
Hari ini jadwal operasi ayah Veron. Seperti yang sudah Novi janjikan, kini ia harus membangunkan Reno karena sebentar lagi sang ayah akan di bawa ke ruang operasi.
"Ka' bangun sudah mau waktunya ayah operasi." ucap Novi sambil menggoyangkan sedikit tubuh Reno. Yang dibangunkan malah tetap damai dalam mimpinya.
"Ka' bangun... gimana sih? tadi katanya harus dibangunin, eh malah ngorok terus" Gerutu Novi dengan wajah lucunya.
Reno yang pura-pura tadi tersenyum geli mendengar ocehan gadisnya.
"Iya aku bangun, jangan ngambek." ucap Reno dengan matanya yang masih terpejam.
"Eh sudah bangun ka'?" tanya Novi salah tingkah karena ocehannya tadi ternyata didengar oleh Reno dan itu membuatnya malu.
Pria itu bangun dan menuju kamar mandi membersihkan dirinya sebentar dan keluar dengan keadaan yang sudah lebih segar.
"Selamat pagi, Kami akan membawa pasien ke ruang operasi." ucap seorang dokter yang datang bersama beberapa perawat untuk membawa ayah Veron ke ruang operasi.
"Silahkan dok" ucap Reno mewakili kedua wanita itu.
Dokter dan perawat itu akhirnya membawa pergi ayah Veron dan diikuti oleh Reno, bunda Nur dan juga Novi. Ketiganya hanya bisa mengantar sampai ke depan pintu ruang operasi karena tidak diijinkan masuk.
Kedua wanita itu sudah harap-harap cemas sepanjang berjalannya operasi, Reno yang terus memberi kekuatan bagi keduanya walau sebenarnya ia takut karena semalam ia sudah bertemu dengan dokter dan kata dokter keberhasilan operasi sangat tipis karena sudah cukup parah penyakit itu.
Reno takut jika kegagalan operasi akan membuat Novi dan ibunya syok, atau bahkan hal lain yang tidak diinginkan terjadi. Mau dibilang Reno adalah penanggung jawab dalam operasi ini.
"Kita doakan biar operasi ayah berhasil" ucap Reno kepada bunda Nur dan Novi.
"Iya nak" jawab bunda tapi tidak dengan Novi yang sejak tadi diam sambil menggosok kedua telapak tangannya gelisah.
Reno mengerti dengan perasaan gadis ini. Novi punyak beban pikiran, ia juga terbeban jika setelah operasinya selesai dan Reno minta ganti rugi.
"Ka'..." ucap Novi terpotong.
"Ssttt" potong Reno dengan menaruh telunjuknya di depan bibir sebagai tanda diam. Ia sebenarnya sudah bisa membaca apa yang mau diucapkan gadis itu. Novi akhirnya memilih diam.
Setelah melewati waktu 4 jam dan saat ini tepat pukul 2 siang, lampu di ruang operasi ayah Novi mati dan itu tandanya operasi telah usai. Dan sepuluh menit kemudian dokter yang menangani operasi itupun keluar.
"Bagaimana keadaan pasien dok?" tanya Reno penasaran.
"Operasinya sedikit bermasalah tapi syukurlah tidak terjadi apa-apa. Dan pasien untuk sementara dinyatakan koma, jadi setelah dipindahkan ke ruang icu, keluarga boleh menjenguk tapi cukup satu orang." ucap dokter menjelaskan.
"Baik dok" jawab Reno, dan dokter melangkah pergi sedangkan yang lain mengurus untuk memindahkan ayah Veron ke ruang icu.
.
.
****
Dibelahan bumi yang lain, setelah beberapa hari meliburkan diri, hari ini Maggie kembali ke sekolah seperti biasa. Gadis kecil itu sangat bahagia karena hari ini satu keluarga mengantarkannya ke sekolah. Daddy, mommy dan juga twins D.
Biasanya cuma Maggie yang ribut kalau sedang di atas mobil tapi kali ini bertambah lagi para karutuk kecil itu juga turut menyumbangkan suara emas mereka.
"Kaka senang tidak? hari ini kembali ke sekolah" tanya Mey.
