Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
143. Mengurus Si Kembar



"Sayang" panggil Reno pada isterinya yang masih berdiri dengan pakain pengantin yang masih melekat di tubuhnya.


"Kenapa belum tidur? ini lagi pakaiannya belum di ganti" ucap Reno mend3kat ke arah sang isterinya padahal jam sudah menunjuk pukul 2 tengah malam.


"Aku tidal bisa membukanya. Kanvingnya terlalu jauh dari jangkauan tanganku" ucap Novi memelas. Ia tidak tahu jika membuat wajahnya imut seperti itu akan jadi bahaya untuk dirinya sendiri.


"Sayang, jangan mengundangku melakukan malam ini juga" ucap Reno dengan suara beratnya.


"Apa?" tanya Novi dengan tampang polosnya membuat Reno benar-benar pusing.


Reno mendekat dan berdiri tepat di belakang isterinya dan dengan tanganya yang langsung menyentuh tubuh polos Novi bagian pundak.


"Aku akan membantumu membukanya" ucap Reno dengan suara yang masih tetap berat.


Belum sempat Novi protes, gaun brokat putih itu sudah melorot ke lantai meninggalkan tubuh polos Novi yang hanya tertutup dalaman bagian atas dan bawah.


"Ka Reno" ucap Novi karena terkejut, namun yang di panggil hanya dia di belakang Novi. Dengan cepat Novi berjongkok untuk mengangkat kembali gaun tadi untuk menutup tubuhnya, tapi kurang cepat dengan kedua tangan suaminya yang sudah memeluknya dari belakang. Kedua tangan itu melingkar sempurnah di perut Novi membuat gadis itu semakin malu bahkan dengan reflex, Novi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


"Kenapa ditutup?" tanya Reno sambil meletakan dagunya di atas pundak isterinya yang polis itu.


"Aku malu" lirihnya.


"Bukannya kamu pernah telanjang di depanku? bahkan tanpa sehelai benangpun yang menutupinya padahal kita baru pacaran. Lantas kenapa kamu malu disaat kita sudah resmi menjadi suami isteri?" ucap Reno dan mulai melancarkan aksinya. Bibirnya mulai membuat banyak karya di tengkuk isterinya.


Novi dibuat tidak berkutik, nafasnya mulai naik turun seperti orang yang sedang lari maraton, namun ia juga berusaha keras untuk tidak mengeluarkan suara anehnya.


Tangan pria itu tidak tinggal diam, walaupun masih dengan posisi berdiri yang sama namun entah sejak kapan penutup aset berharga isterinya sudah tergeletak di lantai.


Nafas keduanya mulai memburuh, kaki gadis itu serasa tidak kuat menopang tubuhnua sendiri saat suaminya bermain di area dadanya.


"Kaka'hhh" ucap Novi semakin tak karuan.


Merasa isterinya mulai menggeliat dalam pelukannya, Reno semakin bersemangat menuntun tangannya turun ke bawah, semakin ke bawah hingga berlabuh sepotong kain segi tiga tipis itu. Reno memasukkan tangannya kedalam sana dan memporak porandakan area itu hingga tubuh isterinya bergetar hebat dan hampir ambruk untung Reno menguatkan pelukannya.


Reno mengangkat tubuh isterinya kearah Ranjang dan di sanalah terjadi pertempuran hingga pagi menjelang.


Keduanya baru tidur saat jam sudah lewat pukul 5.


*****


Di kamar hotel yang lain.


"Hai anak-anak daddy sudah bangun?" ucap Alfa saat merasa ada yang mengusik tidurnya.


"Papapapa" ucap Daffi yang sudah duduk sambil menarik selimut yang mereka pakai semalam.


"Sttt mommynya masih nyenyak jangan banyak gerak" bisik Alfa saat melihat Mey yang tidur sambil membelakangi mereka bertiga.


Daffa ikut duduk sambil menggosok matanya yang belum begitu terang. Kedua pria kecil yang hampir genap 1 tahun itu seolah tahu jika mommy mereka masih tidur sehingga dengan perlahan keduanya bergeser ke arah bibir ranjang mengikuti daddy mereka yang sudah turun dan sedang memakai kaosnya karena kebiasaannya yang tidur bertelanjang dada.


