Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
168. Akhir



Enam bulan sudah berlalu, Maggie telah membuka kembali kas keangan perusahaan milik orang tua Reno dan beberapa waktu yang lalu, Reno resmi diumumkan sebagai CEO perusahaan tersebut


Mey sudah memiliki asisten yang baru yakni Riko kembaran Roky. Tentu itu semua diatur oleh sang mama mertua yang tidak mau menantu kesayangannya kesusahan atau sampai salah memilih asisten. Sedangkan Alfa juga sudah mendapatkan seorang asisten juga yang adalah rekomendasi dari mama Ratna.


Kebahagiaan Alfa dan Mey setiap hari terus bertambah karena dihiasi suara berisik anak-anak mereka. Opa Devid dan isterinya juga banyak menghabiskan waktu tua mereka untuk berlibur di negara-negara yang mereka sukai dan hal itu tidak dibatasi oleh Mey karena memang ia mengharapkan kedua orang tuanya itu bahagia.


"Daffi!! jangan ganggu kaka ya?" teriak Maggie yang merasa jengkel karena saat sedang asyik menonton kartun kesukaannya , sang adik malah mengacaukan dengan mengambil alih remot tv secara diam-diam tanpa sepengethuan sang kaka lalu menekan tobolnya dengan sembarangan.


"Daffi.. kaka hitung sampai tida dan kamu belum kasih remotnya, awas ya?" ancam Maggie.


"Satu..." ucap Maggie mulai berhitung.


"Dua..." sambung Daffi tanpa rasa takut kepada sang kaka.


"Tiga...." lanjut Daffa yang sejak tadi serius membolak-balik buku seperti seorang sarjana.


Kedua adiknya itu benar-benar menguji kesabaran Maggie. Gadis kecil itu menarik nafas panjang untuk menetralkan emosinya yang terlanjur naik sampai ke ubun-ubunnya. Namun dalam sekejap Daffi sudah menangis ketakutan padahal belum diapa-apakan oleh sang kaka.


"Mommy... Poppy" tangis pria kecil itu pecah sambil menyebut kedua orang tuanya dengan sebutan yang aneh-aneh, siapa lagi kalau bukan daddynya.


Alfa yang mendengar sebutan aneh dari anaknya untuk dirinya membuatnya geram dan tidak peduli dengan tangisan putera bungsunya itu.


Mey yang baru keluar dari dapur melihat kecuekan suaminya sedangkan puteranya terus memanggil mommy dan daddynya dengan sebutan yang sama, dari situ Mey sadar kalau suaminya lagi ngambek karena puteranya memanggilnya dengan tidak benar.


Mey mengambil alih untuk menenangkan puteranya dengan menggendongnya.


"Dede kenapa nangis hmm?" tanya Mey sambil mengusap kepala Daffi dan menghapus air mata putera bungsunya, sedangkan Maggie kembali menonton kartun kesayangannya.


"Tata putul cini" ucap Daffi dengan sesugukan sambil menunjuk tangannya karena tadi Maggie menarik dengan sedikit kasar.


"Coba diulangi de?" ucap Maggie pada sang adik namun dengan mata melotot.


Daffi yang tahu jika ia sudah terlanjur berbohong akhirnya kembali memperbaiki ucapannya tadi.


"Tata malah" ucap Daffi dengan masih sesugukan.


Sedangkan Daffa jangan ditanya lagi, sejak tadi habis membuat sang kaka marah, ia malah mencari tempat aman yakni menghindar ke samping daddynya sebelum singa kecil mengaung.


Begitulah setiap hari, ketiga anak Alfa dan Mey yang hidup dengan tingkah mereka masing-masing yang kadang saling menyayangi dan kadang saling menyerang satu dengan yang lain dan seperti biasa Maggie lah yang lenih banyak menghakimi kedua adiknya itu. Apapun yang dia perintahkan harus ditaati oleh kedua adiknya jika tidak maka akan kena amukan.


Alfa juga begitu menikmati perannya sebagai seorang daddy walaupun ia lebih banyak hanya menoton perdebatan dan perkelahian anak-anak tanpa mau memisahkan atau mendamaikan.


Hal tersebut kadang membuat Mey tidak habis pikir karena ia seolah punya empat bayi di rumah ini yakni, Alfa, Maggie, Daffa dan Daffi.


*****


Reno dan Novi juga kini semakin bahagia dengan keadaan mereka sekarang, apalagi kini kandungan Novi sudah memasuki usia ke tujuh bulan. Semenjak tahu isterinya hamil waktu itu, Reno menjadi suami siaga dan semakin posesif apalagi kehamilan Novi termasuk ribet karena ngidam hal yang aneh-aneh.


