
“Jangan dipaksakan mas, kita masih bisa melihat anak kita walaupun kita tidak bersama” ucap Mey mengutarakan isi hatinya jika Alfa meminta rujuk hanya demi Maggie. Alfa terkejut mendengar pengakuan wanita yang ada dalam pelukannya itu.
“Apa yang kamu ucapkan hmmm” tanya Alfa berusaha menahan sesak di dadanya.
Mey melepas pelukan pria itu dan berbalik menghadap Alfa, dengan wajah yang tersenyum walaupun kelihatan sekali jika senyuman itu penuh luka.
“Kita masih bisa membatalkan pernikahannya, aku yakin kita bisa menjalani hidup kita masing-masing dan Maggie akan mengerti. Jangan buat dia kecewa yang kedua kalinya jika kita paksa bersatu hanya demi dirinya.” Ucap Mey dengan tersenyum tapi kedua pipinya sudah basa oleh air mata.
“Kamu bicara apa sayang. Aku akui aku salah dalam hal ini. Aku jujur aku memang marah waktu aku melihatmu beberapa kali dengan ayah saat aku belum mengenal siapa ayah. Aku akui aku memindahkan semua barang-barang kalian agar aku tidak sakit saat melihatnya sedangkan kamu sudah bersama orang lain. Aku bahkan tidak sempat mengambil kembali saat aku sudah koma waktu itu” uca Alfa panjang lebar.
“Aku sama sekali tidak terpaksa, aku bahkan sudah ingin membawamu kembali waktu acara pertama di australia tapi aku melihatmu sangat dekat dengan Aldrich selain ayah.” Jujur Alfa.
“Kamar ini tidak sembarang orang masuk, termasuk Nina juga tidak pernah masuk kamar ini, kamu boleh bertanya pada bi Ani” ucap Alfa meyakinkan Mey. Namun Mey bukan wanita yang bisa luluh dengan sebarangan. Sejak gagal dalam rumah tangganya ia tidak sembarang percaya dengan orang lain.
“Iya, tapi jangan paksa aku untuk hal ini, kita boleh menikah tapi aku akan menata hatiku dengan pelan-pelan untuk menerima semua kenyataan ini” ucap Mey jujur dan itu membuat Alfa teriris karena ternyata wanita ini sudah terlanjur membangun tembok yang cukup kokoh untuk melindungi dirinya.
“Baiklah, aku akan menunggu sampai kamu benar-benar menerimaku, tapi setidaknya kita menikah terlebih dahulu agar aku bisa menjaga kalian dengan lebih leluasa. Tidurlah di sini bersama Maggie, aku akan tidur di kamar tamu yang masih kosong” ucap Alfa sambil menuntun Mey menuju tempat tidur.
“Mommy, daddy…” teriak Maggie saat tiba di depan pintu kamar, bi Ani hanya berdiri diam di belakang gadis kecil itu.
“Ade, sudah ambil bonekanya? Ayo tidur” ucap Mey yang baru saja membuka pintu dan mendapati anaknya yang tengah memeluk boneka beruangnya.
“Ibu ke bawah dulu sayang” ucap bi Ani
“Iya bu, istirahatlah” jawab Mey dan wanita paruh baya itu akhirnya melangkah turun menuju ke kamarnya.
Maggie melangkah menuju ke dalam kamar dan naik ke atas tempat tidur. Gadis kecil itu memeluk bonekanya erat dengan tangan sebelahnya dan sebelahnya ia pakai untuk menepuk tempat di sampingnya yang kosong agar daddynya bisa tidur di sana.
“Dad, mali tidul dekat ade.” Alfa yang mendengar tersenyum kaku tapi mau tidak mau ia pun ikut naik ke atas tempat tidur dan berbaring di samping puterinya lalu memeluk gadis kecil itu.
“Mom, bobo sini” ucapnya sambil menepuk sebelahnya lagi yang masih kosong. Meypun melakukan hal yang demikian, mendekat dan duduk di samping puterinya.
“Ade, sebelum tidur apa dulu sayang” ucap Mey
“Pley dulu mom” ucapnya sambil bengun dan duduk manis.
“Daddy pley dulu balu bobo bial tidak diganggu setannya” ajak Maggie pada daddynya. Alfa akhirnya ikut bangun dan mereka berdoa bersama sebelum tidur.
Alfa sangat bersyukur karena walaupun isterinya itu masih sangat mudah tapi jiwa keibuannya sungguh luar biasa. Ia bahkan mengajarkan banyak hal untuk kebaikan puteri mereka, bukan hanya jasmani tapi juga spiritualnya.
