Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Kegalauan Daffa



Di tempat lain, gadis yang ditabrak oleh sopir Roberth telah siuman. Perlahan-lahan ia menggerakan kelopak matanya dan akhirnya terbuka dengan sempurna.


Gadis itu menatap ke segala sisi ruangan itu walaupun tubuhnya belum bisa digerakkan karena banyak alat yang menancap di tubuhnya.


"Di mana aku?" gumamnya sambil berusaha untuk bergerak.


"Kenapa ruangan ini asing sekali" gumamnya lagi. Beberapa saat kemudian ada seorang petugas kebersihan yang masuk untuk membersihkan ruangan itu.


"Eh nona, sudah siuman ya?" ucap sang OG itu sambil menatap ke arah pasien.


"Baiklah aku akan menghubungi dokter" ucapnya lagi sambil menekan tombol yang ada di ruangan itu.


Beberapa saat kemudian ada seorang dokter dan dua orang perawat yang masuk ke sana.


"Halo nona, bagaimana keadaanmu?" tanya sang dokter.


"Mmm kenapa aku berada di rumah sakit?" tanya Asry dengan tampang bingungnya.


"Oh, beberapa hari yang lalu, anda mengalami kecelakaan sehingga dibawa ke sini" jelas sang dokter.


"Kecelakaan? siapa yang membawaku ke sini? apakah nenekku?" tanya gadis itu tidak sabaran.


"Bukan, dia seorang anak muda dan beberapa temannya yang lain?" kata dokter itu lagi.


"Lalu di mana dia sekarang? aku ingin mengucapkan Terima kasih kepadanya" ucap Asry yang sejak tadi terus nyerocos padahal baru siuman.


"Aku juga ingin pulang, pasti nenek mencariku. Sudah berapa lama aku berada di sini dok?" tanya Asry lagi.


"Satu minggu" jawab dokter.


"Hah? satu minggu?" ucapnya kaget.


"Aku harus pulang dok" ucapnya sambil bergerak namun tertahan oleh alat-alat yang melekat di tubuhnya.


"Kamu belum bisa pulang nona, kamu harus menunggu hingga anak muda yang membawamu kemari datang dan melunasi biaya rumah sakit" kata dokter.


"Kog gitu sih dok?" jawabnya.


Gadis aneh, sejak tadi nyerocos mulu. batin salah seorang anak buah Roberth yang sudah ikut masuk sejak tadi.


Asry akhirnya kembali terdiam karena jika sudah bicara soal biaya maka dia tidak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak memiliki sepeser pun di kantongnya.


******


"Permisi bu, aku ke toilet sebentar" pamit Daffa saat jam pelajaran sedang berlangsung.


Bukannya pergi ke toilet ia malah menuju parkiran dan melaju ke luar dari lokasi kampus.


Anak muda itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang cukup cepat karena perasaannya sedang kalut. Ia akhirnya tiba di sebuah gerbang sekolah menengah atas yang cukup terkenal di kota itu. Ia memarkirkan mobilnya tidak jauh dari gerbang karena saat ini sudah waktunya pulang.


Satu per satu siswa dan siswi mulai keluar meninggalkan gedung sekolah itu bahkan mobil jemputan mulai berjejer di sana, ada yang menggunakan motor dan ada juga yang berjalan kaki menuju ke halte kecil yang ada di dekat sekolah untuk menunggu bus.


Manusia semakin berkurang dan tinggal beberapa orang saja, namun orang yang dia tunggu sama sekali tidak muncul. Karena penasaran, Daffa akhirnya turun dari mobil dan berjalan ke arah beberapa siswi yang masih bercerita di dekat gerbang itu. Mungkin saat ini mereka lagi menunggu jemputan.


"Permisi de, boleh numpang tanya?" kata Daffa. Ucapannya mampu menghipnotis para cewek itu sehingga mereka malah terbentang melihat makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna itu ada di depan mereka.


