
Bisa dibilang egois sih iya, Roky yang tengah berperang dengan pikirannya tidak peduli dengan Alice yang sudah sangat lemah di dalam kamar mandi.
📞Halo tuan
📞Segera datang ke apartemenku
📞Baik tuan.
Rupanya Roky menelepon dokter keluarga untuk menangani keadaan Alice.
Dengan langkah gontai, Alice kembali ke kamar dan langsung menuju ke sofa yang tadi ia jadikan sebagai tempat tidurnya. Melihat itu, Roky tidak mempedulikannya karena belum bisa menerima apa yang dia lihat sekarang.
Alice memilih untuk merebahkan tubuhnya karena selain pusing ia juga merasa perih di ulu hatinya.
"Roky, apa aku bisa minta bantuan? tolong ambilkan aku air putih" ucap Alice.
"Jangan kaya anak kecil Alice. Kamu bisa mengambilnya sendiri" ucapnya penuh penekanan.
Alice kembali terdiam dan memilih tidur karena untuk melangkah saja ia merasa sekujur tubuhnya sudah tak bertulang lagi.
Beberapa saat ia kembali tertidur, bel apartemen kembali berbunyi dan ternyata dokter yang ditelepon Roky tadi sudah tiba.
"Apa yang terjadi?" tanya dokter itu.
"Masuk saja ke kamar" ucapnya dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Mana pasiennya?" tanya dokter lagi karena ranjang itu kosong.
"Itu" ucapnya singkat sambil menunjukkan
ke arah sofa.
"Gila lo Roky, orang sakit ko di suruh tidur di sofa?" ucap dokter itu tidak habis pikir.
"Angkat dia ke ranjang" perintah dokter itu.
"Periksa saja di sana" ucap Roky.
Karena kesusahan untuk memeriksanya, Dokter itu berinisiatif untuk mengangkat tubuh gadis itu ke ranjang. Roky hanya menatapnya seolah tidak peduli. Alice yang menyadari ada yang mengangkat tubuhnya hanya diamkan saja karena ia merasa semakin tidak mampu untuk menahan sakitnya.
"Roky, jangan bilang selain kau menyiksanya tidur di sofa, kau juga menyiksanya tidak makan. Asam lambungnya naik dan sepertinya kau tidak memberinya makan sudah Berhari-hari. Bisa dibilang ia terserang busung lapar" ucap dokter dengan nada geram.
Deg
Tubuh Roky lemas seketika, wajahnya bahkan sampai pucat mendengar penjelasan dokter yang sudah dia anggap sahabat sehingga dengan gampang pria yang berstatus dokter itu memarahinya.
"Katakan, dia siapa dan kenapa kamu tega melakukan hal itu kepadanya?" tanya Dokter dengan tegas.
"Kalau kau masih sayang nyawanya, segera bawa ke rumah sakit untuk segera ditangani, jangan sampai kamu terlambat" ucap dokter lagi membuat Roky gelagapan.
Alice hanya makan siang waktu ia berada di rumah sakit, dan malam penculikan itu ia belum sempat makan malam ditambah ia terkena obat bius sebanyak dua kali dan penerbangan memakan waktu hampir 17 jam.
Roky membopong tubuh ramping gadis itu dengan langkah lebarnya keluar dari apartemen dan menuju ke parkiran. Pikirannya benar-benar kalut.
Egonya yang tinggi bisa membahayakan nyawa gadis yang ia cintai bertahun-tahun.
Setelah merebahkan Alice di kursi penumpang dan memasang sabuk pengaman, Roky langsung menuju ke kursi kemudi dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedangkan Alice sudah terlanjur pingsan sejak tadi. Dokter yang datang memeriksa Alice pun menyusul ke rumah sakit.
Mereka tiba di rumah sakit dan Ternyata sudah ada perawat yang menyiapkan brankar dorong untuk menyambut kedatangan Roky dan sepertinya sang dokter yang menghubungi pihak rumah sakit.
