
Reno yang sudah tiba di tempat dimana para anak buahnya berada, langsung masuk ke dalam sebuah rumah yang ditempati oleh orang-orangnya itu.
"Selamat datang tuan, ini laporan yang kami dapat dari orang-orang kita di perusahaan itu." jelas salah seorang anak buah yang merupakan atasan mereka.
"Baiklah, kita akan bergerak sekarang." jawab Reno yang langsung mengambil alih Ipet yang dipegang oleh anak buahnya itu.
"Sial. Rupanya mereka berusaha untuk menghilngkan nama perusahaan daddyku dan membangun yang baru." umpat Reno emosi karena hal itu.
Setelah mempu menguasai emosinya, Reno mulai menyusun strategi untuk membuat orang-orang itu mengakui kesalahan mereka.
"Baiklah, jika semua sudah siap, kita harus menyusup masuk ke dalam perusahaan malam ini" ajak Reno pada beberapa anak buahnya yang akan dia bawa.
Reno bersama lima orang anak buahnya akhirnya pergi dari rumah asing itu dan pergi menuju perusahaan orang tua kandungnya.
Sepanjang perjalanan Reno terus mengumpat karena merasa sudah terlambat mengatasi masalah itu. Kesibukannya selama ini untuk pernikahannya membuatnya mengesampingkan tujuan hidupnya, tapi bagaimanapun ia tidak menyesal karena ada seorang wanita yang rela hidup miskin bersamanya. Tapi ia sedikit kecewa karena tidak bisa membalas dendam atas kematian kedua orang tuanya dan juga saudaranya.
Setelah melewati waktu yang cukup lama mereka akhirnya tiba di salah satu gedung yang sangat tinggi dan itulah perusahaan Mercusuar-Group, perusahaan milik orang tua kandung Reno yang beralih tangan kepada orang-orang tidak bertanggung jawab.
"Daddy, mommy doakan aku anakmu yang sedang berjuang mendapatkan keadilan hidup" gumam Reno dengan mata berkaca-kaca.
Mobil yang mereka tumpangi langsung pergi menjauh dari sana agar tidak ada yang melihatnya.
Mereka turun ditempat yang agak sepi dan jauh dari jangkauan CCTV. Setelah sopir membawa mobil itu pergi, Reno dan empat orang teman pun mulai masuk ke dalam perusahaan melalui pintu samping. Mereka yang dikejar oleh waktu karena hampir subuh jadi harus perlu lerja keras.
Lorong demi lorong mereka lewati dengan mengendap-endap hingga tiba di sebuah pintu ruangan yang diberitahukan teman mata-mata mereka yang bekerja di perusahaan itu bahwa itu adalah ruang komputer yang menyimpan data penting perushaan.
"Tuan, sepertinya ini ruangan yang kita cari sesuai yang dikirim teman kami." ucap salah seorang anak buah dengan sedikit berbisik.
"Oke, ayo kita masuk" ajak Reno dan anak buahnya itu langsung mengeluarkan kunci duplikat yang durancang kusus oleh teman mereka yang bekerja diperusahaan tersebut.
Reno memang sengaja tidak membawa anak buahnya yang kerja di tempat itu karena memang jika ketahuan maka anak buahnya itu tetap aman dan tetap menjalankan tugasnya.
Setelah berhasil masuk, Reno langsung duduk di kursi yang yang ada di depan komputer dan mulai mengotak atik keyboardnya. Dengan penuh teliti Reno mulai membuka file demi file untuk melihat semua yang dia cari di dalam komputer tersrbut. Hingga pada satu file yang disimpan dengan sandi sebagai pelindungnya. Namun kecerdasan Reno di bagian IT mampu membukanya.
"Sialllll" umpat Reno benerapa saat kemudian setelah berhasil masuk ke dalam file yang diduga adalah data penting perusahaan.
"Rupanya mereka terlalu pintar untuk bermain api" lanjutnya.
"Bagaimana tuan? apakah kita berhasil?" tanya anak buahnya yang tadi.
