
Arjo tiba di perkampungan nelayan, ia bingung di mana letak rumah ayahnya. Akhirnya Arjo memilih untuk bertanya kepada orang-orang yang berlalu lalang di sana
"Maaf bu, mau tanya apa ibu mengenal pak Veron?" tanya Arjo pada seorang ibu yang lewat di sana.
"Pak Veron yang suaminya mbak Nur itu ya?" tanya balik ibu itu memastikan.
"Kurang kenal isterinya bu, cuma kenal pak Veronnya saja" ucap Arjo bingung.
"Yang nama pak Veron emang cuma satu, tapi beliau sakitnya parah jadi sudah dibawa isteri sama puterinya ke kota" ucap ibu itu.
"Tuan pacarnya Nopi ya?" tanya ibu itu kepo.
"Iya bu" jawab Arjo berbohong karena malas meladeni ibu itu.
"Baik bu aku pamit ya" pamit Arjo dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
Ayah ke mana? aku harus mencari lagi ke mana? Batin Arjo menjerit karena tidak menemukan sang ayah di sana, ia bahkan belum sampai di rumah ayahnya.
Arjo langsung kembali ke kota. Perjalan hari ini sia-sia karena tidak membuahkan hasil.
*
*
*
Waktu yerus berlalu, dan kini sudah 2 bulan kemudian. Arjo yang menggerakkan seluruh orang-orangnya sama sekali tidak bisa membuahkan hasil karena pak Veron benar-benar dilindungi privasinya oleh Reno.
Reno melakukan semua itu karena ia tidak mau musuh-musuhnya melampiaskan emosi mereka kepada orang-oranh yang tidak bersalah.
"A Aarjo...." kalimat pertama yang keluar dari bibir pria paruh baya itu saat ia siuman.
"Mas, kamu sudah sadar?" tanya Bunda yang begitu bahagia sambil mendekat ke arah ranjang rumah sakit.
"A rjo" ucapnya lagi terbatah
Novi yang tidak jauh dari ranjang ayahnya berbaring merasa sangat terluka. Dia yang berjuang mengesampingkan harga dirinya dari pria yang menolong ayahnya tapi saat ayahnya siuman, nama anak kesayangannya yang disebutkan pertama kali.
Gadis itu meneteskan air matanya. Ia merasa bahwa ternyata selama ini ia bukan siapa-siapa.
Novi melangkah keluar dari ruangan itu, ia terus melangkah hingga tiba di taman yang ada di samping rumah sakit, tempat waktu ia dan Reno mengobrol.
📱Halo sayang. Ada apa? (Tanya Reno panik takut terjadi sesuatu pada calon ayah mertuanya.)
📱Apa kamu mengenal tuan Arjo Mike? (Tanya Novi)
📱Iya aku mengenalinya, kenapa kamu menanyakan pria lain? (Ucap Reno tidak suka, padahal ia tahu bahwa pria yang ditanya oleh gadisnya sudah menikah.)
📱Apakah kamu punya nomor ponselnya? (Tanya Novi tanpa peduli dengan pertanyaan pria itu)
📱Hei, mau apa kamu sama nomor ponselnya hah? ( Ucap Reno tidak terima baik)
📱Jika kamu tahu, tolong hubungi dia untuk menemui ayah. (Lanjut Reno tanpa peduli dengan semua bentakan Reno)
Dari situ Reno menangkap sesuatu yang tidak beres. Ia bisa merasakan dari nada suara kalau gadis itu tidak baik-baik saja.
📱Ada apa? apa yang terjadi? (Tanya Reno menuntut).
📱Akan aku ceritakan, tolong lakukan sesuai yang aku minta.
📱Baiklah, dan tunggu aku akan segera ke sana malam ini.
Sambungan telepon pun berakhir antara sepasang kekasih itu.
Reno kembali menghubungi pria yang disebut Novi tadi, ia memang mengenal pria itu kerena mereka menjalun kerja sama melalui perusahaan keluarga Smith sekaligus perusahaan keluarga Adipaty.
📱Halo tuan Reno, apa ada masalah perusahaan?
📱Aku tidak tahu apa ini masalah pribadi atau apa tapi aku diperintahkan oleh kekasihku untuk memeberitahukan kepadamu hal ini.
