
Maggie kini tengah menikmati makan malam dengan Bu Lusi di rumah yang sederhana itu.
"Makan berdua memang nikmat ya?" ucap bu Lusi membuat tangan Maggie yang sedang akan menyuapkan makanana mendadak berhenti.
"Iya Bu, sudah lama bahkan sejak aku masih sebelas tahun, itu terakhir kali aku makan bersama kedua orang tuaku dan adik-adikku" ucap Maggie sedih.
"Jangan sedih, pasti ada saatnya kamu kumpul sama mereka" ucap Bu Lusi pada akhirnya karena terlanjur membuat gadis cantik itu sedih.
"Iya Bu, aku juga berharap begitu" jawab Maggie sambil menyuapkan makanan di sendok yang sempat tertunda tadi.
Keduanya makan sambil terus berbincang hingga makan mereka selesai.
Maggie akhirnya melangkah ke kamarnya untuk beristirahat sedangkan Bu Lusi kembali membereskan meja makan.
Gadis itu kini berada di ranjangnya sambil menatap-natap ke atas plafon rumah entah apa yang dia pikirkan.
"Ternyata jadi orang kaya tidaklah gampang. Saat mommy masih jadi wanita sederhana, kami sangat menikmati kebersamaan tanpa ada yang mengganggu, namun sejak bertemu opa semua berubah, ketenangan hidup mommy jadi terancam. Aku sebagai anak Daddy dan mommy harus merasakan demikian. Aku punya orang tua tapi harus hidup seperti anak yatim-piatu" gumam Maggie mengingat kembali masa-masa dimana ia dan mommynya tinggal di daerah pantai waktu itu. Kehidupan normal yang ia jalani walaupun tanpa daddynya. Bisa menikmati sunset burdua dan bisa bermain bersama teman-temannya.
"Apa kabar kamu sekarang? aku tidak menginginkan lebih, cukup melihatmu dari jauh, kalaupun kamu sudah tidak sendiri lagi." gumam Maggie lagi penuh harap.
Gadis itu akhirnya tertidur namun harus kembali membuka matanya saat ponsel cantiknya berbunyi.
"Halo Oma" ucap Maggie begitu telepon tersambung.
"Kaka lagi apa?" tanya Oma.
"Baru saja mau tidur Oma" jawab sang cucu.
"Apa kamu bisa ke mansion Adipati sekarang" tanya Oma.
"Hah? Oma lagi di Indonesia?" ucap Maggie kaget bercampur bahagia. Walaupun tidak bertemu orang tuanya, setidaknya bisa bertemu sang Oma.
"Iya sayang, kamu bisa datang sekarang. Mumpung sudah sepi jadi kamu tidak ketahuan." jelas Oma.
"Iya Oma, aku ke sana sekarang" ucap Maggie dan langsung berganti bajunya dan keluar dari kamar.
"Mau ke mana nak?" tanya Bu Lusi yang belum masuk kamar.
"Aku pergi dulu ya Bu, mungkin akan pulang esok." pamit Maggie.
"Hati-hati di jalan ya nak?" ucap Bu Lusi.
Gadis cantik itu akhirnya pergi dengan motornya yang sudah di antar oleh orang suruhan di depan gang masuk kontrakannya.
Setelah memakan waktu yang cukup lama akhirnya tibalah Maggie di depan mansion tempat tinggalnya waktu kecil dulu.
Semua orang di manaion yang tidak mengenal Maggie yang sekarang, memilih untuk tidak membuka gebang kepadanya, apa lagi dengan gayanya seperti sekarang membuat orang semakin curiga kalau dia adalah penyusup.
"Woiii buka gerbangnya!!! Budek ya?" teriak Maggie marah-marah karena penjaga yang di gerbang itu masa bodoh dengan kehadirannya.
Maggie yang sudah habis kesabaran, apalagi malam semakin larut, akhirnya memarkirkan motornya dengan baik dan langsung melompat naik ke atas pagar rumah itu, sehingga membuat kegaduhan di depan mansion.
Gadis yang malas tahu itu malah masuk dengan gampangnya namun langsung dicegat oleh para penjaga di sana.
"Hei mau apa kamu masuk ke sini?" teriak salah seorang dari mereka saat Maggie ancang-ancang hendak masuk ke mansion itu.
"Yeee ngegas lagi, dari tadi sudah aku teriak-teriak malah keasyikan sendiri. Giliran aku udah berusaha sendiri baru ngomong banyak" gerutu Maggie sambil terus melangkah menuju pintu utama.
Tiba-tiba Maggie melihat bayangan yang sepertinya akan menyerangnya sehingga terjadilah acara baku hantam di depan mansion itu.
