Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Salah Lagi



Satu minggu kemudian Alice sudah benar-benar pulih. Roky juga sudah berubah dan memperlakukan dia dengan sangat lembut.


Saat ini sudah tiga hari mereka ada di apartemen sepulang dari rumah sakit. Perubahan Roky membuat Alice sedikit membuka hatinya kembali kepada mantan pacarnya itu.


"Sayang, esok kita ke London ya? ketemu sama kedua orang tuamu" ucap Roky yang baru saja bergabung bersama Alice di balkon sambil menikmati suasana sore ini.


"Aku sih terserah kamu aja, baiknya bagaimana?" jawab Alice.


"Iya entar Siap-siap supaya kita berangkatnya pagi" ucapnya lagi


"Oke" keduanya menikmati hiruk pikuk kota ini hingga udara mulai dingin.


"Masuklah, anginnya kurang baik untuk kesehatan" aja Roky dan keduanya masuk ke kamar.


"Sayang, jika aku melamarmu di depan orang tua dan meminta untuk segera menikahimu, apakah kamu mau menikah denganku secepat itu?" tanya Roky.


"Memangnya kapan mau menikah?" tanya Alice.


"Aku mau minggu depan. Esok kita ke London sekaligus mulai persiapannya dan minggu depan kita menikah lalu setelah itu kita kembali ke sini" jelas Roky.


"Bagaimana pekerjaanku?" tanya Alice.


"Di sini ada rumah sakit milik keluarga Adipaty juga dan kamu bisa bekerja kapan saja kamu mau" ucap Roky.


"Baiklah" jawab Alice.


"Terimakasih ya. dan maaf kalau selama ini aku terlalu egois sehingga membuat kamu tertekan. Cara aku menunjukkan cintaku ke kamu rupanya salah" ucap Roky lagi dengan tatapan serius.


"Sebesar apa cinta kamu ke aku?" tanya Alice yang juga serius.


"Aku tidak tahu sebesar apa tapi yang pasti aku sangat mencintaimu. Aku tidak peduli kamu mau mencintaiku atau tidak tapi aku tetap mencintaimu dan menjadikanmu pendampingku seumur hidupku" ucap Roky tegas.


"Terimakasih. Aku akan belajar mencintaimu juga tapi tolong jangan paksa aku" ucap Alice.


"Aku mengerti. Tapi jangan tolak jika aku mengajakmu menikah secepatnya dan kamu boleh belajar mencintaiku setelah menikah nanti" ucap Roky. Dalam hati kecilnya ia sedih karena ternyata gadis itu belum mencintainya.


Maaf, aku juga sangat mencintaimu tapi aku tidak bisa mengatakannya. Aku masih ingin tahu sebesar apa cintamu ke aku karena cara kamu mencintaiku diluar nalar dan itu membuatku takut. Jika aku sudah memastikan, aku akan jujur jika aku tidak pernah berhenti mencintaimu sejak kita berpisah dulu. Batin Alice.


Roky kembali memesan makanan untuk makan malam mereka. Selama tinggal di apartemen, Roky tidak pernah memasak karena terlalu banyak pekerjaannya di kantor membuatnya hanya memesan makanan.


Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka tunggu datang juga. Bel apartemen berbunyi.


"Tunggu aku ambil makanannya dulu." ucap Roky yang langsung keluar dari kamar.


Setelah menerima makanan yang dia pesan, ternyata Alice juga sudah keluar dari kamar sehingga mereka menyiapkannya lalu makan bersama di ruang tengah.


"Setelah makan langsung istirahat biar esok tidak kesiangan bangunnya" saran Roky.


"Iya" jawab Alice.


Setelah mereka menyelesaikan makan malam itu, mereka kembali masuk kamar dan langsung beristirahat.


Setelah dipastikan gadis itu sudah pulas, perlahan-lahan Roky turun dari ranjang dan mengangkat ponselnya di atas nakas lalu keluar ke arah balkon.


๐Ÿ“žHalo bang, esok aku akan segera ke London


๐Ÿ“ž.....


๐Ÿ“žDia sudah pulih dan aku berencana akan menikahinya minggu depan. Apakah abang akan menghadirinya?


๐Ÿ“ž....


