Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
86. Kabar Bahagia



Dokter melangkah keluar dari ruangan dimana Novi diperiksa.


"Dok, bagaimana keadaan kekasihku?" tanya Reno


"Dia baik tidak ada yang serius, hanya kurang istirahat dan kecapaian" ucap Dokter


"Terima kasih dok, apa aku sudah bisa melihatnya?" tanya Reno.


"Bisa tuan, dia sudah sadar" Jawab dokter mempersilahkan.


Reno melangkah masuk dan mendapati kekasihnya yang sudah sadar. Pria yang panik sejak tadi langsung mendekatinya dan memberikan sebuah kecupan di keningnya cukup lama.


Novi yang masih marah dengan Reno sama sekali tidak mematap pria itu, ia memilih untuk tidur menyampung ke arah sebelah agar menghindari Reno.


"Maaf sayang jika aku membuatmu ketakutan" ucap Reno penuh penyesalan. Namun tidak ada redpon dari Novi.


"Sayang apa kamu masih marah padaku?" tanya Reno.


"Aku salah karena malam itu pergi tanpa memberitahumu" ucap Reno lagi.


"Memang aku siapa sehingga kamu harus memberi tahuku?" rupanya gadis itu sudah siap jika Reno membahas soal malam itu sehingga ia lanhsung meresponnya.


Reno sendiri tersenyum dengan tingkah gadisnya yang masih sangat labil karena usianya baru 22 tahun.


"Kamu kekasihku, calon isteriku, calon ibu dari anak-anak kita" ucap Reno dengan senyum kemenangannya.


Dalam sekejap Novi langsung berbalik badan ke arah Reno dan menatap tajam pria tersebut.


"Kamu jahat aku tidak mau jadi siapa-siapanya kamu, aku mau sendiri aja" ucap Novi sambil memayunkan bibirnya jadi moncong namun air matanya juga sudah mengalir deras di sudut matanya.


"Maaf sayang. Aku sungguh minta maaf, sebenarnya malam itu aku buru-buru pulang ke rumah orang tuaku karena mereka akan keluar negeri." ucap Reno sambil ikut membaringkan sebagian tubuhnya di atas tempat tidur menindih sang kekasih dan memeluknya erat.


"Apa hubungannya aku dan orang tuamu?" ucap Novi membua Reno terkejut dan langsung menegakkan tubuhnya. Gadis itu malah semakin menangis sesugukan membuat Reno tidak tega.


"Aku pergi menghentikan mereka agar mereka mau mendampingiku untuk menyusul kedua orang tuamu ke Indonesia dan melamarmu. Namun saat aku tiba di mansion Smith ternyata mereka mengatakan jika kamu ikut pulang, dan aku tetap menunggu karena kamu janji untuk kembali secepatnya tapi bahkan sampai sudah sebulan kamu tidak pulang-pulang." jelas Reno sambil membantu menghapus air mata gadisnya dengan sayang. Bukannya diam, gadis itu malah menangis lebih keras lagi suaranya.


Novi merasa sangat bersalah, ia bahkan sudah menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya karena malu.


"Sudah, aku minta maaf hmmm" ucap Reno selembut mungkin, ia tahu bahwa ia harus punya stok kesabaran yang banyak untuk menhadapi gadisnya yang jauh umur dibawanya.


Reno berusaha melepaskan tangan gadis itu dan langsung mendaratkan ciumannya dibibir kekasihnya sambil sedikit ******* lalu melepaskan.


"Ahh jorok" Teriak Novi.


"Jorok apanya?" tanya Reno sambil menaikan alis sebelahnya.


"Aku lagi menangis, air mata bahkan ingusku bercampur lalu kenapa kamu menciumku?" ucap gadis itu kembali memayunkan bibirnya.


"Pantas rasanya manis bercampur asin hahaha" ucapnya meledek membuat Novi mengangkat bantal dan menyembunyikan kepalanya di bawa bantal.


Reno terkekeh melihat wanita itu yang marahnya hanya sebentar walaupun masalah mereka cukup menguras tenaga. Reno kembali mendaratkan kecupan di pucuk kepala gadis itu.


"Cepat pulih ya sayang. Kita akan ke rumah orang tuamu." ucap Reno.


"Apa kamu tidak marah sama aku?" tanya gadis itu polos, sambil menyembulka kepalanya dari balik bantal.


"Aku bahkan tidak sanggup untuk marah" ucap Reno membantu kekasihnya untuk duduk.


