
Waktu terus berlalu dan kini sudah satu minggu kemudian setelah ulang tahun Maggie.
"Mas,, " panggil Mey dengan suara lemah. Saat ini jam menunjukkan pukul 3 dini hari. Mey sudah merasa kesakitan sejak jam 1 tengah malam tadi namun ia menahannya. Semakin ke sini, semakin hebat sakitnya sehingga ia memutuskan untuk membangunkan sang suami.
"Mas!!" panggilnya lagi karena tidak ada pergerakan dari Alfa.
Mey yang tengah menggenggam tangan suaminya mengeratkan pegangannya sambil merintih sehingga samar-samar terdengar oleh Alfa. Pria itu terkejut dan langsung duduk memeriksa keadaan Mey, ternyata wanita hamil itu sudah setengah mati. Keringat sudah bercucuran dan wajahnya pucat membuat Alfa semakin panik dan takut.
"Bertahanlah sayang, aku panggil ayah sama yang lain dulu." ucap Alfa dengan bibir bergetar karena takut.
Brakk brakkk brakkk
Alfa tidak tahu lagi cara mengetok pintu yang benar sehingga ia menabok pintu mertuanya dengan kasar. Untung saja sang mertua tidak punya riwayat penyakit jantung jadi masih bisa dikendalikan.
"Ada apa nak?" tanya ayah Devid saat sudah membuka pintu dan melihat wajah panik menantunya.
Para ART yang lain dan bi Ani turut bangun ketika mendengar suara berisik dari arah kamar majikan mereka.
"Mey ayah, Mey kesakitan" ucap Alfa dengan gemetar membuat ayah Devid rasa-rasa ingin tertawa karena isteri mau melahirkan tapi dianya yang kesetanan. Namun beberapa detik kemudian senyumnya pudar ketika bayangan kematian sang isteri saat melahirkan Mey melintas di benaknya.
"Bi, ambil perlengkapan baby dan Mey dan bi Ani bantu kita untuk bawa Mey ke Rumah sakit" ucap ayah tegas.
Alfa setelah memberitahukan maksudnya langsung kembali berlari ke arah kamar mereka.
Salah seorang ART memberitahukan kepada seorang sopir keluarga itu untuk menyiapkan mobil dan yang lainnya menyiapkan perlengkapan bersalin yang sudah disiapkan jauh sebelumnya.
Kalau minggu kemarin mereka bahagia karena merayakan ulang tahun cucu pertama dua keluarga ternama itu, kini mereka dibuat panik karena kondisi Mey yang tengah menghadapi lahiran baby twin.
Alfa yang baru kali ini mendampingi Mey untuk melahirkan kedua puteranya hampir syok dengan kondisi isterinya.
Alfa semakin panik ketika kembali masuk dan mendapati sang isteri yang semakin pucat.
"Bertahanlah sayang, kita akan segera ke Rumah sakit" ucapnya sambil berusaha menggedong sang isteri dengan susah paya. Maklum, kehamilan bayi kembar dan porsi makan ibu hamil yang tidak tanggung-tanggung itu membuat Mey mengembang dalam waktu singkat.
"Bi tolong bantu," Seru Alfa pada bi Ani untuk membantunya membawa sang isteri ke mobil.
"Hati-hati nak" ucap bi Ani pada Alfa agar tidak gegabah menggendong tubuh Mey. Setelah melewati drama gendong menggendong, akirnya Mey berhasil di bawa ke Rumah sakit.
Dua mobil beriringan, yang satu membawa Alfa, ayah, bi Ani dan Mey dan yang satu membawa dua orang ART dan barang-barang milik baby twin dan Mey.
Setibanya di sana, pihak Rumah Sakit sudah menunggu di parkiran dengan membawa brankar untuk memindahkan Mey di sana. Tentu itu semua karena ayah yang sudah menelepon pihak RS untuk menyiapkan itu semua sebelumnya.
"Nak, bertahan ya?" ucap ayah memberi kekuatan pada sang puteri. Sebenarnya ia trauma dengan keadaan seperti ini karena ia kehilangan sang isteri saat melahirkan puterinya yang tengah berjuang melahirkan cucu-cucunya.
Mey hanya tersenyum lemah untuk tidak membuat ayahnya panik dan gelisah.
Setelah tiba di ruang persalinan, dokter yang menangani Mey selama ini juga sudah ada.