๐Ÿ“žBaiklah bang aku akan kembali menghubungimu.


Di balik tirai, Alice menguping pembicaraan tersebut dan ternyata ia menghubungi kembarannya yang Alice pun mengenalinya.


Alice cepat-cepat kembali ke ranjang dan pura-pura tidur lagi.


Roberth masuk dan menyimpan ponselnya lalu kembali naik ke ranjang dan tidur bersama sang kekasih.


.


.


.


Hari ini Maggie menghubungi pihak kampus untuk mendaftarkan Asry sebagai calon mahasiswa baru lewat jalur beasiswa dan otomatis lagsung di iyakan tanpa tes namun Asry tidak mau diajak maskan ia tetap mengikuti tes sama seperti mahasiswa lainnya dan itu di iyakan oleh Maggie.


"Tesnya minggu depan jadi belajarlah dari sekarang dan tunjukkan kalau kamu benar-benar berprestasi" ucap Maggie kepada Asry saat mereka tengah bersantai di ruang tengah.


"Iya ka, sekali lagi terimakasih" ucapnya tulus.


"Asry, jika kamu tidak mampu tanya aja sama ka Maggie, dia lebih pintar dosen loh" goda Roberth kepada isterinya. Maggie memutar bola matanya malas. Namun apa yang dikatakan suaminya betul karena Maggie adalah mahasiswa cerdas walaupun selama kuliah ia jarang masuk kelas namun saat ujian ia tetap mengalahkan Roberth yang merupakan mahasiswa berprestasi yang sering diutus untuk mengikuti Olimpiade di luar negeri.


"Ka, kata mami.. ka Roberth dan ka Maggie itu sama-sama pintar banget loh" ucap Ike yang ikut bersuara.


"Lalu kenapa?" tanya Roberth.


"Jika disatukan gimana ceritanya?" ucap Ike lagi membuat orang bingung.


"Maksudnya?" tanya Maggie.


"Iyalah, masa anakku mau nurun dari tetangga?" ucap Roberth dan langsung mendapat tabokan dari sang isteri.


"Pasti pintarnya uhhh" ucap Ike dengan gaya gemasnya membuat semua orang tertawa termasuk papa dan mama.


"Berarti om sama tante pasti pintar makanya ka Roberth juga pintar. Om Alfa dan tante Mey juga" ucap Ike.


"Iyalah, mana ada orang berijazah SMP jadi CEO di perusahaan besar" ucap Maggie membanggakan sang mommy.


"Hah? siapa ka?" tanya Ike penasaran karena memang soal ini dia tidak tahu termasuk Roberth dan keluarganya kecuali Novi dan Reno namun mereka tidak pernah menceritakannya jadi Ike tidak pernah tahu.


"Ya mommylah?" jawab Maggie santai membuat semua orang terkejut termasuk Asry yang baru tahu kalau ibu dari bumil ini juga seorang CEO.


"bagaimana ceritanya nak?" tanya mama mewakili rasa penasaran semua orang.


"Dulu mommy seorang Art di mansion daddy yang selama ini aku tinggal" jelas Maggie.


"Kalau itu Ike tahu dari mami sama papi" sambung Ike sok tahu.


"Mommy mulai bekerja ketika usianya 15 tahun dan waktu itu baru lulus SMP tapi karena kakek sama nenek buyutku meninggal jadi mommy nggak punya siapa-siapa lagi jadi merantau deh ke kota dan melewati banyak rintangan mommy akhirnya bekerja dengan bantuan oma Ani. Dua tahun kemudian daddy pindah menangani perusahaan di Indonesia dan disitulah kesalahan terjadi maka lahirlah aku di usia mommy baru 18 tahun. Saat aku berusia dua tahun rumah tangga daddy sama mommy kembali diterpah masalah dan disitulah kami bertemu sama opa Devid, dan pindah lah kita ke Australia. Karena mommy adalah Puteri tunggal opa jadi mau tidak mau harus memegang kendali perusahaan opa sampai hari ini" jelas Maggie membuat semuanya melongo. Roberth sedikit tahu tentang sepak terjang perjalanan hidup isterinya, bertekad untuk tidak mengecewakannya.


