
Setelah kepergian mereka semua mencari Maggie, David memilih masuk ke ruang khusus.
"Nak kamu tunggu di sini ayah melihat rekaman cctvnya dulu" ucap ayah
"Novi juga ikut ayah" ucap Novi. Akhirnya pria tua itu bersama puteri angkatnya masuk ke dalam ruangan itu.
Tuan Devid yang jiwa devilnya masih tinggi, apalagi usianya baru mau genap kepala lima, membuatnya mengotak atik benda itu dengan lincah.
Dengan jelas terlihat kalau saat itu ada yang mengetok pintu lalu Maggie membukanya. Kursi sekretaris yang saat itu juga kosong membuat gadis yang di duga salah satu karyawan dari perusahaan ini membawa Maggie keluar, hingga menghilang di parkiran belakang kantor karena memang sudah tidak dijangkau lagi oleh cctv.
"Ternyata mereka pakai orang dalam" ucap ayah
"Maksud ayah" ucap Novi yang sudah menangis karena melihat adik kecilnya dibawa pergi tanpa memberontak bahkan gadis kecil itu sendiri berjalan, mungkin dia dibujuk dengan sesuatu yang menarik.
"Orang yang membawa Maggie adalah karyawan yang bekerja di kantor kita" ucap ayah membuat Novi membulatkan matanya.
(Nyonya Ratna, pasti dia tahu sesuatu) batin Devid. Dia tahu pasti wanita itu mengetahuinya karena jika ia sudah menjatuhkan warisan di tangan Mey dan Maggie maka dia juga akan menjaga keselamatan mereka.
📹Bagimana tuan Devid?
📹Dimana?
📹Apanya?
📹Aku tidak bodoh Ratna, kamu pasti tahu sesuatu
📹Cucu kita aman. Pelakunya sudah ditanganku. Saat ini Alfa sudah menuju ke sana untuk menkemput puterinya.
📹Oke, kasih tahu lokasinya agar Mey tidak kewalahan
📹Aku kirim pesan
Kedua mantan besan itu mengakhiri pembicaraan mereka di telepon.
*****
Mey sama sekali tidak mengeluarkan air mata. Jika ada seseorang yang melihatnya sekarang, pasti orang itu akan gemetar ketakutan. Mey yang dikenal dengan murah senyum, kini tidak lagi terlihat di wajah cantiknya.
Jiwa lapar dan haus darah terlihat sekali diwajahnya. Reno hanya diam menyetir, mereka berputar-putar sambil menunggu informasi dari orang-orang. Mereka sedikit kesusahan melacaknya karena gadis kecil itu tidak membawa ponselnya bahkan pergi tanpa membawa apa-apa.
"Mey, telepon tuan Devid untuk tahu kelanjutannya dulu, pasti beliau sudah mengetahui sesuatu dari cctv" ucap reno
Mey baru mau mengambil ponsenya, namun ponselnya sudah lebih dahulu berbunyi dan tertera pesan singkat dari sang ayah.
******
📹Bos, anak itu saat ini bersamaku
📹Maksudnya?
📹Dia adalah puteri dari mantan suami kekasihku
📹Siapa mantan suami kekasihmu?
📹Alfa Putra Adipaty
📹Ha?? jaga anak itu baik-baik. Aku akan ke sana sekarang. Kirim lokasinya.
(Hmmm aku akan membawanya pulang dan pasti Mey akan langsung jatuh cinta padaku karena sudah membantunya. Dia akan berhutang budi sehingga tidak mampu menolakku) Batin pria itu sambil tersenyum licik.
Ia langsung bergegas menuju ke lokasi yang sudah dikirim melalui pesan singkat oleh anak buah kepercayaannya.
Tidak sia-sia Lexi memiliki hubungan kusus dengan Nina dan itu punya nilai plus untuk dirinya yang dikira pahlawan yang telah menyelamatkan puteri dari wanita incarannya.
******
Kedua pria itu bertarung di halaman rumah itu cukup lama. Merasa bosnya akan segera datang Lexi berlari menuju ke arah hutan untuk memancing Roky agar mengikutinya sehingga tidak tahu ada orang yang datang ke tempat itu karena takut kena amukan bosnya.
Sementara di dalam rumah, gadis yang bersama Maggie tadi bersembunyi dibalik tiang saat tahu ada orang asing yang datang. Alfa masuk dan mendapati Maggie yang lagi terlelap di sofa.
"Maggie??" panggil Alfa dari arah pintu dengan perasaan takut jangan sampai terjadi sesuatu pada puterinya.
Maggie yang mendengar suara orang memanggilnya langsung menggerakkan tubuhnya namun matanya tetap terpejam karena mengantuk, hal itu membuat Alfa semakin panik dan mendekat.
"Nak,," ucap Alfa sambil mengguncang tubuh kecil puterinya.
