Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
120. Maggie Protes



Keluarga Alfa sudah kembali ke mansion dan keluarga lain yang diundang sudah kembali ke rumah masing-masing, semalam keluarga Alfa menginap di hotel dan baru pagi ini mereka pulang.


Maggie akhirnya ijin lagi karena orang tuanya juga cape sehingga tidak mengantarnya ke sekolah. Opa dan oma juga tidak mengantarnya, maklum pengantin baru. Jadi sepanjang hari, gadis kecil itu menghabiskan waktu bersama dengan kedua adiknya.


Kini hari sudah malam dan seperti biasa Alfa main bersama kedua anak kembarnya karena Mey dan ibu sambungnya akan masak bersama. Tidak lupa juga Maggie yang akan menjadi pengaco di dapur walaupun diusir berkali-kali tapi ia tetap keras kepala untuk membantu, padahal bukan membantu tapi memberantakan isi dapur.


Setelah selesai memasak dan Mey meminta para ART untuk membereskan kekacauan yang dibuat gadis kecil itu, akhirnya mereka masuk ke kamar masing-masing.


Di kamar mereka mulai membersihkan diri karena sebentar lagi akan waktunya makan malam bersama.


Maggie yang ngambek karena sang oma tidak muncul di kamarnya, akhirnya turun dengan sudah segar namun tidak dengan wajahnya yang jutek kepada semua orang. Gadis kecil itu lebih dahulu keluar dan bergabung di lantai dasar dengan Daffa, Daffi, daddy dan opa karena oma Ratna dan opa Alberth memilih kembali ke hotel.


"Kaka, kenapa wajahnya dibuat jutek begitu?" tanya Alfa pada sang anak.


"Kaka sebal sama mommy, sama oma jua... kenapa sih semua pada ta mau tidul sama kaka? tuh, si oma sudah mulai tidul sama opa dan ta mau sama kaka lagi." gerutunya membuat tertwa Alfa tertawa terbahak-bahak sementara opa jadi salah tingkah sekaligus menatap menantunya tajam karena berani menertawakannya.


"Kenapa?" tanya Mey yang baru datang dan diikuti bu Ani.


"Tahu ah... mommy, oma sama aja." jawabnya ketus.


"Kenapa sayang, apa mommy sama oma buat kesalahan sama kaka?" tanya Mey penasaran sedangkan Alfa semakin ngegas ketawanya.


"Dulu mommy tidul halus sama kaka tapi sudah ada daddy, mommy tinggalin kaka. Oma juga biasanya tidul, mandi juga di kamal kaka tapi tadi masuk ke kamal opa" ucapnya dengan wajah masamnya. Oma ikut salah tingkah, apa yang mau dijelaskan pada anak sekecil itu.


"Sayang mulai hari ini, oma akan pindah kamar bersama opa. Orang dewasa yang sudah menikah berarti mereka sudah menjadi satu, jadi kaka harus belajar tidur sendiri, iyakan?" jelas Alfa membuat gadis kecil itu sedikit berpikir.


"Jadi kaka tidur seniri setiap malam?" tanya Maggie dengan raut yang sedikit sedih.


"Iya sayang, nanti kalau kaka sudah dewasa kaka akan mengerti." ucap Alfa dengan sedikit usaha memberi pengertian kepada sang puteri. Sebenarnya ia kasihan dengan sang puteri yang masih menginginkan dekat dengan orang tua. Sejak dulu Mey tidak pernah meninggalkannya sama sekali sehingga ia sudah terbiasa dan semenjak Alfa dan Mey rujuk, gadis kecil itu punya Novi atau oma yang sering menemaninya.


"Baiklah kaka akan tidur sendiri mulai sekarang," putus gadis kecil itu yang mulai menerima penjelasan sang daddy.


Keluarga itu akhirnya larut dalam obrolan mereka, kebahagiaan yang semakin sempurnah ketika bu Ani yang sah menjadi bagian dalam keluarga Smit. Wanita paruh baya yang masih kelihatan sangat muda itu juga merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Sejak kepergian sang sang suami dan anaknya, wanita itu merasa hampa dalam hidupnya sehingga ia memilih menghabiskan masa hidupnya dengan bekerja kepada tuan Adipaty.


