
"Yang menang dapat apa sih?" tanya Maggie.
"Kan Kaka yang buat program ini jadi Kaka yang harus nyiapin hadiahnya" ucap Alfa.
"Nggak bisa gitu dad, kan yang kepala keluarga Daddy sama om Reno jadi kalian harus menyuntikkan dana." ucap Maggie.
"Gini aja ka, kalau perempuan menang Daddy yang kasih hadiahnya, nah kalau laki-laki yang menang om Reno yang kasih hadiahnya, gimana?" usul Daffi.
"Setuju bangat, adik gue memang pintar" seru Maggie yang langsg deal tanpa menunggu para donatur setuju atau tidak.
"Tidak bisa gitu, itu namanya sama aja kami laki-laki tetap kalah karena tetap hadiahnya dari kami" ucap Reno tidak setuju.
"Oke lombanya dimulai" ujar Maggie bersemangat.
"Lah, kita kan belum deal soal hadiah mana bisa mau mulai sekarang?" protes Reno.
"Cih, percuma jadi CEO di perusahaan besar, gini aja takut" ucap Maggie menantang.
"Siapa takut, oke?" ucap Alfa tidak mau diremehkan.
Kenapa daddy-nya bisa termakan sama anak sendiri? baru juga diumpan langsung lupa daratan, pantas saja anaknya dengan mudah mengelabuinya. Batin Reno. Sedangkan Maggie tersenyum licik karena berhasil membuat Daddy-nya masuk perangkap.
Lomba pun dimulai, masing-masing serius dengan alat mancingnya sendiri.
"Bang, ayo kita kerjain si Kaka kalau kita udah dapat ikannya" ucap Daffi setengah berbisik agar tidak didengar oleh yang lain.
"Iya betul, gimana wajahnya kalau dia bisa terkalahkan. Secara Kaka itu nggak pernah mengalah dan nggak mau kalah" jawab Daffa sambil terkekeh mengingat wajah imut sang Kaka yang ngambek.
"Aku apa kamu yang duluan?" tanya Daffa.
"Sama-sama aja sih" jawab Daffi.
"Yeii aku dapat ikannya!!" seru Daffi heboh, belum juga suara Daffi putus, Daffa lagi yang berteriak.
"Aku juga!!" teriak Daffa dan semua mendadak melihat ke arah mereka namun tidak dengan Maggie yang membuang muka membuat si kembar mendadak tertawa terbahak-bahak.
"Kenapa bang, Ade" tanya Alfa ikut penasaran.
Daffi yang masih tertawa hanya menunjuk ke arah kalanya menggunakan bibirnya, semua mata kembali beralih ke arah gadis kecil itu namun semua mendadak diam dan tidak bisa tertawa karena melihat taringnya yang mulai keluar. Alfa akhirnya mengerti ternyata si kembar hanya mengerjai sang Kaka.
Dalam keadaan emosi karena orang-orang menertawainya, tiba-tiba alat mancingnya mendadak terasa berat, dengan tenang dan perlahan ia mulai menarik kailnya dan mengangkat tiba-tiba ternyata ada seekor ikan berukuran jumbo yang sudah bergantung di sana.
"Yeeess Kaka dapat benaran" serunya membuat semua orang melihat ke arah kailnya dan ternyata betu.
"Wah ka Maggie hebat loh" ucap Ike memuji.
"Ya iyalah Kaka gitu loh" ucapnya bangga dengan diri sendiri.
"Cihh tadi aja hampir nangis saat dikerjain sama kita" ucap Daffi mencibis sang Kaka.
"Tapikan ga dapat benaran. Makanya jangan coba-coba menantang Maggie Pradania Adipaty" ucap gadis kecil itu memberitahukan bahwa ia yang selalu unggul dalam segala hal.
"Ayo waktunya belum habis jadi kita harus lanjut mancingnya" ucap Alfa.
"Ahh ga bisa, Kaka udah cape" ucapnya sambil menjauh dari kolam itu.
"Dad, bantuin dong? lepas ikannya dari kail" ucap Maggie.
"Lepas aja sendiri" ucap Daffi.
"Ka Maggie, Ade Ike makan ikannya juga kan?" ucap Ike yang malah pergi begitu saja meninggalkan kailnya di pinggir kolam.
"Iya" jawab Maggie singkat sambil melihat Alfa melepas ikat tersebut dari mata kail.
Setelah melewati drama lomba pancing yang cukup lama akhirnya dua keluarga itu memilih mengakhiri perlombaan dan duduk santai di rumah bulat yang ada di dekat kolam itu.
Kedua ibu Rumah Tangga itu peka dengan keadaan sehingga mereka masuk ke dapur untuk menyiapkan jus, camilan dan buah
Mereka menikmatinya bersama-sama sambil bersenda gurau antara satu dengan yang lain.
Matahari mulai menyondong ke arah barat dan itu tandanya hari mulai senja. Keluarga Reno berpamitan untuk pulang ke rumah mereka padahal si kecil Ike belum mau pulang
"Papi, Ade bobo sama ka Maggie ya?" rayu Ike pada sang papi.
"Mana bisa gitu nak? masa kamu tega ninggalin papi sama mami sendirian?" ucap Reno yang memang tidak pernah terpisah sama
puterinya apalagi semenjak Novi keguguran dan dinyatakan tidak bisa punya anak lagi, di situ Reno sangat posesif pada Puteri kecilnya itu.
"Iihh papi nyebelin, cuma semalam aja loh Pi?" ucap Ike yang masih merayu sang papi.
"Kamu mau papi sama mami tinggalin ke opa Oma di Indo?" ucap Reno membuat sang Puteri langsung bergegas mendahului mereka ke depan lebih tepatnya di parkiran mobil papinya.
Setibanya di halaman depan Ike langsung masuk ke mobil
"Ka Maggie, nanti ke lumah Ike ya?" teriak gadis kecil itu sebelum masuk ke dalam mobil papinya.
"Lihat aja deh? aku sibuk" ucap Maggie dengan tidak mengalihkan perhatian dari ponsel cantiknya.
"ihhh ka Maggie nyebelin kaya ka Daffa." seru Ike dengan wajahnya yang dibuat-buat.
Cih apa hubungannya sama aku? dasar cewek aneh. Batin Daffa kesal.
"Cih, kenapa sifatmu tidak nurun dari ka Novi aja sih?" gerutu Maggie.
"Emang sifat Ike kaya siapa sih?" umpan Alfa yang tahu maksud puterinya.
"Kaya papinya lah?" ucap Maggie membuat Reno yang hendak masuk mobil langsung menghentikan niatnya.
"Emang om Reno kenapa ka?" tanya Reno ingin tahu.
"Ya om Reno itu kalo buat kesalahan sering tidak nyadar" ucap Maggie santai.
"Alfa, kenapa puterimu belum juga berubah sih?" Tanya Reno pada Alfa karena tidak mampu menjawab Maggie
"Ya masa anak gue harus berubah jadi kodok gitu?" ucap Alfa yang malah mendapat tatapan tajam dari sang anak.
"Cih emang kalau Kaka kodok lalu Daddy apa coba?" cibir Maggie membuat Alfa salah tingkah.
"Oke, kami pamit ya?" ujar Novi menengahi perdebatan sebelum memanas.
Keluarga Reno akhirnya pulang ke rumah mereka dengan kebawelan sang anak yang menjadi hiburan mereka sendiri di dalam mobil itu hingga tiba di rumah.
Sementara keluarga Alfa, masing-masing kembali masuk ke kamar mereka untuk membersihkan diri setelah seharian melakukan aktivitas keseruan mereka.
****
Bersambung