Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Maria



Hi para pembaca dimana pun berada,


Pertama Author mau minta maaf karena up-nya kelamaan, maklum karena di kampung halaman author jaringannya cukup disayangkan 😭


Semoga tidak bosan menunggu ya?


Jangan lupa ikuti juga novel terbaru author yang berjudul


Terpaksa Menikahi Putera Majikan Ayah



Maaf Covernya belum muncul padahal sudah diulang-ulang up-nya.


Happy Reading gays ❤️


***""


Malam telah berlalu berganti dengan siang terang. Penghuni villa masih belum ada tanda-tanda ada yang bangun. Setelah beberapa waktu kemudian Mey bangun dan membantu para ART untuk menyiapkan sarapan pagi bagi keluarga tersebut.


"Loh mama sama papa sudah bangun?" tanya Mey saat melihat sang mertua yang baru masuk dengan berpakaian olah raga.


"Iyalah, mama baru habis joging" ucap oma Ratna kepada sang menantu.


"Papa masih ngantuk tapi kalau tidak ditemani bisa dapat masalah besar nak" ucap opa Alberth kepada sang menantu juga.


"Hahaha papa sama mama bersih-bersih dulu biar kita sarapan bersama" ucap Mey kepada kedua mertuanya.


"Yang lain mana?" tanya oma Ratna.


"Daddy sama anak semuanya sama" ucap Mey sambil meneruskan tugasnya sebelum membangunkan suami dan anak-anaknya.


"Baiklah mama sama papa ke kamar dulu ya?" pamit oma Ratna.


"Iya ma" jawab Mey.


Setelah menyelesaikan tugasnya di dapur, Mey pun melangkah ke kamarnya bersama suami untuk membangunkan pria itu.


"Dad, ayo bangun" ucap Mey sambil mengguncang tubuh sang suami.


"Daddy masih ngantuk mom" ucap Alfa dengan mata yang masih tetap tertutup.


"Cih, kukaka menunggumu di meja makan?" ucap Mey membuat mata suaminy langsung terbuka.


"Kenapa kumpul di meja makannya harus sepagi ini?" gerutu Alfa sambil bangun dari ranjang.


"Memang sekarang sudah waktunya sarapan dad?" balas Mey dengan menggerutu sang suami yang tingkahnya seperti anak TK.


Setelah memastikan Alfa masuk ke dalam kamar mandi, mey kembali keluar dari kamar itu menuju kamar si kembar yang memang tidur sekamar.


Karena tidak terkunci, Mey langsung masuk untuk membangunkan mereka yang masih terlelap dengan posisi dan gaya masing-masing.


"Abang, ade, ayo bangun nak?" ucap Mey sambil mengguncang tubuh mereka berdua. Sang abang langsung membuka mata saat merasa tubuhnya digoncang sedangkan sang adik malah membelakangi sang mommy dan melanjutkan tidurnya.


"Ade, ayo bangun nak. Tuh lihat di luar sudah terang" ucap Mey kembali membangunkan putera bungsunya dengan sabar.


"Masih ngantuk mom" gumam Daffi yang matanya masih tertutup rapat.


"Ade tinggal? kita sekeluarga mau refresing loh?" ucap Mey membuat Daffi langsung duduk karena diancam tinggal oleh Mommynya.


Daffi akhirnya bangun dan menunggu giliran untuk membersihkan diri.


Mey kembali melangkah keluar meninggalkan kamar kedua puteranya dan menuju ke kamar sang puteri semata wayangnya.


Seperti kedua puteranya, Maggie juga tidak mengunci pintu sehingga sang mommy bisa dengan mudah masuk ke dalamnya.


"Nak, ayo bangun sayang? kita sarapan bersama, tuh oma sama opa sudah menunggu di meja makan" ucap Mey sambil membenarkan rambut sang puteri yang menutup wajah cantiknya.


"Masih ngantuk bi?" gumam Maggie yang sudah terbiasa dibangunkan oleh ART baik waktu di Kalifornia atau di apartemen serta di kontrakan.


"Ini mommy sayang, ayo bangun?" ucap Mey lagi. Maggie yang samar-samar mendengar suara sang mommy langsung bangu dan memeluk wanita paruh baya itu dengan sangat erat seolah tidak ingin berpisah. Tindakan Maggie tak sengaja membuat mommynya sedih bahkan sampai meneteskan air mata.


Mengingat Maggie kecil yang biasanya bangun harus digendong, bahkan masuk kamar mandipun harus digendong, tapi sejak usia 11 tahun, gadis kecil itu dipaksa dewasa sebelum waktunya karena harus terpisah dari sang mommy yang sejak kecil tidak pernah terpisah.


"Kaka rindu mommy," ucap Maggie membuat hati Mey terasa hancur.


"Ya sudah, ayoh bersihkan dulu tubuhmu sayang" ucap Mey merenggangkan pelukan mereka.


Maggie akhirnya turun dari ranjang dan melangkah masuk ke kamar mandi.


Setelah bersiap, semuanya kembali berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan pagi ini.


"Selamat pagi semuanya" seru Maggie yang datang belakangan.


"Selamat pagi sayang," jawab oma dan opa serentak sedangkan si kembar hanya enjawab dengan anggukan kepala, Alfa bahkan hanya berdaheman sebagai jawabannya.


"Dad, sariawan ya?" tanya Maggie membuat sang daddy membulatkan matanya.


