Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
126. Pertemuan Keluarga



Kehidupan Alfa berubah 180° dari sebelumnya. Pria itu kini sudah bahagia dengan isteri dan ketiga anaknya.


Siang ini Alfa Mey kembali menjemput Maggie karena mereka berencana untuk membawa anak-anak ke taman bermain. Sebelumnya Mey sudah menyiapkan pakaian ganti untuk puterinya dan ditaruh di mobil.


Setelah menempuh waktu setengah jam, mereka akhirnya tiba di gerbang sekolah dan anak-anak sudah keluar sehingga suasana sangat ramai karena para orang tua yang antrian menjemput anak-anak mereka.


Alfa akhirnya membawa anak-anaknya ke taman bermain. Namun sebelumnya mereka makan siang terlebih dahulu.


"Daddy!!!" teriak Maggi karena Alfa sudah lebih turun dan malah menikmati pemandangan.


"Masih tanya apa lagi, udah tahu punya anak main tulun aja, ni gandong Daffi" geruru Maggie karena Daffi yang aktif membuatnya kewalahan saat akan berganti membuka pintu mobil.


"Iya ratu" Alfa pun ikut gerutu karena anak gadisnya itu suka mencibirnya.


"Akhhh Daffi kamu berat, sana ke daddymu" ucap Maggie sedikit berteriak karena adiknya itu menindihnya. Sedangkan Daffi malah berceloteh dengan suara tidak jelas.


Antara Daffa dan Daffi, banyak pebedaan sifat. Jika Daffi anak yang suka ribut seperti Maggie maka beda dengan Daffa yang aura pemimpinnya sudah muncul dari sekarang. Anak lelaki kecil itu, tidak banyak bersuara, ia lebih banyak menunjukan wajah dinginnya.


Maggie sering menainya patung es karena saat ketiganya bermain ci luk ba, Daffa tidak sekalipun tertawa.


Setelah membawa anak-anak ke tembat bermain para baby, Mey menemani puterinya ke toilet agar Maggie bisa berganti.


Mereka menghabiskan waktu hingga sore menjelang dan mereka akhirnya pulang ke rumah. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang sejak tadi mengawasi mereka.


Ternyata oma Ratna dan opa Alberth sudah ada di mansion Smith dan sedang mengobrol dengan opa David dan oma Ani.


"Omaaa" seru Maggie sambil berlari ke arah oma Ratna dan langsung duduk di pangkuan omanya.


"Apa kabar sayang?" tanya oma kepada cucu terbesarnya.


"Kulang baik oma" jawabnya senduh.


"Lah kenapa? kan baru pulang dari taman bermain?" ucap oma Ratna heran.


"Sahabat kaka udah pindah sekolah dan ta bilang-bilang" jawabnya lirih.


"Oh jadi puteri daddy galau nih?" ucap Alfa yang ikut nimbrung setelah menaruh babay Daffi di pangkuan opa Alberth.


Yang diledek langsung mengeluarkan taringnya. Gadis kecil itu menatap daddynya tajam sampai pria yang berstatus daddy itu salah tingkah.


"Al, mama ingin bicara serius sama kamu" ucap oma Ratna saat Maggie dan kedua adiknya sudah berpindah tempat ke karpet bulu yang tak jauh dari jangkauan mereka. Ketiga penerus keluarga Adipaty dan Smith itu tengah bermain bersama.


"Apa ma?" tanya Alfa penasaran begitu juga Mey.


"Apa kau mencintai isterimu?" tanya oma Ratna.


Deg


Kali ini Mey yang terguncang, wanita beranak 3 itu sudah berpikir yang macam-macam.


"Maksud mama?" tanya Alfa dengan nada sedikit geram.


"Jawab saja apa yang mama tanyakan kepadamu." ucap mama Ratna tegas.


"Aku sangat mencintai isteriku dan juga anak-anakku" ucap Alfa tegas.


"Baiklah, mama harap baby twin tidak menjalani hidup seperti puterimu dulu yang kurang kasih sayang" ucap mama membuat Alfa kembali membayangkan beberapa tahun yang lalu saat ia sama sekali tidak peduli pada anak gadis itu bahkan ia sering mengatakan kalau puterinya itu anak sialan.


Tanpa sadar Alfa meneteskan air mata.


