
"Ka Daffa, lihat Ike dong" ucap Ike memelas karena sejak tadi Daffa hanya fokus dengan ponselnya untuk bermain game.
Daffa hanya melirik gadis kecil itu sekilas namun dengan tatapan yang tajam. Ia malah tetap pada posisinya dan kembali memainkan ponselnya itu tanpa satu katapun yang ia keluarkan untuk menjawab Ike.
"Iiihh ganteng ko galak sih ka?" ucapnya lagi untuk memancing pria kecil itu berbicara namun sama sekali tidak berhasil.
"Ayo main sama ka Daffi aja de?" ajak Daffi pada Ike.
"Oke deh, ka Daffi lebih pengeltian." ucap Ike memuji Daffi membuat Daffa kembali menatapnya dengan tajam. Ike yang dasarnya sedikit emosi dengan sikap dinginnya Daffa memilih untuk tidak meresponnya.
Daffa terus mengawasi gerak girik kembarannya bersama Ike saat bermain bersama. Daffi seperti cowok macho yang selalu jadi heronya Ike membuat gadis kecil itu yang awal-awalnya tidak suka dengannya mulai merasa nyaman.
"Ayo anak-anak makan sudah siap ni" panggil Mey kepada anak-anaknya dan juga Ike.
"Hole kita makan, Tante Mey baik banget deh" puji Ike sambil berlari lebih dahulu ke meja makan.
"Cih, cantik tapi rakus" gerutu Daffa sambil menatap gadis kecil yang sudah pergi lebih dahulu.
"Awas ditikung Daffi, tahu rasa lho" cibir Maggie yang sejak tadi serius dengan laptop pintarnya. Maggie mematikan laptopnya dan melangkah pergi menyusul Daffi dan Ike ke ruang makan.
Daffa akhirnya menyusul mereka dengan gaya sok dewasanya.
Novi menuju ke dua pria yang sedang bercerita itu untuk mengajak mereka makan siang bersama.
"Pa Alfa, ka Reno.. makannya sudah siap" ucap Novi yang sudah berdiri di depan mereka.
"Ayo Ren, kita makan dulu." ajak Alfa yang sudah berdiri dan mendahului sepasang suami-istri tersebut.
Semua sudah duduk di ruang makan sambil menundukkan kepalanya masing-masing untuk berdoa sebelum makan, hal itulah yang Mey ajarkan pada anak-anak dan juga suaminya. Novi yang cukup lama tinggal bersama Mey pun akhirnya menerapkan hal yang sama di keluarga kecilnya jadi itulah yang mereka lakukan setiap kali beraktivitas.
"Selamat makan semuanya" ucap Ike dengan suara cemprengnya. Yang lain merespon dengan baik namun tidak dengan Daffa yang merasa sangat terganggu dengan suara berisik itu.
"Selamat makan Ade Ike" ucap Daffi yang selalu memberi yang tebaik buat Puteri kecil Reno.
"Habis makan ajak Ike ke kamar kaka ya?" ucap Ike sambil menatap ke arah Maggie.
"Tidak boleh bicara saat makan" ucap Daffa membuat semua orang menatap ke arahnya.
Semuanya akhirnya makan dengan tenang hingga selesai.
"Bagaimana kalau hari ini kita lomba mancing di kolam yang ada di belang mansion." usul Maggie kepada para orang tua. Ia mencari alasan agar mereka tidak keluar hari ini.
"Setuju ka, aku sama ka Daffa" ucap Ike sambil melompat kegirangan.
Alfa meminta dua orang laki-laki pekerja di mansion itu untuk mengambil alat mancing seduai jumlah mereka yang akan bertarung.
"Dad, pasang umpan di alat mancing Kaka dong?" ucap Maggie kepada Alfa saat semua perlengkapan sudah di bawa ke taman belakang dekat kolam itu.
"Mana ada begituan? kan kita lagi mau lomba jadi masing-masing pasang" ucap Alfa pada puterinya.
"Yee kalau Kaka sama mommy kalah juga Daddy yang malu karena punya isteri sama anak yang ga bisa ngapa-ngapain" ucap Maggie menantang sang Daddy.
"Ucapan macam apa itu ka? kan lawan lombanya kelompok Daddy" ucap Alfa yang masih mengelak.
"Cih kalau Daddy yang menang ikannya jangan kasih mommy yang masak ya? Daddy masak sendiri karena Daddy ga mau bantuin kami" ucap Maggie membuat Alfa akhirnya mengalah dan memasang umpan di alat mancing isteri dan anak gadisnya.
"Nah gitu dong, dari tadi kan bagus kenapa harus debat dulu" ucap Maggie membuat sang Daddy memutar bola matanya malas.
"De, sini papi pasangin punya Ike" ucap Reno pada anaknya saat sambil memasang punya isterinya.
"No, Ade mau ka Daffa aja yang pasangin" ucap Ike sambil memegang alat mancingnya sambil berdiri di samping Daffa yang sedang duduk memasang punyanya.
Entah angin apa yang membuat Daffa yang sadar atau tidak langsung mengambil alih punya Ike setelah menyelesaikan miliknya sendiri.
Ike merasa berbunga-bunga dan langsung duduk di samping Daffa untuk melihat pria kecil itu memasang umpan di alat mancingnya.
Pemandangan yang sangat berbeda membuat semua yang ada di sana menatap mereka dengan senyuman.
"Ka Daffa baik bangat" ucap Ike yang duduk di samping Daffa sambil menatap dengan serius wajah pria kecil itu, namun yang ditatap tidak ambil pusing.
"Nih, cepat jauh-jauh sana" ucap Daffa sambil memberikan alat mancing gadis kecil itu dan mengusir Ike yang masih duduk di sampingnya.
"Ike cabut bahasa Ike yang tadi" ucapnya dengan geram.
"Bahasa apa?" tanya Daffa bingung karena tiba-tiba gadis kecil itu marah.
"Ka Daffa jahat, ka Daffa nyebelin ga kaya ka Daffi!"serunya sambil melangkah pergi dengan perasaan dongkolnya.
"Cih, baru satu menit akur, kenapa sekarang jadi berantam?" gerutu Maggie.
Siang itu mereka menghabiskan hari libur mereka dengan duduk di pinggir kolam untuk lomba memancing.
BERSAMBUNG