Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Jemput



Sudah beberapa hari, pikiran Roberth terus diganggu oleh berita yang disampaikan oleh Rockzy kepadanya soal seseorang yang mencurigakan tempo hari di kantornya. Roberth meminta bantuan kepada seseorang untuk membantunya memantau salah seorang karyawan yang mencurigakan itu, mungkin saja dia adalah utusan dari musuh keluarganya.


Tring tring tring


📞Halo, dengan tim devisi keuangan, apa bisa dibantu? (Jawab seseorang dari tim keuangan)


📞Ketua tim keuangan segera datang ke ruanganku.


📞Siap tuan.


Beberapa saat setelah sambungan telepon, Datanglah seorang gadis memasuki ruang kerja Roberth.


"Permisi tuan" ucapnya


"Mari, ada yang mau aku bicarakan" ucap Roberth sambil ikut bergabung di sofa ruangan itu.


"Di tim keuangan kalian berjumlah berapa orang?" tanya Roberth.


"Enam orang tuan" jawab Ria. Ya Ria adalah ketua tim devisi keuangan. Setelah mendapatkan ijazah sarjananya, tuan Arjo langsung mengangkat bekerja di tim keuangan dan setelah beberapa bulan bekerja dan melihat kinerjanya, ia kembali angkat menjadi ketua tim devisi keuangan.


"Apakah Aku bisa minta bantuan kepadamu?" tanya Roberth.


"Apa itu tuan, Aku akan melakukannya jika bisa" jawab Ria mantap.


"Beberapa hari lalu saat Rockzy datang ke kantor ini bersama Maggie, ia sempat melihat orang yang mencurigakan di arah toilet. Aku hanya minta kamu awasi siapa saja yang tingkahnya mencurigakan, takutnya kejadian malam itu terulang karena ada penyusup di kantor ini." jelas Roberth kepada Ria.


"Hah? jadi waktu itu Rockzy datang bersama Maggie?" tanya Ria yang sudah lama tidak bertemu dengan sahabatnya.


"Iya, saat ini dia di Indonesia jadi jika kamu ingin bertemu maka hubungi saja dia" ucap Roberth yang mengerti perasaan sahabat kekasihnya.


"Baik tuan, Terima kasih. Dan Aku akan berusaha semampu mungkin untuk melakukan apa yang tadi disampaikan" ucap Ria bahagia.


"Aku permisi tuan" ucap Ria dan pria itu hanya mengangguk.


.


.


.


"Kenapa ada Maggie di sana? jangan sampai mereka tahu soal hubungan Roberth dengannya dan mereka mau membalasnya melalui Maggie?" gumam papa Arjo sambil menatap beberapa lembar foto yang dia Terima beberapa hari lalu.


"Iya, aku harus memberitahukan hal ini kepada Roberth agar bisa menjaga Maggie, jangan sampai calon menantuku yang jadi korban. Tidak boleh, walaupun keluarga Alfa orang menakutkan tapi Maggie adalah anak gadis yang polos" gumam pria itu lagi.


Papa Arjo memilih untuk datang bertemu dengan puteranya di kantor karena sudah tidak bisa membendung perasaannya lagi soal persoalan yang belum bisa ia pecahkan semenjak menerima beberapa lembar foto yang terdapat pertemuan antara Maggie dan saudara ibunya.


"Loh, papa kenapa datang ke kantor?" tanya Roberth saat melihat seseorang yang masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Ada yang ingin papa bicarakan sama kamu nak, dan ini sangat penting karena menyangkut keselamatan calon menantu papa" ucap papa Arjo serius.


"Hah? apa itu pa? dan maksudnya Maggie ya pa?" tanya Roberth beruntun.


"Iya boy. Coba kamu lihat ini" ucap Papa Arjo sambil meletakkan beberapa lembar foto di atas meja tempat mereka duduk yakni di sofa ruangan itu.


Deg


"Sejak kapan foto ini pa?" tanya Roberth saat melihat foto kekasihnya tengah berhadapan dengan beberapa pria termasuk saudara omanya.


"Beberapa hari lalu, setelah acara ulang tahun perusahaan malam itu" jelas papa Arjo.


Deg


📞Halo sayang


📞Ka, ke markasnya kapan-kapan aja ya? aku lagi ada urusan Hari ini.


📞Urusan apa sayang


📞Biasalah, tugas dari papa untuk datang ke kantornya.


Roberth kembali mengingat pembicaraannya hari itu bersama sang kekasih.


Rupanya hari itu dia membatalkan ke markas karena ini. Aku tidak mau dia dalam bahaya, bagaimanapun ia seorang gadis yang punya titik lemah. Batin Roberth.


"Aku akan bertanya kepadanya, mungkin dia tahu sesuatu tentang ini. Beberapa hari lalu juga Rockzy datang ke kantor ini bersama Maggie. Saat akan ke toilet, ia sempat melihat bayangan orang yang mencurigakan" lanjut Roberth.


