
Ike melangkahkan kakinya mengikuti sang art ke salah satu ruang dibagian belakang hingga tiba di salah satu sisi tembok berwarna abu.
"Silahkan non" ucap art itu mempersilahkan gadis itu untuk masuk. Ike Kebingungan karena di sana tidak ada daun pintu untuk dia buka dan masuk.
Sang art yang mengerti akan kebingungan gadis itu akhirnya berinisiatif untuk membukakan pintu. Wanita itu menyentuh sisi yang terlihat seperti tembok mati itu dan Tiba-tiba benda itu bergerak ke arah samping yang langsung menampilkan isi dalamnya. Ike semakin takjub dengan hal tersebut.
"Silahkan non" ucap wanita itu. Setelah memastikan gadis itu masuk, ia pun kembali ke tempat semuanya untuk melakukan tugasnya.
Ike melangkah perlahan-lahan masuk ke dalam ruangan yang berwarna serba abu itu dengan penuh Hati-hati. Begitu tubuhnya masuk dengan sempurna, tiba-tiba benda berbentuk tembok mati itu kembali bergerak dan tertutup dengan sendirinya.
Ternyata ruangan itu sangat luas sehingga walaupun gadis itu sudah berada di dalam tapi keberadaan kedua anak muda itu sedikit jauh dari pandangannya.
Ia pun melangkah perlahan-lahan untuk semakin mendekat dengan mereka. Gadis itu terpana dengan kedua anak muda yang sedang berlatih di sana. Di mata Ike, mereka terlihat keren dan semakin tampan apalagi keringat yang membasahi tubuh mereka menambah ketampanan mereka.
Walaupun demikian Ike lebih tertarik pada yang satunya, siapa lagi kalau bukan Daffa.
Keduanya serentak berhenti saat menyadari kehadiran Ike.
"Hai bang, Daffi" ucap Ike kamu karena Daffa yang menatapnya sinis, sedangkan Daffi langsung tersenyum ceria. Bukan tanpa alasan tapi karena memang dengan kehadiran Ike maka mereka akan berhenti berlatih dan itu yang membuatnya senang.
"Hai Ike" balas Daffi dengan penuh ceria.
Daffa bahkan tidak peduli dan lebih memilih mengambil air mineral di botol kemasan untuk minum.
"Bang, latihannya cukup ya" ucap Daffi.
"Abang juga cape ya?" ucap Ike dengan senyum mengembang di wajahnya namun tidak dijawab sehingga membuat gadis berusia 15 tahun lebih itu sedih.
Daffi memilih mengajak Ike keluar dari ruangan tersebut meninggalkan Daffa, sesekali gadis itu berbalik untuk menatap Daffa namun yang ditatap malah cuek sambil memainkan ponselnya.
Daffi dan Ike akhirnya berakhir keluar dari ruangan itu dan kembali bergabung bersama para orang tua mereka.
*****
Pagi-pagi sekali, Roberth sudah bangun dan masuk ke kamar mandi. Pria itu akan pergi menjemput kekasihnya yang mungkin sudah menunggunya selama ini.
"Loh, ko sudah segar aja sayang" ucap mama yang bertemu dengan puteranya di ruang tengah.
"Iya ma, kasih tahu papa ya, hari ini aku belum masuk kantor." ujar Roberth.
"Cape ya sayang" tanya sang mama.
"Iya sih tapi aku sudah janji mau bertemu sama Maggie ma setelah pulang dari luar kota" jelas Roberth. Keduanya berbincang sambil melangkah ke ruang makan.
"Oh baiklah, udah lama juga mama nggak bertemu dengan anak gadis itu" ucap mama yang juga sudah merindukan kekasih puteranya.
"Iya ma, kalau nggak sibuk dianya, aku ajak ke sini buat ketemu sama mama" jawab Roberth.
"Benar ya?" tanya sang mama memastikan.
"Oh ya ma, kemarin saat pulang dari luar kota, aku sempat kena musibah" ucap Roberth jujur.
Sepasang ibu dan anak itu sudah berada di ruang makan.
