Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
64. Rencana Kedua Aldrich



Aksi kejar-kejaran terus berlanjut hingga Alfa yang sudah malas bermain-main dengan para manusia recehan itupun segera mengakhirinya.


"SAYONARA" gumam Alfa penuh penekanan dengan senyum iblisnya sambil melirik kearah belakang melalui kaca spion. Pria itu mengaktifkan senjata otomatis yang terdapat di bawah mobil bagian belakang dan dengan satu kali tekan, mobil yang sejak tadi mengejar mereka langsung meledak. Mey yang duduk di samping pria itu merasa kekuarangan oksigen karena melihat Alfa yang saat ini dia kenal sangat berbeda.


Sedangkan gadis kecil yang sejak tadi menikmati aksi kejaran mobil bahkan dia juga ikut memberi semangat dadddynya yang menyetir, saat ini tertawa kegirangan.


"Holeee tita menang" serunya sambil berdiri di antara kedua orang tuanya dan bergoyang dan mengangkat kedua tangannya mengajak sang daddy ber-tos ria dan Alfa juga tersenyum lebar sambil melepas stir mobil beberapa detik untuk menyambut tangan kecil puterinya.


Ternyata anakku menuruni gen daddynya yang seorang pembunuh. Batin Mey tidak habis pikir dengan pria yang sudah berstatus mantan suaminya ini.


Mobil opa yang sejak tadi melaju dengan kecepatan tinggi saat ini mulai perlahan dan akhirnya berhenti tepat di pinggir jalan yang masih jauh dari kota.



"Opa....!!!" ucap gadis kecil sambil berlari ke arah opanya setelah turun dari mobil daddynya yang berhenti tidak jauh dari mobil opanya.


"Kamu baik-baik sayang" tanya opa sambil berjongkok tepat di depan opanya.


"Baiklah opa" jawabnya dengan gayanya.


Alfa dan Mey pun turun dari mobil dan menyusul puterinya yang sudah lebih dulu bergabung dengan opa dan yang lainnya.


"Apakah kita harus kembali ke bandara ayah?" tanya Mey


"Kita tunda saja perjalanan kita. Ayah yakin orang-orang ini pasti masih punya sekutu yang tengah mengawasi kita saat ini" jelas opa.


"Baiklah ayah, tapi aku harus menghubungi Reno terlebih dahulu agar dia tidak menunggu kita di sana" ucap Mey menyebut nama pria lain yang tanpa sepengetahuannya telah mengundang rasa cemburu seorang pria yang saat ini ada di sampingnya.


"Oke kalau begitu kita kembali ke apartemen saja" ucap opa mengajak mereka semua,


Dengan diam Alfa kembali melangkah ke arah mobilnya dan membuka pintu terlebih dahulu kepada Mey dan Maggie. Walaupun moodnya kurang baik tapi ia tetap menunjukan yang baik untuk puterinya.


Semuanya kembali masuk ke dalam mobil masing-masing dan melaju kembali ke aparteman karena kepulangan mereka ditunda. Mey yang sadar bahwa ponselnya berdering, langsung mengangkatnya tapa peduli pria yang ada di sampingnya ini.


"Halo Ren, hari ini kami tidak jadi pulang karena ada sedikit insiden di jalan saat kami menuju ke bandara" ucap Mey sambil merebut ponselnya dengan Maggie yang sudah rindu dengan om Renonya, sehingga terpaksa Mey mengaktifkan speackernya.


"Iya Mey, aku juga baru saja mendapat telepon dari anak buah kita." ucap Reno dengan suara yang sangat lembut membuat Alfa semakin terbakar.


"Om Leno, ade tangen cama om Leno." ucap Maggie


"Om Reno juga kangen sama ade. Dimana ka Novi?" ucap Reno kemudian membuat Mey tersenyum.


"Ta Novi cama opa di mobilna opa. Talo ade cama mommy en daddy pate mobilna daddy" ucap Maggie menjelaskan. Alfa akhirnya merasa lega dengan penjelasan puterinya itu.


