
Reno dan Arjo akhirnya tiba di rumah yang ditempati pak Veron bersama bunda Nur dan Novi selama ini.
Arjo turun dari mobil Reno sambil melihat-lihat ke semua sisi rumah itu. Ternyata selama ini ayahnya dan keluarga kecilnya tinggal rumah yang jauh dari kata layak.
Reno melangkah masuk terlebih dahulu dan diikuti oleh Arjo. Kedua pria yang hanya berjarak umur 2 tahun itu masuk dan mendapati ayah Veron tengah menikmati makan siang seorang diri.
Hanya ada nasi putih dan sayur kangkung serta ikan asin sebagai pelengkap makan siangnya hari ini.
Melihat keadaan tersebut, Arjo semakin teriris, ternyata ayahnya sangat menderita selama ini.
"Ayah" panggil Arjo dengan suara melemah. Pria tua itu sontak melepaskan sendoknya serta reflex mengangkat kepalanya mendapati puteranya bersama menantunya sudah berada di depannya.
"Kenapa ayah melakukan ini" tanya Arjo karena tidak puas dengan keputusan ayahnya yang memilih pergi.
"Maafkan ayah" jawab ayah Veron menunduk sedih.
"Kenapa?" tanya Arjo penasaran.
"Kehidupan seperti inilah yang diinginkan bunda. Jika dengan cara begini bisa buat dia bisa kembali bersama ayah, maka ayah akan melakukannya" ucap Ayah.
"Apa ayah yakin bunda akan mengikuti ayah untuk hidup seperti ini?" tanya Reno yang sejak tadi diam.
"Ayah sudah puluhan tahun hidup sama bunda. Dia hanya seorang wanita sederhana yang tidak suka dengan kemewahan, dia lebih suka melakukan sesuatu yang bebas tanpa terikat dengan yang namanya harta" ucap Ayah.
Dari pembicaraan ayah, Arjo akhirnya sadar. Selama ini ia berpikir bahwa jika sang ayah membawa wanita itu masuk dalam keluarganya maka kemungkinan besar wanita itu akan menguasai harta ibu kandungnya, tapi rupanya dia salah karena wanita yang baru dinikahi ayahnya itu bukan tipe wanita yang suka akan kemewahan.
"Jika ayah ingin hidup bersama bunda, maka cobalah untuk berbicara dari hati ke hati. Bukan bunda tidak menerima ayah, tapi ayah tahukan? pernikahan ayah sama bunda sangat mendadak dan bertepatan dengan pernikahan kami, mungkin saja bunda takut kalau ayah menikahinya karena Novi bukan karena ayah ingin membangun bahtera rumah tangga yang serius dengan bunda." jelas Reno.
Deg
Ayah baru sadar, ternyata pernikahan mereka kemarin belum ada ungkapan perasaan antara mereka selama ini, jadi wajar jika bunda bertanya-tanya dan salah paham.
"Bagaimana, ayah mau kembali dan minta maaf sama bunda?" tanya Arjo menimpali.
"Baiklah ayah ikut pulang" ucap ayah mantap.
Arjo, Reno dan ayah Veron akhirnya pulang kembali ke kota.
Perjalanan yang cukup jauh di tempuh oleh ketiga orang itu akhirnya tiba juga di aparteman.
Novi yang kelelahan tertidur di sofa ruang tengah. Ia bahkan tidak sadar jika ayahnya telah kembali.
"Ayah, bunda.. aku akan pulang malam ini bersama Novi ke Australia.
"Apa kamu tidak capek Ren" tanya Arjo.
"Aku harus segera kembali karena banyak pekerjaan yang terbengkalai" jawanya santai.
"Berkunjunglah jika ada kesempatan" ucap bunda.
"Pasti bun. Jika tidak berhalangan. Kalau begitu kami akan pulang ke apartemen sekarang." pamit Reno.
"Tapi Novi masih tidur." ucap bunda.
"Tidak apa-apa" jawab Reno sambil mendekat ke arah Novi dan segera membawanya ke dalam gendongannya.
"Kami pulang" pamit Reno sekali lagi.
