Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
102. Galau Seisi Rumah



Hari terus berlalu dan esok adalah hari ulang tahun Maggie yang ke 5. Gadis kecil itu semakin pintar walaupun menyebut huruf R masih susah sampai hari ini.


Sebagai cucu pertama dari dua keluarga yang super kaya namun membuat gadis kecil itu hidup biasa saja walaupun kadang jiwa matrenya bergejolak.


Pernah hidup miskin dengan mommynya waktu itu, membuatnya juga bergaul dengan semua orang tanpa mengenal latar belakangnya.


"Mas, esok hari ulang tahunnya kaka." ucap Mey yang akhir-akhir ini susah untuk sekedar bergerak karena usia kandungangnya yang sudah 9 bulan ditambah hamil anak kembar sehingga perutnya lebih besar dari kehamilan sebelumnya.


"Semua sudah diatur oleh oma Ratna dan bi ani sayang. Kamu cukup ikut merayakannya" ucap Alfa sambil mengusap perut sang isteri dan menciumnya. Kebiasaan Alfa sekarang, jika puterinya ada maka puterinya yang menjadi sasaran empuk untuk dicium setiap hari. Tapi jika tidak maka perut isterinya yang jadi korban.


"Iya mas, thanks ya dan maaf karena akhir- akhir ini aku tidak mengurus kamu lagi" ucap Mey yang merasa bersalah karena sejak usia kandungannya 7 bulan, dia sempat sakit dan masuk rumah sakit sehingga dianjurkan oleh dokter untuk istirahat total untuk menghindari persalinan dini.


Alfa yang begitu posesif dan kadar cinta dan sanyangnya terus bertambah setiap hari, membuatnya semakin melarang isterinya bahkan untuk melakukan hal sekecil apapun. Kamar merekapun sudah berpindah ke lantai dasar sehingga wanita hamil itu tidak kelelahan naik turun tangga.


Malam ini, keluarga Smith dan keluarga Adipaty berkumpul di ruang keluarga mansion Smith.


"Nak, apa yang kamu rasa saat ini?" tanya oma Ratna pada menantunya.


"Aku hanya kelelahan ma" jawab Mey yang memang sering kelelahan.


"Itu wajar sayang, apalagi perut kamu lebih besar dari kehamilan pertama." jelas mama.


"Apa kamu sudah menyiapkan perlengkapan untuk cucu-cucuku lahir nanti?" tanya opa Alberth menyambung.


"Sudah pah, semua sudah disiapkan sebelumnya," ucap Alfa


*Satu...


Dua....


Tigaaa*....


Opa Devid yang mengawasi wajah cucu pertamanya sejak tadi mulai menghitung dalam hati.


Tepat hitungan ke tiga, gadis kecil itu langsung pergi tanpa berucap sepatah katapun.


Dengan santai ia menaiki tangga menuju kamarnya. Akhir-akhir ini ia sudah belajar untuk tidur di kamar sendiri.


Gadis kecil itu masuk dan mengunci pintu kamarnya. Malam ini ia merasa terabaikan, jika tahun-tahun sebelumnya acara ulang tahunnya menjadi perioritas utama, tapi tidak dengan tahun ini. Semua membahas soal kelahiran kedua adik kembarnya ketimbang ulang tahunnya yang tinggal esok hari saja.


Gadis kecil itu akhirnya meringkuk di atas tempat tidur dan akhirnya tertidur. Mey sedikit merasa kecewa dengan suami dan orang tuanya yang malah lebih membahas kelahiran si kembar dari pada puteri sulungnya.


Malam pun berlalu begitu saja, tanpa ada satu orang pun yang datang ke kamar Maggie untuk sekedar melihatnya.


Pagi-pagi sekali, Maggie sudah bangun tanpa dibangunkan oleh daddy atau opanya seperti biasa karena Mey dilarang naik turun tangga.


Gadis kecil itu masuk ke kamar mandi dan membersihkan dirinya sebelum sang ART yang biasa membatunya datang.


Maggie memakai pakaiannya dan menyisir rambutnya asal karena memang belum bisa menata rambutnya sendiri.