"Ayo, saatnya makan malam" seru Mey menghentikan obrolan yang sudah menyimpang akibat Alfa yang memualainya.


"Oke, saatnya makan" balas Maggie tak kalah semangat. Dengan kata makan mampu menghilangkan semua rasa penasarannya.


******


Hari ini jadwal Novi diperiksa untuk mengetahui kecocokan ginjalnya dengan sang ayah. Seperti yang sudah di sampaikan oleh Reno kepada bunda Nur bahwa itu hanya untuk mengelabui Novi saja.


Gadis itu masuk ke ruang dokter Agung dengan cemas dan penuh harap agar bisa ada kecocokan.


"Mari nona, kita akan segera memeriksa kecocokannya" ucap dokter agung.


"Iya dok." jawabnya singkat.


Proses pemeriksaan berjalan dengan baik hingga selesai.


"Hasilnya akan tahu 1 jam lagi." ucap dokter Agung.


"Baik dok, kalau begitu saya permisi" pamit Novi dan kembali ke ruang rawat ayahnya.


"Bagaimana hasilnya nak" tanya bunda basa-basi.


Kedua anak bunda itu mengobrol seputar kondisi ayahnya sehingga tak terasa sudah satu jam lebih.


Clekk


Tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah dokter Agung sambil memegang sebuah map yang berisi hasil pemeriksaan.


"Maaf nona, hasilnya tidak sama" ucap dokter Agung membuat Novi terduduk sedih bahkan sudah meneteskan air matanya.


"Kami akan membantu untuk mencari pendonor yang sesuai secepatnya" lanjut dokter Agung.


"Tapi aku tidak memiliki uang untuk membayarnya" jawab gadis itu dengan suara bergetar membuat bundanya merasa ibah, tapi ia terpaksa tidak memberitahukan yang sebenarnya.


"Jangan pikirkan bayarannya dulu nona, berdoalah agar kita bisa cepat mendapatkannya" ucap dokter lagi. Novi merasa ada sesuatu yang menjanggal di hatinya tapi ia memilih untuk memendamkannya.


"Terima kasih dokter" ucap bunda mewakili.


"Saya permisi" pamit sang dokter dan keluar meninggalkan mereka di ruang rawat itu.


******


Di kamar pengantin baru, opa dan oma sama-sama canggung padahal malam ini malam kedua mereka tidur bareng. Semalam mungkin karena cape sehingga mereka tidur begitu saja namun tidak dengan malam ini.


"T ttuan," ucap bu Ani gugup.


"Apa itu cara kamu memanggil suami kamu?" ucap Opa tidak habis pikir, wanita yanh sudah berstatus isterinya itu masih memanggilnya dengan sebutan tuan.


"Maaf" lirih oma sambil menunduk.


"Maaf untuk apa?" tanya opa pura-pura bego.


"Aku tidak tahu mau panggil dengan sebutan apa?" tanya balik oma pada opa.


"Jadi kamu benar-benar tidak tahu cara memanggil suamimu?" ucap opa menguji oma.


"Mas?" tanya oma.


"Aku bukan orang Indo apalagi orang jawa jadi dipanggil mas" ucap opa tidak mau dipanggil begitu.


"Lalu aku harus panggilnya apa?" tanya oma.


"Haney, Huby, husban..." ucap opa


"Tidak, aku tidak mau" ucap oma malu sambil menutup wajahnya dengan yang kedua telapak tangannya. Opa gemas dan langsung membawa oma masuk dalam pelukannya.


Tentu opa tidak menyia-nyiakan kesempatan apalagi dia sudah berpuasa selama puluhan tahun lamanya.


Dengan sangat lembut pria bule itu melancarkan aksinya. Dengan lembut pula opa semakin melancarkan aksinya saat tidak ada perlawanan dari oma.


"Ijinkan aku membuka puasa malam ini" ucap opa ditengah-tengah tautan kedua bibir mereka. Wanita paruh baya itu yang juga sudah sangat lama tidak mendapat sentuhan akhirnya mangangguk mengiyakan suaminya. Maka malam ini keduanya sama-sama membuka puasa.


Bersambung