
Alfa keluarganya terpaksa harus mampir lagi ke Australia setelah kemarin mendapatkan telepon dari Riko jika ia ingin mempersunting adiknya Reno.
"Pa, sebaiknya kita langsung ke Australia untuk menyelesaikan urusan Riko terlebih dahulu" ucap oma Ratna saat mereka tengah menikmati sarapan pagi ini. Hari ini, baik Alfa dan Mey maupun Kedua orang tuanya serta opa Gaston berencana akan kembali ke negara masing-masing.
"Iya sayang, papa terserah mana yang terbaik" ucap opa Alberth kepada isterinya. Alfa menatap sang isteri seolah bertanya, urusan Riko yang dimaksudkan apa? Namun Mey yang juga tidak tahu hanya menggeleng sebagai tanda bahwa ia juga tidak mengetahuinya.
"Maksudnya apa ya ma?" tanya Alfa yang semakin penasaran.
"Koh, Mey kamu juga tidak tahu?" tanya oma Ratna kepada menantunya. Mey kembali menggelengkan kepalanya.
"Riko akan menikahi adiknya Reno, Lili... jadi kamu tidak tahu kalau mereka punya hubungan?" tanya oma Ratna lagi.
"Selama ini Riko nggak pernah gendeng cewek siapa-siapa? beberapa hari lalu aku sempat ngancam dia dan kasih dia waktu tiga hari buat cari cewek yang serius untuk dinikahi. Kan nggak lucu, kaka udah nikah masa dia sama Rakyat belum nikah juga" Jelas Mey membuat para orang tua itu terkekeh.
"Sepertinya Roky juga harus diancam begitu ma, biar cepat dapatnya" usul Alfa.
"Kamu ya, beruntung dapatnya adik Reno, coba orang lain yang kita tidak tahu beberapa bobotnya" ucap Alfa yang tidak habis pikir jika Riko bisa takut sama isterinya.
"Siapa suruh dia lamban dalam mencari pasangan?" ucap Mey.
"Oke kalau begitu, kita segera halalkan hubungan mereka. Adiknya Reno juga sudah cukup matang untuk berumah tangga" ucap Oma Ratna.
Mereka yang sudah menyelesaikan sarapan sebelum pembebasan tadi akhirnya mulai bersiap-siap untuk berangkat ke Australia.
"Sebaiknya kaka istirahat lebih lama di sini sampai kaka pulang. Kaka belum pulih betul apalagi harus melakukan penerbangan yang cukup lama, tidak baik untuk kesehatan" ucap Oma Ratna yang tidak ingin kakanya bepergian dulu.
"Iya, aku akan beristirahat lebih lama lagi di sini. Tapi sepertinya aku akan pindah ke apartemenku." putus opa Gaston.
"Kenapa begitu ka?" tanya oma Ratna yang tidak setuju jika sang kaka harus tinggal di luar.
"Aku hanya butuh suasana yang berbeda. Lagian ada Rockzy dan Vicky" ucap Opa Gaston. Keras kepalanya membuat sang adik mengalah.
Setelah keberangkatan Alfa dan isteri kertas kedua orang tuanya, Opa Gaston pun pergi bersama asistennya Vicky karena Rockzy lagi keluar entah ke mana.
.
.
.
.
"Bang, katanya hari ini mommy sama daddy pulang ya?" tanya Daffi saat keduanya sarapan bersama opa dan oma mereka.
"Iya, mereka datang sama opa Alberth dan oma" jawab Daffa tenang.
"Daffi, bibir kamu kenpa nak?" tanya oma Ani yang menyadari sang cucunya terluka.
Daffa ikut melihat dan ternyata benar, sudut bibir kembarannya memar dan seperti sedikit sobek dan bengkak.
"Oh ini kemarin, Daffi sama abang latihan dan malah jadi begini" jelas Daffi tidak ingin mengatakan apa yang menjadi persoalannya.
Setelah menghabiskan sarapan, Seperti biasa, si kembar pergi ke kampus hari ini dengan mobilnya masing-masing. Sebesar apapun pertengkaran mereka tidak akan membuat mereka saling mendiamkan berlama-lama.