"Nggak. Aku baik-baik saja. kami sempat menabrak seorang, lebih tepatnya sopirku." jelas Roberth.
"Hah?? lalu di mana dia sekarang?" tanya mama lagi.
"Aku sudah membawanya ke rumah sakit dan sementara di jaga oleh yang lain" jelas Roberth.
"Apa lukanya parah" tanya sang mama
"Aku belum tahu ma, Aku pergi dulu ya ma? nanti aku sama Maggie akan mampir juga ke rumah sakit" ucap Roberth sambil menghabiskan minumannya. Anak muda itu hanya sarapan roti saja.
"Oke sayang, Hati-hati ya" ucap mama mengiyakan puteranya.
Roberth akhirnya pergi dengan tidak sabaran karena ingin bertemu sang kekasih. Di tengah jalan, ia melihat seorang gadis kecil berusia sekitar 12 tahun tengah menjual bunga.
Aku belum pernah memberinya bunga. Sebaiknya Aku membelikan untuknya. Batin Roberth.
Ia menepikan mobilnya lalu menurunkan kaca mobil. Gadis kecil yang melihat mobil itu langsung berjalan sedikit cepat mendekat ke sana.
"Om mau beli bunga ya?" ucap gadis kecil itu tersenyum manis walaupun rambutnya sedikit berantakan dan wajahnya yang kusam namun terlihat sangat imut.
"De, panggil abang aja, masa ganteng begini dipanggil om." protes Roberth terkekeh.
"Eh iya bang, ni bunganya bagus-bagus loh bang. Emang abang mau beli buat sipa sih? biar aku cariin yang cocok. Pacar, isteri, atau teman?" ucap gadis kecil itu mempromosikan jualannya.
"Emang kamu tahu bunga yang cocok buat kekasih atau isteri" tanya Roberth yang merasa nyambung berbincang dengan gadis kecil itu.
"Ya tahulah bang, namanya juga penjual" ucapnya santai.
"Abang mau beli untuk pacar abang" ucap Roberth.
"Dalam rangka apa bang? melamar, atau lagi ngambek atau hadiah ulang tahun" tanya gadis kecil itu.
"Ahhh kamu banyak tanya deh. Begini, cerinya abang itu bepergian dan beru kembali jadi abang mau ketemu sama kekasih abang. Emang bunga apa yang cocok?" tanya Roberth penuh selidik.
"Oh itu mah gampang bang, kalau bunga mawar udah pasaran. Nih aku kasih bunga melati, Selain wanginya yang disukai, bunga ini juga memiliki makna keromantisan atau cinta yang manis, mantapkan?" jelas gadis kecil itu sambil mengambil setangkai bunga melati dan memberi kepada Roberth dengan cara yang unik dan hal itu membuat Roberth terkekeh sekaligus gemas dengannya.
Roberth mengambil lima lembar uang berwarna merah dan memberinya kepada gadis kecil itu.
"Ah bang, ini mah kebanyakan. Bungaku cuma 20 ribu per tangkai" tolak gadis kecil itu.
"Ambil aja de, itu sebagai ucapan Terima kasih karena materi yang baru saja kaka dapat soal arti bunga" ucap Roberth memaksa.
"Cih abang gimna sih, seganteng ini nggak tahu makna dari Bunga-bunga. Kayanya abang nggak pernah ya kasih bunga untuk pacar, atau jangan-jangan abng baru belajar pacaran ya?" ledek gadis kecil itu kepada Roberth. Pria itu semakin gemas karena gadis kecil itu mengingatkannya pada masa kecil Maggie.
"Kamu kalau bicara suka benar ya de? udah ya abang harus pergi sekarang" ucap Roberth yang menghidupkan kembali mesin mobilnya.
"Iya bang, hati-hati ya? salam buat pacarnya dan jangan bosan-bosan beli bungaku ya?" seru gadis kecil itu sebelum Roberth menaikan kembali kaca mobilnya.
Roberth pergi dengan wajah yang ceria, membayangkan kesamaan gadis kecil yang cerewet tadi dan juga kekasihnya.
BERSAMBUNG