Mereka bertiga akhirnya tidur denga Maggie yang memeluk erat daddynya dan bonekanya menungging di belakangnya.Setelah memastikan kedua orang itu, isteri dan anaknya sudah nyenyak, Alfa memilih bangun dan menyelimuti mereka. dengan sayang ia mengecup kening kedua wanita dan gadis kecil itu lalu keluar dan menutup kemblai pintuya.
Alfa memilih untuk tetap mengharagai wanita yang sebentar lagi akan ia nikahi itu, ia memilih tidur di kamar tamu sesuai janjinya tadi. Mey yang memang belum begitu nyenyak menyadari saat Alfa bangu dan menyelimuti mereka bahkan sampai mencium kening mereka. ia sempat mendengar Alfa berbisik bahwa ia akn tidur di ruang tamu.
Mey percaya bahwa pria itu sudah benar-benar berubah karena itu ia juga memantapkan hatinya untuk menikahi kembali mantan suaminya hanya saja ia takut untuk jatuh cinta lagi pada calon suaminya itu.
Malam inipun berlalu begitu saja, masing-masing menikmati mimpinya. Pagi-pagi sekali Alfa sudah lebih dahulu bangun, ia menuju ke ruang kerjanya untuk menanda tangani beberapa berkas yang disediakan oleh Roky.
“Daddy sudah bangun sayang” ucap Mey sambil beranjak bangun.
“Ade mau daddy” rengek sang puteri
“Oke kalau begitu bangun dulu” bujuk Mey
“No, ade mau daddy” ucapnya dengan suara yang semakin tinggi.
Mau tidak mau Mey menelpon Alfa tapi yang ditelepon meninggalkan ponselnya di kamar itu sehingga saat Mey menelepon bunyi ponsel ada di atas nakas.
“Ade tunggu ya mommy cari daddy dulu soalnya daddy tidak bawa ponselnya” ucap Mey sambil beranjak meninggalkan puterinya dan mencari Alfa.
“Bu, lihat mas Alfa?” tanya Mey pada bi Ani.
“Tuan muda tadi masuk ke dalam ruang kerja” ucap Bi Ani yang tengah bekerja di dapur.
Mey melangkah menuju ruang kerja Alfa dan ternyata pria itu memang sedang asyik dengan kertas-kertas yang ada di atas meja kerjanya.
“Mas, maaf aku masuk” seru Mey sambil melangkah masuk ke dalam ruangan itu. Alfa tersenyum menatap wanita yang ada di depannya sekarang, sejak menikah wanita itu bahkan tidak sembarangan masuk ke ruang karjanya bahkan kamar tidurnya dulupun Mey tidak diijinkan masuk.
“Tidak mengapa sayang. Ada apa?” ucap Alfa sambil berhenti menulis dan menatap ke arah wanitanya.
“Maggie mencarimu dan ia tidak mau bangun kalau bukan kamu yang membangunkannya” jelas Mey atas kedatangannya itu.
“Betul? Bukan mommynya” ucap Alfa meledek Mey
“Ya anak kamulah, siap suruh tidak menunggunya bangun?” ucap Mey sengaja tidak tahu kalau suaminya sudah pergi sejak semalam.
“Baiklah, ayo kita kembali ke kamar” ucap Alfa sambil meletakan bolpoin dan kertas yang ada di tangannya dan beranjak bangun.
Keduanya melangkah keluar dari ruangan itu berinringan menuju kamar yang semalam mereka tempati. Ternyata di sana gadis kecil itu sudah kembali ngambek dengan melempar semua bantal ke sembarang ara dan seprei yang sudah tidak berbentuk membuat kamar itu seperti kapal pecah.
Alfa akhirnya tahu bahwa setiap kali gadis kecil itu marah maka semua yang ada di depannya menjadi sasaran, ia akan membuat semua berantakan.
“Ade… kenapa jadi begini?” ucap Mey dengan suara yang mulai meninggi karena tidak mengerti dengan anaknya itu.
“Sudah jangan membuatnya menangis” ucap Alfa dengan suara lembut.
“Jangan terlalu dimanjakan mas, nanti kebiasaan” ucap Mey tidak ingin anaknya terlalu dimanja.
Maggie turun dari tempat tidur dan berlari keluar dari kamar tanpa menghiraukan kedua orang tuanya, kaki kecilnya menuruni tangga dengan cepat hanya mencari di mana keberadaan opa dan ka Novinya.
Sementara di kamar, Alfa sudah mengomeli Mey karena terlalu kasar dengan puteri kecilnya.
-BERSAMBUNG-