
Maggie tiba di depan gerbang dengan ojek andalannya yang sudah menunggunya di sana.
"Langsung jalan" ucap Maggie dingin membuat pria itu menyadari bahwa tidak ada yang beres dengan nona mudanya.
Dengan patuh, sang ojek menghidupkan mesin motor dan keduanya pergi meninggalkan gerbang kampus itu.
"Mas kita ke kontrakan saja ya?" ucap Maggie saat mereka sudah di atas motor.
"Siap non" jawab pria itu, dan melajukan motornya menuju ke kontrakan yang dicari oleh anak buah daddy Alfa sesuai dengan arahan Maggie.
Mereka akhirnya tiba di sebuah gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh motor dan manusia, sehingga tibalah mereka di salah satu kontrakan kecil dengan dua kamar tidur serta ruang tamu dan ruang makan dengan ukuran yang sangat kecil.
"Terima kasih mas" ucap Maggie saat turun dari motor.
"Sama-sama non" jawab pria itu dan kembali pergi meninggalkan kontrakan baru Maggie.
Maggie memilih masuk ke dalam kontrakan tersebut yang sangat bersih dan rapi. Saat akan melangkah masuk, Maggie dikejutkan dengan kehadiran seorang wanita paruh baya dengan penampilan sangat sederhana.
"Sudah pulang nak?" tegur wanita itu.
"Iya, kamu siapa?" tanya balik Maggie karena ia tidak mengenal siapa wanita itu.
"Aku bu Lusi yang akan melayani kamu selama tinggal di kontrakan ini. Kamu bisa mengganggapku sebagai ibumu" jelas wanita itu.
"Baiklah, jika ada teman-teman kampusku datang maka jadilah ibuku untuk meyakinkan mereka" ucap Maggie
"Baiklah non, ayok ganti bajunya dulu sebelum makan" ajak bu Lusi dan dituruti oleh Maggie.
Maggie melangkah masuk ke dalam salah satu kamar tidur yang letaknya sejajar dengan ruang keluarga.
"Ahhh nyaman juga ranjangnya, pasti kerjaannya daddy yang menaruh kasur sebaik ini di sini" gumam Maggie sambil membuang diri ke atas ranjang tersebut.
Maggie hampir nyenyak tapi terdengar ketukan pintu dari luar.
"Makan dulu nak" ujar bu Lusi dari depan pintu kamar Maggie.
"Iya bu" sahutnya dan langsung bangun lalu berganti pakaian dan keluar untuk mengisi perutnya.
Keduanya menikmati makan siang bersama tanpa suara karena memang itu yang diajarkan oleh para orang tua Maggie jika makan tidak boleh berbicara.
"Bu, aku istirahat sebentar ya" ucap Maggie saat makanannya sudah selesai.
"Iya nak, istirahatlah." jawab bu Lusi.
Maggie kembali masuk kamar dan istirahat siang. Gadis itu benar-benar pulas hingga sore menjelang bahkan hampir magrib. Ia baru bangun saat ponselnya berbunyi.
"Halo" ucapnya tanpa membuka mata.
"Kamu di mana?" tanya Rockzy
"Kontrakan" jawabnya.
"Hah, ngapain kamu di kontrakan?" tanya Rockzy.
"Ya tinggal lah" jawabnya.
"Oke, emang kamu tidak keluar malam ini?" tanya Rockzy.
"Nanti aja dipikir, sekarang kan masih sore" jawabnya santai.
"Yeee kalau gelap ya udah malam lah" jawabnya
"Malam ini ulang tahun Mira, sahabat si Sela itu dan kita semua diundang" ucap Rockzy
"Aku tidak diundang ya?" tanya Maggie.
"Semua diundang cuma kamu aja yang perginya terlalu cepat" jawab Rockzy.
"Iya deh, aku malas keluar malam ini. Apalagi harus bertemu dengan para manusia nggak jelas itu" ucap Maggie dan langsung memutuskan sambungan telepon karena merasa berbicara dengan Rockzy tidak ada nilai tambahnya.
Gadis itu kembali tidur hingga jam 9 malam baru ia bangun karena panggilan alam.