Sementara di dalam mansion, yang lain sudah pulas kecuali Oma yang masih terjaga karena sudah menghubungi cucunya untuk datang malam ini.
Setelah melihat keadaan di luar, Alfa sempat terkejut namun juga senang karena gadis kecilnya kini ada di depan matanya dan sedang bertarung dengan orang-orangnya.
Pria itu malah asyik menikmati tontonan oleh puterinya yang kini bertarung di depan mansion.
"Rupanya puteriku sudah dewasa, akhh aku malah ingin dia tetap kecil biar bisa berdebat dengannya setiap hari" gumam Alfa sambil terkekeh karena membayangkan masa-masa itu.
Tiba-tiba Oma sudah ada di belakangnya sambil menggelengkan kepala melihat puteranya yang tidak menghentikan pertarungan malah menontonnya.
Maggie akhirnya berhasil menumbangkan beberapa orang dalam waktu kurang dari sepuluh menit.
Gadis itu memperbaiki penampilannya yang berantakan akibat karena pertarungan tersebut.
"Cih menyusahkan" gumamnya yang belum menyadari kehadiran Daddy serta Omanya.
.
.
"Oma? Daddy? kenapa cuma liatin Kaka di serang sih?" gerutu Maggie begitu melihat kedua orang itu berdiri di sana.
"Mana Daddy tahu kalau itu kamu? Daddy aja baru tahu dari Oma. Kan yang Daddy kenal Puteri Daddy itu bulat pendek, lah sekarang udah jadi begini" jelas Alfa membela diri padahan seminggu bisa dua atau tiga kali mereka melakukan video call.
"Enak saja, kamu memang menginginkan Maggie di serang buktinya tadi kamu senyum senyam sendiri" ucap Oma ikut menggerutu sang putera karena melibatkannya dalam perdebatan mereka.
"Daddy emang gitu Oma." ucap Maggie mengasuh.
(Ku tarik kembali ucapan ku tadi soal. Ternyata Kaka tidak pernah berubah dan masih tetap ingin berdebat dengan ku.) batin Alfa
"Daddy lagi mikir yang jelek tentang Kaka kan?" selidik Maggie.
"Kaka? oh sayangnya mommy" ucap Mey yang baru keluar dari dalam dan langsung menghambur memeluk Puteri semata wayangnya.
Mey bahkan sudah menangis terisak karena setelah sekian lama akhirnya ia kembali merasakan pelukan sang Puteri.
"mommy sehat kan?" itulah ucapan yang keluar dari bibir Maggie. Orang pertama yang selalu membuatnya khawatir adalah keadaan sang mommy. Wanita yang selalu ada disaat mereka susah dan senang.
"Sehat sayang, Kaka juga sehat kan? mommy sangat merindukanmu" ucap Mey dengan sesugukan, membuat Oma dan Alfa ikut berkaca-kaca.
"Ayo masuk, angin malam tidak baik untuk kesehatan kulit." ajak Alfa mengalihkan suasana agar ia tidak baper dengan keadaan saat ini.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mansion dengan Mey yang tidak melepaskan pelukannya dari Puteri kecilnya.
Setelah tiba di ruang keluarga, Maggie melepaskan pelukannya dari wanita yang melahirkannya dan beralih memeluk sang Oma.
"Maafkan Oma yang sudah merebut kebahagiaanmu bersama keluargamu" ucap Oma kembali membayangkan tujuh tahun lalu saat ia memisahkan dengan paksa gadis kecil itu dengan keluarganya.
"Nggak apa-apa Oma, dengan itulah Kaka menjadi gadis yang kuat dan mandiri." ucap Maggie tidak ingin sang Oma sedih.
Maggie pun melepaskan pelukannya dari sang Oma dan langsung berhambur ke dalam pelukan Daddy-nya. Alfa merasa antara sedih dan bahagia karena Puteri kecilnya pasti sangat merindukannya.
"Dad, Kaka rindu mau debat sama Daddy" ucap Maggie dengan tawa bercampur air mata.
"Rindu apa yang aneh begitu? tapi Daddy benar-benar merindukanmu sayang. Kaka tetap Puteri kecil Daddy sampai kapanpun, tetap hati-hati sayang walaupun Kaka bisa menjaga diri sendiri, karena tidak setiap saat Daddy ada sama Kaka." ucap Alfa dengan suara bergetar dan matanya kembali berkaca-kaca.
"Iya dad, Kaka sayang Daddy" ucap Maggie kembali mengeratkan pelukannya.
BERSAMBUNG