
Sesuai yang Oma Ratna katakan, mereka akhirnya berhasil membawa opa Gaston tiba di London dan lebih tepatnya di salah satu Rumah Sakit milik keluarga Adipaty.
Masing-masing kembali ke negara asal kecuali Al, Rockzy, Maggie dan Oma Ratna.
"Dad, gimana keadaan opa sebelum dibawa ke sini?" tanya Maggie yang memang tidak tahu keadaan sang opa selanjutnya setelah operasi kemarin hingga diterbangkan ke London.
"Seperti biasa, opa masih dalam masa komanya. Kita doakan biar opa cepat sembuh" ucap Alfa memberi pengertian kepada sang Puteri. Bagaimanapun gadis itu pernah tinggal bersama pria itu selama 7 tahun sehingga ikatan perasaan mereka sudah cukup kuat.
"Beberapa jam sebelum musibah itu terjadi, opa masih sempat menelepon kaka, katanya kaka harus cepata menikah selagi dia masih kuat. perasaan kaka jadi nggak enak, semoga opa cepat sembuh dan bisa hadir di acara pernikahan kaka nanti" ucapnya dengan sedih.
"Iya kita doakan ya sayang? Emang kaka sama Roberth sudah berencana untuk kapan menikah?" tanya Alfa penasaran karena waktu itu Roberth dan keluarganya hanya membicarakan tentang lamaran dan belum soal pernikahan.
"Iya, rencananya dalam waktu dekat. Tapi sepertinya kaka harus menunggu hingga opa sembuh" jawab Maggie.
"Demi kaka, opa pasti cepat siuman" ucap Alfa yang tengah duduk sambil merangkul sang Puteri.
"Apa kaka memberitahukan kepada Roberth soal kepergian kaka ke Mexico?" tanya Alfa pura-pura tidak tahu.
"Kaka lupa dad" jawabnya dengan gaya seolah baru menyadari kesalahannya itu.
"Jangan seperti itu nak, seorang pria akan merasa bosan jika berpikir dirinya tidak dihargai. cepat hubungi dia sekarang" perintah Alfa. Sesayang-sayangnya Alfa kepada sang Puteri tapi ia juga tetap tegas agar puterinya tidak melakukan kesalahan apalagi ini menyangkut pasangan hidup yang selamanya akan bersamanya, jadi Alfa tidak mau puterinya itu main pergi-pergi saja tanpa berita.
"Iya dad, maaf kaka benar-benar lupa" ucap Maggie sambil mengeluarkan ponselnya.
Beberapa kali ia menghubungi nomor ponsel sang kekasih namun tidak ada jawaban. Tanpa terasa air matanya menetes menyesali perbuatannya. Alfa merasa ubah dengan puterinya namun ia diamkan agar itu menjadi pelajaran supaya kelak jangan terulang kemabli.
Alfa akhirnya memberi pengertian kalau di sana sudah tengah malam jadi wajar kalau Roberth tidak menerima telepon karena Indonesia lebih cepat 7 jam dari waktu di London.
"Sayang, mungkin dia sudah tidur karena di sana sudah tengah malam" jelas Roberth. Gadis itu hanya mengangguk tanpa menjawab.
.
.
.
kini sudah hari yang keempat opa Gaston dirawat di London.
"Opa, cepat sembuh ya? opa kan sudah janji sama kaka untuk mempercepat pernikahan kaka. Kalau opa bangunnya lama, bisa-bisanya dia malas menunggu kaka dan pergi sama cewek lain" Gadis itu mengaduh kepada sang opa karena semenjak ia menelepin kekasihnya beberapa hari yang lalu dan tidak diangkatnya, Roberth malah tidak menghubungi balik kepada Maggie.
Alfa pun sudah kembali ke Australia dan kini tinggal Maggie dan Rockzy yang menjaga opa Gaston. Oma Ratna dan suaminya akan datang setiap hari jika sudah selesai dengan pekerjaan mereka.
"Opa, apakah opa akan tidur terus seperti ini? kaka sih nggak apa-apa ngejaga opa setiap hari jika opa pengen tidur aja dan nggak mau bangun. Tapi opa janji ya harus membayar kaka karena sudah menjaga opa" ucapnya yang sudah melas dengan kebiasaannya setiap hari.
Ya awalnya dokter bercerita jika untuk membuat orang koma cepat sadar adalah mengajaknya berbicara agar cepat bangun dari alam bawa sadarnya. Sejak saat itu, Maggie terus mengajak sang opa untuk berbicara walaupun tidak di jawab.
Omongan macam apa? minta bayaran dari orang yang tidak sadar. Gerutu Rockzy dalam hati.
"Maggie, apa kamu sudah lapar?" tanya Rockzy.
"Ya lapar lah" jawabnya.
"Aku pesan makan ya?" tanya Rockzy.