"Hei boy, awas jatuh. Tunggu daddy selesai pakai bajunya" ucap Reno dengan suara pelan saat Daffi sudah menurunkan kedua kakinya untuk turun dari ranjang.


Alfa akhirnya membawa kedua anaknya masuk ke kamar mandi. Karena tidak bisa diam kedua pria kecil itu akhirnya membuat sang daddy ikut basah kuyup.


"Ternyata mengurus anak kembar sangat susah. Baru 10 menit aku sudah kapok" gumam Alfa sambil menangkap kedua anaknya yang dalam keadaan polos yang merayap ke sana ke mari di dalam kamar mandi.


Dengan susah payah dan hampir satu jam, mereka akhirnya keluar dari kamar mandi.


****


"Oma, kaka lapar" ucap Maggie masih dengan mata yang tertutup.


"Ayo bangun sayang" ucap oma Ratna sambil menarik tangan cucunya untuk bangun.


"Kaka masih ngantuk" gumam Maggie dengan masih tidur.


Beberapa saat kemudia,


Tok tok tok


Oma membuka pintu, ternyata pelayan hotel yang membawa makanan.


"Kami tidak pesan makan mbak." ucap oma bingung.


"Opa yang pesan," seru opa masih di posisi yang sama.


Oma akhirnya menerima dan membawa masuk.


Gadis kecil yang sejak tadi tidur langsung bangun saat mendengar ada pelayan mengantar makanan.


"Huh, giliran makan langsung bangun tanpa dibangunin" gerutu oma.


Gadis kecil itu langsung turun dari ranjang menuju sofa dan duduk dekat opa sambil menunggu oma menyajikan makanan.


Dengan semangat Maggie mengambil sepotong daging ayam goreng.


"Jorok belum sikat giginya" ucap oma sambil memukul tangan cucunya.


"Dali pada mati kelapalan oma" gerutu Maggie.


"Cepat simpan dan masuk kamar mandi atau tidak makan sama sekali hah?" ucap oma penuh penekanan membuat Maggie akhirnya mengalah.


"Iya deh nyonya Adipaty" gerutu Maggie sambil menghentak-hentakan kaki kecilnya dan akhirnya melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Opa terkekeh mendengar ucapan cucunya.


"Jangan marah, karena itu foto copymu" ucap opa saat melihat isterinya itu melotot kepada cucunya.


"Jadi papa mau bilang kalau mama nuebelin seperti cucumu?" ucap mama Ratna penuh selidik.


"Ya hampir mirip kayanya" ucap opa sambil tertawa membuat oma langsung ngambek.


Saat oma opa itu saling meledek, keluarlah cucu mereka dengan wajahnya yang belum kena air, hanya giginya saja yang disikat.


Dengan diam ia kembali duduk di tempatnya tadi dan langsung makan tanpa peduli para orang tua itu.


*****


"Maaf" ucap ayah Veron.


"Maaf untuk apa?" tanya bunda Nur.


"Maaf karena sudah membuat kamu menderita puluhan tahun" ucap ayah penuh penyesalan.


"Aku tidak masalah, karena itulah takdir hidupku" ucap bunda berusaha tegar.


Bunda yang dulu adalah bunga desa di kampungnya sehingga banyak pria yang mengantri. Tapi ingin merantau ke kota, hingga akhirnya ia masuk dalam permainan para orang kaya yang dijadikan alat untuk menjebak pria yang kini menjadi suaminya.


Keduanya saling diam sejak semalam. Pernikahan yang mendadak membuat bunda berpikir yang macam-macam. Mungkin ia dinikahi karena terpaksa.


"Jika ini hanya untuk menyenangkan puterimu, janganlah melakukannya" ucap bunda membuat ayah merasa teriris.


Wanita yang selama ini begitu percaya dan menggantungkan hidup kepadanya sekian puluh tahun walau tanpa status, kini berubah setelah beberapa bulan mereka terpisah.


Wanita yang baru berusia 43 tahun itu seolah sudah tidak ingin percaya lagi dengan semua orang termasuk dirinya.


Bersambung