Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Keras Kepala



Papa Arjo dan isterinya telah tiba di bandara untuk menjemput kepulangan anak dan isterinya.


"Kok lama ya pa" ucap isterinya.


"Lama gimana?" tanya Arjo.


"Belum juga sampai" ucapnya lagi.


"Ya sabar dong ma, sedikit lagi tiba ko? kita aja yang terlalu cepat sampai" ucap Arjo.


"Iya, sebaiknya kita yang menunggu mereka dari pada mereka menunggu kita kan kasian menantu kita kecapaian." jelas Isterinya.


"iya sayang kalau begitu jangan mengeluh" ucap Arjo kepada sang isteri.


Beberapa saat kemudian datanglah sang anak dan isterinya. Mama yang sudah menunggu dari tadi langsung g melepas rangkulan suami dan memeluk menantunya dengan penuh sayang.


"Apa kamu lelah sayang?" tanya mamanya Arjo.


"Iya ma," jawab Maggie.


"Pa langsung pulang, menantu kita lelah" seru sang isteri yang sudah menggandeng menantunya menuju ke mobil mereka yang terparkir.


Arjo dan puteranya mulai memasukkan barang-barag ke dalam bagasi dan masuk ke dalam mobil untuk kembali ke mansion.


Setibanya di mansion Maggie dan Roberth masuk ke kamar sebentar untuk berganti pakaian dan setelah itu kembali ke meja makan untuk makan malam bersama.


"Selamat ya nak, semoga sehat terus sama dedenya. Roberth, kamu harus menjaga menantu papa dengan baik" ucap Arjo memberi selamat kepada sepasang suami isteri itu.


"Iya pa" jawab sang anak dengan patuh.


"Apa ada pantangan dan suka untuk makan sesuatu?" tanya mama.


"Maggie tidak ribet makannya ma, dia makan apa saja dan sering saja kalau pengen sesuatu. pantang sih iya dia malas mandi" jelas Roberth membuat sng isteri menunduk malu.


"Itu wajar nak, bawaan baby biasanya pengen malas-malas aja sambil rebahan terus" ucap sang mama.


"Sama kaya waktu mama hamil kamu, pengennya berendam terus dalam bath sampai demam sebulan bisa dua sampai tiga kali masuk RS" ucap Arjo menjelaskan tentang keadaan sang isteri waktu hamil puteranya.


"Mendingan tu pa" ucap Roberth.


"Iya itu karena kamunya nggak sayang sama mama jadi mau mama masuk RS terus. Kalau cucu mama dia sayang sama mommynya jadi mendingan nggak mandi dari pada mommynya sakit" balas mama Roberth membuat semua orang tertawa.


"Kaka nggak kaya ibu hamil yang ngalamin apa tu? morning sickness atau apalah itu?" tanya Ike.


"Nggak, karena itu makanya kaka nggak nyadar kalau lagi hamil" jelas Maggie dan semuanya bersyukur karena kelemahannya hanya satu yaitu malas mandi.


"Mama harap kalian tinggal di sini sampai Maggie lahiran biar mama bisa membantu untuk menjaganya" ucap Mama.


"Baik ma, terimakasih" jawab Maggie.


Walaupun mereka berencana untuk tinggal sendiri tapi Arjo dan isterinya tidak mengijinkan untuk sekarang tapi sampai anak mereka lahir. Roberth juga mengiyakan karena ia akan mulai bekerja di kantor jadi walaupun isterinya baik-baik saja tapi tetap ia ingin ada yang menjaganya.


Setelah menyelesaikan makan malam Roberth membawa sang isteri untuk beristirahat.


.


.


.


.


"Kalian membawaku kemana?" tanya dokter Alice yang sudah sadar dari pengaruh obat bius yang membuatnya pingsan beberapa jam yang lalu.


"Sebaiknya nona turuti saja karena sekarang kita lagi di atas pesawat. dan kami pun tidak berani mencelakakan nona karena nyawa kami adalah taruhannya" jelas salah seorang anak buah Roky.


"Jangan bohong, kalian pasti punya rencana buruk terhadapku, lebih baik aku mati" bentak Alice kepada para pria itu dan hendak bangun dari tempatnya namun dengan cepat salah satu dari mereka kembali memberi obat bius sehingga gadis itu kembali tidak berdaya.


"Nanti hubungi bos untuk menjemputnya?" tanya salah satu kepada teman-temannya.


"Ya sebaiknya begitu karena jika kita membawanya dalam kondisi seperti ini maka bisa akan marah besar" ucap yang lainnya.


"Baiklah, satu jam lagi kita akan Menadarat"


Penerbangan London-Indonesia memakn waktu 16 jam lebih sehingga mereka tiba saat hari mulai senja.


Sedangkan Roky tengah menunggu di apartemennya. Lebih tepatnya menunggu kedatangan gadis pujaannya yang mungkin akan tiba sebentar lagi.


Tring Tring Tring


📞 Halo, bagaimana.


