
Baby Twins yang baru selesai dibersihkan tapi sudah teler sebelum memakai baju.
Aktifitas Kaka Maggie pagi ini sebelum mengunjungi si kembar.
******
Si kembar sudah dibersihkan dan sekarang dipindahkan bersama sang mommy ke ruang rawat. Alfa yang kembali masuk ke ruangan isterinya dirawat, kembali meneteskan air mata saat melihat sang isteri sudah baik-baik saja.
"Terima kasih sayang. Terima kasih sudah berjuang dan berkorban untuk melahirkan anak-anak kita. Maaf aku pernah menyia-nyikan kalian" ucap Alfa duduk di samping isteri sambil kembali mencium seluruh wajah isterinya.
"Aku janji akan membayar semuanya dari sekarang, bahkan dengan nyawaku aku akan melindungi kalian" ucapnya sambil terus mengusap pipi dan rambut panjang Mey dengan sayang.
"Iya mas. Terima kasih juga karena sudah menemaniku berjuang untuk melahirkan si kembar" ucap Mey sambil mengusap rahang kokoh suaminya.
"Ssttt jangan pernah bilang terima kasih, itu adalah tugasku sebagai suamimu" ucap Alfa dengan meletakan jari telunjuknya tepat di bibir Mey sebagai tanda diam.
"Kaka mana mas?" tanya Mey yang tidak melihat puterinya.
"Tadi masih tidur jadi aku minta bi Ani kembali mengurusnya agar ke sekolah" jelas Alfa.
"Kamu yakin dia akan ke sekolah?" tanya Mey tahu jika anaknya pasti tidak akan sekolah hari ini. Bahkan Alfa pun harus siap-siap untuk kena semprot karena tidak membangunkannya.
"Hehehe benar juga sayang, dia paling antusias soal kedua adiknya jadi pasti akan lebih sibuk dari kamu sayang" ucap Alfa terkekeh membayangkan tingkah anak sulungnya.
"Sayang.. cukup Kaka dan si kembar ya? aku tidak sanggup lagi melihat kamu menderita seperti tadi" ucap Alfa dengan suara rendah.
"Mas, walaupun mereka kembar tapi tidak membuat aku semenderitanya waktu kaka lahiran. Itulah kodrat seorang wanita mas" ucap Mey yang tahu perasaan takut dan gelisah sang suami.
"No.. aku tidak mau lagi. Cukup si kembar dan kaka" tegas Alfa.
"Jadi waktu Kaka kamu lebih menderita?" tanya Alfa yang memang saat Maggie lahir dia berada di luar negeri bahkan fia tidak peduli dan tidak bertanya soal bayinya waktu itu.
"Iya kata dokter, belum usia untuk memiliki anak waktu itu, sehingga aku sedikit kesusahan dan aku sempat koma 4 hari" jelas Mey.
Deg
Alfa bahkan tidak tahu tentang jalan cerita Mey melahirkan puteri pertamanya hingga hari ini.
"Maaf" ucapnya lirih.
Saat ia di luar negeri menikmati hidupnya dan keluar masuk club di sana, ternyata Mey hampir merenggang nyawa untuk melahirkan anaknya.
"Bagaimana keadaan kamu sayang?" tanya ayah yang baru masuk sambil menghadiahkan kecupan di kening puteri semata wayangnya.
"Baik ayah.Terima kasih ayah" ucap Mey berkaca-kaca
"Terima kasih untuk apa nak?" tanya ayah yang melihat raut wajah sedih puterinya.
"Terima kasih karena ayah masih ada untuk melihat anak-anakku" ucap Mey yang akhirnya meneteskan air mata.
"Ibumu juga bahagia melihat puterinya bisa melahirkan banyak anak sebagai penerusnya." Ayah tahu perasaan Mey, disaat seperti ini tentu ia mengharapkan didampingi seorang ibu disisinya.
Mey hanya mengangguk saat Alfa memberi ruang untuk mertuanya duduk di sana.
"Apa nama cucu-cucuku?" tanya ayah sambil menatap ke arah Alfa yang berdiri di sampingnya.
