
Maggie dan Bedi akhirnya pulang ke rumah setelah membuat gadis itu marah-marah di toilet.
"Om Bedi, kaka tadi cantik kan? cuma ihh teliaknya kaya talsan" ucap Maggie pada sang sopir sambil menunjukkan wajah imutnya.
"Biasa aja" ucap Bedi apa adanya.
"Yee mata katalak" cibir Maggie membuat Bedi tertawa terbahak-bahak.
"Iya dia cantik, tapi cantikkan kaka dari pada dia" ucap Bedi sambil terus fokus menyetir.
"Emang" jawabnya bangga.
Keduanya akhirnya tiba di rumah dan mendapati opa, oma serta si kembar lagu asyik bermain di ruang keluarga.
"Kaka pulang" seru gadis cantik itu sambil melangkah masuk dengan diikuti Bedi sambil membawa buku yang tadi dia beli.
"Kaka maiin" seru Daffa dan Daffi bersamaan sengan gaya bicara anak kecil.
"Iya kaka tukar dulu pakaiannya" ucap Maggie sambil mencium kedua opa omanya dan si kembar dan langsung naik ke arah kamar.
Daffa yang dasarnya suka dengan buku-buku langsung mebuka paperbag yang di bawa oleh Bedi dan mengambil salah satu buku di sana.
Entah mengerti atau tidak tapi dia seolah bergaya seperti Alfa ketika lagi serius membaca buku dan duduk di sofa single yang agak jauh dari yang lainnya.
Sedangkan Daffi malah ngambek saat tidak mendapatkan sesuatu yang bisa dimakan dari paper bag itu.
Setelah bertukar pakaian, Maggie turun kembali ke bawah untuk bergabung dengan yang lain.
"Makan dulu ka'. Entar lanjut mainnya sama adik-adik ya?" ucap oma Ani pada cucunya.
"Iya oma" jawab Maggie sambil berdiri hendak pergi namun mata ekornya menangkap sosok adiknya Daffa yang sangat serius melihat buku yang dipegangnya tadi.
"Belajal yang lajin ya ganteng, bial kita kalahkan keceldasan daddy" ucapnya membuat Daffa menatapnya bingung.
"Yee diajak bicala malah bengong" cibirnya sambil melanjutkan niatnya ke ruang makan.
"Benar-benar jiplakan si Ratna" ucap opa sambil menatap cucu dan isterinya bejalan beriringan menuju ruang makan.
*****
📱Halo sayang
📱Iya mas.
📱Entar pulang kantor aku jemput ya? kita diner di luar, mumpung ayah sama ibu jagain anak-anak.
📱iya ma, tapi pulang rumah dulu. Kan gerah nanti.
📱Sudah kamu tenang saja sayang.
Sambungan telepon akhirnya berakhir. Alfa dan Mey janjian untuk menghabiskan waktu berdua tanpa diganggu oleh anak-anak.
.
.
Waktu terus berputar hingga kini jam sudah menunjuk pukul 5 sore saatnya karyawan/i kantor pulang.
Alfa juga bergegas keluar dari kantornya dan melajukan mobil kesayangannya menuju kantor sang isteri.
Di depan kantor, Mey sudah menunggunya.
"Aku telat ya sayang" ucap Alfa yang sudah mendekat ke arah isterinya. Dengan tidak tahu malunya ia menghadiahkan satu kecupan di pipi Mey, padahan banyak karyawan/i yang berlalu lalang meninggalkan kantor.
Aksi Alfa berhasil membuat wajah Mey memerah. Wanita itu dengan langkah cepat menuju ke arah mobil suaminya dan langsung masuk karena saking malunya.
Alfa dan Mey akhirnya pergi ke sebuah hotel namun sebelumnya mereka singgah di butik terlebih dahulu untuk membeli pakaian untuk diner malam ini.
Keduanya bergantian masuk kamar mandi untuk membersihkan diri sekalian bergati pakaian kantor dengan pakaian yang tadi mereka beli.
Alfa membawa isterinya makan romantis di sebuah taman yang tidak jauh dari hotel itu. Hal tersebut membuat Mey sangat bahagia dan bersyukur karena suaminya yang dulu sama sekali tidak menganggapnya akhirnya sangat mencintainya saat ini.