******


Alfa samar-samar mendengar suara aneh ketika baru akan sadar dari tidur malamnya.


"Sayang?" ucap pria itu panik saat tidak mendapati sang isteri di tempat tidur hanya anak gadisnya yang sudah terlentang di bagian kaki mereka. Ya gaya tidur Maggie memang aneh jika tidak diapit atau dipeluk maka ia akan seperti cacing kepanasan yang berputar di semua sisi tempat tidur.


Dalam seminggu Maggie bisa diajak tidur bareng orang tuanya satu atau dua kali. Alfa tidak ingin anaknya itu dewasa sebelum usianya karena akan berbahaya apalagi watak gadis kecil itu yang sudah terlihat jelas seperti seorang mafia tulen.


Alfa memperbaiki tidur puteri kecilnya dengan cepat lalu melangkah ke kamar mandi untuk melihat keadaan Mey yang sejak tadi mengeluarkan suara aneh di sana.


"Sayang??" teriak Alfa saat melihat sang isteri yang sudah lemas terduruk dilantai dengan kepalanya yang masih mengarah ke arah kloset.


Dengan cepat Alfa mengangkat isterinya berdiri karena takut lantai yang dingin membuatnya semakin tidak nyaman.


"Mas," ucapnya dengan lemah. Alfa menggendong isterinya dan membawanya kembali ke kasur.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Alfa.


"Aku tidak tahu mas" jawabnya dengan suara yang sangat kecil.


Alfa mengangkat ponsel di atas nakas dan menelepon ayah.


📹Ayah, tolong telepon dokter keluarga yah. Mey lagi muntah-muntah sejak tadi. (Ucap Alfa panik)


📹Kenapa panik? mungkin saja Alfa junior lagi otw.(Ucap ayah santai)


Ayah langsung memutuskan sambungan telepon dan kembali menghubungi dokter. Sementara Alfa sudah panik setengah mati, ia bahkan tidak mendengar mertuanya dengan jelas.


Selang beberapa menit, ayah sudah masuk dengan seorang pria tampan berkostum putih, tentunya dokter keluarga mereka.


"Apa yang kamu lakukan ke puteriku sampai lemas begitu?" tanya ayah


"Aku tidak melakukan apapun ayah, tiba-tiba saja dia sudah muntah-muntah di kamar mandi" protes Alfa atas tuduhan ayah mertua.


"Menurut aku sebaiknya tuan muda membawa isteri ke dokyer kandungan karena kemungkinan besar nyonya muda sementara hamil" jelas sang dokter yang baru saja menyelesaikn pemeriksaannya terhadap Mey.


"Hah isteriku hamil? Terima kasih sayang" ucap Alfa yang dengan tidak tahu malunya langsung mendaratkan ciuman di bibir isterinya tanpa peduli dengan ayah mertua dan dokter yang tengah menatapnya.


"Makanya jadi laki jangan tahu campur adonannya doang, ingat juga kapan tamu bulanan isteri biar tahu kapan juniormu itu hadir di perut isteri." ucap ayah mencibir menantunya


"Memang ayah langsung tahu saat isteriku hadir di perut ibu mertua?" tanya Alfa menyelidik. Ayah Devid salah tingkah karena justru dia baru tahu wanitanya hamil ketika usia anaknya sudah 3 bulan lebih bahkan hampir empat bulan.


"Akhhh ganggu aja olang tidur. Libut libut libut" rancau gadis kecil itu karena tidurnya diganggu oleh suara berisik ayah dan opanya.


"Hei sudah pagi nyonya, bangun adiknya sudah otw sayang" ucap Alfa sambil mengguncang tubuh puteri kecilnya.


"Hah? ade? mana dad," mendengar kata adik Maggie langsung melonjak bangun dan matanya melihat ke sana ke mari mencari sang adik.


"Masih di perut mommy sayang" ucap Alfa.


Dengan sayang gadis kecil itu langsung berjongkok di samping mommynya dan mencium perut mommynya itu.


"Ade, kakak tunggu ya?" ucapnya membuat Alfa dan Mey terharu, mereka pikir puteri mereka akan cemburu dengan adik mereka ternyata salah, gadis kecil itu bahkan sangat mencintai adiknya.


"Ade, sikat gigi dulu baru cium adiknya" ucap opa


"No opa, mulai sekarang panggil Maggie kakak" protes gadis kecil itu membuat semia terkekeh. Opa memilih keluar dengan dokter meninggalkan keluarga kecil yang lagi berbahagia itu.


BERSAMBUNG