"Mom, ade cape cetali. Ade mau bobo lagi ya?" ucap gadis kecil itu sambil membelakangi daddynya membuat Alfa tersenyum haru sekaligus gemas dengan puterinya itu.
"Nak, ini daddy sayang" ucap Alfa yang sudah meneteskan air mata sambil mengecup pipi puterinya penuh sayang.
"Akhh opa boong. Daddy tida cayang ade lagi, daddy tida pelnah cali ade cama mommy, tata mommy daddy suda puna baby balu cama mommy balu" ucapnya masih dengan mata terpejam dikira yang mengganggu tidurnya adalah opanya.
Alfa yang mendengar curahan hati puterinya yang tidak sadar itu semakin terluka karena rasa bersalahnya. Pria dingin itu sudah terisak sambil memeluk tubuh kecil puterinya yang nyaman dalam tidurnya walaupun hanya beralaskan sofa usang di ruangan itu.
"Maafkan daddy sayang" ucap Alfa dalam tangisnya
Merasa terganggu dengan pelukan itu membuat Maggie dengan malas mulai membuka mata dan berusaha bangun.
Saat matanya menangkap sosok yang selama ini ia rindukan ada di depannya membuat Maggie langsung histeris.
"Daddyyyy,, hiks hiks hiks ade lindu daddy, ade lindu peluk daddy" ucap Maggie yang menangis bahagia sambil mengalungkan tangan kecilnya di leher daddynya sambil berdiri sedangkan Alfa berjongkok untuk mensejajarkan tubuhnya dengan puteri kecilnya.
"Daddy jahat, tida cali ade cama mommy, ade tida mau daddy balu. Tata ta Novi daddy balu itu jahat, ade mau daddy caja" ucapnya mencurahkan seluruh isi hatinya.
Alfa yang semakin bersalah semakin mengeratkan pelukannya pada gadis kecil itu dan menangis. Ikatan batin antara ayah dan anak itu tidak bisa dikendalikan.
Saat sedang asyik meluapkan rasa rindu satu sama lain, Alfa menangkap sosok pria yang sangat dikenalinya datang dan mendekat. Sedangkan Lexi juga yang ngos-ngosan berlari masuk, terkejut saat sang bos sudah berada di sana.
"Bos" ucap Lexi
Aldrich hanya memberi isyarat memalui jari telunjuk yang diletakkan di bibirnya sebagai tanda diam. Interaksi dua pria itu tidak lepas dari pantauan Alfa melalui kaca yang ada dibelakang puterinya sambil berusaha menyembunyikan Maggie dalam pelukannya.
Aldrich yang sudah mengetahui jika yang memeluk gadis kecil itu adalah rivalnya langsung naik pitam. Pria itu mengambil sebuah benda yang tidak jauh dari sana dan langsung menghantam di tengkuk Alfa hingga darah mengalir. Maggie yang kaget melihat ke arah pria yang memukul daddynya dengan marah.
"Jangan menangis sayang. Daddy selalu mencintaimu dan mommy. Jangan beritahu mommy kalau kita bertemu di sini ya. Mulailah hidup bahagia walau tanpa daddy" Alfa mengcup pucuk kepala puterinya sambil menahan sakit yang semakin kuat merenggut nyawanya.
Pistol yang tersimpan di pinggangnya melorot jatuh di depan puterinya. Alfa melirik puterinya dan meneteskan air mata terakhirnya, ia berusaha bangun berdiri walaupun sempoyongan lalu melangkah keluar dengan tubuhnya yang sudah dipenuhi darah dari kepalanya. Saat tiba di depan Aldrich yang tengah tersenyum smirk ke arahnya, ia berhenti sebentar dan berusaha menopang tubuhnya yang sudah diujung maut.
"Kamu menang. Bahagiakan mereka, apalagi puteriku" ucap Alfa sambil memberi bogem mentah dengan seluruh tenaga terakhirnya tepat di ulu hati Aldrich hingga pria itu terkapar dan pingsan.
Lexi yang melihat bosnya tidak bergerak langsung emosi dan hendak menghantam Alfa lagi dengan benda yang tadi dipakai Aldrich untuk memukul Alfa.
Saat akan mengayun benda tersebut ke arah Alfa yang sudah berjongkok karena tidak menahan sakitnya lagi, tiba-tiba terdengar letusan bunyi pistol dan peluruh yang sudah menembus kepala Lexi. Satu letusan lagi terdengar dan tiba-tiba gadis yang tadi bersembunyi dibalik tiang itu tumbang.
Roky yang baru masuk melihat kejadian ajaib itu, dua orang mati sekaligus ditangan gadis kecil yang masih memegang pistol dengan wajah yang sulit diartikan.
Roky yang hendak berlari menuju Maggie langsung ditahan oleh Alfa.
"Cepat bawa aku pergi dari sini" bisik Alfa pada Roky
Asistennya itu memapahnya pergi meninggalkan gadis kecil itu melalui pintu belakang.
-Bersambung-