
Happy Reading
Jangan lupa Vote, Like and comen ya!
"Jangan mendekat jika mau isterimu selamat" ucap salah seorang pria yang bertubuh besar itu dengan menodongkan sebila pisau di lehernya Nina.
"Oke, Baiklah tapi aku mohon lepaskan isteriku. Apapun akan aku berikan jika kamu melepaskan isteriku dengan baik-baik" ucap Alfa
"Betul? kamu akan memberi apapun yang kami minta?" ucap salah seorang dari mereka
"Benar, aku tidak akan main-main dengan ucapanku" balas Alfa
"Baiklah, cepat tanda tangan berkas ini sekarang" ucap seorang lagi sambil menyodorkan map yang berisi barkas yang mereka bawa.
******
"Apa ini?" tanya Alfa
"Jangan banyak tanya, cepat tanda tangan jika mau isterimu selamat" ucap salah seorang pria
Alfa tanpa membacanya langsung menanda tangani berkas itu membuat orang-orang itu tersenyum puas termasuk Nina.
"Ini, sekarang lepaskan isteriku" ucap Alfa sambil memberikan kembali map itu
Salah seorang pria menerimanya dan yang lain melepaskan Nina dan melangkah pergi dari ruangan itu bersama sepasang suami isteri. Nina menangis dalam pelukan suaminya dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Beberapa saat kemudian datanglah Roky dan seorang pria.
"Maaf kami terlambat," ucap asisten Roky
"Tidak apa-apa, sekarang kita pulang ke mansion" ucap Alfa tenang
Keempat orang itupun pulang ke mansion tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikitpun hanya Nina yang sejak tadi mengeluarkan air mata buayanya.
Setibanya di mansion ternyata mama Ratna dan papa Alberth sudah ada di sana.
"Ada apa ini?" ucap mama Ratna melihat Nina yang dalam keadaan tidak baik-baik saja saat masuk ke mansion itu.
Alfa yang sejak tadi diam langsung menyodorkan tangannya ke arah pria yang tadi datang bersama Roky, ternyata itu adalah pengacaranya.
"Berikan berkas yang aku suruh kamu siapkan" ucap Alfa tegas
"Baik tuan" jawab pria tadi sambil mengeluarkan sebuah map dan memberikannya kepada Alfa
Alfa yang sudah memegang map di tangannya di teruskan kepada Nina,
"Cepat tanda tangan" ucap Alfa dengan sorot mata yang menakutkan
"Apa ini sayang" ucap Nina dengan ketakutan sambil menerima map itu dan membukanya, ternyata surat perceraian dan surat hak asuh Jeffrino. Dalam hati ia tertawa senang saat apa yang dia dapatkan tanpa Alfa ketahui sudah melepaskannya dengan gampang untuk pergi membawa semuanya pergi.
Nina langsung membubuhkan tanda tangan di atas kertas itu dan tertawa jahat.
"Aku juga tidak sudi hidup bersama pria miskin sepertimu hahahha, dan terserah mau mengambil bayi malang itu, aku juga tidak sudi membawanya." ucapa Nina tertawa jahat
Nina yang hendak melangkah keluar, langsung disambut oleh beberapa pria yang mengenakan seragam polisi.
"Saudara Nina kami tangkap atas kasus pencurian barang berharga keluarga Adipaty, silahkan ikut kami nyonya" ucap seorang polisi
"Apa maksud kamu, aku tidak melakukan kesalahan apa-apa" bentak Nina terhadap para polisi tersebut
Setelah kepergian polisi yang membawa Nina, mama Ratna langsung naik pitam karena Alfa yang mengambil hak asuh untuk merawat bayi haram itu
"Apa maksud kamu Al dengan mengambil hak asuh bayi haram itu hah?" ucap mama Ratna dengan suara tinggi
"Aku hanya mempersiapkan senjata untuk melindungi puteriku jika beranjak dewasa nanti" ucap Alfa tenang
"Maksud kamu?" tanya mama heran dengan tindakan puteranya
"Aku sudah tahu yang sebenarnya, karena aku sudah cek keasliannya dan setelah aku masuk ke situs resmi perusahaan ternyata di sana sudah bukan atas nama aku dan papa" ucap Alfa dengan mata berkaca-kaca
"Maafkan mama" ucap mama Ratna sambil memeluk puteranya dan menangis
"Aku tidak apa-apa ma, jika itu yang terbaik aku ikut saja, aku tidak pernah memberinya kasih sayang jadi dia pantas mendapat itu semua" ucap Alfa yang juga sudah menangis, memngingat semua kejahatan yang sudah dia tanamkan dalam diri puterinya.
