
"Bang, biasanya weekend kaya gini pasti Ike sama tante Novi selalu kemari" ucap Daffi dengan sendu.
"Aku jadi kangen sama anak itu, walaupun dia pecicilan tapi sangat menghibur. Dia sangat mirip sama kaka yang walaupun sudah mau menikah tapi masih kekanak-kanakan. Apa kabar sih dia di sana?" ucap Daffi lagi sambil membayangkan gadis kecil yang tumbuh besar bersama mereka.
Aku juga kangen de, aku baru menyadari arti kehadirannya setelah dia sudah jauh. Maafkan aku Ike, jika selama ini aku sama sekali tidak menghargai kehadiranmu. Batin Daffa.
"Aku takut jika dia memiliki pacar dan pacarnya itu kasar sama dia" ucap Daffi membuat sang abang mengepalkan tangannya.
Aku akan membunuh siapapun yang dekat dengannya apalagi sampai kasar terhadapnya. Gerutu Daffa dalam hati karena gengsi mengakuinya.
Daffi yang diam-diam mencuri pandang ke arah sang abang lebih tepat ke wajah dan juga kepalan tangan yang mengisyaratkan kemarahan itu merasa heran karena sejak tadi kembarannya sama sekali tidak merespon ucapannya yang panjang kali lebar itu.
"Abang tidak kangen sama Ike?" tanya Daffi
"Tidak" jawabnya yang langsung pergi meninggalkan sang adik.
Di tempat lain
"Lia, sebaiknya kau dan Teman-temanmu berhenti menyudutkan dia. Jika berita soal pertunangannya langsung di takedown dan menghilang begitu saja itu artinya dia punya backingan kuat di sekolah ini" ucap Jackson yang melihat Lia dan kawan-kawan kembali mendatangi Ike di kelas.
"Itu nggak adil Jack, mana bisa anak baru ini datang dan merusak nama baik sekolah kita?" ucap Lia tidak Terima baik.
"Terserah" ucap Jackson yang malas meladani mulut pedas para gadis itu. Ia melangkah keluar dari kelas karena pusing berada di sana.
"Sebaiknya kau mengundurkan diri dari sekolah ini sebelum kau dikeluarkan secara paksa." ucap Lia sinis.
"Nggak ada alasan aku harus keluar dari sekolah ini. Dan jika pun keluar, itu bukan aku tapi kamu" balas Ike tanpa takut sedikitpun.
"Kau itu cuma anak baru yang numpang viral di sekolah ini dengan prestasi burukmu itu" ejek Lia yang belum merasa puas merendahkan Ike.
"Huh, bicara sama orang tukang iri ya begini jadinya." ucap Ike malas dan melangkah keluar. Ia terus melangkah hingga tiba di taman sekolah bagian samping yang terdapat bunga-bunga yang indah dan ada beberapa bunga yang cukup tinggi melebihi tinggi badannya.
Ike yang menikmati pemandangan yang asri itu seolah melupakan masalahnya yang ada di Australia maupun yang barusan terjadi.
Tiba-tiba tangannya ditarik seseorang yang juga tengah berada di taman tersebut.
"Aaaaa" teriak Ike karena terkejut.
"Stttt jangan teriak nanti dipikir kamu lagi diapain" ucap Anak laki-laki yang masih menggenggam tangan Ike sambil menariknya untuk duduk di kursi taman itu.
Tumben, manusia freezer ini berbicara dengan nada lembut. Batin Ike.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Jackson. Ya pria yang menarik Ike tadi adalah Jackson. Setelah meninggalkan kelas tadi, ia malah datang ke taman dan ternyata Ike pun datang ke sana.
"Aku baik" jawab Ike singkat.
"Tapi kelihatannya kamu kurang baik" ucap Jackson yang melihat raut wajah Ike.
"Aku cuma lagi nggak mood hari ini" ucapnya lagi.
"Bolehkah Aku bertanya sesuatu?" ucap Jackson.
"Tanya apa?" Ike balik bertanya.