Keduanya tiba di parkiran kampus, Daffi lebih dahulu tiba, sekitar 5 menit kembarannya pun tiba.
Daffi keluar dari mobilnya setelah beberapa saat terdiam di dalam mobilnya.
"Nih, pakai ini supaya cepat baikan" ucap Daffa sambil menyodorkan plester luka transparan anti air dan salep.
"Abang juga minta maaf kalau sudah kasar sama kamu" ucap abang yang merasa bersalah karena telah melukai adiknya hanya karena membahas soal Ike.
"Aku tidak marah jika abang tidak mengkhianati Ike" jujur Daffi membuat abang yang sudah melangkah pergi langsung berhenti.
"Maksudnya?" tanya Daffa.
"Aku tidak suka saja melihat abang membela perempuan lain dimataku hanya karena aku berlaku kasar kepada perempuan itu." jelas Daffi.
"Apa hubungannya sama Ike?" tanya Daffa yang belum mengerti maksud kembarannya.
"Abang secara tidak langsung sudah memberi harapan untuk gadis itu, sedangkan abang dulu sering kasar sama Ike. Jika abang sudah mengambil keputusan untuk mencintai Ike, sebaiknya abang tetap bersikap seperti dulu kepada Ike. Karena jika abang kecolongan dan sampai mengecewakan Ike lagi, aku akan merebutnya dari abang" ucap Daffi tegas dan langsung pergi melewati sang abang begitu saja.
Deg
Daffa baru menyadari kesalahannya. Dia pun pergi menyusul Daffi ke kelasnya.
Dan benar saja, seperti apa yang dikatakan oleh Daffi tadi jika sekali ia berbuat baik kepada perempuan maka akan memberi harapan kepada perempuan tersebut.
Daffa masuk dan langsung disuguhkan dengan pemandangan yang membuatnya muak. Gadis yang kemarin sudah berada di tempat duduknya dengan memegang sebuah kotak entah apa isinya, tapi yang pasti itu hadiah dari gadis tersebut.
"Daffa, kamu sudah datang?" tanya Alyne. Gadis yang kemarin ditolong Daffa saat di dorong oleh Daffi.
"Minggir dari tempatku" ucap Daffa tegas. Sahabatnya heran dengan sikap Daffi yang mendadak berubah. Biasanya ia yang akan menjadi pawang bagi sang abang jika ada gadis petakilan yang suka dekat dengan abangnya namun hari ini ia seolah buta dan tuli. Ia lebih memilih duduk tenang dan memainkan ponselnya.
Perubahan Sikap Daffi bukan hanya di rasakan oleh sahabat-sahabatnya yang lain tapi juga abang. Adiknya benar-benar menjaga perasaan Ike walaupun saat ini gadis itu tidak ada di sini.
Ia bisa merasakan jika adiknya itu cukup kecewa. Namun ia maklumi karena sang adik tidak ingin Ike tersakiti lagi. Cukup ia minggat dari negara ini, jangan sampai ia berpindah kepada orang lain juga.
"Aku hanya ingin memberikan ini untuk kamu karena sudah menolongku kemarin" jawab gadis itu sendu.
"Aku tidak butuh hadiah. Dan soal kemarin jangan kegeeran karena itu hanya spontanitas" ucap Daffa yang menunggu gadis itu untuk bangun namun tidak juga bangun.
"Daffi, pindah ke tempatku. Aku akan duduk di tempatmu" ucap Daffa sambil menarik adiknya untuk bangun dan ia yang duduk. Mau tidak mau Daffi pun bangun dan berpindah. Alyne yang belum juga bangun membuat amarah Daffi meningkat.
"Mau bangun atau meja ini akan berpindah di kepalamu" ancam Daffi membuat Alyne langsung bangun.
Saat Alyne akan melangkah ke tempat Daffa duduk sekarang, tiba-tiba dosen masuk sehingga membuatnya mengurungkan niatnya. Ia akan memberikan hadiah itu istirahat nanti.
Daffa sedikit lega karena adiknya mampu mengatasi gadis itu.
BERSAMBUNG