Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Kekacauan Di Markas Kartel Sinaloa



Rockzy mulai menjelajahi semua ruangan yang ada di gedung yang cukup besar itu namun ia tidak mendapatkan papanya, ia hanya menemukan beberapa orang yang juga disekap di sana entah apa kesalahan yang mereka buat namun Rockzy tidak pemperdulikannya karena tujuan utamanya adalah sang papa yang dilihat tadi sudah cukup sekarat.


di dalam markas itu juga, Toni berlari ke arah salah satu ruangan entah tujuannya apa tapi hal itu cukup menarik perhatian Rockzy sehingga anak muda itupun menyusulnya.


Begitu tiba di depan pintu, keduanya kembali berebutan agar siapa yang lebih dahulu masuk ke sana. Hal itu akhir membuatnya keduanya saling beradu kekuatan.


"Jangan harap kau bisa membawa orang tua itu pergi dari sini" ucap Toni disela suasana yang lagi tegang bahkan saat keduanya tengah berantam.


"Tidak ada yang tidak mungkin buat aku untuk membawa papaku pergi" Jawab Rockzy sambil menangkis setiap serangan dari Toni.


Tidak ada yang saling mengalah sehingga keadaan semakin memanas bahkan awalnya mereka berantam di depan pintu yang diyakini tempat penyekapan opa Gaston kini mereka mulai menjauh kurang lebih 5 meter dari depan ruangan itu dan berada di tempat yang agak luas.


Di ruangan lain


Sepasang pria dan wanita masih bertahan pada posisi masing-masing tanpa ada yang mengalah, bahkan keduanya sama-sama masih seperti semula tanpa ada yang babak belur.


"Rupanya kekuatan bela dirimu cukup tinggi walaupun kau hanya seorang wanita." ucap El sambil membaca setiap gerakan oma Ratna.


"Jika aku tidak kuat maka aku tidak dinobatkan sebagai seorang pemimpin" balas oma Ratna dengan senyum yang cukup menyeramkan.


"Jangan salahkan aku jika kau tidak bisa keluar dari gedung ini" ucap El penuh penekanan.


"Cihhh beraninya cuma sama perempuan" cibir oma berhasil membangkitkan amarah El.


"Apa kau bilang" teriaknya sambil terus memberi serangan kepada Oma Ratna namun wanita itu tetap melayaninya dengan senang hati.


Jika kau menghadapi lawanmu, jangan sampai amarah menguasai dirimu. Karena jika demikian maka kau tidak akan fokus pada lawanmu melainkan pada perasaanmu.


Bayang-bayang Gaston kecil kembali memenuhi benaknya tentang kejadian beberapa puluh tahun yang lalu saat ia masih berusia 7 tahun dan sang kaka berusia 15 tahun.


Seolah mendapat kekuatan ekstra saat membayangkan wajah sang kaka, Oma Ratna berhasil memberi satu pukulan kepada El dan pria itu sempat jatuh.


"Kurang ajar, akan ku bunuh kau hari ini" teriak El kembali bangun dan menyerang oma Ratna secara membabibuta.


Oma Ratna sempat kewalahan namun sebisa mungkin ia mengimbangi pukulan pria itu walaupun ia sempat kena beberapa pukulan yang sipit.


.


.


.


Di luar markas kegaduhan mulai berlangsung saat para anak buah Reno, Alfa dan yang lainnya mulai menyerang. Rockzy semakin panik saat mendengar kegaduhan diluar yang cukup menarik perhatiannya sementara dia bahkan belum menemukan papanya karena pria yang saat ini tengah melawannya.


"Maafkan aku" gumam Rockzy yang berlari ke arah tembok dan melompat sekitar tiga langkah ke atas dan memutar badannya kembali, dalam satu gerakan ia mengeluarkan tenaganya dan menghantam Toni tepat di ulu hatinya.


Pria itu tidak mampu mengelak lagi dan langsung tumbang bahkan pingsan di tempat.


"Bajingan, kau sudah menghalangi tujuanku. Aku akan membunuhmu." ucap Rockzy penuh penekanan dan melangkah ke arah Toni yang terkapar tak bergeming.


"Papa" ucap Rockzy yang sudah nerjongkok di samping Toni dan siap untuk memberi pukulan lagi namun langsung diurungkan begitu kesadarannya langsung kembali saat mengingat tujuannya.


Dia berlari ke arah pintu yang tak jauh dari sana dan langsung membuka pintu dan masuk. Rockzy dibuat semakin kawatir setelah tiba di dalam ruangan itu. Ia tidak menemukan siapa-siapa di sana hanya tapi yang tergeletak di dekat kursi yang ada di ruangan itu.


