Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Tidak Pengertian



Maggie akhirnya tiba di sebuah Club malam yang cukup besar tepat jam 12 malam.


Walaupun Maggie adalah anak baik-baik tapi ia sudah sering keluar masuk tempat begituan untuk menjalani misi opa Gaston sehingga walaupun tidak nyaman tapi ia masih bisa berusaha untuk masuk ke sana.


"cih menjijikan sekali tempat ini" gumam Maggie saat melewati beberapa meja yang penuh dengan minuman keras.


Gadis itu terus melangkah sesuai dengan arahan pria yang ia hubungi tadi hingga ia tiba di salah satu pintu ruang VIP. Setelah membuka sediki t pintu yang ruang itu dan menyisahkan cela kusus tangannya bisa masuk, Maggie menempel sebuah benda kecil dibalik pintu bagian dalam dan kembali menutupnya tanpa sepengetahuan orang-orang di dalam ruangan itu karena memang mereka sudah mabuk.


Gadis itu kembali melangkah ke luar dan duduk di atas motor kesayangannya sambil mengotak-atik ponsel cantiknya.


"Cih, dasar manusia tidak punya masa depan" cibir Maggie sambil menatap layar ponselnya yang sedang menampilkan video orang-orang yang sedang menikmati minuman di ruangan tadi bersama pasangan masing-masing.


Setelah dirasa cukup, Maggie akhirnya kembali menacap gas pulang ke apartemennya untuk beristirahat karena malam sudah semakin larut.


*****


"Hei bro, apa kamu sudah menghubungi orang-orangmu untuk mencari tahu di mana tempat tinggal gadis itu?" tanya Asaf pada sahabatnya Robin.


"Tenang, kita akan segera mengetahui tempat tinggalnya." jawab Robin yang asyik menuangkan minuman ke dalam gelasnya.


"Aku percaya padamu" Jawab Asaf bangga pada sahabatnya yang memang bisa diandalkan.


Asaf, Robin dan beberapa temannya terus menikmati minuman malam ini entah hingga jam berapa.


*****


Malam telah berganti pagi, seorang gadis remaja masih tetap betah di bawah selimutnya. Matanya terasa berat untuk membukanya sehingga ia kembali menarik selimut dan melanjutkan tidurnya di pagi hari.


Tring tring tring


Ponsel cantik yang berada di atas nakas terus berdering membuat sang pemilik merasa risih namun ia malah mengambil salah satu bantal kepala dan meletakan tepat di atas kepalanya sehingga dapat mengurangi suara berisik ponselnya.


Namun bukannya berhenti, ponselnya malah kembali berdering membuat gadis remaja itu akhirnya bangun dan mengangkat panggilannya.


"Halo, siapa sih ganggu aja" gerutunya begitu mengangkat telepon tanpa memeriksa terlebih dahulu siapa yang meneleponnya.


"Kamu tidur apa ngebo sih? sekarang kelas hampir mulai tapi kamu belum juga nongol" gerutu balik Rockzy yang pusing dengan tingkah gadis itu.


"Kamu ijinin kenapa sih?" ucapnya santai sambil terus menutup matanya.


"Apa kamu bilang? heh kamu tu niat nggak sih mau kuliah?" tanya Rockzy.


"Niatlah, orang baru ijin hari ini juga." jawab Maggie santai tapi membuat Rockzy hampir pingsan.


"Baru hari ini? kamu itu baru satu kali masuk kuliah terus kamu bilang baru hari ini ijin?" ucap Rockzy sambil mengeratkan rahangnya.


"Iya" jawab Maggie. Gadis itu ingin menutup lagi matanya tapi otaknya cepat kembali ke alam sadar, ia baru mengingat akan sesuatu yang membuatnya langsung melompat turun dari ranjang kesayangannya.