📞Bos, kami sudah membawa nona dan sekarang sudah di bandara. Nona masih dalam keadaan belum sadrkan diri. Apakah kami akan membawanya ke apartemen...


📞Jangan. Aku akan menjemputnya.


Ucap Pria itu langsung mematikan ponselnya sepihak dan berlari keluar dari apartemen hanya membawa kunci mobil dan dompetnya saja.


Dengan buru-buru ia langsung menatap gas dan menuju ke bandara dengan kecepatan di atas Rata-rata. Setengah jam kemudian pria itu sudah tiba di bandara dan langsung berlari menuju ke jet keluarga Adipaty yang dipakai untuk membawa Alice ke Indonesia.


"Kenapa dia belum sadar?" tanya Rakyat geram karena tidak mungkin reaksi bius harus sampai belasan jam.


"Maaf bos, satu jam yang lalu nona ingin mencelakakan dirinya sehingga kmi kembali memberinya bius agar dia tenang" jelas slah satu diantara mereka.


Roky sedikit tenang dan mulai membawa tubuh gadis itu keluar menuju ke parkiran tempat mobilbya.


Dengan penuh hati-hati ia merebahkan gadis itu di kursi penumpang samping pengemudi dan memasang sabuk pengaman. ia pun memutari mobil itu dan masuk duduk dibalik stir dan menjalankan mobilnya kembali ke apartemennya.


Setibanya di apartemen, Roky kembali membopong tubuh gadis itu ke lantai di mana ia tinggal.


"Akhirnya aku bisa menatap kamu dari jarak yang cukup dekat" gumam Roky yang sudah merebahkan tubuh gadis itu di ranjangnya dan membetulkan anak rambutnya.


Tring tring tring


Kenapa nyonya Ratna memanggil?


📞Halo Roky? dimana dokter Alice sekarang


📞Lagi sama aku di Indonesia


📞Apa yang sudah kamu lakukan hah?


📞Aku bisa jelaskan.


📞Pokoknya mama tidak mau tahu, esok kalian harus kembali ke London dan lamar dia secara langsung pada orang tuanya jangan pakai trik menculik Puteri orang.


📞Iya


Sambungan telepon berakhir. Reno terpaksa mengalah jika mama angkatnya sudah bertitah.


Kepalanya terus bergerak untuk mengenali tempat ini namun sama sekali ia tidak mengenali tempat asing itu.


"Kenapa? apa yang kamu cari?" tanya suara bariton yang tidak jauh dari ranjang tempatnya duduk sekarang.


"Reno? kenapa kamu bisa ada di sini?" tanya Alice kepada mantan pacarnya itu.


"Ya ini apartemenku dan ini juga kamarku" ucap Roky santai sambil berjalan mendekat ke arah ranjang membuat Alice mulai ketakutan.


"Jadi? ini semua perbuatan kamu?" ucap Alice dengan suara yang mulai meninggi.


"Tepat sekali." jawabnya enteng.


"Apa mau kamu hah?" tanya Alice kasar


"Apa mauku? ya tentu menjadikan kamu isteriku" jawab Roky dengan nada yang masih santai.


"Dasar pengecut, bisanya cuma pakai acara menculik" cibir Alice yang masih dalam mode emosi


"Kalau soal itu jangan kamu pikirkan karena esok kita akan kembali ke London karena aku akan melamarmu secara resmi di depan kedua orang tuamu" jelas Roky serius.


"Lalu apa gunanya kau menculik ku kalau esok akan kembali juga?" tanya Alice tidak habis pikir dengan pria itu.


"Tentu supaya kamu menemani perjalananku ke London. Dan akan lebih seru kalau kita datang bersama ke sana" jawabnya membuat Alice membuka mulut membentuk O. tidak habis pikir dengan pemikiran Roky yang terlalu lebay.


"Sudah, sebaiknya kamu membersihkan diri karena kita harus keluar untuk mencari makan di luar, aku sudah lapar" ucap Roky.


"Bagaimana aku bisa mandi kalau pakaian saja aku tidak punya" gerutu Alice namun masih bisa di dengar oleh pria itu.


"Sebentar lagi akan diantarkan. Sana mandi, jangan mengulur-ulur waktu atau aku tinggalkan kamu di apartemen ini" ucap Roky.


"Dasar pria stres" gerutu Alice sambil berjalan menuju ke kmar mandi.


"Jangan mengumpat aku mendengarnya" ucap Roky.


Saat Alice tengah mandi di kmar mandi, tiba-tiba bel apartemen berbunyi dan ternyata kurir yang mengantarkan pakaian yang dipesan oleh Roky kepada calon isterinya.


"Alice, ini pakaianmu" panggil Roky dari luar.


"Iya" jawab Alice sambil membuka pintu dan menyodorkan tangannya keluar untuk menerima pakaian dari Roky. Pria itupun memberikan du paper bag yang berisi pakaian bagian luar sekaligus dalaman untuk gadis itu.


Roky kembali duduk di ujung tempat tidur sambil menunggu Alice selesai mandi.