Papa yang terkejut dengan berita ini bertanya dalam hati, sejak kapan isterinya ini melakukan semuanya ini.
"Terima kasih ma, sudah menyadarkan aku akan mimpiku yang berkepanjangan. Aku tahu, saat aku sadar semua sudah tidak bisa dikembalikan lagi. Jika aku tidak pantas lagi untuk mereka, aku akan berusaha melindungi mereka dengan kemapuanku. Aku akan merelakan mereka untuk mendapatkan kebahagiaan walaupun itu bukan aku." ucap Alfa yang semakin sesugukan
"Apakah seorang Alfaro sudah menyerah dan tidak mau berjuang?" ucap mama yang masih setia memeluk puteranya
"Mungkin tidak ma, aku tidak mau kembali mengorek luka yang telah mereka balut. Jika aku muncul, luka itu pasti akan kembali menganga dan mungkin lebih sakit dari sebelumnya" ucap Alfa.
"Jika itu pilihan hidup kamu, mama dan papa hanya mendukung semua keputusanmu" ucap mama sambil melepaskan pelukannya
"Sejak kapan ma?" tanya papa yang sejak tadi hanya diam menyaksikan kedua orang di depannya ini
"Apanya pa?" tanya balik mama
"Jangan pura-pura lupa ma" ucap papa gemas dengan tingkah konyol mama
"Oh itu, ya.. sejak papa pergi ke Amerika waktu itu" ucap mama cengengesan
"Jadi mama pura-pura sakit karena mama mau menjalankan rencana mama?" ucap papa melototkan matanya karena dengan mudahnya isteri nakalnya ini mengelabuinya
"Ya begitulah, kerenkan mama?" ucap mama dengan gaya sok anak ABG
"Melakukan sesuatu tanpa memberi tahu suami itu dosa ma" ucap papa
"Sebelumnya mama sudah doa minta ampun pa" ucap mama tanpa beban.
Alfa yang menyaksikan keharmonisan kedua orang tuanya sampai saat ini merasa menyesal, jika dia mau memperlakukan isteri dan anaknya dengan baik walaupun belum ada rasa cinta, pasti mereka tidak akan pergi dari hidupnya seperti sekarang, tanpa sadar Alfa kembali meneteskan air mata.
(Maafkan aku Mey, maafkan daddy nak. Mulailah berbahagia walaupun tidak ada daddy di samping kamu, daddy akan melindungi kamu dari jauh) batin Alfa
******
Hari sudah menjelang sore, Mey yang sejak tadi diam di kursi kebesarannya merasa ada yang mengganjal di hatinya. Sekuat mungkin ia menahan kegelisahan hatinya tapi sepertinya sore ini ia terlalu sedih tanpa tahu apa yang membuatnya seperti itu.
(Kanapa perasaanku aneh sekali, apa yang akan terjadi padaku dan puteriku, atau ayah dan Novi. Tuhan lindungi kami) batin Mey sambil menutup matanya tanpa sadar air matanya menetes tanpa ia minta.
(Sudah hampir setahun mas, aku bahkan semakin sulit untuk menghapusnya walaupun aku berusaha sekuatnya. Aku wanita bodoh, seharusnya kamu adalah pria yang aku benci seumur hidupku, tapi untuk melakukan itupun aku tidak sanggup) batin Mey kembali menahan sakit, sakit karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
******
-Bersambung-