📱Kamu diminta ke Jepang, untuk bertemu dengan pak Veron di rumah sakut, beliau baru saja siuman dan ingin bertemu denganmu.
📱Hah? Ayahku di sana? iya aku akan segera ke sana.
ucapnya langsung mematikan ponselnya.
"Apa? apa yang tadi dia katakan? ayahnya.. lalu Novi?" gumam Reno bingung sendiri karena orang yang akan dia tanya kejelasan sudah mematikan telepon.
Reno tidak ambil pusing dengan apa yang baru saja dia dengar, yang ada di otaknya sekarang adalah Novi, Novi dan Novi.
Pria itu pun bersiap dan pergi menuju ke bandara, karena sebelumnya ia sudah memesan tiket pesawat ke Jepang.
*
*
*
Keesokan harinya,
Arjo tiba lebih dahulu di rumah sakit. Ada rasa lega dan bahagia karena akhirnya ia dapat bertemu dengan ayahnya.
Arjo bertanya terlebih dahulu kepada resepsionis sehingga mereka mengarahkannya ke sana. Dengan tergesa-gesa, pria itu menuju ke ruang rawat ayah Veron.
Setibanya di sana ia langsung masuk, dan ternyata ayahnya sedang duduk ditemani gadis yang waktu itu dia usir dan seorang wanita yang usianya lebih muda dari usia ayahnya.
"Ayah," seru Arjo langsung mendekat dan memeluk sang ayah sambil menangis.
"Arjo, kamu datang nak?" ucap ayah sambil membalas pelukan ayahnya.
Tanpa mereka sadari, ada dua hati yang menjerit merasa teriris melihat suasa yang ada di depan mata mereka.
"Ayah, maafkan Arjo." ucap pria itu sesugukan di dalam pelukan ayahnya yang juga sedang menangis saat ini.
"Iya nak" jawab ayah sambil mengusap punggung puteranya itu.
Keduanya pun menyudahi acara peluk-pelukan dengan bahagia.
"Nak, berhubung kamu sudah di sini, ibu mohon kamu membawa ayahmu untuk merawatnya lebih lanjut hingga pulih" ucap bunda yang sejak tadi diam.
Aku tidak mengapa kamu sakiti tapi jangan puteriku. Batin bunda.
Deg
Ayah Veron baru menyadari kembali akan keberadaan isteri dan anak gadisnya.
"Bunda, apa yang kamu katakan?" tanya ayah Veron dengan nada rendah.
"Ayah, aku rasa tugas kita sudah selesai. Bukannya tugas kita hanya membesarkan Novi? dia sudah dewasa, dia sudah bisa mencari uang sendiri. Dan sudah saatnya kita hidup masing-masing" jelas bunda membuat ayah, Novi dan juga Arjo kaget.
"Bun, apa kamu akan bercerai?" lirih Novi membuat ayah ikut sedih tak terkecuali Arjo yang juga tahu jika ayahnya dan wanita itu belum menikah.
"Nak, percayalah sama bunda. Tidak ada kata cerai dalam hal ini karena memang tidak ada pernikahan sebelumnya" ucap bunda sambil mendekat dan mengusap pundak anak gadisnya untuk memberi kekuatan padahal ia juga rapuh saat ini.
"A a apa? ayah sama bunda tidak pernah menikah?" tanya Novi memastikan dengan mata berkaca-kaca.
"Iya sayang" jawab bunda sambil mengangguk kepalanya dan memancarkan senyum pedihnya.
Luruh sudah hati Novi, ia baru menyadari jika statusnya sebagai anak yang tidak jelas membuatnya hancur, sehancur hancurnya.
Gadis berusia 24 tahun itu berlari keluar dari ruangan itu. Ia berlari sekuat-kuatnya, ia bahkan tidak menggunakan Lift dan lebih memilih tangga biasa. Ia sampai tidak menyadari jika ada seseorang yang ikut merasakan kehancurannya itu.
Reno yang tadi akan masuk ke ruang rawat ayah Novi, mendadak mengurungkan niatnya saat mendengar ucapan bunda yang meminta Arjo membawa ayah Veron pergi. Pria itu berdiri di balik pintu dan mencernah semua ucapan orang-orang di dalam sana, dan sesuatu yang tidak ia duga harus terjadi.
Reno memilih mengejar gadis itu, ia tidak mau seauatu yang buruk terjadi kepada Novi.
BERSAMBUNG