Kedua orang tua Novi memilih kembali ke kampung dimana mereka membesarkan puteri mereka Novi yakni di kampung yang dekat dengan pantai. Keduanya kembali mengembangkan usaha kecil mereka yang sempat mereka bangu waktu itu dengan modal dari tuan Devid kepada Novi.


Arjo dan keluarga kecilnya pun semakin bahagia karena akhirnya ia terlepas dari dendam dan berdamai dengan masa lalunya.


Sejak perginya Novi ke Australia, belum sekalipun ia kembali ke Indonesia namun hubungannya dengan keluarganya tetap terjalin walaupun hanya melalui telpon dan lain sebagainya.


****


"Riko, apa aku bisa minta tolong sama kamu?" tanya Mey yang walaupun itu asistennya tapi ia selalu bertanya terlebih dahulu sebelum memberi perintah.


"Apa yang harus saya tolong nyonya?" tanya balik Riko pada nyonyanya.


"Tolong kamu jemput kaka ya?" ucap Mey.


"Baik nyonya, apakah sekarang sudah jam pulang sekolah?" tanya Riko memastikan.


"Sekitar satu jam lagi tapi sebaiknya kamu segera pergi karena mengingat jika ada macet dan kamu terlambat maka mengaunglah singa kecil itu" ucap Mey terkekeh mengingat puterinya yang selalu rapi dan tepat waktu akhir-akhir ini.


"Baik nyonya kalau begitu saya permisi" ucap Riko yang langsung keluar dari ruangan nyonya bosanya itu.


Riko berusaha untuk tidak terlambat walaupun macet karena jam menunjukan jam makan siang. Tapi ia tiba sepuluh menit sebelum gadis kecil itu keluar.


Beberapa saat kemudian semua anak-anak berhambur keluar ke halaman sekolah, Maggie yang mengenal mobil mommynya langsung melangkah ke arah sana dengan santai sambil memegang botol minumnya yang tadi ia keluarkan dari dalam tas ketika minum dan tidak memasukannya kembali.


"Ayo silahkan jalan" ucap Maggie yang sudah masuk ke dalam mobil tanpa menunggu harus Riko yang membuka pintu.


"Oke nona, apa masih ada tempat yang harus kita singga?" tanya Riko.


"No, kaka sudah bilang jangan panggil nona tapi K A K A, kaka. Oke?" ucanya geram sambil mengeja karena Riko sering membuatnya darah tinggi.


"Oke kaka, apa mau singgah ke tempat lain?" tanya Riko kembali.


"Langsung ke lumah aja, capek" ucapnya sambil meletakan kepalanya di sandaran dan menutup mata.


Mereka melewati salah satu Macquerie-Universiti, Kampus terkenal yang baru berdiri semenjak Mey menjadi pemimpin menggantikan sang ayah.


Seorang gadis tengah berdiri di halte dekat kampus dan sepertinya ia menunggu jemputan.


Riko menurunkan laju mobil dan berhenti tepat di depan gadis itu lalu menurunkan kaca mobil. Gadis itu terkejut karena sekian lamanya ia baru kembali melihat pria yang pernah menolongnya saat penculikan waktu itu.


"Masih menunggu siapa?" tanya Riko.


"Jemputan ka" jawab Lili. Ya gadis itu adalah Lili yang juga mahasiswi kampus itu.


"Mau ikut?" tawar Riko.


"Cih, langsung suluh naik aja kenapa halus pake tawal segalah sih? ka Lili ayo naik" gerutu Maggie tapi akhirnya ia berteriak memberi perintah pada Lili. Gadis itu akhirnya naik dan duduk di samping Riko karena Maggie tidak mengijinkan Lili duduk dengannya, ia bahkan menaikan kakinya dan berbaring di kuesi itu, itulah trik jitu Maggie yang membuat Riko bangga.


Sejak saat itulah Riko dan Lili saling mengenal lebih dekat hingga jadian.


TAMAT


Hai semuanya, tetap ikuti karena Season 2 akan segera berlanjut tetap di judul ini.


Sehat selalu ya dan jangan lupa tinggalkan jejak dengan tekan tanda love, like, komen dan vote. Terima kasih semuanya yang sudah setia membaca sampai selesai.


Di Season 2 ini kita akan lebih vokus pada cerita Maggie dan musuh-musuh yang masih tersisa di season 1.