****
Dor dor dor
Bunyi tembakan terjadi di sebuah rumah mewah di kota itu.
"Katakan, siapa dibalik ini semua hah?" todong seorang pria berwajah seram dengan senjata apinya tepat di kening papa Sandro.
"Apa maksudmu?" tantang papa Sandro.
"Jangan pura-pura tidak tahu Sandro. Selagi aku masih memberimu kesempatan untuk hidup, sebaiknya kau tidak merusak rencanaku" ucap pria itu dengan tegas.
"Karena memang aku tidak tahu. Bukannya perusahaan kekak iparku sudah jatuh ditanganmu? lalu apa lagi yang kau inginkan?" ucap Papa Sandro pura-pura tidak tahu tapi dengan nada bicara yang tenang.
Dor
Satu tembakan dilepas pria itu ke atap namun tidak berpengaruh apa-apa untuk papa Sandro.
"Aku tanya sekali lagi, Siapa yang mengacaukan rencanaku ini hah?" bentak pria itu tepat di wajah papa Sandro.
"Harus berapa kali aku menjawab jika aku tidak tahu? apakah aku pernah bertindak saat kakakku dan kakak iparku meninggal lalu perusahaannya diambil alih, apakah aku pernah bersuara? Walaupun dia saudara kandungku tapi aku bukan tipe orang yang merampas barang milik orang lain." ucap papa Sandro panjang lebar membuat pria itu semakin emosi.
"Bawa mereka semua ke tempat biasa" perintah pria itu kepada anak buahnya.
"Baik tuan" jawab mereka dan langsung menyeret papa Sandro keluar dari rumah itu menuju ke parkiran mobil.
Papa Sandro hanya bisa melihat mayat-mayat para pekerjanya namun ia tetap tenang agar pria itu tidak mengetahui titik lemahnya.
Walapun wajahnya sudah bonyok tapi ia tetap tenang. beberapa saat kemudian dua orang pria membawa isteri serta puterinya yanh sudah dalam keadaan tidak sadar akibat obat bius yang diberikan.
Deg
Papa Sandro terkejut melihat dua wanita tercintanya ikut dibawah entah kemana mereka akan dibawa.
Papa Sandro yang sudah diikat tangannya ke belakang dan mulutnya juga dilakban membuatnya tidak mampu bergerak apalagi berteriak.
Nak, tolonglah papa mama sama adikmu. Batin papa Sandro menjerit penuh harap kalau bisa puteranya cepat mengetahui kejadian ini sehingga menolong mereka.
Mobil-mobil itu akhirnya beriring-iringan membelah jalan bahkan mereka sudah mulai keluar dari jalan kota.
.
.
"Sayang, aku pergi sebentar ke rumah papa ya?" ijin Reno pada isterinya.
"Aku ikut ka" ucap Novi bersemangat.
"Jangan sayang, aku tidak lama kog?" bujuk Reno yang memang tidak ingin membawa sang isteri karena ia merencanakan sesuatu yang lain malam ini yang harus dituntaskannya.
"Tapi aku mau ikut" ucap Novi yang sudah mengeluarkan air mata.
Akhir-akhir ini, wanita itu memang sangat sensitif dengan semua keadaan.
"Sayang, ini sudah malam. Aku janji akan membawamu pergi esok nanti, oke?" bujuk Reno pada isterinya.
"Baiklah, tapi pulang bawakan aku bakso tidak pake mie, cuma pentolan sama kuahnya saja" ucap Novi santai sedangkan Reno menganga karena itu makanan kesukaannya. Jika makan bakso Reno cuma pesan pentolan sama kuahnya saja.
"Sejak kapan makanan kesukaanku jadi kesukaanmu juga sayang?" tanya Reno memastikan.
"Sejak sekarang, sana pergi" ucapnya sekaligus mengusir suaminya itu.
"Baiklah isteriku, istirahatlah nanti aku kasih bagun jija sudah pulang nanti" ucap Reno sambil memberi satu kecupan dibibir isterinya dan langsung pergi begitu saja.
BERSAMBUNG