"Iya, tapi yang enak" pesannya membuat Rockzy memutar bola matanya malas dengan keinginan Maggie.
Setiap hari mereka bergantian untuk menjaga opa yang belum juga sadar.
Apa Roberth sudah melupakanku? aku sudah meneleponnya tapi ia sama sekali tidak menelepon balik ke aku. Batin Maggie yang sangat sedih. OmabRatna dan opa Alberth yang harus saja tiba dan mendapati cucu mereka tengah melamun hanya diam tanpa mengganggunya.
Sesekali ia mengusap air matanya, mengingat jalan hidupnya yang cukup rumit sejak dari kecil.
"Ehhh Oma, opa... sudah datang?" tanya Maggie yang baru menyadari kehadiran kedua orang tua daddynya.
"Sudah sayang. Apa yang kaka pikirkan?" tanya Oma Ratna.
"Nggak, kaka baik-baik aja, Oma" ucap Maggie berusaha menyembunyikan suasana hati dari kedua orang tua itu.
"Oke baiklah, makanlah dulu. Oma bawakan makanan buat kalian berdua. Mana Rockzy?" tanya Oma sambil menyiapkan makanan untuk cucu dan keponakannya.
"Tadi dia keluar katanya cari makan" jelas Maggie yang bertepatan dengan masuknya Rockzy membawa dia kresek berisi makanan dan juga camilan.
"Ayo makan dulu" ajak Oma dan kedua anak muda itupun akhirnyaenikmayi makanan yang ada.
"Maggie, jika kamu ingin pulang ke Indonesia, biar aku yang menjaga papa" ucap Rockzy yang sebenarnya tahu apa yang menjadi beban pikiran gadis yang sudah dia anggap sebagai saudaranya itu.
"Nggak, aku akan menunggu sampai opa siuman" ucapnya tegas.
"Baiklah, tapi kamu tidak apa-apa kan?" tanya Rockzy. Oma dan opa hanya menyimak apa yang mereka perbincangkan di sana.
"Nggak, aku baik-baik aja" jawabnya lagi.
Di tempat lain
Roberth yang beberapa hari ini sibuk dengan tugas kantor dan sering pulang larut malam.
"Nak, jangan terlalu gila untuk bekerja, kasihan juga tubuhmu" nasehat mama saat sarapan pagi.
"Ma aku harus menyelesaikan semua pekerjaan kantor dari sekarang biar nanti urusanku tak terhambatnoleh pekerjaan" jawab Roberth.
"Kan ada papamu sayang. Justru kamu harus menjaga kesehatan agar hari H kamu nggak sakit" ucap mama.
"Issshhh isi kepala kaka hanya untuk pernikahan tapi giliran ditelepon sama ka Maggie nggak mau angkat" cibir Ike yang tahu jika selama ini kakanya itu masih belum Terima dengan tindakan sang kekasih yang pergi tanpa berita.
"Jadi kalian lagi ada masalah ya?" tanya mama.
"Boy, papa harap apa yang bukan masalah jangan dibuat jadi masalah." ucap papa Arjo tegas.
"Iya pa, aku hanya kecewa aja sama dia yang pergi tanpa memberitahu ku" jawab Roberth.
"Apakah kepergiannya hanya untuk kesenangannya atau memang ada hal penting yang dia harus lakukan" tanya papa Arjo penuh selidik.
"Ka Maggie pergi untuk menyelamatkan opanya yang diculik oleh si El Chapo itu dan sekarang opanya sudah dibawa ke London dalam keadaan koma" jelas Ike mewakili sang kaka. Penjelasan Ike membuat papa Arjo naik darah karena tidak mengerti dengan puteranya yang mengutamakan perasaannya ketimbang keselamatan Maggie yang menghadapi orang yang paling ditakuti dimuka bumi ini. Papa Arjo tahu siapa itu El Chapo karena pamannya sempat bekerja sama dengan orang itu.
"Roberth.. Papa tidak mengerti dengan jalan pikiranmu. Apa kamu tahu keadaan Maggie sekarang jika kamu tidak mengangkat teleponnya? Apa kamu tahu dia baik-baik saja ataukah sedang terluka karena menghadapi pria itu?" ucap papa Arjo geram dan langsung pergi dari ruang makan.
Deg
Roberth tercekat mendengar ucapan papanya yang menyinggung tentang keadaan sang kekasih. Ia pun langsung pergi dari sana dan sedikit berlari ke kamar mengambil ponselnya untuk menghubungi sang kekasih.
"Kamu tahu dari siapa sayang?" tanya mama kepada Ike yang masih ada di ruang makan karena heran dengan kedua pria beda generasi yang sudah pergi tadi.
"Papa juga ikut untuk membantu menyelamatkan opa di Mexico" jelas Ike.
"Hah?" ujar mama Roberth kaget.
"iya tante" jawab Ike.
Bersambung