Goodbye Daddy, See You Again

Goodbye Daddy, See You Again
S'2 Menyusul ke California



Acara sarapan pagi ini pun selesai dan sebelum berangkat ke kantor dan ke kampus, mereka sedikit menghabiskan waktu untuk berbincang bersama-sama dengan Roberth yang baru tiba pagi ini.


"Kaka saat ini sedang berada di California" ucap Alfa langsung pada intinya karena dapat? membaca isi pikiran dari calon menantunya ini.


"Hah?" respon Roberth dengan kagetnya.


"Jadi kamu tidak tahu? Ada sedikit pekerjaan dari opanya di sana sehingga dia pergi secara tiba-tiba." jelas Alfa membuat Roberth yang selama ini berpikir yang tidak-tidak tentang Maggie sedikit merasa lega. Setidaknya gadisnya itu pergi karena tugas bukan karena ingin menghindarinya.


Walaupun sedikit kecewa tapi ia berusaha untuk baik-baik saja di depan keluarga sang kekasih.


"Jika kamu mau, pergilah menusulnya. Tugasnya tidak akan lama tapi mungkin sekitar satu atau dua bulan ke depan untuk menyelesaikannya" jelas Alfa lagi yang mengerti perasaan anak muda itu.


"Tapi om, aku harus kembali bersama Ike. Dia akan pindah ke Indo" jelas Roberth membuat si kembar sama-sama tersentak.


Deg


Deg


"Bagus itu, jika Ike mau belajar mandiri" sambung Alfa yang ikut memanasi keadaan karena ia tahu bahwa kedua puteranya sama-sama menunjukkan raut wajah tidak rela.


"Iya om, dia sendiri menginginkannya sehingga aku kemari sekaligus menjemputnya" respon Roberth.


"Jadi kamu tidak lagi lanjut ke California?" tanya Alfa.


Setelah berpikir sebentar Roberth akhirnya memutuskan maksudnya.


"Aku akan datang ke sana. Akan Aku kabari om Reno untuk mengantarkan Ike ke Indonesia" jelas Roberth mantap.


"Si Ike mau ke ngapain ke Indonesia?" tanya Mey yang baru bergabung bersama oma Ani setelah membereskan meja makan.


"Mau pindah sekolah di sana tante" jawab Roberth.


"Ka Roberth, apa benar Ike Mau pindah?" tanya Raffi yang sudah tidak menahan gejolak hatinya lagi.


"Iya benar. Beberapa hari lala sempat teleponan sama papa soal kepindahannya" jelas Roberth lagi membuat si kembar kembali terguncang.


Daffa memilih diam walaupun dalam hatinya ia ingin bertanya.


"Semuanya, aku pamit ke kampus dulu" ucap Daffa tiba-tiba sambil langsung berdiri.


"Aku juga" ucap Raffi juga.


"Kenapa sih kamu ikut-ikutan" gerutu Daffa.


"Emang aku juga mau ngampus, kan sudah waktunya" gerutu balik Daffi sambil mendahului sang abang yang masih berdiri.


"Gimana? mau langsung berangkat? nanti om kasih alamatnya" ucap Alfa tidak mau menarik ulur waktu.


"Baik om, Terima kasih" jawab Roberth.


"Hati-hati di jalan ya nak" pesan Mey. Mereka mengantar Roberth ke luar di mana mobilnya terparkir.


Setelah kepergian Roberth, Alfa dan Mey pun pamit kepada orang tuanya untuk berangkat ke kantor.


"Ayah, ibu, kita juga berangkat dulu ya" ucap Mey mewakili sang suami.


Seperti biasa, Alfalah yang mengantar sang isteri ke kantornya.


"Sayang, apa Novi pernah membahas soal kepindahan Puteri mereka ke Indonesia?" tanya Alfa yang sebenarnya tadi juga begitu terkejut.


"Nggak pernah sayang. Aku juga barusan tahu tadi dari Roberth" ucap Mey


"Emang Novi sanggup ya pisah sama anaknya yang cuma satu doang, atau ada sesuatu yang kita belum tahu soal keluarga mereka sayang?" tanya Mey penasaran.


"Tapi kamu rasa aneh nggak?" ucap Alfa lagi yang peka dengan situasi tadi.