Setelah menyelesaikan ritual mandi dan menuju ke ruang ganti, gadis itu tidak peduli lagi dengan bajunya yang kusut, dengan cepat-cepat ia mengenakannya dan berlari keluar dari apartemennya. Sang ojek andalan sudah setia menunggunya kalaupun ia tidak masuk sekolah tapi tugas pria itu tetap stay di parkiran apartemen.


"Mas, aku aja yang bawa motornya ya, udah terlambat nih" rayu Magie begitu sampai di parkiran. Ia langsung mengambil alih salah satu helm dan memasang di kepalanya, mau tidak mau pria itu menyerahkan motor sekalian kepadanya.


Dengan semangat Maggie mengambil alih motor tukang ojeknya dan melaju pergi begitu saja tanpa mempedulikan pria itu yang akhirnya mencari ojek lain untuk menyusulnya.


Laju motor yang di atas rata-rata membuat Maggie tiba di kampus lebih cepat dari perkiraannya dan untung saja tidak begitu macet.


tanpa beban ia kembali melepas helmnya dan meletakan dengan manis di atas motor dan tanpa mencabut kunci kontak pun, ia langsung melangkah pergi ke kelasnya.


Bukhhh


Maggie yang tidak ada keseimbangan badan hampir jungkir balik saat bertabrakan dengan seseorang. Beruntung sahabat cowok yang menabraknya dengan sigap menangkapnya sehingga ia tidak sampai jatuh benaran.


"Ehhh jalan itu lihat dong, masa orang secantik ini dibuat celaka sih?" gerutu Maggie sambil memperbaiki penampilannya yang sempat berantakan karena hampir jatuh tadi.


"Loh, bukannya tadi lo yang lari-lari dan tidak melihat kita ya?" ucap cowok tersebut dengan nada bicara yang terdengar sinis.


"Cih, tidak pengertian bangat sih" gerutunya lagi karena ia sendiri mengaku salah tapi itu karena ia terlambat dan sebagai Maggie yang asli dari dulu sampai sekarang tidak ada kamus yang mencatat bahwa ia harus kalah debat.


Deg


Cowok yang menabrak Maggie tadi langsung tercekat saat mendengar kata yang sering diucapkan oleh teman masa kecilnya. Namun melihat dari penampilan gadis itu yang acak-acakan membuatnya langsung menepis ingatan soal teman masa kecilnya karena dia tahu betul seperti apa gadis kecil yang dulu begitu memperhatikan penampilannya sedetail mungkin.


Tanpa rasa bersalah ia kembali melangkah pergi meninggalkan dua cowok yang tengah saling pandang karena heran dengan gadis yang tidak ada sopan santunnya sama sekali.


"Son, apa kamu tahu dia semeter berapa dan jurusan apa?" tanya cowok yang bernama Roberth itu.


"Mana aku tahu? orangnya saja baru aku ketemu hari ini. Apa jangan-jangan dia gadis stres? lihat saja penampilannya kusut begiti." ucap Wilson kepada Roberth.


"Akh malas bahas gadis gila kaya begitu" ucap Roberth yang kembali melangkah ke arah yang sama dengan Maggie tadi.


****


"Loh bukannya tadi dia yang nabrak aku? eh aku yang nabrak" gumam Maggie perlahan tapi masih bisa di dengar oleh sahabatnya Ria.


"Kamu kenapa? kesantet?" tanya Ria.


"Enak aja, cantik begini dibilang kesantet, yang ada setannya kabur karena tidak tahan sama kecantikan aku" ucapnya tanpa merasa beban kalau ada beberapa gadis yang menjadi musuh buyutan itu tengan menahan emosi.


"Sayang, kok lama perginya?" tanya Sela yang sudah berdiri di samping Roberth dengan gaya centilnya sedangkan yang digoda malah asyik memainkan ponsel cantiknya itu.


"Oh jadi si nenek lampir itu pacarnya si beruang kutub itu ya?" ucap Maggie tanpa beban sehingga mengundang tatapan tajam dari Roberth yang duduk di barisan sebelah namun sejajar dengan bangku Maggie.


BERSAMBUNG