
Kini Nina sudah sebulan menjalani hukumannya atas tuduhan mencuri berkas penting mantan suaminya. Ayah tirinya bahkan tidak lagi muncul, pria itu seperti ditelan bumi.
Nina sangat marah karena semua keinginannya berakhir dibalik jeruji besi saat ini. Dan yang membuatnya semakin marah adalah pria tua yang sudah memanfaatkannya dan kini menghilang bersama harta yang didapatkan atas usahanya juga.
"Jangan harap kamu akan bebas tua bangka. Kamu pikir bisa menikmati sendiri harta keluarga Adipaty?" ucap Nina dengan senyum jahatnya.
Nina yang melihat salah satu polisi yang bertugas malam ini melewati depan selnya tidak menyia-nyiakan kesempatan itu.
"Pak. Maaf, boleh aku pinjam ponselnya? aku hanya ingin menelepon ke rumah untuk menanyakan keadaan puteraku yang masih bayi" ucapnya pura-pura sedih
"Baik bu, tapi jangan lama-lama" ucap polisi itu sambil menyodorkan ponselnya kepada Nina.
Wanita itu terima dengan senyuman penuh kemenangan. Orang pertama yang ia telepon adalah ayah tirinya tapi sudah berkali-kali mencoba tetap tidak dapat dihubungi. Jalan satu-satunya ia memelepon orang yang bisa ia andalkan untuk menyelamatkannya keluar dari tempat ini.
Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan orang misterius itu, Nina mengembalikan ponsel si polisi.
"Terima kasih pak, anakku baik-baik saja" ucapnya menerangkan agar tidak ada kecurigaan
"Sama-sama ibu" ucap sang polisi sambil menerima kembali ponselnya.
*****
Di tempat lain, ayah tiri Nina yang menjadi buronan karena ketahuan bekerja sama dengan puteri angkatnya dari hasil rekaman cctv club wantu itu.
Pak Radit sangat marah pada Nina karena ternyata warisan itu palsu dan dia sudah masuk dalam perangkap Nina yang bisa jadi akan diseret ke penjara jika tidak melarikan diri. Dan perusahaan yang ia bangun selama ini runtuh hanya karena termakan kebodohan wanita mainannya itu.
"Dasar wanita bodoh, percuma aku mengandalkannya perusahaan yang aku bangun hancur karena kebodohannya. Biar kamu membusuk di penjara agar kebodohanmu berkurang" ucap pak Radit geram
*****
Hari-hari keluarga Smith berjalan dengan baik. Hubungan Aldrich dan Mey semakin akrab namun hanya sebatas teman dan tidak lebih.
Mey yang masih trauma dengan masa lalunya tidak mau terburu-buru memutuskan untuk menjalin hubungan apalagi puterinya masih sering bertanya soal daddynya jadi Mey tidak mau ada orang baru masuk dalam kehidupannya bersama puterinya yang nanti merusak mentalnya.
Mey ingin semuanya berjalan apa adanya. Dia juga sudah tidak mengarapkan Alfa lagi karena pria itu sangat membencinya saat pertemuan terakhir mereka yang membuat Alfa membentaknya dan lebih membela anak dan isterinya yang sekarang. Mey menyadari bahwa dia dan puterinya memang tidak ada artinya bagi Alfa.
Sedangkan Aldrich selalu datang ke negara ini sebulan dua kali ia datang. Walaupun hanya sekedar jalan-jalan dan makan siang berasama.
Aldrich tidak ingin memaksa Mey karena ia tahu perasaan wanita itu yang belum pulih dari luka lamanya.
Mey juga sangat sibuk akhir-akhir ini dengan pembangunan Universitas yang sudah mulai berjalan ini, tapi tugasnya sebagai seorang ibu beranak satu itu tidak pernah ia lupa. Bahkan setiap hari ia akan menciptakan satu kenangan yang bisa membuat puterinya tidak merasa diabaikan. Mey berperan sebagai daddy dan mommy sekaligus untuk puterinya sehingga gadis kecil itu selalu ceria bahkan sangat pintar.