Ia turun saat semua sudah berada di meja makan.


Oma Ratna yang sudah mengambil makan di piringnya langsung di santap gadis itu.


Mey menatap puterinya dengan berkaca-kaca. Seperti biasa, gadis kecil itu tidak akan keluar jika penampilannya belum beres. Beda dengan hari ini, gadis kecil itu bahkan percaya diri dengan rambutnya yang diikat asal.


"Nanti oma yang antar kaka ke sekolah ya" ucap oma Ratna.


"Tak usah oma, kaka pelgi sama om sopil saja" jawabnya santai namun kedengaran sangat menusuk, secara tidak langsung gadis kecil itu mulai tidak mau bergantung lagi pada mereka.


"Kaka belangkat ke sekolah dulu ya" pamitnya.


"Tunggu mommy rapiin rambutnya dulu sayang" ucap Mey saat puterinya pamit untuk pergi.


"Kaka sudah tellambat" ucapnya sambil melangkah keluar untuk mencari sopir pribadi opa Devid.


Dalam waktu semalam mampu merubah kepribadian gadis kecil itu. Mey yang tak sanggup melihat perubahan anaknya, melangkah dengan cepat masuk ke dalam kamar. Wanita hamil itu akhirnya menumpahkan semua sakit hatinya, sejak lahit ia tidak pernah sedikitpun mengecewakan puterinya bahkan disaat mereka kabur dari suaminya dan hidup pas-pasan.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Alfa yang baru masuk ke kamar dan melihat isterinya sedang menangis.


"Jika kamu tidak menginginkan anakku, jujur padaku agar aku sendiri mengusrusnya" ucap Mey dingin.


"Maksud kamu apa sayang?" tanya Alfa tidak mengerti arah pembicaraan isterinya.


"Aku hanya tidak ingin membuat puteriku merasa asing dengan hidupnya sendiri. Kamu tidak pernah tahu sebesar apa perjuanganku untuk tidak pernah mengecewakan puteriku dulu" ucap Mey dengan isak tangisnya.


"Sayang, bicaralah yang jelas, aku sama sekali tidak mengerti" Alfa bingung karena ia memang tahu semalam anaknya ngambek tapi setahunya pagi ini semua telah krmbali seperti semula.


"Apa dengan kamu membahas tentang kelahiran si kembar tanpa membahas ulang tahunnya, kamu pikir dia tidak kecewa? ia bahkan berpikir bahwa dirinya sama sekali tidak dianggap" ucap Mey dengan suara lantang.


Deg


"Sayang. Opa sama oma bertiga sudah menyiapkan semua untuk memberi kejutan padanya sayang" jelas Alfa yang akhirnya memberitahu soal ide ketiga orang tua itu di tambah dengan bi Ani.


"Aku lebih tahu siapa anakku, jika aku ingin melakukan seauatu maka aku harus bertanya terlebih dahulu karena dia adalah anak yang pemilih, dia tidak akan suka jika melakukan sesuatu tanpa bertanya terlebih dahulu" ucap Mey.


Alfa tercekat, ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya, anaknya sudah terlanjur kecewa dan waktunya tinggal beberapa jam lagi, tidak mungkin dia akan mengubah tema acara dengan semua model dekorasinya hari ini juga.


"Lalu harus bagaimana sayang?" tanya Alfa bingung.


Sepasang suami isteri itu larut dalam pikiran masing-masing. Mey sedih karena anaknya yang mulài tidak bergantung padanya, sedangkan Alfa merasa bersalah karena akan kembali mengecewakan puterinya yang dia lantarkan selama ini.


*****


Maggie yang sejak tadi pulang sekolah, mendiamkan dirinya di kamar dengan bermain sendiri di sana. Mode singanya membuat semua orang takut mendatanginya di kamar, hingga makan pun Maggie hanya mengijinkan sang ART yang boleh masuk mengantar makanan untuknya.


Hari mulai malam namun semua bingung untuk bagamana cara mereka membawanya untuk pergi ke acara ulang tahunnya, termasuk papa Alberth dan mama Ratna pun tidak mampi membujuk gadis kecil itu.


BERSAMBUNG