Beberapa saat kemudian, Alice keluar dengan memakai dress yang dipesan oleh Roky tadi dan ternyata pas di tubuhnya.


Alice keluar dan mulai mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil yang ada di tangannya, dengan sush paya ia terus mengusap rambut panjangnya hingga Roky menyodorkan hairdryer kepadanya.


"Apakah kamu sering menggunakan ini?" tanya Alice.


"Tidak" jawab Roky singkat.


"Lalu kenapa knu memilikinya? Atau kamu sering membawa permpuan ke apartemen ini? " tanya Alice lagi.


"Iya" jawab Roky membuat Alice terdiam. Dengan tenang ia terus mengeringkan rambutnya hingga kering dan mulai menatanya. Alice kembali melihat beberapa perlengkapa make up yang tersedia di atas meja rias itu namun ia sedikit lega karena semua itu masih tersegel dan itu artinya baru dibeli dan belum perpakai.


Sedikit memoleskan bedak tipis di wajahnya sehingga wajah kusam yang tadi sudah tidak kelihatan lagi.


Ia berdiam diri di depan meja rias tanpa memberi tahu kan bahwa ia sudah selesai bersiap.


"Sudah?" tanya Roky ketika melihat gadis itu tidak lagi bergerak.


Keduanya keluar untuk mencari makan di salah satu restoran terkenal di kota itu.


Setibanya di sana mereka kembali melangkah masuk beriringan ke dalam restoran tersebut untuk memesan makanan.


"Tuan Roky?" ucap seorang pria sedang bersama seorang pemuda yang berumur sekitar dua puluhan.


"Oh tuan Bima. Di sini juga rupanya" ucap Roky sambil berdiri menyalami pria itu.


"Siapa?" tanya pria itu yang dimaksud adalah Alice.


"Saya Alice adiknya Roky, tuan" Alice lebih cepat menjawab. Hal itu berhasil membangkitkan amarah Riko.


"Cantik seperti namanya" ucap tuan Bima semakin membakar emosi Roky.


"Baiklah kalau begitu kami lebih dahulu" pamit Bima kepada Roky dan Alice.


"Pulang" ucap Roky dengan nada yang cukup dingin.


"Kita sudah pesan makan" ucap Alice menolak.


"Pulang" ucapnya sekali lagi penuh penekanan.


"Aku lapar Roky" ucap Alice tidak kalah tegas.


"Aku bilang pulang" ucapnya sekali lagi yang terdengar kasar membuat Alice langsung bangun dan melangkah mendahuluinya.


Gadis itu sempat meneteskan air matanya karena memang ia sangat lapar.


Mereka pulang tanpa ada yang bersuara. Setibanya di apartemen Alice langsung turun dan masuk namun setibanya di depan pintu apartemen ia kembali terpaku karena tidak mengetahui pasword pintu tersebut, hingga Roky datang dan membukanya. Keduanya melangkah masuk dan Alice langsung menuju ke sofa yang ada di sudut kamar itu lalu merebahkan tubuhnya. Roky belum juga masuk ke kamar itu.


Setengah jam kemudian Ia masuk dengan membawa makanan yang baru saja di pesannya namun rupanya Alice sudah sangat pulas.


"Ce' makanlah dulu baru tidur lagi" ucap Roky sambil mengusap rambutnya.


Kenapa kamu sangat keras kepala? Aku sangat mencintaimu makanya aku menghalalkan segal cara untuk mendapatkanmu. batin Roky yang tahu kalau Alice sedang marah sejak dia bertanya soal Roky yang sering membawa perempuan masuk ke apartemen ini.


Gadis itu sma sekali tidak bergeming karena memang sudah tertidur pulas. Roky mengangkatnya ke atas ranjang dan membaringkannya dengan pelan. Saat akan menyelimuti nya terdengar suara aneh yang berasal dari perut gadis itu dan ternyata ia memang kelaparan sehingga para cacing sudah mulai berdemo tapi sama sekali tidak mengusik tidurnya.


"Ce ayo bangun" ucap Roky sambil sedikit mengguncang tubuh gadis itu hingga muali ada respon.


Alice menggerakkan tubuhnya dan perlahan mulai membuka matanya.


"Makan dulu, aku sudah pesan makanannya" ucap Roky kembali dingin.


"Aku tidak lapar, nanti aku akan makan kalau sudah lapar" jawab Alice yang juga penuh penekanan.


"Mau bangun dan makan atau?" tanya Roky. Dengan malas Alice bangun dan menuju ke meja tempat Roky menata makanan yang diaa pesan tadi.


Keduanya kembali diam dan masing-masing mengambil makanan untuk mencicipi nya.


Baru beberapa suap, Alice sudah merasa gejolak dalam perutnya sehingga ia berlari ke arah kamar mandi dan memuntahkan semua makanan yang baru saja dia makan tadi.


Deg


Apa anak buahku kecolongan menjaganya? Batin Roky tak karuan melihat kenyataan yang ada.


BERSAMBUNG