"Ibu, mau operasi atau normal?" tanya sang dokter.
"Mana yang lebih baik dok dan tidak menyakitkan?" Tanya Alfa.
"Sebenarnya sama sih, tapi kalau operasi sakitnya akan terasa setelah anaknya sudah keluar" ucap dokter.
"Normal aja dok" jawab Mey.
"Aku mau normal aja mas" ucap Mey tegas.
"Oke sayang." ucap Alfa mengalah sambil memberi kecupan di kepala isterinya.
"Baik bu, ini diminum dulu biar bertenaga" ucap dokter sambil memberi satu biji obat perangsang kepada Mey dan atas bantuan Alfa, akhirnya obat itu diminum.
"Baiklah kita periksa dulu sudah pembukaan ke berapa" ucap dokter sambil mengambil sarung tangan dan alat-alat persalinan lainnya lalu mendekati Mey untuk melakukan pemeriksaan.
"Mau apa kamu dokter?" ucap Alfa dengan suara tinggi saat sang dokter memasukan tangannya diantara kedua paha sang isteri, Alfa langsung panik dan membentak sang dokter.
"Mas, kamu bisa diam tidak?" gerutu Mey yang emosi dengan tingkah sang suami.
"Tapi say..." ucapan Alfa terputus.
"Mas, aku tu lagi nahan sakit tapi kamu dari tadi bicara yang tidak penting. Dokter lagi periksa kamu malah mengganggu saja" marah Mey yang memang sedang menahan sakit sejak tadi.
Pembukaan hampir lengkap dan obat perangsang juga mulai bekerja.
"Oke bu, siap ya? pembukaan suda lengkap. Ikuti arahan saya ya?" ucap Dokter.
"Tarik napas dan lepaskan perlahan" ucap dokter dan diikuti Mey. Alfa semakin panik saat melihat tubuh bagian bawah isterinya yang sudah polos.
"Oke kita mulai, tarik napas... dorong dan lepas perlahan" ucap dokter.
"Ahmmmm... huh huh huh" nafas Mey tersenggal-senggal seperti orang yang mendaki gunung.
Doter mengambil gunting dan terdengar suara daging sang isteri yang digunting. Alfa melongo dan tercekat dengan tindakan dokter. Ingin protes tapi dokter sudah kembali memberi instruksi.
"Sekali lagi bu..." ucap dokter memberi perintah sekali lagi.
"Akhhh..... huh huh huh huh... oek oek oek" kali ini bukan hanya Mey yang bersuara tapi Alfa dan juga putera pertamanya.
Alfa kaget dan berteriak saat Mey mengambil tangannya dan mengigit dengan kuat hingga meninggalkan bekas giginya yang cukup dalam.
Alfa bahkan sudah tidak mampu untuk protes ketika melihat bayi itu menyembul keluar dari bagian bawah isterinya.
Hingga instruksi untuk bayi kedua, Alfa bahkan tidak bersuara.
Kedua putera Alfa dan Mey itu akhirnya lahir dengan selamat.
Alfa mengecup kening isterinya cukup lama dan tak terasa air matanya menetes tepat di kening sang isteri. Mey yang lelah memilih menutup mata untuk beristirahat sejenak.
Alfa seperti mayat hidup. Ia melangkah keluar saat bayi-bayinya di tangani oleh para suster untuk membersihkan tubuh mereka dan sang dokter yang kembali menjahit luka sang isteri.
Saat keluar, Alfa langsung menghambur ke dalam pelukan bi Ani. Ia baru sadar kenapa bi Ani juga ikut membencinya saat Mey membawa puterinya pergi dari rumahnya dulu.
Saat ia tengah menikmati hidupnya ternyata sang isteri tengah berjuang untuk menghadirkan sang puteri ke dunia ini.
"Maaf, maaf... aku tidak tahu jika sebenarnya seperti ini. Aku banyak salah sama mereka, aku pria brengsek yang dengan begitu gampang mendapat maaf dari mereka" ucapnya dengan terisak. Ayah Devid dan bi Ani turut merasakan sakit hati jika dipikir kembali tentang masa lalu Mey dan Maggie.
"Jika kamu sudah tahu betapa besar perjuangan dan penhorbanan isterimu, maka bahagian mereka mulai dari sekarang" ucap bi Ani yang membuat Alfa semakin mengeratkan pelukannya dan menangis tersedu-sedu.
BERSAMBUNG