"Jalan hidupmu sangat menarik sayang tapi mungkin sangat berat dan membuatmu terpukul tapi semuanya bisa kembali mulus" ucap Mama yang sebenarnya ibah dengan menantunya. Dari luar mereka dipandang orang yang paling berbahagia namun ternyata keluarga mereka sempat alami yang namanya jatuh bangun.


"Ternyata kaka jadi orang hebat karena jalan hidup kaka banyak lika-likunya ya?" ucap Ike membuat Margie melotot takut gadis itu keceplosan namun tanpa ia sadari kalau kedua mertuanya sudah mengetahui siapa dia sebenarnya.


"Ada yang papa mau tanyakan tapi nanti. Papa sudah tahu semuanya soal kamu" ucap Arjo serius.


Deg


Wajah Maggie mendadak berubah dan matanya seketika berkaca-kaca.


"Jangan takut sayang. Papa hanya ingin tahu dari mulutmu dan papa juga berterimakasih untuk malam ulang tahun perusahaan itu." ucap Arjo yang mengerti perubahan menantunya. Ucapan Arjo membuat Maggie pegah setidaknya ia tidak hidup dengan kepura-puraan.


"Tuan, nyonya semuanya aku pamit ke dapur dulu" pamit Asry, ia tidak mau mendengar lebih banyak soal rahasia keluarga ini walaupun ia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan sejak tadi.


"Iya sayang" jawab mama.


Keluarga bahagia itu terus berbincang santai di ruang keluarga.


"Sayang mandi ya, sudah hampir malam. Tidak baik loh ibu hamil mandinya malam-malam" ucap Roberth membujuk isterinya.


Aktifitas mandi adalah pekerjaan terberat bagi wanita hamil ini dan pekerjaan terberat juga buat Roberth untuk membujuknya.


"Tapi Maggie kan nggak gerah ka" ucap Maggie mulai ngambek.


" Sayang, yang namanya mandi bukan harus gerah dulu sayang." ucap Roberth.


"Terus ngapain harus mandi?" ucap Maggie.


"Supaya segar" jawab Roberth.


"Kan aku segar ka" jawab Maggie.


"Dan bersih" ucap Roberth lagi.


"Oh jadi kaka bilang aku jorok dan kotor ya?" ucap Maggie berkaca-kaca.


Salah lagi. batin Roberth sambil memijit pangkal hidungnya.


Pemandangan seperti ini sudah biasa terjadi sehingga baik papa maupun mama tidak mau ikut campur tangan. Papa Arjo kasihan dengan puteranya namun ia lebih kasihan dengan menantunya karena ia pernah ada diposisi ini dan pernah ia memaksa isterinya untuk mengikuti keinginannya waktu hamil Roberth, isterinya malah pingsan padahal yang dilakukan bukan hal berbahaya.


"Roberth, nanti di lap saja badannya nanti" ucap mama memaklumi.


"Tapi ma.. " ucap Roberth.


"Ikuti saja boy. Namanya pembawaan jangan dipaksakan, kasian anaknya kalau sering mendapat tekanan walaupun itu ibunya tapi dia ikut merasakan." jelas papa.


"Tapi pa, tadi pagi Maggie tidak mandi" ucap Roberth frustrasi.


Wanita hamil itu langsung melangkah naik ke pantai atas di mana kamar mereka berada.


"Nak, ikuti apa maunya. hal ini tidak akan berlangsung lama dan biasanya hanya terjadi di tiga bulan pertama setelah itu semua akan kembali normal" nasehat mama sebelum Roberth menyusul sang isteri.


Roberth mengejar isterinya yang sudah lebih dahulu masuk kamar.


"Sayang, ya sudah tidak usah mandi tapi di lap saja badannya" ucap Roberth mengalah.


Hal itu di iyakan oleh sang isteri.


"Nanti esok pagi kalau mandi kaka kasih hadiah, mau?" ucap Roberth sambil membasuh tubuh isterinya dengan handuk kecil yang telah di basahkan. Dengan cepat ibu hamil itu mengangguk setuju.


Setelah aktifitas itu, keduanya bersantai di kamar sambil menunggu waktunya makan malam.


BERSAMBUNG


.


.


.