Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Teman Curhat



Seorang gadis baru turun dari mobil pemberian kekasihnya dan melangkah masuk ke gedung sekolah dengan gaya anggunnya. Setiap hari, kecantikan gadis itu semakin bertambah. Benar kata orang hati yang gembira adalah obat yang manjur. Aura kecantikan gadis ini mencerminkan bagaimana suasana hatinya yang selalu gembira.


Setiap mata yang melihat pasti akan senang dan mengaguminya apalagi kaum adam yang notabene nya banyak yang mengincarnya namun sejak mengetahui kalau dia adalah kekasih dari pemilik sekolah ini, satu per satu mulai mundur alias menyerah apalagi orang tuanya adalah raja bisnis di negeri ini jadi tidak ada yang berani untuk mengganggunya kalau tidak mau pekerjaan orang tua mereka hancur nantinya. Jadi mereka hanya menjadi pengagum dalam diam.


Namun ada satu kelompok lebih tepatnya satu orang diantaranya yang sangat membenci gadis itu karena julukan primadona sekolah secara tidak langsung telah berpindah kepada gadis itu.


Dasar upik abu. geramnya karena tidak menerima kenyataan yang terjadi.


"Hi Ike" sapa beberapa siswa yang Ike lewati.


"Hi ka" jawabnya santai dan terus melangkah masuk ke dalam kelas.


Ike memang tidak punya teman dekat cewek sejak pindah ke sekolah ini, entah dia yang terlalu pemilih dalam bergaul atau mereka yang tidak mau bergaul dengannya, sehingga sampai saat ini teman dekat Ike hanya satu orang yaitu teman sebangku nya Jackson.


"Jackson ke mana sih belum juga muncul?" gumam Ike saat melihat belum ada tanda-tanda kedatangan temannya itu.


"Hi Ike," sapa seorang gadis yang tengah berdiri sambil bersandar di meja Ike dan melipat kedua tangan di dadanya.


Ike mendongak dan menatap siapa yang baru saja menyapanya.


"Hai Lia" jawab Ike santai.


"Aku mau tanya boleh?" tanya Lia. Ya gadis itu adalah Lia. Musuh terbesar Ike. Bukan, dialah yang memusuhi Ike tapi tidak dengan Ike.


"Boleh, mau tanya apa?" tanya Ike polos.


"Mmm apa tips yang kamu pakai untuk menarik perhatian para cowok tampan dan kaya sih?" ucapnya dengan sedikit mengeraskan suara sehingga teman satu kelas dapat mendengarnya. Kebetulan gurunya belum datang jadi seenaknya gadis itu bertindak.


Kelas itu seketika hening setelah suara pertanyaan Lia terputus. Gadis itu menatap Ike yang dia dengan senyum mengejek.


Satu detik.... dua detik.... tiga detik.


"Hmmm rupanya kamu ingin berguru sama aku biar mendapatkan pria tampan dan kaya ya?" ucap Ike santai. Gadis itupun menyimpan buku yang ia pegang sejak tadi dan mulai berdiri untuk menyamakan tingginya bersama Lia.


"Iya, seenggaknya aku bisa mendapat sedikit bocoran tips ajaibmu agar bisa mendapatkan pria kaya dan tampan.


Lebih tepatnya cowokmu itu. Lanjut Kia dalam hati.


" Tipsnya gampang, tinggal melemparkan tubuhmu ke atas ranjang pria hidung belang. Dijamin dalam waktu singkat kamu akan dijuluki sebagai nyonya" jawab Ike penuh penekanan membuat Lia semakin emosi.


"Oh ternyata tipsmu cukup murahan." ejek Lia.


"Iya hanya itu tips yang aku tahu. Tapi hal itu nggak berlaku buat aku karena kekasihku bukan pria hidung belang. Dia mencintaiku apa adanya" jelas Ike yang kembali duduk.


Niat hati ingin mempermalukan Ike malah dia yang di skakmat oleh gadis itu. Beberapa saat kemudian Jackson masuk dan heran melihat kelas itu hening ditambah semua menampilkan wajah tegang mereka.


Lia cukup berani untuk melawan Ike karena dia punya abang yang saat ini duduk di kelas 12.


Sebelumnya, banyak cewek yang dipermainkan nya karena jika ia diganggu maka abangnya akan turun tangan untuk membelanya.


Sejauh ini ia belum melibatkan sang abang karena merasa mampu mengatasi Ike sendiri namun tidak dengan setelah ini, mungkin ia akan mengadu kepada abangnya itu.