"Papa??? Pa,, ini aku pa" seru Rockzy yang panik karena tidak menemukan sang papa.


Ia berlari keluar meninggalkan ruangan itu dan mencari ke ruangan lain namun hasilnya nihil. Ia semakin panik setelah keluar masuk ruangan dari ujung hingga ujung dan tidak membuahkan hasil.


Rockzy berakhir pada sebuah pintu yang terkunci rapat dan dia yakini bahwa papanya pasti berada di sana sehingga ruangan itu dikunci. Maklumlah, opa Gaston bukan orang sembarangan jadi ia harus dijaga dengan cukup ketat. Itulah yang dia pikirkan.


Karena tidak bisa membuka pintu tersebut, Rockzy akhirnya berniat untuk mendobraknya.


1


2


3


bunyi yang cukup keras begitu pintu terbuka secara paksa karena dobrakan dari Rockzy.


"Vicky?" ucap Rockzy begitu masuk ke dalam ruangan yang cukup mewah itu.


"Rockzy? Akhirnya kau datang" ucapnya senang.


"Apa maksud dari semua ini?" tanya Rockzy yang tidak mengerti dengan situasi saat ini karena cukup membingungkan. Vicky malah bukan seperti orang yang disekap karena hidupnya cukup baik, mendapatkan fasilitas terbaik dari tempat ini.


"Akan aku jelaskan asalkan kita menolong tuan Gaston." ucap Vicky.


"Aku sudah mencarinya tapi tidak menemukan di semua ruangan" jelas Rockzy yang sudah putus asa.


"Mari ikut aku, aku masih mengingat tempat mereka menyekap aku dan tuan besar" jelas Vicky.


Keduanya melangkah keluar untuk menuju ke tempat yang dimaksud oleh Vicky.


"Ini ruangannya Ro" ucap Vicky.


Deg


"Tidak ada Vic, aku sudah dari sini sebelumnya" jelas Rockzy.


"Hah??" ucap Vicky sedikit lengking dan langsung masuk ternyata tidak ada orang benaran seperti yang disampaikan oleh Rockzy tadi.


Keduanya kembali terpencar untuk mencari keberadaan sang papa. Jika ditanya kenapa tidak ada seorangpun di dalam markas itu? Ya karena semuanya sudah ditugaskan untuk menjaga di luar. Sehingga dengan gampang Rockzy dan Vicky bisa menggeledah semua ruangan.


Di luar gedung, sudah terjadi pertumpahan darah bersar-bedaran namun belum ada tanda-tanda untuk saling mengalah.


Tiba-tiba, terdengar sirene polisi dengan beberapa mobil yang datang ke markas tersebut.


"Kurang ajar," gumam El geram dan mau tidak mau ia harus melarikan diri. Banyak anak buahnya yang ikut melarikan diri dan dan banyak pula yang tertangkap.


El yang memang menghafal semua sisi gedung itu akhirnya melarikan diri, Oma Ratna mengejarnya namun kehilangan jejak. Toni yang baru sadar dan hendak berlari namun langsung ditarik oleh Oma Ratna dari belakang sehingga ia pun dibawah oleh polisi.


"Sial, kenapa harus ada polisi?" gerutu Oma.


"Kaka, mana kaka?" ucap Oma yang baru menyadarinya.


Wanita itu berlari mencari yang lain namun tidak ditemuinya, akhirnya ia berlari keluar.


"Ma?" ucap Alfa yang sedang berdiri dengan para polisi sementara para anak buahnya sedang membantu polisi yang lain untuk membekuk para penjahat tersebut.


"Opa mana ma?" tanya Alfa.


"Apa kamu melihat Rockzy sudah keluar?" tanya Oma Ratna.


"Belum ma" ucap Alfa yang ikut masuk ke dalam. Mereka tiba di salah satu sisi dan menemukan beberapa orang yang sudah terkapar dan tak bernyawa di sana.


"Apakah El yang membawa opa lewat sini?" tanya Alfa, bertepatan dengan kedatangan Rockzy dan Vicky.


"Papa tidak ada di semua ruangan" ucap Rockzy tanpa ditanya.


"Berarti... " ucap Alfa sambil berpikir.


"Tidak mungkin El yang membawanya karena itu adalah anak buahnya. Tidak mungkin ia membunuh anak buahnya sendiri untuk membawa kaka pergi" jelas Oma yang mengerti maksud Sang Putera.


"Telepon Maggie karena sepertinya dia belum muncul sejak tadi" ucap Rockzy.


"Akh lupa lagi sama anak itu, pasti kerjaannya" gerutu Oma.


"Alfa telepon puterimu, ponsel mama kehabisan daya." perintah Oma begitu melihat ponselnya mati total.


Bersambung