Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Perpisahan (Daffa & Ike)



Pagi ini, Daffa bangun pagi sekali untuk bersiap-siap karena harus menjemput Ike untuk mengantarnya ke sekolah.


"Mau ke mana abang sudah rapi aja sepagi ini? Bukannya akan berangkat nanti jam 11 ya?" ucap Mey yang tengah sibuk bersama para maid di dapur. Daffa yang hendak mengambil air minum pun mendapati wanita yang sudah melahirkannya ada di sana.


"Abang mau antar Ike ke sekolah dulu sekalian pamit" ucap Daffa.


"Loh memangnya semalam belum pamit ya?" tanya Mey heran.


"Belum sempat mom" jawab Daffa.


"Oke kalau begitu Hati-hati ya?" saran mommy Mey yang senang mendengar jika putera sulungnya sudah membuka hati untuk Puteri dari adik angkatnya itu.


"Yes mom" jawab abang langsung melangkah keluar setelah menghabiskan minumannya.


Anak muda itu melajukan mobilnya menuju tempat di mana gadisnya itu tinggal karena hari ini ia juga akan kembali ke Australia.


Setibanya di keluarga Arjo yang masih sangat pagi, ternyata satu keluarga itu lagi sarapan.


Setelah memencet bel rumah, beberapa saat kemudian seorang gadis yang baru kelihatan muncul di sana untuk membuka pintu.


"Pagi tuan silahkan masuk, semuanya lagi sarapan" ucap Asry. Ya yang membuka pintu adalah Asry, maid baru keluarga Arjo yang baru beberapa bulan bekerja di sana setelah insiden di kampung dimana Roberth dan timnya datang memberi bantuan kepada korban bencana.


Daffa melangkah masuk dengan hati bertanya-tanya, siapa gadis itu namun ia urungkan untuk bertanya.


"Selamat pagi semuanya" sapa abang kepada satu keluarga dari kaka iparnya itu dan mungkin akan menjadi keluarganya juga ke depannya.


"Selamat pagi abang"


"Selamat pagi nak"


jawab mereka serentak. Seperti biasa keluarga Reno sudah terbiasa menyapanya abang sedangkan Arjo dan isterinya menyapanya nak.


"Sarapan dulu, kamu pasti belum sarapan nih karena datang kepagian." ucap Reno.


"Ko om tahu?" ucap abang sambil bergabung untuk sarapan bersama keluarga tersebut.


"Ya tahulah," jawab Reno. Walaupun dikenal dingin tapi ada sedikit kemiripan antara sikembar. Daffi menunjukkan itu kepada semua orang tapi Daffa hanya menunjukkan kepada orang-orang tertentu yang dianggapnya keluarga.


"Kamu kapan pulang bang" tanya Novi sambil menaruh beberapa lauk di atas sarapan keponakan dan mungkin akan jadi menantunya itu.


"Hari ini tante, jam sebelas aku sama Daffi lebih dahulu soalnya kuliah" jawab abang membuat Ike terkejut dan wajahnya langsung murung.


"Kamu kenapa de? tidak rela ditinggal pergi?" tanya Reno yang melihat perubahan puterinya, membuat semua orang yang berada di meja makan ikut menatap ke arahnya. Gadis itu diam dan Pura-pura terus melanjutkan sarapannya, setelah menyadari kalau semua mata tertuju padanya.


Mereka akhirnya makan dalam diam karena tidak mendapat jawaban dari Ike. Setelah menyelesaikan sarapan, Abang pamit pada keluarga Arjo dan Reno.


"Om, tante, semuanya, aku antarin Ike ke sekolah dulu, sekalian pamit buat kembali ke Australia" ucap Daffa dan setelah itu mengajak Ike keluar.


Keduanya sudah berada di dalam mobil yang melaju mengantarkan mereka ke tempat tujuan.


"Kamu kenapa?" tanya Daffa.


"Nggak apa-apa ko?" jawabnya jutek.


Ike malah mendiamkan Daffa sepanjang perjalanan, sehingga timbullah sesuatu dalam pikiran Daffa.


"Cewek yang tadi bukain pintu di rumah siapa ya?" tanya Daffa.


"Kenapa kamu tanya soal dia?" labrak Ike yang semakin terbakar.


"Kan cuma tanya" ucap Daffa santai.


"Tanya aja sendiri" ucap Ike kembali berulah, membuat Daffa tersenyum. Ia tahu kalau gadis ini dalam mode cemburu.