"Kenapa?" tanya Jackson karena melihat wajah Ike yang tidak bersahabat apalagi Lia yang masih berdiri di dekat Ike saat dia masuk tadi.


"Tidak kenapa-kenapa Jack" ucap Ike. Dan setelah itu guru pun masuk memutuskan obrolan mereka.


.


.


.


Bang, sepertinya Ike diganggu lagi. Isi pesan


Daffa mendapatkan pesan singkat dari seseorang. Pria itu tersenyum setelah membaca pesan itu. Ia tahu kalau gadisnya mampu mengatasi masalah itu karena jika ia sudah tidak mampu mengatasinya pasti ia akan merengek dan mengadu kepadanya.


Biarkan saja. pasti dia bisa menyelesaikannya selagi itu tidak melukai fisiknya. kamu tetap awasi dan kasih tahu aku. Thanks ya sudah membantuku menjaganya. Balas Daffa kepada orang tersebut.


Daffa kembali melaksanakan aktifitasnya. Saat ini abang dan kembarannya sedang membaca buku di perpustakaan kampus karena mereka punya beberapa tugas yang diberikan oleh dosen. Keduanya sering menyelesaikan tugas di sekolah karena sepulang kampus pasti akan membantu mommynya bekerja walaupun belum semua tugas kantor Mey limpahkan kepada mereka tapi sejauh ini mereka sudah cukup membantu.


"De, apa kamu akan mulai membantu daddy untuk bekerja di kantor?" tanya Daffa.


"Sepertinya belum. Aku masih malas untuk bekerja. Nanti saja kalau sudah lulus kuliah" ucap Daffi santai.


"Ya setidaknya kamu harus sering-sering datang ke kantor daddy lah, biar dia bersemangat kerja walaupun kamu hanya datang ke sana untuk merepotkan dia kerja" ucap Daffa karena ia tahu, selama membawa Daffi ke kantor mommynya, Daffi akan minta makan lebih dahulu sebelum memegang pekerjaan. Ia akan minta banyak hal yang kadang membuat Daffa naik darah.


"Minggu depan saja bang, hari ini biar aku temani abang ke kantor mommy saja" putusnya.


"Baiklah, janji ya?" ucap Daffa dan hanya dijawab dengan anggukan kepala oleh sang adik.


"Iya bang" jawab Daffi malas.


Keduanya menyelesaikan tugas kuliah dan kembali ke kantor sang mommy dengan mobil kesayangan masing-masing.


.


.


.


Asry yang sudah beberapa bulan bekerja sebagai Art di keluarga Arjo merasa sangat bersyukur karena bisa memenuhi kebutuhan sang nenek di kampung walaupun ia tidak bisa ada di sana untuk menjaganya.


"Hei, kenapa bengong sih?" ucap Ike mengagetkan gadis itu.


"Ike? sudah pulang sekolah kamu?" tanya Asry.


"Iya, sudah pulang makanya aku ada di sini" jawab Ike.


"Makanlah dulu," ucap Asry kepada Ike.


"Tante mana ya?" tanya Ike karena tidak melihat sang tantenua itu.


"Tadi katanya pergi arisan" jawab Asry.


"Oh.. kaka ngapain aja sih? dari tadi Ike lihat bengong aja" tanya Ike penasaran.


"Aku lagi merindukan nenekku. Dia sudah sangat tua dan tinggal sendiri di desa" ucap Asry.


"Kasihan ya? aku jadi merindukan opa dan omaku beruntung mereka berdua di sana" gumam Ike ikut merindukan kedua orang tua maminya. Ya opa Veron dan oma Nur adalah dua orang tua yang sangat menyayangi cucu-cucu mereka, sehingga Roberth dan Ike juga sangat menyayangi mereka. Apalagi setiap kedua cucu itu minta untuk makan makan laut pasti langsung dikirimkan.


"Ka temani Ike makan ya? please, nggak enak makan sendiri. Ka Roberth sama ka Maggie juga belum pulang-pulang" gerutunya membuat Asry yang tadi sedih menjadi terhibur dengan gadis kecil itu.


"Maaf ya Ike," tolak Asry saat ditawarkan makan bersama di meja makan keluarga terpandang itu.


"Please ka, nggak apa-apa ko?" rayu Ike.


"Begini aja, bagaimna kalau kita makan di dapur aja" ajak Asry yang tidak enak jika terus menolak gadis kecil yang kesepian itu.


