
Di sisi lain
Papa Arjo mengajak Ria untuk membantunya membereskan beberapa berkas di ruang CEO. Keduanya sangat serius melakukannya, dan papa Arjo sangat percaya kepada gadis kecil itu karena selain ia direkomendasikan oleh puteranya bekerja di kantor ini, dia juga adalah teman sekelas puteranya sekaligus sahabat menantunya.
"Ria, apa kamu sudah punya kekasih? om lihat kamu terlalu serius bekerja sampai tidak punya waktu senggang untuk bersenang-senang" tanya papa Arjo.
"Ria belum kepikiran ke sana tuan," jawab Ria menjadi kikuk. Jika Roberth ia akan lebih ceplas-ceplos namun jika dengan tuan besarnya, ia menjadi canggung.
"Hubungan seperti apa kamu sama menantu om?" tanya papa Arjo lagi untuk menggali informasi soal menantunya, jangan sampai sahabatnya ini juga tahu soal Maggie.
"Dulu, waktu di desa Maggie sama ibunya datang ke sana dan tinggal cukup lama, sekita beberapa bulan dan hampir setahun. Mereka membuka sebuah kedai kecil untuk pengunjung di pantai tempat kami tinggal. Selama itu pula saya tidak pernah melihat papanya datang ke sana. Kami sangat akrab baik di sekolah maupun di rumah, kami selalu main bersama ketika sore hari. Hingga pada suatu hari, mereka pergi tanpa berita. Saya terkejut saat tahu kalau Maggie sahabat saya adalah Puteri sekaligus dari orang terkaya di negeri ini karena selama mereka tinggal di desa, mereka sangat sederhana seperti orang-orang di desa." jelas Ria panjang lebar.
Berarti benar kalau Maggie dan mommynya pernah dibuang oleh Alfa karena yang waktu itu dinikahi oleh Alfa bukan Mey tapi kekasihnya yang berprofesi sebagai model itu. Sungguh sangat tertutup jalan hidupmu nak. papa Arjo masih bingung dengan kisah hidup menantunya.
"Berarti kamu tidak tahu banyak tentangnya" ucap papa Arjo.
"Saya kembali bertemu dengannya saat dia pindah dari luar negeri ke Indonesia. Saya bahkan tidak lagi mengenalnya sampai dia sendiri yang memperkenalkan diri kepada saya. Dia bahkan kelihatan seperti gadis biasa sehingga banyak orang yang merendahkannya termasuk tuan muda" ucap Ria lagi membuat papa Arjo terkejut.
"Hah? termasuk Roberth?" tanya papa Arjo memastikan.
"Iya tuan" jawab Ria.
"Ckck anak itu, sejak berpisah dari Maggie ia bahkan sampai mengurung diri dan tidak mau makan tapi begitu orangnya sudah ada di depan mata, ia malah merendahkan" gerutu papa Arjo.
"Itu benar tuan dan siapa saja pasti tidak akan tahu jika Maggie adalah teman masa kecilnya. Saya juga tidak mengenalnya padahal ia memperkenalkan diri dengan namanya kecuali nama keluarganya yang dihilangkan." Ucap Ria lagi membela suami sahabatnya itu.
Setelah beberapa saat melakukan tugas itu, Ria akhirnya pamit untuk kembali ke ruangannya.
"Permisi tuan, saya kembali ke ruangan" ucap Ria yang hanya dijawab dengan anggukan oleh papa Arjo.
Gadis itu melangkah keluar dari ruangan CEO dan menuju ke ruangannya.
"Papanya sama anaknya semuanya di goda. Nggak malu apa? kalau dia hanya seorang ketua tim devisi keuangan sedangkan isteri tuan Roberth itu Puteri dari orang terkaya di negeri ini?" itulah perbincangan yang ditangkap oleh telinga gadis yang saat ini lagi berdiri di depan pintu. Ternyata teman satu devisi itu tengah bergosip tentangnya yang sering menghabiskan waktu di ruangan CEO.
Semuanya langsung terdiam begitu melihat Ria masuk kembali dan memilih diam seolah tidak mendengar apapun.