Diusianya yang hampir memasuki 4 tahun ini, sudah mulai ada perubahan. Anak kecil itu sudah mulai mengerti semua yang mommynya bicarakan kepadanya jika ada sesuatu yang harus diberitahukan kepadanya.
Melihat pertumbuhan dan perubahan dalam diri puterinya membuat Mey merasa sedih karena tidak bisa memberi keluarga yang sempurnah untuk gadis kecilnya.
Hari ini satu keluarga Smith akan pergi refressing di vila milik tuan Devid yang ada di puncak, karena weekend.
"Mom, jangan lupa baju lenang ade ya. Kata opa di sana ada kolam lenangna" ucap Maggie mengingatkan sang mommy untuk membawa serta baju renangnya
"Iya baby" ucap Mey gemas dengan puterinya yang seperti tuan putri saat memberi perintah
"Oh iya mommy lupa kalau ade masih bayi, soalnya mommu rasa baru kemarin gendong ade yang lagi ngompol" ucap Mey terkekeh
"Mom, malu didengal olang" ucap Maggie geram karena mommynya mengungkit aibnya
"Hahaha oke mommy minta maaf" ucap Mey sambil terus menyimpan pakaian mereka
Maggie berlari keluar dari kamar mereka dan menuruni tangga mencari opanya untuk bertanya apa saja yang bisa dilakukan di vila nanti supaya ia mau menyuruh mommynya mempersiapkan semua perlengkapan nanti, karena ini adalah kali pertama mereka datang ke sana.
"Opa... di vila ada apa caja yang bisa ade main?" ucap Maggie saat mendapati opanya sedang memberi makan ikan yang ada di aquarium besar di ruang tengah.
"Banyak" jawab opa singkat dan tetap fokus pada ikan hias dalam aquarium itu.
"Opa talu diajak bicala itu tatap olangna. Itu namanya tidak menghalgai" ucap gadis kecil itu yang merasa terabaikan oleh opanya sendiri
Opa yang merasa bersalah pada cucunya langsung menyimpan kotak yang berisi makanan ikan itu dan mensejajarkan tubuhnya dengan gadis kecil itu.
"Maafkan opa ya sayang" ucap opa sambil mengusap rambut cucunya
"Ade maaftan tapi opa halus cebut apa pelmainan yang ada di vila nanti" ucapnya sambil tersenyum
"Banyak permainannya" ucap opa
"Banak ya banak tapi opa cebut dulu, apa caja pelmainanna" ucapnya menuntut
"Ayunan, berenang" ucap opa
"Yeee tatana banak, diculuh cebut cuma dua" protes gadis kecil itu membuat opanya terkekeh
"Kan opa lupa karena sudah tua jadi pikun" ucap opa
"Opa pitun tapi janan lupa cama ade ya. Nanti ade jual luma opa talu campai lupa ade" ucap Maggie mengancam
(Ternyata Mey benar, puterinya sangat matre. Baru saja aku bilang pikun, dia sudah merencanakan untuk menjual rumah) batin opa
Percakapan opa Devid dan cucunya terhenti saat satu biang rusuh muncul, siapa lagi kalau bukan Novi.
"Ade,,, ayo siap kita akan berangkat sedikit lagi" teriak Novi yang baru turun dari tangga
"Ta Novi cocokna jadi talcan bial tinggalna di hutan" ucap Maggie melotot ke arah Novi
"Memangnya kenapa de" tanya Novi tanpa beban
"Tata om Leno, pelempuan yang baik itu halus copan. Bicalana halus pelan tidak teliak-teliak taya talcan, talna talcan itu hidupna di hutan" jelas Maggie yang membuat Novi langsung cengengesan
Opa yang mendengar cucunya mulai mengeluarkan taringnya memilih menghindar dengan kembali asyik memberi makan ikan-ikannya. Sampai dua gadis beda usia itu kembali ke kamar mereka masing-masing.
-Bersambung-