"Ide bagus itu ka, oke... ayo kita ke dapur" ucap Ike bersemangat dan menarik tangan Asry untuk segera masuk ke dalam dapur, terpat para Art makan.


Asry menyiapkan makanan untuk mereka berdua dan menatapnya diatas meja makan para art lalu mengaja Ike untuk duduk.


"Ka, bagaimna keadaan di desa tempat kaka tinggal dulu?" tanya Ike penasaran.


"Di desa itu adem, bebas untuk kita melakukan apa saja" jelas Asry kepada keponakan majikannya.


"Kalau kaka di sana, Hari-hari ngapain aja?" tanya Ike lagi.


"Mmm di sana yang selalu aku lakukan setiap sore ya timba air di kampung tetangga lalu menyiram bunga dan masak" jawab Asry menceritakan aktifutasnya di kampung.


"Kalau kaka sudah di sini siapa yang menambah air untuk neneknya kaka" tanya Ike terus menggali kehidupan Asry.


"Di sana, aku punya seorang tetang yang cukup dekat dan sangat baik. Aku sudah minta bantuannya untuk menjaga nenek" jelas Ike.


"Lalu di mana orang tua kaka? apakah sudah meningal?" pertanyaan yang cukup sensitif bagi Asry namun sebisa mungkin ia menjawab karena merasa bahwa Ike adalah sahabat terbaik yang mau mendengar curhatannya.


"Orang tuaku merantau tapi hingga sekarang sama sekali tidak ada kabar" jelas Asry dengan suara beratnya.


"Maaf ya ka" ucap Ike merasa bersalah.


"Nggak apa-apa kok? memang itu kenyataannya" balas Asry.


"Oh ya, sejak tadi kamu terus bertanya tentang kehidupanku, lalu bagaimana dengan kehidupanmu? kenapa kamu memilih sekolah di Indonesia? padahal banyak orang Indonesia yang pengen sekolah dj luar negeri loh" tanya Asry membuat Ike cengengesan.


"Tahu aja ka, tapi janji ya jangan menertawakan Ike ya?" ucap Ike sedikit mengancam sebelum menceritakan kenyataannya kenapa dia sampai berakhir di negara ini.


"Memangnya kenapa?" tanya Asry heran.


"Janji dulu?" tuntut Ike.


"Iya kaka janji" ucap Asry mengalah.


"Nah, Ike sama adiknya ka Maggie itu tumbuh bersama dan sejak dari kecil Ike sudah tertarik sama abang. Seiring berjalannya waktu karena selalu dekat, akhirnya ketertarikan itu berubah menjadi rasa sayang dan rasa ingin memiliki. Ike sering mencari perhatian sama abang tapi dia nggak pernah merespon malah dia selalu kasar sama Ike beda sama kembarannya. Dia pernah bentak dan mendorong Ike sehingga saat itu juga Ike Ike memilih untuk menhindarinya. Di saat yang sama papi menawarkan untuk sekolah ke Indonesia, sepertinya papi tahu apa yang aku alami dan saat itu juga Ike menerima tawaran papi" jelas Ike membuat Asry antara sedih dan juga lucu karena sekarang saja usiany belum genap 17 tahun tapi ia sudah bertindak sejauh ini. Gara-gara cowok, ia nekad kelur negeri.


"Lalu sekarang?" tanya Asry penasaran.


"Setelah Ike pergi baru deh dia rasa kehilangan. Begitu ya kebiasaan cowok?" tanya Ike.


"Mana kaka tahu?" ucap Asry santai.


"Ya pasti kaka tahulah, kaka kan lebih senior dan pasti kaka bisa melihat dari cowoknya kaka" ucap Ike enteng.


"Aku belum pernah pacaran Ike" ucap Asry membuat Ike langsung membuka mulut tanpa suara dan menutuonya dengan telapak tangannya.


"Serius ka?" tanya Ike.


" Serius lah " jawabnya santai.


"Emang umur kaka berapa sih?" tanya Ike karena tidak percaya


"Empat bulan lagi genap 20 tahun" jawab Asry.


"Seharusnya kaka cari pacar sudah" ucapnya enteng.


"Kamu itu, sekolah yang benar dulu baru bicara soal cowok." ucap Asry menoyor kepala gadis kecil itu.


Keduanya terus berbincang hingga Ike merasa lelah dan pamit masuk ke kamar untuk beristirahat.


Bersambung