Saat jam makan siang, Rockzy tiba di parkiran di mana gadis incarannya bekerja.
Ia memilih tunggu di lobi Perusahaan itu. Ia memilih tidak menghubungi gadis itu walaupun nomornya sudah dia ambil beberapa waktu lalu sebelum papanya terkena musibah.
Beberapa saat menunggu, keluarlah papa Arjo bersama asisten pribadinya yang mungkin akan mencari makan di luar.
"Nak, kenapa tidak naik ke atas?" tanya papa Arjo saat melihat Rockzy ada di lobi.
"Maaf om, aku lagi menunggu Ria. Apa dia ada?" ucap Rockzy sopan.
"Oh Ria, mungkin belum turun. Dia baru saja membantu om membereskan berkar di ruangan. Sudah menghubunginya?" tanya papa Arjo.
"Belum. Biar aku tunggu di sini saja" ucap Rockzy.
"Puji Tuhan sudah lebih baik" jawabnya.
"Kalau begitu om lebih dahulu ya?" pamit papa Arjo sambil tersenyum.
"Iya om, silahkan" ucap Rockzy.
Setelah kepergian papa Arjo, Rockzy kembali memantau sekitar lobi agar tidak kecolongan sehingga Ria pergi tanpa sepengetahuannya. Senyumnya langsung terbit begitu melihat gadis itu keluar dari lift.
Rockzy pura-pura tidak melihat dan membalikkan tubuhnya membelakangi ke arah di mana gadis itu melangkah.
"Halo nona" ucap Rockzy begitu Ria tepat di sampingnya.
"Hah?" ucap Ria terkejut dan melangkah mundur.
"Rockzy? kamu ngapain di sini?" tanya Ria setelah mengenal siapa yang mengagetkan nya tadi.
"Menurutmu?" tanya balik Rockzy sambil memainkan matanya membuat Ria menaikan alisnya heran.
"Aku serius, kamu ngapain di sini? atau mau ketemu sama tuan Arjo?" tanya Ria.
"Dasar cewek, daya pekanya kelamaan. Aku mau mengajakmu makan siang. Kamu tidak keberatan kan? atau kamu lagi ada janji sama seseorang mungkin?" tanya Rockzy dan dengan cepat Ria menggeleng membuat Rockzy terkekeh karena gemas dengan tingkah gadis itu.
"Baiklah kalau begitu tidak ada alasan untuk menolak ajakanku" ucap Rockzy yang langsung menggenggam tangan gadis itu dan membawanya menuju ke tempat parkir di mana motornya berada.
Kelakuan mereka tidak lepas dari beberapa teman kantor lainnya termasuk teman satu devisinya yang tadi juga baru keluar untuk mencari makan.
"Mau makan ke mana?" tanya Ria.
"Ke mana saja, mau langsung makan siang sama orang tuaku juga tidak apa-apa" ucap Rockzy sambil memakaikan helm kepada Ria.
"Jangan macam-macam kamu" ancam Ria.
"Perasaan kemarin kita ketemu terakhir kamu tidak secerewet ini?" ucap Rockzy sambil naik ke atas motor dan menuntun Ria untuk ikut naik karena motornya itu cukup tinggi. Walaupun ia punya mobil namun jarang sekali ia bepergian dengan mobil. Beruntung saat ini Ria mengenakan celana kain jadi ia bisa duduk dengan nyaman.
"Pegang yang kuat," perintah Rockzy membuat Ria malah memegang pada tumpuan yang ada dibelakang motor tersebut.
"Kamu bisa membuatku dalam masalah kalau cara pegangnya seperti itu. Sini" ucap Rockzy yang langsung mengambil kedua tangan gadis itu dan melingkarkan ke perutnya.
"Aku malu dilihat orang sekantor" ucap Ria yang langsung menyembunyikan kepalanya ke sisi pundak pria itu.
"Malu kenapa, bilang sama mereka kalau itu calon suamiku" ucap Rockzy.
"Enak saja, sejak kapan kita pacaran" gerutu Ria.
"Sejak aku mengantarmu waktu itu" ucap Rockzy tegas dan tidak mau dibantah.
Bersambung