"Ahhh nikmat juga kalau kebanyakan tidur" gumamnya sambil melangkah ke belakang lebih tepatnya toilet umum rumah itu.
"Aku tidurnya lama ya bu?" tanya Maggie.
"Iya lama nak, ibu mau bangunin tapi kedengaran sampai di luar ngoroknya jadi pasti kamu kecapaian sekali" ucap bu Lusi.
"Nggak ko bu, Maggie cuma mau tidur memang biar malam ini bisa bepergian sama teman-teman" jelas Maggie.
.
.
.
Tepat pukul 10 malam, Maggie keluar dari kontrakan kecil itu tanpa sepengetahuan bu Lusi yang sudah tertidur sejaka setengah jam yang lalu.
"Mas, anat aku ke apartemen, aku butuh motor besar" ucapnya sambil memasang helm di kepalanya.
Pria yang menjadi tukang ojeknya itu kembali membawa Maggie ke apartemen tanpa protes karena ia tahu proyek apa yang akan dilakukan oleh cucu dari bos besarnya.
Setibanya di parkiran Maggie melepaskan helmnya dan kembali memasang helm kesayangannya dan langsung menghisupkan mesin motor kesayangannya.
"Kembalilah dan pantau bu Lusi agar tidak ada yang mengganggunya karena orang-orang itu sudah mengetahui tempat tinggalku itu" ucap Maggie dan langsung pergi begitu saja.
Setibanya di tempat acara yakni salah satu club yang ia datangi semalam. ia asuk tanpa embuka maskernya dengan jaket hitam yang menutupi kepalanya pula. Dengan santai gadis itu masuk seolah dia sudah biasa masuk ke tempat seperti itu.
Setelah dirasa cukup untuk bersantai, Maggie melangkah ke arah tempat dimana acara ulang tahun berlangsung. Bunyi musik yang begitu keras membuat para anak muda itu larut dalam suasana bahagia malam ini.
Namun ada sesuatu yang mengundang emosi Maggie naik secara tiba-tiba saat mendengar para laki-laki yang tengah membahas soal dirinya yang akan menjadi jaminan untuk taruhan mereka nanti.
Tanpa pikir panjang satu botol kemasan air mineral sudah mendarat di kepala salah satu sahabat Asaf dan Robin.
"Hei siapa kau" teriak Asaf yang langsung berdiri dan menyerang orang asing yang membuat kegaduhan tadi. Musik pun berhenti secara tiba-tiba saat perkelahian mulai memanas yakni pertandingan yang tidak seimbang.
Robin, Asaf dan beberapa teman lainnya merasa diremehkan karena tidak bisa mengalahkan seorang gadis bertubuh mungil yang kini menjadi lawan mereka. Jangankan mengalahkan, untuk membuka masker serta penutup kepalanya saja pun mereka tidak mampu. Gadis itu benar-benar luar bisa seperti film action yang tengah ditonton oleh orang-orang malam ini.
Maggie yang tidak memberi jedah sama sekali dalam pertarungan itu membuat mereka semua kewalahan. Para perempuan berteriak ketakutan namun banyak pula yang merekam aksi gadis asing yang tengah bertarung dengan beberapa pria sekaligus. Rockzy juga malah asyik memainkan ponselnya sambil memangku kakinya dengan tersenyum penuh kemenangan karena ia sudah tahu sia gadis yang sudah membuat kacau acara malam ini.
Roberth yang baru kembali dari toilet erasa terkejut dengan kekacauan yang semakin memanas. Ia bingun apa yang tengah terjadi namun matanya yang jeli spontan menangkap salah satu sosok yang ada di balik tiang tengah ruang itu dan sepertinya akan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan gadis itu.
Walaupun ia tidak mengenal gadis itu dibanding teman sekelasnya yang tengah bertarung melawan gadis itu, namun hatinya sepertinya memaksanya untuk menolong sang gadis tersebut.
"Awas!!!" teriak Roberth yang langsung menarik Maggie menghindari benda tajam yang tengah diarahkan kepadanya.
BERSAMBUNG