"Senanglah, kan di sekolah kaka ketemu sama teman-teman" ucapnya santai sedangkan sang daddy sudah tersenyum geli mengingat anaknya yang pasti teman yang dimaksud adalah Roberth.
"Siapa saja teman-teman kaka?" Umpan Alfa.
"Lobelth dengan yang lainnya" ucapnya tegas.
Beberapa saat kemudian keluarga Alfa akhirnya tiba di gerbang sekolah. Sekurity langsung membuka gerbang dan mobil mereka masuk ke area parkiran.
Maggie langsung kelauar dari mobil ketika daddy sudah memarkirkan dengan betul. Gadis kecil itu rupanya sudah merasa rindu dengan sekolahnya atau dengan si Lobelth itu.
Daddy, mommy dan kedua adik pun akhirnya turun dari mobil menyusul sang puteri. Maggie mengedarkan matanya ke sana ke mari mencari Roberth. Biasanya anak lelaki kecil itu datang tepat waktu dan lebih awal, tapi hari ini belum juga muncul.
Raut wajahnya sedikit berubah murung, dan berpikir mungkin saja temannya itu tidak masuk sekolah hari ini, apakah dia sakit?.
Dengan tidak semangat Maggie pamit masuk kelas karena sudah saatnya jam belajar dimulai. Padahal tadi ia sudah bersemangat untuk memamerkan kedua adiknya kepada sang teman.
"Kaka sakit?" tanya Alfa pada puterinya yang sejak turun dari mobil tadi tidak bersemangat.
Maggie hanya menggeleng tanda bahwa dia tidak apa-apa.
"Kalau kaka tidak enak badan, daddy ijin ke gurunya biar kita pulang saja ya?" tanya Mey memastikan.
"Kaka tidak apa-apa ko dad, mom," jawabnya menyakinkan.
"Oke, kaka masuk dulu ya?" ucap Maggie sambil mencium punggung tangan kedua orang tua dan tak lupa mencium pipi gembul kedua adiknya.
Gadis kecil itu melangkah masuk dengan tidak bersemangat. Alfa dan Maggie pun berdiri dengan masing-masing menggendong baby twins sambil memastikan puteri mereka benar-benar masuk.
Mereka akhirnya pergi meninggalkan sekolah menuju kantor. Hari ini Alfa membawa isteri serta anaknya pergi ke kantor untuk pertama kali setelah baby twins lahir.
Di Sekolah, lebih tepatnya di kelas Maggie. Kenyataan pahit kembali menghantamnya ketika ia tahu bawa anak lelaki kecil yang selama ini menjadi temannya di sekolah telah pindah.
Sedih gadis kecil itu karena temannya itu pergi tanpa pamit. Baru beberapa hari ia tidak masuk sekolah, ternyata semuanya berubah.
Lobelth jahat, pelgi ta bilang- bilang sama Maggie. Mana Maggie juga ta tahu pindah ke mana? Nasib Maggie emang sedih ya? Batin gadis kecil itu sambil menghapus air matanya.
Pokoknya Maagie ta mau nangis lagi. Maggie mau belajal dengan lajin dan jika Maggie dewasa nanti, Maggie mau cali Lobelt sampai ketemu, titik. Gadis kecil itu kembali memberi semangat untuk dirinya sendiri.
Setelah menenangkan hatinya, ia mulai fokus belajar.
Di lobi kantor
Semua karyawan menunduk hormat kepada Mey yang baru kembali ke kantor ini setelah sekian lama.
Ya hari ini mereka datang ke kantor Maquarie Group karena Reno belum kembali.
Tak lupa para karyawati yang gemas dengan twins D.
"Hai baby"
"Wah tampan sekali"
"Benar-benar bibit unggul"
Bebagai macam bisikan-bisikan yang mengganggu telinga Alfa dan Mey namun keduanya santai karena memang kedua putera mereka sangat menggemaskan.
Berbeda dengan kedua baby yang menebar pesona mereka sambil mengoceh tak jelas dan itu menambah kelucuan mereka.
Wah gawat, masih bayi anak-anakku sudah tebar pesona. Oh Tuhan tabahkanlah hambaMu meghadapi ketiga anakku. Batin Alfah
BERSAMBUNG