Mereka pun tiba di gerbang, Ike langsung melepas sabuk pengaman dan hendak membuka pintu mobil untuk keluar, karena masih kesal dengan Daffa yang terlambat pamit kepadanya dan menanyakan cewek lain di depannya. Setelah berusaha ternyata Daffa mengunci pintu rapat sehingga gadis itu tidak bisa keluar.


"De, jangan marah ya? maaf kalau aku baru ngasih tahu sekarang. Aku memang harus pulang karena kuliah. Kamu harus jaga diri dan baik-baik di sini ya? . Aku juga akan selalu hubungi kamu. Jangan berpikir yang tidak-tidak apalagi soal cewek lain seperti tadi, aku cuma bertanya karena melihat ada orang lain di rumah om Arjo, siapa pun dia aku tidak peduli walaupun aku penasaran. Aku mencintai kamu, aku bersyukur karena akhirnya daddy mengajakku ke Indo lebih dahulu sehingga aku bisa bertemu dengan kamu. jangan pikir yang macam-macam ya?" ucap Daffa panjang lebar. Ike merasa tersentuh karena selama ini, Daffa yang dia kenal adalah Daffa yang irit bicara tapi baru saja ia mengungkapkan rasa cintanya sekaligus memberi beberapa nasehat kepadanya begitu panjang lebar.


"Ya?" ucap Daffa lagi setelah melihat Ike malah melamun.


"Iya bang" jawab Ike dan langsung memeluk Daffa. Ia masih sangat ingin bersama pria itu namun tuntutan kuliah membuat mereka harus saling mengerti.


"Abang juga Hati-hati. Ike tahu, dunia abang banyak ada bahayanya. Kabari Ike jika abang lelah atau banyak masalah, abang bisa berbagi sama Ike" ucap Ike juga mengutarakan rasa perhatiannya kepada pria itu.


"Hmmm rupanya ada yang sudah dewasa" goda abang kepada Ike.


"Ya Ike berpikir abang pernah nolak Ike karena terlalu kekanak-kanakan maka dari itu Ike belajar untuk merubah diri sendiri" jawab Ike jujur, dan Daffa juga dapat merasakan hal itu setelah beberapa hari ada di Indonesia dan melihat perubahan besar dalam diri gadis itu.


"Maaf ya? bukan menolak, tapi abang juga bingung. Abang pengen kejar dulu masa depan baru setelah itu berpacaran, maka dari itu abang tidak pernah meladani kamu waktu itu" jelas Daffa yang menyesal karena kecuekan nya membuat gadis itu dewasa sebelum umurnya.


"Lalu kenapa abang datang dan mengklaim Ike sebagai ceweknya abang. Atau abang hanya menunjukkan rasa bersalahnya saja dan setelah itu abang tinggalin Ike lagi? " ucap Ike menuntut.


"Tidak seperti itu, setelah kamu tinggalkan Australia baru aku menyadari kalau aku kehilangan kamu. Dan aku tidak mau ada yang mendahului aku, karena jika itu terjadi aku akan menyesal seumur hidup" jelas Daffa.


"Thanks ya bang, aku bahagia dengarnya" ucap Ike dengan senyum tulusnya.


"Okeh sekolah yang rajin ya? jangan nakal lagi setelah aku tidak ada. Nanti siang, sopir akan menjemputmu pakai mobil baru kamu" pesan Daffa.


"Iya bang" jawab gadis itu dengan suara yang bergetar. Ternyata perpisahan itu berat untuknya, namun ia sudah mengambil keputusan untuk menambah ilmu di negara maminya.


"Jangan sedih, jika liburan kan kamu bisa ke sana. Tapi sepertinya aku akan jarang datang karena akan lebih banyak membantu mommy mengurus perusahaan. Mommy harus banyak istirahat. ucap Daffa.


"Iya bang, Hati-hati ya? jangan lupa kabari aku kalau udah sampai" pesan Ike.


"Iya" jawab Daffa sambil menekan kunci kontak mobil tersebut sehingga pintunya bisa dibuka. Ike membuka pintu dan keluar dan tidak lupa melambaikan tangannya kepada Daffa.


Ia berlari masuk ke halaman sekolah dengan perasaan yang sulit diartikan. Sesekali ia berbalik dan melihat mobil Daffa yang belum juga pergi dari sana, hingga tubuh kecilnya hilang dibalik gedung sekolah itu.


Daffa yang melihat gadisnya itu sudah benar-benar masuk ke sekolah, ia pun menancap gas mobilnya dan pergi meninggalkan gerbang sekolah tersebut.


Daffa juga merasa tak karuan, namun ia berusaha untuk biasa saja karena ia harus memulai tugas barunya ke depan nanti.


BERSAMBUNG