"Data berhasil kita retas tapi ternyata saldo perusahaan terlanjur minus" ucap Reno dengan mata berkaca-kaca. Pria itu menyesal telah meremehkan musuh-musuh daddynya.
Maaf dad, mom. Aku tidak berhasil! Batin Reno.
Reno merasa sangat rapuh. Rencana yang sudah dia susun sejak masih remaja ternyata tidak berarti apa-apa. Ia hanya lengah beberapa hari untuk mempersiapkan pernihkahannya namun ternyata semuanya berantakan.
Mereka akhirnya kembali keluar dari gedung itu, karena hari sudah subuh. Saat akan mencapai gerbang kecil bagian belakang tiba-tiba sekelompok orang bertubuh tegap dan berpakaian hitam menghadang mereka sehingga tidak bisa keluar.
Acara baku hantam pun di mulai dengan perlawanan yang tidak seimbang. Suasana yang masih gelap membuat semua orang yang sedang baku hantam itu tidak menyadari jika Reno sudah tidak ada di sana.
Keempat anak buah Reno sudah babak belur namun mereka berhasil melarikan diri saat lawan mereka lengah karena orang yang mau mereka bawa ke tuan mereka sudah menghilang.
"Sial, bagaimana bisa kita tidak berhasil menangkapnya? bisa dibunuh bos nanti" umpat salah seorang lawan dari kelompok Reno.
"Kita harus terpencar untuk menangkap pria itu. Aku yakin dia belum jauh dari sini karena tadi dia juga mendapat pukulan yang lumayan" ucap seorang pria yang dianggap sebagai ketua geng mereka.
Sekelompok pria itu akhirnya pergi meninggalkan gedung itu.
Di tempat lain. Lebih tepatnya di sebuah rumah mewah.
"Apakah dia sudah sadar?" tanya seorang pria bertubuh atletis yang baru pulang dari joging.
"Sudah tuan, tapi tidur lagi. Mungkin pengaruh obat" jawab seorang ART di rumah itu.
"Baiklah, buatkan bubur angat untuknya jika dia bangun" ucap pria itu yang langsung pergi begitu saja dari sana menuju ke lantai atas, tepatnya ke kamarnya.
"Baik tuan" jawab wanita itu.
****
Ka Reno kog tidak ada? Batin Novi saat bangun tidak mendapati suaminya dan tidak mendapatinya juga di semua sisi apartemen. Ia sudah memeriksanya di kamar mandi, dapur, kamar tamu dan ruang kerja suaminya tapi tetap tidak menemukan Reno.
"Ka Reno ke kantor tidak pamit sih?" umpat Novi.
Wanita itu malas untuk membersihkan dirinya, ia memilih duduk dibalkon untuk menikmati pemandangan pagi kota itu untuk mengurangi suasana hati yang sedikit berantakan karena saat bangun dan tidak mendapati sang suami.
Setelah merasa cukup untuk membuat hatinya sedikit tenang, Novi kembali masuk ke kamar dan menuju ke kamar mandi lalu membersihkan dirinya karena sudah merasa gerah.
Di dalam kamar mandi itu terus mengumpat karena suaminya yang bahkan tidak menelepon ataupun meninggalkan pesan.
Setelah beberapa saat kemudian ia keluar dari kamar mandi dengan sudah mengenakan pakaian santainya dan langsung turun ke dapur untuk masak karena perutnya juga yang sudah berbunyi minta diisi.
"Cih, aku sayang kamu, aku cinta kamu. Terus ini apa? jalan tidak pamit, tidak telepon, tidak sms. Basi dengan cinta tidak jelas" umpat Novi sambil mengangkat salah satu wortel dan dihadapkan ke wajahnya, seolah wortel itu adalah Reno.
"Nih rasakan, biar tidak sekedar janji-janji yang manis" gerutu Novi sambil mengiris wortel tadi dengan sembarangan.
Mood Novi benar-benar tidàk stabil sejak bangun pagi tadi.
BERSAMBUNG