"Papa akan segera pulang. Ingat, jangan terlalu lama menggantung sesuatu yang sudah kamu miliki, segera halalkan agar dia tidak pergi lagi" pesan papa Arjo.


Roberth tersenyum, rupanya sang papa sudah memberi rambu-rambu persetujuan untuk segera menikah.


"Iya pa, Roberth akan melakukannya dalam waktu dekat." jawabnya mantap.


Terima kasih pa, ma... kalian orang tua yang luar biasa. Saat banyak pengusaha berlomba-lomba mengatur jodoh Anak-anak mereka, kalian malah malah menuruti apa yang aku inginkan. Yah, kan pilihanku lebih sempurnah. Dapat dimana kalau selain pilihanku. Batin Roberth membanggakan dirinya sendiri.


"Ahhh buat rindu aja" gumamnya.


Pria itu kembali melakukan aktivitasnya hingga sore menjelang.


.


.


.


Setelah mendengar cerita om Riko hari itu, Daffa mulai menyusun rencananya untuk segera menghentikan balas dendam berantai ini.


Tidak mungkin aku berdiam diri menunggu kaka bertindak, Ike dalam bahaya jika aku tidak bertindak lebih dahulu. batin Daffa.


Anak muda itu tidak tidur, ia mulai mengambil laptop kesayangannya dan jari jemarinya mulai menari-nari di sana.


"Dasar pria serakah, sudah menghabiskan warisnanya lalu sekarang dia ingin merampas warisan saudaranya. Orang seperti ini tidak pantas dianggap om" gerutu Daffa yang tengah mengikuti alur cerita kehidupan keluarga om Arjo.


"Huh, ini lagi, kenapa om Riko menyerah hanya karena kaka bertunangan sama ka Roberth? jelas-kelas pria ini yang membuat om Riko dan om Roky jadi anak yatim-piatu sejak kecil. Tidak bisa di ampuni" gerutunya lagi.


Setelah mengetahui jalan ceritanya, Daffa mematikan laptopnya dan beristirahat sejenak.


.


.


.


Sebuah motor besar berhenti tepat di depan seorang gadis yang tengah duduk di halte menunggu angkot umum untuk mengantarnya pulang.


Gadis itu sedikit gelisah karena pria misterius yang wajahnya tertutup kaca helm.


"Aku antar pulang" ucap pria itu tanpa basa basi.


"Maaf, Aku menunggu bus saja" jawab Ria menolak. Gadis itu adalah Ria yang baru selesai dari kantor.


"Mau ikut atau Aku memaksa" ucapnya tegas. Ria semakin gelisah karena mulai sepi dan hari mulai senja.


"Maaf tapi aku benar-benar sedang menunggu bus" kekeh Ria karena memang ia sama sekali tidak mengenal pria itu.


"MARIA... apakah aku harus mengulaginya sampi seratus kali?" ucap Pria itu penuh penekanan. Ria memang tidak asing dengn suara itu tapi ia takut jika yang diharapkan bukan orang tersebut.


"Tolong jangan paksa aku karena aku bahkan tidak mengenalimu, oke" ucap Ria tegas.


Pria itu mengalah dan membuka helmnya lalu memutar kepalanya ke kanan dan ke kiri berulang kali untuk mengembalikan tatanan rambutnya yang berantakan akibat helm yang dia pakai. Ria terpanah saat melihat gerakkan pria itu seolah menambah ketampanannya.


Kenapa malaikat setampan ini harus berkeliaran di jalanan? batin Ria sambil tersenyum.


"Kenapa masih bengong? nggak lihat ini sudah hampir gelap. Atau kamu ingin bertemu dengan penunggu halte ini?" ucap pria itu membuat Ria langsung ketakutan.


"Apa di sini biasa ada penunggunya ya?" bro Ria Dengan tampang polosnya sambil mendekat ke arah Rockzy, bahkan sangat dekat karena saking takutnya gadis itu.


"Iya" ucap Rockzy cuek padahal ia tengah menertawakan gadis itu.


"Oh ya tadikan katanya mau tunggu angkot kan? kebetulan aku lagi ada urusan jadi aku pergi dulu ya?" pamit Rockzy.


"Tunggu. jangan tinggalkan aku sendiri di sini" ucap Ria yang langsung memegang kuat tangan pria itu yang hendak memasang kembali helmnya.


"Please" ucapnya lagi dengan raut wajahnya memohon.


"Aku naik ya?" ucapnya sambil langsung naik ke atas motor tanpa mendengar persetujuan dari Rockzy terlebih dahulu.


Sok-sokan mau tunggu angkot, giliran ketakutan, tanpa di suruh langsung naik. Rockzy terkekeh melihat tingkah gadis ini tapi di dalam hati ia merasa senang.


BERSAMBUNG