"Daddy kenapa menangis?" tanya Maggie yang melihat daddynya tengah menghapus air mata.


Gadis kecil itu melangkah mendekat ke arah para orang tua yang duduk di sana. Alfa langsung membawa anaknya ke dalam pelukannya dan menangis.


"Daddy minta maaf sayang. Daddy banyak salah sama kamu" ucap Alfa dalam tangisnya. Bukan baru kali ini, Alfa sering meneteskan air matanya dalam diam ketika melihat puterinya yang tumbuh dengan baik. Kesalahan masa lalunya selalu mengganggu hidupnya karena itu, Alfa lebih menyayangi puterinya. Alfa juga diam-diam membangun sebuah hotel yang mewah di tempat dulu Maggie dan Mey tinggal waktu di pantai. Hotel itu dikhususkan untuk puterinya karena di atas pintu masuk hotel itu terlukis nama puterinya.


Maggie melepaskan pelukan daddynya dan menghapus air mata didekat hidung Alfa.


"Ieewww, ternyata ingus coi" ucap Maggie dengan ekspresi yang dibuat-buat, membuat Alfa menatap tajam puterinya.


"Kaka" ucap Alfa geram.


"Betul daddy, ini ada ingusnya coba dirasa pasti asin" ucap gadis itu santai sambil memberi ibu jarinya yang terdapat air mata itu ke arah daddynya, dan hal itu sukses membuat semua orang tertawa terbahak-bahak.


Sepasang anak dan daddy itu saling menyayangi namun cara mengekspresikan rasa sayang mereka itu sangat menggelikan.


Maggie akhirnya mengambil tisu di atas meja dan membersihkan jarinya lalu kembali berkumpul bersama kedua adiknya.


Oma berkaca-kaca melihat cucunya yang kini sudah semakin besar.


"Dia sudah besar" ucap oma Ratna dan hal itu kembali membuat Alfa sendu.


"Aku akan menjaga mereka berempat sekuat tenaga, kalaupun harus dengan nyawa" ucap Alfa sungguh-sungguh sambil mengeratkan genggamannya di telapak tangan isterinya.


*


*


*


"Papi kenapa mi" tanya seorang anak laki-laki yang baru turun bersama maminya dari kamar di lantai atas.


"Tidak tahu sayang" jawab mami karena memang ia juga tidak tahu.


"Opa, kenapa marah papi?" tanya anak lelaki kecil itu.


"Bukan opa pelakunya sayang" ucap opa membela diri di depan cucu buyutnya yang sudah duduk di sampingnya sedangkan isteri Arjo duduk di samping suaminya.


"Opa, aku mohon" ucap Arjo sekali lagi.


"Pergilah ke pantai, di perkampungan nelayan, kamu akan bertemu mereka" jelas opa.


"Sayang, aku akan jelaskan semuanya tapi aku harus menemukan ayah, dia dalam bahaya" ucap Arjo pada isterinya dan tidak lupa memberi kecupan untuk pendamping hidupnya itu.


"Iya mas, hati-hati dan jangan ngebut" pesan isteri.


Arjo melangkah pergi dengan tergesa-gesa. Sepanjang perjalanannya ia terus merutuki dirinya. Setiap kata-kata Novi kembali berputar di otaknya.


Ya bisa dibilang begitu, aku hanya ingin meminta sumbangan dari seorang anak yang tidak pernah mengakui ayah kandungnya sendiri, aku meminta sumbangan untuk menyelamatkan nyawa dari ayah yang malang itu, tapi jika anaknya punya hati kalau dia ada saat ini karena ayahnya.


Aku tidak pernah mengharapkan kamu untuk mengakuiku sebagai adik karena walaupun kita terlahir dari satu ayah tapi kita tetap hidup dari rahim yang berbeda. Aku tidak tahu dendam apa yang kau simpan untuk ayah kandungmu sendiri, sehingga kau punya segalanya, berlimpah makanan dan uang namun ia harus mengais rejeki dengan mempertaruhkan nyawanya di tengah lautan hanya untuk mendapat seekor ikan yang bisa dijual untuk sesuap nasi.


Kata-kata yang mampu mematahkan ego seorang Arjo. Ia berharap masih ada kesempatan untuknya merawat ayahnya.


"Tuhan, beri aku kesempatan untuk bisa bertemu dengan ayah" gumam Arjo.


BERSAMBUNG