"Mmmm bagaimana ka?" jawab salah seorang dari mereka dengan gugup namun tak mengurangi kecentilannya.


"Apa kalian mengenal gadis kelas 10 yang bernama Eunike?" tanya Daffa serius.


"Oh gadis itu? hari ini dia hanya mampir ke sekolah beberapa saat lagi dan tidak masuk kelas. Sepertinya dia punya masalah sehingga datang bersama ayahnya dan langsung menuju ke ruang kepala sekolah. Mungkin dia di skors sehingga tidak masuk kelas" ucap gadis tadi.


Rupanya, Daffa bertanya pada orang yang salah., lebih tepatnya merka mungkin adalah musuh Ike.


"Terima kasih ya, infonya" ucap Daffa dan pergi dari depan para gadis itu yang malah cekikikan dan saling berpelukan karena kegantengan pria tadi.


"Oh jodoh, semoga kita ketemu lagi" ucap gadis itu lagi.


Daffa kembali masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi.


"Datang bersama om Reno dan hanya mampir sebentar di ruangan kepla sekolah? apakah benar hari ini on Reno datang bersama Ike untuk mengambil surat pindahnya? Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan. Tidak mungkin aku mendatangi rumah Ike. Shittt kenapa sih perasaanku jadi nggak beres begini sih?" gumam Daffa sambil memukul stir mobilnya.


Daffa semakin tidak karuan antara mendatangi rumah Ike atau dia tidak akan bertemu lagi dengan gadis itu entah hingga kapan.


"Tidak.. tidak.. mana ada aku kepincut sama gadis centil kaya Ike. Lebih baik aku harus pulang karena sudah melewatkan jam pelajaran hari ini" gerutunya pada dirinya sendiri. Daffapun banting stir dan kembali ke kampusnya.


Setibanya di kampus, dengan sntainya dia melangkah menuju ruang kelasnya. Ia kembali masuk tanpa peduli dengan banyak tatapan mata yang memandangnya aneh termasuk Daffi dan dosen yang sedang mengajar itu.


"Bang, b kok lama sekali ke toiletnya" bisik Daffi sambil menarik sisi lengan baju sang abang.


"Perutku mules" jawabnya singkat.


"Wajahmu tidak kelihatan lagi sakit tapi lagi galau bang" cibir Daffi kepada sang abang.


"Belajar sana jangan ngurus hidup orang lain" gerutu Daffa.


Cih kenapa lo berubah dalam waktu sesingkat-singkatnya? padahal sebelumnya dan kemarin-kemarin, kamu baik-baik saja. Batin Daffi yang benar-benar melihat perubahan sikap sang abang.


Mereka akhirnya kembali fokus pada pelajaran. Namun tetap saja, mungkin Daffi yang bisa mengontrol moodnya namun tidak dengan Daffa yang sangat kelihatan sekali jika ia dalam keadaan terbeban.


****


Setelah melewati beberapa jam, Roberth akhirnya mendarat di salah satu bandara internasional California.


"Sayang, aku datang" gumam Robert sambil menyeret kopernya keluar dari dalam pesawat.


Pria itu keluar dari bandara dan membayar salah satu mobil untuk mengantarkannya ke alamat rumah yang di sharekan oleh om Alfa.


Sepanjang perjalanan, Roberth terus tersenyum sambil menatap pemandangan dari balik kaca jendela mobil tersebut.


Ia tidak menyangka bisa sampai di tempat ini demi mengejar sang kekasihnya.


Dulu aku pergi meninggalkanmu tanpa kabar, lalu kita dipertemukan kembali dengan cara yang sangat luar biasa. Saat ini, kamu yang pergi meninggalkanku tanpa kabar, namun aku tidak akan menunggu lagi seperti dulu, aku akan datang sendiri ke sini untuk membuktikan kalau aku sangat mencintaimu sahabat kecilku.


Roberth terus membatin sepanjang perjalanan. Ia mengakui bahwa cintalah yang membawa dia pergi sejah ini untuk menggapainya.


BERSAMBUNG