetap harus dilakukan.
"Mandi" ucap Roberth yang baru keluar dari kamar mandi untuk menyiapkan air hangat.
"Entar aja ka" jawab Maggie sambil memainkan ponselnya.
"Mau pulang esok atau tahun depan setelah dede lahir" ancam Roberth dan si bumil langsung melangkah masuk ke dalam kamar mandi dengan wajahnya yang ditekuk.
Karena tidak mau suaminya ikut masuk, ia langsung mentup pintu kamar mandi dan menguncinya. Roberth hanya bisa meremas pangkal hidungnya untuk menetralkan kesabarannya.
Ia tidak bisa menyalahkan isterinya karena sebelumnya wanita itu tidak seperti itu. Dan ini semua berubah karena kemauan si kecil yang ada di rahim isterinya.
Sekalipun kamu keras kepala tapi papa harap kamu baik-baik di perut mama. Papa akan menuruti semua keinginan kamu asalkan kalian berdua sehat selalu sampai lahir. Batin Roberth menguatkan diri sendiri.
Beberapa saat kemudian Maggie kembali keluar dengan sudah segar dan senyum mengembang. Roberth tidak habis pikir dengan perubahan mood bumil yang cepat sekali berubah-ubah.
.
.
.
"Sayang, katanya Maggie sudah hamil ya?" tanya Lili dengan wajah yang sendu.
"Iya sayang, Maggie sudah hamil. Memangnya kenapa?" tanya Riko yang mengerti persaan sang isteri.
"Aku belum juga hamil" jawabnya lirih.
"Kan belum dikasih kesempatan sama yang empunya" jawab Riko enteng.
"Tapi kalau kita tidak pernah dikasih, apakah kamu akan tetap mencintaiku?" tanya Lili sambil menatap suaminya dengan penuh tuntut.
"Aku tanya sama kamu, apa yang menjadi alasan kamu mencintaiku hmm? apakah aku tampan? baik? atau apa begitu? " tanya Riko kembali menuntut isterinya.
"Tidak semuanya" jawab Lili mantap.
"Kenapa?" tanya Riko.
"Karena kalau aku mencintai kamu karena tampan, suatu saat ketampanan kamu akan luntur seiring bertambahnya usia. Kalau aku mencintai kamu karena baik, suatu saat kamu akan berubah dengan alasan apapun untuk menjadi orang jahat" jelas Lili membuat Riko tersenyum.
"Lalu?" tanya Riko sambil memainkan alis matanya naik turun.
"Ya, tidak ada alasan kenapa aku mencintaimu. Lalu apa hubungannya sama anak?" tanya balik Lili.
"Jika aku mencintaimu karena anak, aku akan menghamilimu sebelum kita menikah agar aku tahu kamu bisa memberiku anak atau tidak. Sayang, aku tidak menjadikan anak sebagai dasar untuk mencintaimu oke? jadi kalaupun kita tidak diberikan, berarti Tuhan mengijinkan kita untuk tidak membagikan cinta kita kepada siapapun termasuk anak. Jadi jangan pernah merasa kalah dari wanita lain hanya karena kamu tidak bisa melahirkan anak untukku. oke?" ucap Riko dengan penuh kelembutan. Lili terharu dengan pria yang sudah menjadi suaminya kurang lebih satu bulan itu.
Keduanya akhirnya keluar dari kamar untuk makan malam bersama karena sudah disiapkan oleh Lili sejak pulang dari kantor tadi.
"Sayang, weekend nanti kamu mau aku ajak ke mana?" tanya Riko saat mereka sudah menyelesaikan makan malam mereka.
"Ke mana saja yang penting sama kamu" ucap Lili.
"Benar nih?" tanya Riko lagi.
"Iya sayang." jawab Lili.
"Oke, nanti weekend aku akan mengajak kamu ke suatu tempat dan pasti kamu akan sangat menyukainya." ucap Riko.
"Baiklah, aku akan menunggunya" keduanya terus berbincang santai di ruang tengah apartemen tersebut hingga rasa kantuk menyerang dan memilih masuk ke kamar untuk beristirahat.
Bersambung