"Aku terserah mas Alfa aja yah" ucap Mey menyerahkan semua untuk sang suami sebagai kepala keluarga.
"Adeeeeee...." Teriak Maggie yang baru masuk bersama bi Ani.
"Mana ade?" tanya Mey.
"Eh eh salam dulu sama orang tua" ucap Alfa menahan puterinya yang langsung serobot menuju box bayi.
"Awas.. kaka masih malah sama daddy" ucapnya menujukkan wajah garangnya.
"Marah daddy? emang daddy buat salah apa?" tanya Alfa.
"Main pelgi pelgi aja, tidak bangunin kaka" ucapnya sambil maik ke atas tempat tidur mommunya untuk bisa melihat adik-adiknya.
"Iiih gantengnya adek-adeknya kaka. Mom nama meleka siapa sih?" tanya Maggie sambil menoel-noel hidung baby twins.
"Tadi daddy sudah mau kasih nama tapi karena kaka datang langsung teriak tidak jelas makanya daddy lupa" ucap Alfa sewot.
"Yeeee katanya pintal, punya pelusahaan gede tapi kasih nama anak sendili tak bisa" ucap Maggie mencibir daddynya membuat semua orang tertawa lepas.
"Gimana kalo Daffa sama Daffi aja. Altinya sama PEMBELA" ucap Maggie memberi masukan.
"Nama yang bagus" ucap ayah dan Mey.
"Masa cuma Daffa sama Daffi aja namanya?" ucap Alfa.
"Telselah daddy mau tambah apa, kaka sudah kasih nama dan tugas daddy lengkapi jadi nama lengkapnya." ucap Maggie santai.
"Daffandra Anugrah Adipaty dan Daffindro Barac Adipaty" ucap Alfa.
Semuanya setuju dengan nama yang dirangkai dari dua orang buyutan ternyata indah.
"Hai Daffa, Daffi... ingat ya? ini kaka Maggie. Cepat besal ya?" ucap Maggie memperkenalkan diri pada kedua adiknya.
"Mom, apa mommy sakit?" tanya Maggie beralih kepada Mey setelah puas berbincang dengan kedua adiknya.
"Mommy cuma kecapaian sayang" ucap Mey yang baru saja mendapat ciuman bertubi-tubi di kening, mata, pipi, hidung dan seluruh wajahnya.
"Nak?" ucap mama Ratna yang baru tiba di rumah sakit bersama papa Alberth.
Wanita paruh baya itu juga mencium pucuk kepala menantunya bergantian dengan papa.
"Mana cucu oma?" tanya oma sambil melangkah ke arah box.
"Ssssttt jangan libut, Daffa sama Daffi lagi bobo" ucap Maggie dengan suara bisikan memberi rambu-rambu agar sang oma tidak mengganggu.
Wah singa kecil posesif juga dengan adik-adiknya. Batin Papa Alberth.
"Ooh jadi nama mereka Daffa dan Daffi? bagus bangat namanya" ucap oma bangga.
******
Di belahan bumi yang lain, seorang gadis mulai nyaman dengan kerjanya. Ia sudah move on dari semua masa lalunya dan tidak mau kembali mengingatnya lagi. Saat ini ia hanya ingin menata hidupnya untuk lebih baik ke depannya.
"Hai beb, bagaimana perasaanmu sekarang?" tanya Deli pada sahabatnya Novi saat mereka sudah ada dikamar mereka untuk beristirahat.
"Baik. Bahkan lebih baik. Aku rasa lega saat banyak beraktifitas." ucap Novi.
"Baguslah, fokus dulu untuk bekerja, jika kaian berjodoh pasti bisa bertemu lagi."Nasehat Deli kepada Novi.
"Iya ibu penasehat" Deli dan Novi terus mangobrol hingga mengantuk.
Mungkin ini yang terbaik untuk kita... memilih jalan masing-masing, apa lagi aku hanya gadis desa yang kebetulan dibawa ke sana. Batin Novi.
Maaf ka Mey, ayah dan ade, aku minta maaf. Terima kasih untuk kenangan diwaktu yang sangat singkat yang pernah kita jalani bersama. Batin Mey yang akhirnya tertidur nyenyak.
BERSAMBUNG