Alice di dorong masuk ke ruang UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama dari pihak rumah sakit.
"Harap tunggu di luar ya pak?" ucap perawat yang diperintahkan oleh dokter agar bisa fokus menangani pasien itu.
Beberapa saat kemudian dokter keluar dan langsung disampar oleh Roky.
"Bagaiamana keadaanya dok?" tanya Roky.
"Pasien mengidap penyakit lambung yang sudah kronis jadi waktu makan dan minum harus teratur. Kami akan resep kan obatnya" jelas dokter kepada Roky.
Pria itu menyesal karena sudah berpikir yang macam-macam kepada gadis itu.
"Maaf" ucap Roky yang sudah duduk di samping ranjang Alice.
Tring tring tring
📞Apa yang terjadi pada Alice?
📞Dia punya riwayat penyakit lambung
📞Pasti kamu yang menyebabkan penyakitnya kumat
📞Maaf
📞Jika kamu belum bisa mengontrol emosimu, sebaiknya jangan mengajak anak orang untuk serius karena cara kamu di awal saja sudah salah Roky. Kenapa kamu sampai melakukan hal gila itu dan menculiknya, sekarang jadinya apa hah?
📞maaf.
📞Pastikan dia sembuh dan jangan pernah berpikir untuk menikah terlebih dahulu.
sambungan telepon antara kakak beradik kembar itu berakhir.
Riko sangat marah setelah mendengar jika adiknya menyuruh anak buahnya untuk menculik Alice, gadis yang dulu cukup dekat dengannya juga karena mereka sama-sama bekerja untuk keluarga Adipaty.
Karena amarahnya itulah yang membuatnya menelepon Roky dan memarahinya habis-habisan.
Roky mengaku salah karena keegoisannya, hampir saja membahayakan nyawa Alice.
Alice yang tidak membawa dompet dan ponselnya membuatnya hidup bergantung penuh pada Roky jadi jika dilarang tidak makan maka ia tentu tidak makan karena yang berkata adalah orang yang punya uang.
Beberapa saat kemudian Alice membuka matanya. Roky langsung mendekat dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang.
"Makan dulu ya?" ucap Roky lembut dan Alice hanya diam.
Tidak lama pintu di ketuk.
"Masuk" seorang anak buah masuk dengan menenteng paper bag yang berisi bubur ayam.
"Makan ya? aku suapin" ucap Roky lagi sambil mengeluarkan makanan tersebut dan menyuap Alice.
Gadis itu hanya menurut karena ia memang harus makan agar memiliki tenaga. Setelah menghabiskan setengah mangkuk ia menolak tanda tidak ingin makan lagi. Roky hanya menurut dan menyimpannya. Saat ini mereka sudah dipindahkan ke ruang rawat dan pria itu dengan setia merawatnya.
"Kembali ke London nanti setelah kamu sembuh baru kita ke sana" ucap Roky tanpa ditanya karena Alice benar-benar mogog bicara dengannya.
"Maaf. Aku terlalu egois sampai membahayakan kamu." ucap Roky lagi.
Pria itupun mengalah dan mengambil laptopnya yang baru di bawa oleh orang-orangnya untuk melakukan pekerjaannya.
.
.
.
Pagi ini, Roberth masih bersantai di atas ranjang sambil menatap isterinya yang tertidur pulas.
Beberapa saat kemudian si bumil itu membuka mata dan mendapati suaminya yang sedang menatapnya.
"Ka Roberth nggak ke kantor?" tanya Maggie.
"Siapa yang menjaga kamu sayang" ucap Roberth.
"Ka, Maggie itu hamil bukan sakit. Kan ada mama dan para pelayan yang bisa Maggie minta bantuan kalau butuh sesuatu." cerca Maggie.