"Terima kasih bro. Jaga adikku dan hati-hati" ucap Arjo sambil menepuk pundak adik iparnya itu.
Reno akhirnya membawa Novi keluar dari Apartemen itu karena hari sudah malam dan mereka akan langsung ke bandara karena anak buah Reno sudah membawa barang-barang mereka lebih dahulu ke bandara.
Novi benar-benar kelelahan, selain tidak dapat tidur semalam karena melayani suaminya, gadis itu juga seolah baru terlepas dari segala macam beban hidup yang selama ini menindasnya. Novi tidur dengan sangat nyenyak tanpa terganggu sedikitpun.
Setibanya di bandara, Reno kembali menggendong gadis cantik yang baru saja dia nikahi satu hari lalu.
Tetaplah seperti ini sampai kapanpun. Menikahimu adalah satu perjuangan yang sangat berat dan mempertahankanmu juga adalah sebuah perjuangan pula yang harus aku dapatkan. Aku tidak berjanji akan kehidupan yang mulus-mulus saja, tapi aku berjanji akan selalu melindungimu dan membahagiakanmu. Batin Reno sambil terus melangkah dengan membawa isterinya dalam gendongannya hingga tiba di dalam pesawat.
****
"Adeeee!!! 1" teriak Maggie dengan suara tinggi karena Daffi berulah lagi.
"Mauuu" ucapnya sambil berlari untuk bersembunyi dari sang kaka.
Pria kecil itu buka tutup kulkas sesuka hati membuat kaka mulai tensi.
"Abang, cepat simpan sepatunya daddy" teriaknya lagi karena abang keluar dengan membawa sepatu daddynya yang baru di beli beberapa hari lalu.
Kaka yang sudah memasang kaca matanya untuk bepergian bersama sang oma dan opa akhirnya harus mengurus dulu si kecil yang membuat onar.
"Daddy sama mommy ko lama sekali pulangnya? katanya jam makan siang udah pulang, mana?" gerutu Maggie karena kedua orang tuanya masih di kantor dan katanya mau pulang saat jam makan siang karena Maggie akan bepergian sama kedua orang tua Mey.
Bukannya menurut, Daffi malah mengambil alih sepatu daddynya dan mengenakannya lalu berjalan ke sana ke mari.
Gadis kecil itu akhirnya meninggalkan Daffa dan Daffi kepada omanya dan masuķ ke kamar.
Beberapa saat kemudian ia mulai menelepon sang daddy.
📱Halo sayang
📱Dad, katanya mau pulang sekalang.
📱iya daddy masih jemput mommy di kantor opa.
📱Cepat ya,
Tut... ponsel lagsung dimatikan sebelum daddy Alfa menjawab.
Gadis kecil itu kembali turun ke bawa.
"Dari mana kaka?" tanya opa yang ikut membantu isterinya mengurus cucu kembarnya.
"Kamal" jawabnya singkat.
Setelah beberapa saat kemudian bunyi mesin mobil di halaman rumah dan itu tandanya mommy sama daddy sudah pulang.
"Hai kaka, sudah rapi mau ke mana ya?" tanya Alfa yang baru masuk dengan isterinya.
"Mau jalan-jalanlah," ucap Maggie dengan gaya genit.
"Abang sama ade mana?" tanya Alfa lagi.
"Tuh lagi lesmiin sepatu daddy di sana" ucap Maggie sambil menunjuk ke arah kedua adiknya itu.
"Hah?? kenapa jadi begini de? itu sepatu daddy" ucap Alfa terkejut melihat kelakuan putera bungsunya.
Anak kecil itu malah cekikikan sambil berlari keliling ruangan menghindari daddynya.
"Ayo opa, kita jalan." ajak Maggie kepada opa Devid dan oma Ani.
"Hei mau kemana?" seru Alfa yang melihat kedua mertuanya bersama puterinya yang sudah bergegas pergi.
Maggie malah berhenti sejenak dan berbalik ke arah kedua orang tuanya lalu memperbaiki kaca matanya. setelah itu ia kembali melangkah tanpa berucap apapun.
"Cih, gaya-gayaan persis kaya singa London" gerutu Alfa menyamakan puterinya dengan mamanya.
BERSAMBUNG