"Enak saja, daddy itu lagi sehat walafiat tahu?" jawab Alfa sewot.


"Terus kenapa hanya daheman saja, kaka pikir sariawan" ucap Maggie semakin bersemangat untuk meledek sang daddy.


"Ayo cepat makan, nanti terlanjur dingin sarapannya" ucap Mey mengakhiri perdebatan antara anak dan daddy itu.


Merekapun makan dengan tenang hingga semua makanan yang ada dalam piring habis tak tersisa.


Keluarga itu lanjut bersantai di rumah payung yang yang ada di taman belakang villa tersebut.


"Dad, mom, kaka mau jalan-jalan sebentar di perumahan dekat pantai sekitar ini" ijin Maggie kepada kedua orangtuanya.


"Mau sama si kembar atau sendiri aja?" tanya Mey kepada puterinya.


"Sendiri aja deh" ucap Maggie.


"Aku juga ka, aku mau lihat tempat main kaka waktu kecil" ujar Daffi yang baru bergabung di rumah payung itu.


"Ya udah, jalan" ucap Maggie tidak mau memperpanjang waktu karena akan semakin panas jika masih banyak bicara.


Keduanya akhirnya pergi dengan mobil daddy mereka. Maggie berharap mengenal salah satu teman masa kecilnya yang dulu sering bermain bersamanya di pantai, ia sangat menginginkan hal itu. Teman-teman yang tidak perah melihat dari sisi kelamnya tapi yang mau menerima dirinya apa adanya.


tibalah mereka di salah satu rumah yang bahkan sampai sekarang belum berubah walaupun sudah kelihatan tua. Maggie dapat mengenali rumah itu karena rumah tersebut ada dalam latar foto masa kecilnya yang sempat diabadikan oleh ka Novi saat menjempunya untuk pulang istirahat siang.


"Nah itu dia, rumahnya yang masih aku ingat" gumam Maggie langsung membelokan mobilnya masuk ke halaman rumah yang tidak ada pagar itu.


Maggie turun dari mobil dan diikuti oleh sang adik, ia berharap dapat bertemu dengan seorang gadis yang seusianya.


Tok tok tok


"Halo, siapa ada?" seru Maggie dari balik pintu rumah sederhana yang dulu sering menjadi tempat bermainnya.


Beberapa saat kemudian muncul seorang bapak yang kelihatan sakit-sakitan jalan sempoyongan. Pria tua itu baru saja membuka pintu dan terkejut dengan kehadiran gadis cantik yang ada di depannya apa lagi ada sebuah mobil mewah yang terparkir di sana.


"Siapa ya? ada perlu apa nak?" ucap pria itu sopan.


"Hai om, apa benar ini masih rumahnya Maria?" tanya Maggie hati-hati.


"Iya benar nak, ini rumahnya. Mari masuk?" ucap pria itu melebarkan pintu dan mata Maggie langsung tertuju kepada salah satu bingkai foto yang tergantung di dinding rumah itu.


Maggie melangkah masuk tanpa suara dan langsung berdiri tepat dimana foto itu tergantung.


"Itu fotonya Maria, saat ini dia sedang berada di kota untuk melanjutkan kuliahnya sambil bekerja di sana. Puji Tuhan dia berkesempatan mendapatkan beasiswa jadi bisa membiayai sekolahnya." ucap pria yang tidak lain adalah ayah dari Maria.


"Dari tadi aku tidak melihat tante, om?" ucap Maggie karena tidak ada tanda-tanda munculnya ibu dari gadis yang ada di foto itu.


"Ibunya Maria sudah meninggal delapan tahun lalu saat Maria masih kecil" ucap pria itu sedih.


"Maaf, membuat om teringat lagi" ucap Maggie merasa bersalah.


"Kalau begitu aku pulang dulu ya om, sampaikan salamku kepada Maria jika ia berlibur" ucap Maggie dengan hati yang berkecamuk. iapun melangkah keluar sebelum pria tua itu menjawab ucapannya.


.


.


Di sisi lain Roberth yang baru terbangun di rumah sederhana kedua opa dan omanya berencana untuk pulang ke kota karena ia hanya ijin satu hari tidak masuk kuliah dan kemarinpun ia masih mengikuti pelajaran dan setelah itu baru ia datang ke sana untuk menjenguk kakeknya yang sakit karena papanya yang berada di luar negeri dan tidak bisa datang ke sana.


"Apa arti dari ucapan Daffa. Aku ingin pulang tapi aku masih berharap bisa bertemu lagi dengannya" gumam Roberth yang masih belum beranjak dari tempat duduknya ditemani segelas minuman cokelat hangat.


Pria itu akhirnya menetapkan hatinya dan pergi juga dari daerah itu karena ia sendiri tidak tahu di mana Maggie dan keluarganya tinggal dan mungkin saja mereka sudah kembali ke kota jadi ia berencana akan bertemu dengannya di kampus nanti.


"Aku harap kita bisa punya waktu lebih jika berada di kampus dan aku juga berharap kamu tidak menolakku jika kita bertemu di kampus nanti" gumam Roberth sambil memasang sabletnya.


Perjalanan Roberth antara dalam suasana senang dan galau. Senang karena akhirnya ia bisa bertemu dengan gadis pujaannya. Galau karena tidak ada kepastian dalam diri gadis itu, semua serba teka-teki.


BERSAMBUNG