"Ka, sudah sebulan lebih loh kaka diberi kebebasan dan sekarang harus ke kantor" ucap Maggie tegas
"Iya ibu negara. Kaka akan ke kantor tapi janji jika ada apa-apa telepon atau pengen sesuatu kasih tahu biar kaka pulang nanti bawa. oke?" ucap Roberth.
"Iya sana mandi" perintah Maggie.
"Nanti kamu juga mandi ya?" ucap Roberth karena ia tahu jika ia tidak ada untuk memaksa maka wanita itu tidak akan mandi apalagi mamanya selalu mengikuti apa kehendak isterinya itu.
Roberth mulai masuk kamar mandi dan membersihkan diri, Maggie dengan malas mulai bangun untuk menyiapkan perlengkapan sang suami karena ini adalah hari pertama masuk kantor setelah menikah.
Roberth keluar dan tidak mendapati isterinya di ranjang menjadi panik.
"Sayang.... sayang kamu di mana" teriak Roberth memanggil isterinya. Maggie keluar dari ruang ganti dengan membawa satu stel pakaian kantor berwarna navi lengkap dengan atributnya.
"Terimakasih sayang, kalau masih lemah jangan dipaksakan ya?" ucap Roberth lembut sambil mengusap pucuk kepala isterinya.
Maggie menyimpan satu per satu di atas ranjang kecuali sepatu. Tidak lupa ia kembali ke ruang ganti untuk mengambil jam tangan yang cocok dengan warna baju yang dia pilih untuk suaminya.
Setelah semuanya tersedia dan Roberth yang sudah selesai memakai pakaian langsung di bantu oleh Maggie untuk memasang dasinya. hal itu memang mudah bagi Maggie walaupun pemula karena dulu waktu kecil, dan saat berkumpul kembali dengan daddynya setelah lama berpisah, Maggie lebih posesif kepada daddynya sehingga ia selalu membantu daddynya memasang dasi jika akan ke kantor dan selalu bersama mommynya memilih pakaian untuk sang daddy.
"Mandi ya, kaka tunggu dan setelah itu kita turun sarapan bersama ya?" tadi setelah mandi dan sebelum keluar dari kamar mandi, Roberth menyempatkan diri untuk menyiapkan air hangat untuk isterinya.
"Nanti aja ya ka, Maggie gosok gigi aja ya?" ucapnya mulai bernego sama suaminya.
Ya Tuhan, berilah aku kesabaran. Mana ada setelah aku pergi dia akan punya inisiatif untuk mandi? batin Roberth.
"Iya," jawab Roberth singkat dan dengan penuh bahagia Maggie masuk ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan membasuh muka. Ia bahagia karena pagi ini pria itu akan ke kantor jadi tidak memaksanya untuk mandi.
"Aku harus memaksanya ke kantor setiap hari agar aku nggak dipaksakan untuk mandi" gumam Maggie di dalam kamar mandi.
Beberapa saat kemudian ia sudah kembali dari kamar mandi dan mengambil handuk kecil untuk mengeringkan wajahnya.
"Yuk kita turun sarapan" ajak Maggie bahagia sambil mengangkat tas Roberth di atas meja.
"Tidak, kamu jangan bawa biar kaka saja yang bawa" larang Roberth tidak mau isterinya mengangkat barang yang berat.
"Terserah deh" ucap Maggie mengalah dan keduanya turun untuk sarapan. Semua sudah ada di meja makan dan otomatis masih menunggu keduanya.
"Selamat pagi semuanya" ucap keduanya.
"Selamat pagi" jawab ketiganya.
Masing-masing kembali melayani pasangan mereka kecuali Ike. dan lain hal dengan Roberth, saat isterinya akan melayaninya ia malah melarang.
"Jangan. kamu duduk saja." ucapnya dan mengambil alih tugas Maggie dan mulai mengeluarkan makanan serta lauk untuk dirinya dan juga isterinya. Maggie menekuk wajahnya membuat papa dan mama terkekeh karena Maggie pasti kesal.