"Aneh bagaimana?" tanya Mey penasaran.


"Kedua putera kita seolah nggak rela tu kalau Ike dipindahkan" jelas Alfa membuat Mey merasa tidak ada yang aneh.


Alfa akhirnya menurunkan sang isteri di depan kantor dan mengantarnya hingga tiba di ruangannya.


"Oke sayang, aku lanjut ke kantor dulu ya? nanti Mak kan siangnya aku nggak bisa jemput karena ada meeting sama klien baru" jelas Alfa.


"Nggak apa-apa, nanti aku makan siang sama Riko aja mas" ucap Mey penuh pengertian.


"Baiklah sayang" ucap Alfa sambil menghadiahkan satu kecupan di kening sang isteri lalu keluar dari ruangan itu. Ternyata Riko juga hendak masuk ke ruangan CEO.


"Riko, aku harap kamu segera mencari tahu dalang yang suka membuat onar di kantor ini sebelum isteriku mengetahuinya" ucap Alfa langsung pada intinya.


"Baik tuan, sepertinya mereka tahu sedang dipantau sehingga tiba-tiba keadaan menjadi tenang" jelas Riko


"Baiklah tapi jangan sampai lengah ya" ucap Alfa.


Keduanya untuk mengakhiri perbincangan itu dan Alfa pergi sedangkan Riko masuk ke dalam ruangan Mey.


****


Di tempat lain,


Roberth sudah tiba di hotel tempatnya menginap dan membereskan semua barang bawaannya walaupun tidak banyak.


Di manapun kamu pergi, aku akan mengikutimu sayang. Saatnya kita memperjuangkan cinta kita. Walaupun tidak ada hambatan tapi tugas kita membuat kita jarang bertemu. Baik-baik di sana ya sayang?" gumam Roberth sambil menatap layar ponselnya yang tampil wajah sang kekasih.


Setalah itu ia melangkah keluar dengan menyeret koper kecilnya, cek out lalu pergi. Roberth melihat ada notifikasi masuk dan ternyata Om Alfa yang mengirim alamat rumah di California.


"Thanks" gumamnya saat melihat pesan itu tanpa niat membalasnya.


****


Daffa dan Daffi tiba di kampus bersamaan walaupun mereka pergi dengan mobilnya masing-masing.


"Bang!" panggil Daffi yang baru keluar dari mobilnya dan melihat sang abang yang sudah melangkah pergi.


"Bang! Tunggu!" panggil Daffi lagi karena sang abang yang tidak peduli dengan teriakannya.


Daffa tiba-tiba berubah menjadi dingin pagi ini, entah apa penyebabnya sehingga ia bahkan tidak peduli dengan sang adik.


"Bang, kamu kenapa sih? dipanggil dari tadi juga" gerutu Daffi yang sudah berhasil menyamakan langkahnya dengan sang abang.


Daffa tidak menjawab dan terus melangkah menuju kelas mereka.


"Bang, kamu tidak merasa aneh ya? kenapa tiba-tiba Ike mau pindah ke Indonesia? padahalkan dia itu tidak bisa jauh dari kedua om Reno sama tante Novi" ucap Daffi membuat langkah Daffa terhenti.


"Apa maksudnya?" tanya Daffa yang baru merespon saat membahas tentang Ike.


Cih, apaan ni abang, panggil dari tadi nggak respon, giliran aku bertanya soal Ike langsung bersuara. batin Daffi.


"Maksudnya, kenapa Ike tiba-tiba mau dipindahkan ke Indonesia? padahal aku baru berniat ngungkapin perasaanku ke dia" ucap Daffi sedih.


"Itu artinya kamu nggak berhak mendapatkannya. Aku sudah bilang, dia itu adik perempuan kita yang harus dijaga bukan dipacari" ucapnya sambil kembali melangkah.


"Bang, namanya perasaan tidak bisa ditahan entar nyesal loh, jadi Aku nggak mau nahan. Coba aja dulu, siapa tahu Ike jodohku. Lagian kan kita bukan sedarah jadi wajarlah Aku jatuh cinta sama dia" Daffi terus mengoceh tidak jelas membuat Daffa malas mendengarnya.


BERSAMBUNG