"Oke, salam ka Novi ya bilang sama dia jangan nakal" ucap Reno


Alfa yang baru pertama kali melihat Mey tertawa lepas di sampingnya merasa sangat bahagia.


Maaf jika dulu aku tidak pernah membuatmu tertawa, karena yang aku berikan hanya rasa sakit. Batin Alfa yang sampai dengan saat ini belum hilang karena Mey yang masih menganggapnya orang lain.


Mereka akhirnya tiba kembali di apartemen keluarga Smith yang ada di sana. Semua kembali turun dan melangkah masuk ke dalam apartemen itu.


******


Seorang pria kini kembali mengamuk di ruangannya yang ada di kantor saat mendengar kabar bahwa orang-orangnya sudah mati binasa saat berusaha mengejar target mereka.


"Kurang ajar Alfa, rupanya kau sangat berani untuk melawanku, aku bisa menghabiskanmu sampai ke akar-akar sekaligus" geram pria itu sambil melepaskan dasinya yang sejak tadi bertengger di lehernya.


"Aku harus menurunkan pasukan terbaikku untuk menangani masalah ini." ucap pria itu kemudian sambil mengambil jasnya dan melangkah keluar namun ia kembali teringat dengan sekretarisnya yang waktu itu kelihatan tertarik dengan Alfa.


pria itu kembali dan memberitahukan kepada sekretarisnya untuk menemuinya di ruangan CEO


"Viola, ikut aku ke dalam" ucap Aldrich


"Baik tuan" jawab Viola yang langsung berdiri sambil memperbaiki pakainnya yang seperti kekurangan bahan itu.


Wanit aitu melangkah masuk ke ruangan tuan mudanya, dan setelah beberapa saat sesudah membahas akan rencana mereka, wanita itu kembali ke luar menuju tempat duduknya dengan wajah sumringah entah karena apa tapi sepertinya dia kelihatan sangat bahagia kali ini, karena tugas yang diberikan oleh tuan mudanya itu sangat menarik dan membawa keuntungan.


Aldrich kembali keluar dan pulang karena berita hari ini sangat membuat moodnya buruk.


"Siapkan wanita terbaik untukku malam ini" ucap Aldrich saat teleponnya tersambung dengan seorang sahabatnya yang tak lain adalah bos di club malam yang biasa ia kunjungi.


"Sesuai keinginanmu tuan muda" jawa pria itu.


Alfa kembali melajutkan perjalanannya menuju ke mansion.


Setiap keinginannya yang belum tercapai saat ini membuatnya mencari pelampiasa di tempat-tempat keramat seperti club dan lain sebagainya.


*****


Hari demi hari keadaan Nina semakin memprihatinkan, bahkan sampai saat ini mama Ratna belum juga muncul sehingga membuatnya semakin tertekan takutnya Alfa tidak selamat.


Nina yang dulu adalah wanita yang sangat peduli dengan penampilan, kini menjadi seorang wanita yang sangat kurus dan memiliki mata panda karena jarang tidur. Walaupun sesuai perintah mama Ratna kepada anak buahnya, Nina sudah mendapat pelayanan yang baik bahkan sangat baik, dia tidak lagi diikat seperti awal ia datang ke markas tersebut. Saat ini ia tinggal di sebuah kamar yang sangat mewah tapi sayang dirinya tidak pernah lagi melihat mata hari karena yang ia lihat hanya lampu kamar yang selalu terang siang dan malam.


Kehidupannya yang bagaikan di sangkar emas itu sangat membuatnya tertekan walaupun pelayanan sangat terjamin tapi pikiran buruk terus menghantuinya.


"Mungkin ini akan menjadi akhir dari kehidupanku, mama Ratna akan datang jika keadaan Alfa sudah membaik atau sebaliknya. Semoga Tuhan memberi dia kesempatan hidup sekali lagi, dengan begitu aku juga bisa selamat" gumam Nina yang terselip doa untuk sang mantan suaminya.


-Bersambung-