"Tidak apa-apa sayang, Roberth sekalian latihan kalau kamu lahiran nanti dia yang harus melayani kamu" ucap Mama menenangkan menantunya.
Mereka makan dengan tenang. Setelah selesai dan masih bersantai di meja makan Arjo angkat bicara.
"Ma, apakah Asry jadi pulang kampung?" Maggie heran karena ia belum mengetahui tentang siapa itu Asry. Setelah menikah waktu itu dan pertama datang di rumah ia tidak sempat bertemu dengan sosok itu.
Sedangkan Roberth heran, kenapa Asry harus pulang kampung.
"Kenapa dia pulang kampung pa?" tanya Roberth heran.
"Mama ingin kuliahkan Asry sayang, tapi Asrynya nggak mau" ucap mama.
"Maggie, apa mama bisa minta bantuan sama kamu?" sambung mama.
"Asry udah nggak punya Siapa-siapa, ia hanya tinggal sama neneknya di kampung. Orang tuanya juga merantau dan tidak ada kabar sejak ia masih kecil hingga sekarang. Mama sudah menawarkan untuk kuliahkan dia tapi dia menolak kecuali Jalur beasiswa. Apakah di kampusnya opa dan omamu bisa menerimanya lewat jalur beasiswa?" tanya Mama.
"Maaf ya ma, tapi Maggie boleh tahu asry itu siapa ya? dan lagi di mana sia sekarang?" tanya Maggie.
"Maaf sayang, saat aku ke desa untuk menyalurkan bantuan kepada korban bencana waktu itu, tidak sengaja aku menabraknya hingga ia sempat koma. Waktu itu aku sempat bingung karena membawanya ke kota tanpa memberitahukan kepada neneknya.
Beberapa hari kemudian, sebelum aku menyusulmu ke Australia, aku datang lagi ke desa untuk mencari tahu neneknya dan setelah bertemu, aku tidak tega menceritakan kalau Asry sedang koma jadi aku bilang kalau Asry sedang bekerja di kota.
Dan saat Asry pulih, aku membawanya ke sini untuk bekerja di mansion ini" jelas Roberth penuh Hati-hati takut menyinggung isterinya apalagi dalam keadaan hamil seperti sekarang.
"Oh ya Ike, tolong panggilkan ka Asry" ucap mama dan Ike langsung ke belakang untuk memanggil gadis itu.
Beberapa saat kemudian seorang gadis polos yang sangat imut datang bersama Ike.
Cantik seperti namanya. batin Maggie langsung jatuh hati dengan gadis itu.
"Aku Maggie, isterinya ka Roberth" ucap Maggie sambil memperkenalkan nama sekaligus besalaman dengan gadis itu.
"Saya Asry nona" jawab Asry sopan.
"Jangan panggil aku nona, panggil aja kaka" ucap Maggie.
"Apa benar kamu ingin kuliah?" tanya Maggie lagi dan Asry hanya diam karena bingung menjawabnya.
"Jika kamu ingin kuliah, maka kuliah saja. Nanti kaka bisa atur kamu masuk lewat jalur beasiswa" jelas Maggie dan Asry mengangguk dengan wajah bahagia.
"Oke nanti kamu siap-siap ya, setelah ini sopir akan mengantarmu ke kampung untuk mengambil berkasnya" ucap mama
"Baik nyonya terimakasih. Kaka Terima kasih banyak" ucap Asry membungkukan badannya sebagai tanda hormat.
Gadis itu kembali melangkah ke belakang untuk bersiap karena sedikit lagi ia akan pulang kampung dan menceritakan kabar baik ini kepada sang nenek.
Keluarga itupun berpisah Maggie dan mama ke taman belakang untuk bersantai sedangkan Ike ke sekolah lalu Roberth dan papanya ke kantor.
Bersambung