"Ya tanya aja, jika ada yang bisa ku jawab pasti aku akan menjawabnya" balas Ike.
"Apa benar kamu sudah bertunangan?" tanya Jackson.
Cih pria es ini punya jiwa kepo juga. Tapi sepertinya asyik juga jika diajak berteman dan jadi teman curhat. Batin Ike
"Mmm apakah aku kelihatan seperti orang yang sudah bertunangan?" ucap Ike.
"Tapi pria yang sering mengantar dan menjemputmu, siapa dia?" tanya Jackson.
"Apa kamu mau jadi teman curhatku?" tanya balik Ike kepada Jackson.
"Aku nggak punya teman disekolah ini, dan kamu juga demikian. Mungkin kita bisa mencoba untuk menjadi teman" jawab Jackson.
"Baiklah jika demikian, aku akan menjadikanmu teman curhatku" jawab Ike membuat Jackson tersenyum bahagia karena akhirnya ia bisa punya teman yang adalah teman sebangkunya.
"Lanjutkan yang tadi" ucap Jackson
"Sebenarnya aku belum bertunangan dan pria yang sering mengantar dan menjemputku adalah sepupuku" jawab Ike.
"Yang katanya CEO baru itu?" tanya Jackson.
"Iya. Di negara ini, aku tinggal bersama dengannya dan keluarganya" jelas Ike.
"Lalu kenapa kamu membiarkan orang memfitnahmu?" tanya lagi anak laki-laki itu.
"Biarkan mereka berkoar, lagian kakakku suka memanfaatkan keadaan untuk membungkam para wanita matre yang ingin mendekatinya" jelas Ike lagi sambil terkekeh.
"Kan katanya dia sudah bertunangan, apakah itu juga settingan saja?" tanya Jackson terus.
"Kalau it sih memang benar adanya. kakakku memang sudah bertunangan tapi sayang, tunangannya itu kaya jelangkung. Datang tak diundang, pergi tak diantar" ucap Ike sambil terbahak-bahak membayangkan jika kakak iparnya itu mendengar pembicaraannya pasti mereka akan berperang.
" kenapa ketawa saat membahas kakak iparmu?" tanya Jackson
"Dia orang yang paling berarti dalam hidupku. Aku lebih dekat dengannya dibanding kakakku. Aku malah mengenalnya sejak lahir, saking senangnya dia punya adik perempuan, dia sampai nggak mau pulang ke rumahnya waktu Aku lahir. Dan kata mami, dia ngambek dan menuntut orang tuanya untuk merampasku dari mami sama papiku" jelas Ike merasa kangen dengan gadis yang sudah dia anggap kaka kandungnya.
"Ahhh jadi mellow kan kalau bahas kaka?" ucap Ike tertawa namun diiringi air mata.
"Jangan diteruskan karena sepertinya kamu sangat menyayanginya dan merindukannya" ucap Jackson yang sedikit curiga jika gadis di depannya ini tengah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Yuk masuk kelas" ajak Jackson dan keduanya untuk masuk ke dalam kelas karena pelajaran selanjutnya akan segera di mulai.
Terimakasih Jackson, kamu adalah pria yang dingin tapi ada saatnya untuk kamu luluh. Kamu berbeda dengannya yang nggak pernah luluh sampai kapanpun. Ahh udalah Ke' kamu sudah bertekad melupakannya tapi untuk apa memikirkannya lagi? Batin Ike yang ikut berdiri dan beriringan masuk kelas.
Banyak mata yang menatap mereka dengan tatapan merendahkan lebih tepatnya merendahkan Ike karena dia yang katanya sudah bertunangan tapi masih memberi harapan palsu pada pria lain di sekolah ini. Apalagi Jackson yang tidak biasa bergaul tapi akhirnya kepincut sama anak baru itu.
"Lihat, berani sekali gadis itu. Dia berani merayu si Jackson lagi" gerutu Lia yang semakin iri karena anak baru itu bisa berhasil mendapatkan perhatian pria es batu itu.
Bersambung